Bab I Perenungan Kefilsafatan (Philosophical Reflection)


A.   Apakah Filsafat itu?

1.   Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan

Filsafat tidak mengajarkan pengetahuan praktis, mis. bagaimana membuat roti, bagaimana mengatasi stres, dsb.

Tujuan filsafat = mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, menerbitkan, dan mengatur semuanya itu dalam bentuknya yang sistematis.

Filsafat membawa kepada pemahaman. Pemahaman membawa kepada tindakan yang lebih baik.

Contoh: Socrates (470 – 399 SM) dihukum mati dengan minum racun tahun 399 SM karena dituduh merusak jiwa kaum muda Athena. Socrates sebenarnya memiliki kesempatan untuk membebaskan diri, misalnya dengan bantuan teman-temannya yang kaya dia bisa melarikan diri. Tetapi dia justru “taat” pada keputusan penguasa yang telah memfitna dia. Mengapa Socrates mau bertindak demikian?

Kita belajar dari Socrates bagaimana memutuskan tindakan tertentu. Sebelum suatu tindakan tertentu yang baik diambil, Socrates berkumpul bersama teman-temannya, mereka mendiskusikan alasan-alasan apa jika Socrates melarikan diri. Mereka juga membicarakan apakah tindakan melarikan diri itu lebih baik secara moral dibandingkan dengan “menerima” hukuman? Akhirnya dalam diskusi itu mereka sampai pada pemikiran bahwa memang tidak tepat bagi Socrates untuk melarikan diri. Di sinilah pemikiran filsafat selesai. (Paradoks Socrates: Virtue is one, virtue is knowledge, and no one is knowingly does what is bad!)

Socrates kemudian memutuskan (mengambil tindakan) praktis tertentu, yakni tidak melarikan diri. Tindakan ini tentu bersumber dari pemikiran dan renungan filosofisnya, tetapi tindakan praktis tersebut bukanlah bagian dari pemikirannya.

Coba camkan ini: Tindakan tertentu kita (pikirkan tindakan konkret tertentu) bersumber dari pemikiran kita tetapi bukan merupakan bagian dari pemikiran kita.

2.   Keinginan kefilsafatan ialah pemikiran secara ketat

Filsafat memang bukan sebuah ilmu praktis. Lalu, jenis ilmu apakah filsafat? Filsafat merupakan suatu analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai suatu masalah, dan menyusun secara sengaja serta sistematis berdasarkan suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan. Filsafat melakukan perenungan filosofis atas masalah yang dihadapi dan memahaminya secara logis dan argumentatif.

Contoh:

Penalaran: Seluruh tindakan dan perilaku manusia ditentukan oleh alam bawah sadar dan kehendak pihak luar yang memiliki otoritas. Karena itu, manusia bukanlah makhluk yang bebas.

Bagaimana perenungan filosofis atas penalaran ini? Yang jelas, kerja filsafat menuntut seseorang melakukan perenungan secara hati-hati, lalu menyusun pemikirannya atas penalaran ini secara sistematis. Dalam menyusun pemikirannya yang logis dan sistematis itu, seseorang memiliki sudut pandang tertentu (misalnya merujuk pemikirannya ke tokoh atau filsuf tertentu, dsb). Pemikiran yang dihasilkan ini, pada gilirannya, dapat menjadi dasar suatu tindakan. Tapi ingat, tindakan konkret bukanlah bagian dari perenungan filosofis itu sendiri.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa yang dilakukan seseorang dalam perenungan filosofis adalah: (a) meragukan segala sesuatu; (b) mengajukan pertanyaan; (c) menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan lainnya; (d) menanyakan “mengapa”; (e) mencari jawaban mendasar dari sekian kemungkinan jawaban yang tersedia.

3.   Sejumlah makna khusus yang dikandung istilah “filsafat”

Apakah kamu pernah mendengar lelucon tertentu mengenai filsafat? Misalnya, ketika seseorang mengatakan kepada kamu bahwa dia tidak mampu hidup di Jakarta karena kota itu terlalu sumpek, kotor dan macet. Lalu, temannya yang mendengar keluhan ini menjawab dengan berkata, “Sudahlah, hayati saja hidup di Jakarta secara filosofis!” Ini contoh kesalahpahaman mengenai filsafat.

Contoh ini menunjukkan sekaligus 3 kesalahpahaman mengenai filsafat. (1) Orang mengira bahwa belajar filsafat berarti memiliki sikap acuh tak acuh (indifferent); (2) orang menyangka bahwa belajar filsafat tidak lebih dari sekadar menekan perasaan; atau (3) masyarakat umumnya berpikir bahwa mempelajari filsafat hanya akan mengaburkan pemahaman. Bahwa setelah memahami sesuatu (being), sesuatu yang dipelajari itu kehilangan sifat penting (termasuk subjek yang memahami itu). Apakah filsafat memang memiliki karakteristik semacam ini? Jika filsafat memiliki karakteristik seperti itu, sungguh ilmu ini memang tidak punya manfaat apa-apa bagi kehidupan manusia. Sayangnya filsafat tidak seperti yang dituduhkan orang.

4.   Filsafat merupakan pemikiran secara sistematis

Jika filsafat tidak memiliki karakteristik seperti yang dituduhkan di atas, lalu apa karakteristik atau sifat utama filsafat? Filsafat adalah ilmu yang menonjolkan pemikiran secara sistematis. Kegiatan kefilsafatan adalah merenung (reflecting). Yang dikerjakan seorang filsuf bukan sembarang perenungan tetapi perenungan filosofis (philosophical reflection). Yang dimaksud dengan perenungan filosofis adalah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri kita sendiri.

Di sini jelas, bahwa kegiatan perenungan filosofis diarahkan kepada memikirkan secara sistematis realitas (atau ada sejauh dipikirkan) dan merefleksikan subjek yang berpikir.

Perenungan filosofis selalu terjadi dalam konteks historis dan dalam tradisi filosofis. Dalam konteks historis karena realitas yang dihadapi dan yang mendorong refleksi filosofis adalah faktitas (a given reality) dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Sementara pemahaman atas realitas itu terjadi dalam konteks sejarah filsafat yang telah berumur lebih dari 2.500 tahun. Ribuan filsuf telah memikirkan masalah yang kurang lebih sama. Yang dilakukan seorang filsuf sekarang adalah mendialogkan pemikirannya dalam tradisi pemikiran filosofis yang ada.

B.    Ciri-ciri pikiran kefilsafatan (philosophical reflection)

1.   Suatu bagan konsepsional

Perenungan kefilsafatan berusaha menyusun suatu bagan konsepsional. Berhadapan dengan realitas, pikiran manusia menangkap konsep-konsep tertentu mengenai sesuatu. Konsepsi mengenai sesuatu tidak lain adalah abstraksi atau generalisasi mengenai sesuatu. Misalnya, kamu berhadapan dengan serangkaian fakta atau kejadian berikut:

Arman seorang pemuda taat beragama, pintar, bertanggung jawab.

Yanto seorang pemuda Muslim yang saleh, rajin, dan bertanggung jawab.

Grace seorang aktivis gereja yang tekun beribadah dan bertanggung jawab.

Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Pikiran manusia akan mengabstraksi dan menggeneralisasi fakta-fakta ini untuk menemukan sebuah konsep yang abstrak dan universal yang dapat menjelaskan baik fakta-fakta ini maupun fakta-fakta lainnya yang sepadan. Kesimpulannya: “Orang yang taat beragama akan memiliki rasa tanggung tanggung jawab yang besar.”

Abstraksi dan generalisasi ini sekaligus memicu refleksi filosofis lebih lanjut. Misalnya,  mengapa orang yang taat beragama memiliki tanggung jawab yang besar? Apakah ada keniscayaan hubungan antara fakta taat beragama dengan sifat tanggung jawab? Atau, jangan-jangan hubungan ini hanya sebuah kebetulan? Lalu, apa yang dimaksud dengan taat beragama? Definisi taat beragama penting untuk menguji sejauh mana pengkategorian taat beragama pada diri Arman, Yanto, dan Grace bisa dipertanggungjawabkan secara rasional. Lalu, apa yang dimaksud dengan tanggung jawab? Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini memicu perenungan filosofis. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah refleksi filosofis yang sistematis, rasional, dan menyeluruh. Seluruh pemikiran dalam refleksi filosofis ini, jika diperhatikan, sebenarnya mengungkapkan sebuah bagan konsepsional tertentu.

2.   Sebuah sistem filsafat harus bersifat koheren

Pemikiran filosofis sebagai pengejawantahan dari refleksi filosofis harus bersifat koheren, artinya bersifat runtut. Keruntutan berpikir filosofis di sini umumnya berhubungan dengan bagaimana kemampuan pikiran manusia mengoperasikan prinsip-prinsip berpikir rasional.

Misalnya, kita berhadapan dengan dua fakta berikut.

Fakta A : Yanto lulus ujian akhir semester karena rajin belajar

Fakta B : Tidak benar bahwa Yanto lulus ujian akhir semester karena rajin belajar

Dari kedua fakta ini bisa disusun cara berpikir yang koheren atau runtut (konsisten) berikut:

  • Jika A BENAR maka B SALAH. Kedua-duanya tidak bisa benar pada waktu yang sama.
  • Jika B BENAR maka A SALAH. Kedua-duanya tidak bisa benar pada waktu yang sama.
  • Jika A SALAH maka B bisa BENAR/SALAH. Kedua-duanya bisa salah pada waktu yang sama.
  • Jika B SALAH maka A bisa SALAH/BENAR. Kedua-duanya bisa salah pada waktu yang sama.

Mengenai hal ini akan dipelajari lebih jauh di materi logika (setelah UTS).

3.   Filsafat merupakan pemikiran secara rasional

Bagan konsepsional yang menjadi salah satu ciri filsafat sebenarnya menunjukkan perangainya sebagai bagan atau intisari pemikiran filosofis yang koheren (logis/konsisten) sekaligus rasional. Sebenarnya sifat rasional dari refleksi filosofis hanyalah akibat logis dari sifatnya yang rasional. Di sini berlaku hukum bahwa yang logis itu pasti rasional. Artinya, pemikiran filosofis atas suatu masalah merupakan ekspresi dari sebuah bagan konseptual yang dibangun dengan argumentasi-argumentasi yang koheren (logis) dan rasional. Pendekatannya dapat bersifat deduktif, misalnya sebagaimana dipraktikkan oleh Baruch Spinoza (1632 – 1677) yang memulai perenungan filosofisnya dengan sebuah definisi yang menjadi acuan atau rujukan penjelasan atas realitas. Tetapi perenungan filosofis juga dapat mengambil pendekatan induktif, dalam arti mengabstraksi berbagai realitas untuk menangkap konsepsi-konsepsi umum dan universal yang pada gilirannya dapat menjadi rujukan penjelasan bagi realitas-realitas konkret.

4.   Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh (komprehensif)

Filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri.

Suatu sistem filsafat harus bersifat komprehensif, artinya tidak ada sesuatu pun yang berada di luar jangkauannya. Filsafat akan memadai (tidak berat sebelah atau parsial) jika refleksi yang dihasilkannya bersifat menyeluruh. Inilah sifat comprehensiveness dari filsafat. Ini membedakan filsafat dari refleksi teologis atau pandangan-pandangan ideologi tertentu, atau bahkan kajian-kajian keilmuan.

5.   Suatu pandangan dunia

Refleksi filosofis sebenarnya mengungkapkan sebuah weltanschaung (pandangan dunia) atau horizon tertentu. Pandangan dunia inilah yang menjadi latar atau horizon ketika kita memahami realitas, termasuk memahami diri kita sendiri.

Kita ambil satu filsuf sebagai contoh. Democritos (460-370 SM) mengatakan bahwa realitas ini terdiri dari banyak sekali unsur yang tidak bisa dibagi-bagi lagi menjadi unsur yang lebih kecil. Dia menyebut unsur ini dengan nama atom (dari kata Bahasa Yunani atomos, yakni a = tidak dan tomos = terbagi). Itulah sebabnya pemikiran Democritos disebut bersifat atomistik. Bagi Dia, atom adalah bagian dari materi yang sangat kecil sehingga tidak mampu diamati. Jumlah atom tidak terhingga. Atom sendiri dipahaminya sebagai “yang ada” dengan sifat tidak dijadikan, tidak berubah, dan tidak dapat dimusnahkan. Atom bergerak karena adanya ruang kosong. Apakah ruang kosong adalah sebuah “yang ada” seperti atom, tidak dijawab oleh Democritos. Aristoteles menambahkan pada pemikiran Democritos dengan menekankan bahwa ruang kosong termasuk “yang ada”, karena ruang kosong pun real. Jadi, yang tidak ada (ruang kosong) pun disebut “yang ada”.

Inilah contoh pandangan dunia yang dianut seorang filsuf. Pandangan dunia ini akan menjadi horizon bagi filsuf itu dalam memahami seluruh realitas, bagi dunia fisik (kebendaan) maupun manusia yang berpikir. Mengenai manusia misalnya, pandangan dunia semacam ini akan memunculkan masalah kebebasan dan dimensi sosial manusia. Yang jelas, memahami manusia secara atomistik mau tidak mau mengingkari kebebasan dan sosialitas manusia. Manusia sebagai atom adalah makhluk yang telah penuh pada dirinya sendiri, otonom, yang tidak membutuhkan atom-atom lain bagi eksistensinya. Manusia sebagai atom hanya membutuhkan ruang kosong untuk bergerak. Dalam ruang kosong yang menjadi prasyarat bagi pergerakannya itu, manusia praktis tidak mampu merealisasikan seluruh kebebasannya dalam artinya yang sebenarnya.

Latihan

Coba kamu memikirkan kembali apa pandangan dunia yang kamu anut mengenai kejahatan?

6.   Suatu Definisi Pendahuluan

Satu pertanyaan yang belum dijawab adalah apakah filsafat itu? Uraian di atas tidak dengan sendirinya menjelaskan apa itu filsafat. Mengenai definisi filsafat, ada keberatan bahwa filsafat sulit didefinisikan ketika kita baru saja mulai mempelajarinya. Yang lebih tepat adalah mendefinisikan filsafat setelah kita selesai mempelajari pengantar filsafat, jadi definisi ditaruh di akhir bab. Tentu keberatan ini bisa dimengerti, karena memang definisi pada hakikatnya adalah mempersempit dan memiskinkan suatu konsep atau gagasan.

Meskipun demikian, definisi pendahuluan tetap harus diberikan, misalnya definisi etimologis. Secara etimologis, filsafat berasal dari kata Bahasa Yunani PHILO yang artinya cinta (philein berarti mencintai) dan SOPHIA yang artinya kebijaksanaan (wisdom). Jadi, secara etimologis filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan.

Sekali lagi filsafat bukanlah ilmu fisika yang mampu mengatakan bahwa “kecepatan adalah jarak dibagi waktu”. Seorang filsuf tidak mau menerima suatu fakta secara dangkal. Seorang filsuf menolak pemikiran atau pandangan yang sifatnya dogmatis. Karena itu, dari pada menjelaskan apa itu kecepatan, seorang filsuf bisa menanyakan “apa yang dimaksud dengan jarak?” “Apa yang dimaksud dengan waktu?” Dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini seorang filsuf menunjukkan hasrat atau cintanya yang mendalam akan kebijaksanaan.

Pengertian etimologis yang tampaknya sederhana ini sering disalahmengerti. Kadang orang beranggapan bahwa melakukan refleksi filosofis itu sama saja dengan mencari dan menemukan jawaban terdalam dari suatu pertanyaan tanpa cinta atau dorongan hasrat akan penemuan kebijaksanaan. Kata Philo dalam Bahasa Yunani sendiri tidak sekadar cinta, tetapi cinta yang didorong oleh hasrat yang menggebu (passion) untuk menemukan kebijaksanaan. Bandingkan pengalaman kamu ketika mencintai seorang sahabat di mana kamu mengatakan “I love you” dan mencintai seorang pacar atau orang tua ketika kamu mengatakan “I love you passionately”. Yang terakhir memberi warna khas pada cinta. Demikian juga dorongan untuk mencapai kebijaksanaan. Dia bukanlah cinta biasa yang hanya akan menghasilkan pengetahuan (knowledge) mengenai sesuatu. Dia adalah cinta yang menggebu, hasrat yang mendalam akan kebijaksaaan yang hasilnya bukan sekadar pengetahuan akan sesuatu tetapi kebijaksanaan (yang melampaui pengetahuan). Bandingkan ungkapan “dia seorang yang pintar” dan “dia seorang yang bijaksana”. Cinta akan kebijaksaaan membawa seseorang memahami dunia, orang lain, lingkungan, dirinya, Tuhan, dan seluruh “being” (yang ada) secara utuh, menyeluruh, mendasar, dan akurat.

7.   Objek formal dan Objek Material Filsafat

Sebagai sebuah ilmu, apa yang membedakan filsafat dari ilmu-ilmu lain? Sebetulnya filsafat dan ilmu-ilmu lain memiliki kesamaan dasar, yakni sebagai abdi bagi kesejahteraan manusia. Artinya bahwa dengan mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu pada umumnya, manusia memperoleh pengetahuan yang pada gilirannya menjadi sarana untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam hidup sehari-hari. Dan karena tujuan tertinggi manusia adalah mencapai kebahagiaan atau kesejahteraan hidup, maka filsafat dan ilmu-ilmu lain membantu merealisasikan tujuan tersebut. Di sinilah sebetulnya, dari sudut pandang objek material, filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan lain memiliki kesamaan dasar. Semuanya mempertanyakan realitas, segala sesuatu yang dijumpai dalam hidup, menemukan jawaban atas persoalan-persoalan yang merisaukan, yang menjengkelkan, menggetarkan, menimbulkan rasa kagum dan heran, pesona, penuh tanya, dan sebagainya. Dengan demikian, dari sudut pandang objek material harus disimpulkan bahwa baik filsafat maupun ilmu-ilmu lain memiliki kesamaan dasar sebagai ilmu pengetahuan rasional yang berusaha mempertanyakan segala sesuatu yang dihadapi dalam hidup dengan maksud untuk menemukan jawaban finalnya.

Yang membuat filsafat berbeda dari ilmu pengetahuan lain adalah objek formalnya. Objek formal adalah cara pendekatan pada suatu objek material yang sedemikian khas sehingga mencirikan, atau mengkhususkan bidang kegiatan bersangkutan. Demikianlah, jika objek material filsafat adalah realitas sejauh eksis (yang sama dengan ilmu-ilmu lain), maka berdasarkan objek formalnya filsafat hendak mendalami dan mencapai sebab-sebab pertama (the first causes) atau sebab-sebab terakhir (the last causes). Sering juga dikatakan bahwa filsafat mau memahami sebab-sebab terdalam dari objek material, yakni manusia di dunia yang sedang mengembara menuju akhirat.

8.   Sumber-sumber Filsafat

Filsafat bersumber pada pengalaman hidup sehari-hari. Dengan demikian, filsafat bersifat terbuka kepada semua orang, terutama kepada mereka yang tidak mau puas dengan kejelasan realitas. Oleh karena senjata utama filsafat adalah bertanya (mengajukan pertanyaan-pertanyaan), maka dengan bertanya kita sebetulnya terus mempersoalkan realitas. Pertanyaan biasanya diajukan, baik kepada kejelasan realitas maupun kepada subjek yang bertanya (mengetahui) itu sendiri.

Meskipun demikian, tidak semua peristiwa sehari-hari bisa difilsafatkan. Ada peristiwa tertentu yang dirasakan unik dan bermakna badi pribadi—hal yang eksistensial—saja yang biasanya difilsafatkan. Peristiwa-peristiwa unik tersebut antara lain kelahiran, kematian, pernikahan, penderitaan, pertobatan, rasa terperanjat, penyembuhan, dan sebagainya.

Tiga hal yang mendorong manusia berfilsafat (bertanya-tanya dan mencari jawaban ultimnya):

  1. 1. Kekaguman

Filsafat dipahami sebagai bertanya-tanya disertai rasa kagum/heran. Beberapa filsuf menggarisbawahi hal ini.

(a) Plato (c. 428–427 BCE)

Orang yan berfilsafat diibaratkan dengan keadaan perjumpaan dengan (atau menjadi perantara dengan) dewa. Katanya, keadaan heran membuat seseorang menjadi pening karena telah mengatasi keadaan biasa, dan mulai berjumpa dengan perspektif orientaso bagi dirinya.

(b) Aristoteles (384 – 322 BCE)

Di dalam segala kegiatan manusia sehari-hari, filsafat—dengan rasa heran sebagai perangsangnya—menelusuri kembali/terus bertanya tentang apa-apa yang diambilnya. “Kemampuan untuk mengadakan renungan filsafat mengangkat manusia di atas martabat dan derajatnya sendiri.”

(c) Immanuel Kant (22 April 1724 – 12 February 1804)

Dengan ucapan yang amat tersohor: “Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me”. Kedua gejala yang paling mengherankan Kant adalah “langit berbintang-bintang di atasku”, dan “hukum moral dalam hatiku”.

(d) Gabriel Marcel (7 December 18898 October 1973)

Dengan keheranan/kekaguman seseorang mengambil sikap menjadikan realitas bukan sebagai fakta tetapi sebagai misteri. Dalam pemahaman realitas sebagai misteri itulah teruntai indah hubungan I – Thou menjadi reaksi “kekitaan”.

  1. 2. Kesangsian

Terumuskan dalam pertanyaan, “Apakah saya sungguh-sungguh bisa mengetahui sesuatu?” “Apakah sesuatu yang ku ketahui itu tidak menipuku?” Kalau saya ditipu oleh panca inderaku, maka keheranan dengan sendirinya akan gugur.

Di sini bisa disebutkan beberapa contoh:

(a) Agustinus (354 – 430 M)

Dalam ajarannya tentang iluminasi Agustinus menggeluti dengan serius masalah skeptisisme sebagai aliran pemikiran yang bisa diandalkan atau tidak. Dan menurut Agustinus, skeptisisme tidak tahan uji. Katanya: “Jika saya menyangsikan segala sesuatu, tidak dapat saya sangsikan bahwa saya sangsikan. Memang ada atau terdapat kebenaran-kebenaran yang teguh. Rasio insani dapat mencapai kebenaran-kebenaran yang tak terubahkan. Hak ini mungkin terjadi karena kita mengambil bagian di dalam Rasio Ilahi, di mana di dalam Rasio Ilahi tersebut terdapat kebenaran-kebenaran abadi: kebenaran-kebenaran yang mutlak dan tak terubahkan. Rasion Ilahi itu menerangi rasio insani. Allah adalah guru batiniah yang bertempat tinggal di dalam batin kita dan menerangi roh manusiawi kita dengan kebenaranNya.

(b) Rene Descartes (1596 – 1650 M)

Descartes terkenal sebagai filsuf skeptis yang berusaha mencari suatu kebenaran yang menjadi fondasi bagi segala pengetahuan. Menurutnya, kebenaran itu bersifat final, dalam arti kebal terhadap kesangsian. Untuk mencapai pengetahuan semacam itu ditempuh melalui jalan menyangsikan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang umumnya sudah diangngap sebagai jelas, seperti dunia material, dimensi kebertubuhanku, dan bahwa Allah ada. Bagi Descartes, kebenaran yang tidak bisa disangsikan adalah cogito ergo sum yang artinya “saya berpikir, jadi saya ada”. Kebenaran tunggal ini yang membuat Descartes mampu memahami realitas secara claro et distincta. Inilah norma untuk menentukan kebenaran.

  1. 3. Kesadaran akan keterbatasan

Di hadapan realitas yang terbatas ini manusia dengan dinamisme pikirannya berupaya untuk menemukan sesuatu yang tidak terbatas, yakni Realitas Mutlak. Begitu pula dengan pengalaman-pengalaman yang menggoncangkan eksistensi manusia, seperti kematian orang yang dicintai, kematian orang-orang yang tidak berdosa, bahkan kenyataan bahwa suatu ketika kita akan mati.

Karl Jasper (1883 – 1969), misalnya. Di hadapan berbagai macam ilmu yang juga berbicara mengenai manusia, Jasper tidak menemukan satu ilmu pun yang berbicara mengenai “aku sebagai subjek”. Proyek pencarian jati dari “aku sebagai subjek” inilah yang ia sebut sebagai penerangan eksistensi (existenzerhellung).

Existenzerhellung ini terjadi lewat:

1)            Mengatasi dunia yang terbatas ini. Saya yang sudah terbatas tidak bisa menemukan dunia yang mendasari jati diriku dalam hal-hal yang terbatas. Apalagi saya tidak bisa melebur diri di dalam hal-hal yang terbatas.

2)            Kemungkinan “penemuan” dunia yang menjadi dasar keberadaanku bisa mulai dirintis, antara lain lewat komunikasi yang sejati dengan sesama. Dalam komunikasi sejati di mana tidak ada kemungkinan saling mengobjekkan, manusia mulai memahami realitas yang lebih tinggi yang mendasari komunikasi sejati tersebut.

3)            Jasper suka dengan idea Agustinus mengenai esse ad Deum (ke-ada-an manusia itu terarah kepada Allah). Allah yang hanya bisa diikuti jejak-jejaknya (vestigia Dei) melalui kesenian, mitologi, simbol-simbol, justru menjadi realitas terakhir yang mengandung makna bagi eksistensiku. Bagi Jasper, (a) Allah ada atau ketiadaan. Dan Jasper memilih Allah ada; (b) kalau Allah ada, maka saya bisa berbicara juga mengenai tuntutan-tuntutan etis yang absolut, yang akhirnya dirancang dan didasri oleh Allah; (c) dunia mempunyai status yang bersifat sementara di antara Allah dan manusia.

9.   Mengapa Belajar Filsafat?

Tidak ada seorang pun yang akan berhenti berpikir. Oleh karena alasan inilah maka filsafat memainkan peranan yang sangat krusial dalam proses pemikiran manusia, yakni menjadikan pemikiran tersebut menjadi lebih jelas dan tetap (konstan) di hadapan realitas yang jamak dan sering membingungkan. Dengan ini lalu filsafat membantu setiap orang untuk memiliki perspektif tertentu. Mengenai hal ini, James K. Feibleman menulis:

“No one stops to think that it is the business of philosophy to bring clarity and consistency into all this confusion and to give the individual somewhere to stand while all the various new theoretical and practical advances swirl around him” (James K. Feibleman, Understanding Philosophy, A Popular History of Ideas, Jaico Publishing House, Mumbai, India,1999 (cet. Ke-4), h. 12).

Untuk menarik beberapa pemikiran mengenai kegunaan filsafat ilmu pengetahuan, sebaiknya kita memulainya dengan memahami terlebih dahulu apa manfaat dari mempelajari filsafat pada umumnya. Secara umum dikatakan bahwa filsafat memiliki dua kegunaan yang saling mendukung, yakni kegunaan bagi individual dan kegunaan bagi kehidupan sosial. Bagaimana kedua kegunaan filsafat ini dapat dipahami?

Dari segi manfaat atau kegunaan bagi individu, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat filsafat ini.

a) Filsafat berguna untuk memuaskan keinginan tahu individu yang sifatnya sederhana (belum complicated). Aspek inilah yang membuat manusia berbeda dari binatang. Pada taraf tertentu, kera misalnya, dapat berpikir, dengan misalnya mempertimbangkan adanya tongkat yang ada didekatnya yang dapat digunakan untuk mencapai pisang yang tergantung dalam sebuah ruangan. Meskipun demikian, kera tetap tidak dapat berpikir lebih jauh dari determinasi alat atau tongkat ini. Kera tidak dapat menghubungkan pikirannya dengan pengalaman pemikiran yang telah terjadi di masa lampau, apalagi memproyeksikan pemikirannya secara visioner ke masa depan. Hanya manusia yang dapat berpikir dalam ruang dan waktu tertentu.

Selain itu, di sini juga dapat dikatakan bahwa selama hidup—dari masa kanak-kanak sampai meninggal dunia—manusia harus melewati dua tahap pengenalan (kesadaran) yang penting, yakni tahap keadaan ketidaktahuan (the state of innocence) dan tahap kehilangan ketidaktahuan (the innocence lost). Keadaan ketidaktahuan pada masa kanak-kanak sebetulnya penuh dengan keinginantahu (curiosity) yang menempatkan masa kanak-kanak sebagai tahap yang penuh dengan pertanyaan. Di sini dapat disimpulkan, bahwa jika filsafat memiliki asal-muasal, maka asalnya tentulah pada masa kanak-kanak yang giat mengajukan pertanyaan tersebut. Pertanyaan dan keingintahuan anak-anak ini apabila dimatikan atau dijawab secara sangat otoritatif dan ideologis akan mematikan dan menghentikan kemampuan anak-anak untuk bertanya. Inilah yang dimaksud dengan keadaan the innocence lost tersebut.

b) Filsafat dapat membantu individu untuk menemukan prinsip-prinsip yang benar yang sangat bermanfaat dalam mengarahkan hidup dan perilakunya. Di sini kita berhadapan dengan peran dari cabang filsafat yang namanya filsafat moral atau etika. Dengan bantuan pemikiran filsafat moral (etika), individu semakin mendalami hidupnya, mempertanyakan secara moral seluruh tindakannya dan menetapkan prinsip-prinsip yang baik bagi hidupnya. Dengan ini individu membebaskan diri dari kedangkalan hidup atau hidup yang hanya menuruti keinginan dari luar saja, kehidupan tanpa subjektivitas.

c) Filsafat sangat membantu individu untuk memperdalam hidupnya. Filsafat hukum misalnya, membantu manusia mengintensifkan makna dari hukum bagi masyarakat pada umumnya dan para praktisi hukum itu sendiri. Misalnya dalam memahami keterbatasan dari hukum positif dan pentingnya rasa keadilan masyarakat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi dalam setiap keputusan hukum. Sementara itu, filsafat ilmu pengetahuan membantu individu (ilmuwan) semakin mendalami ilmunya. Tidak jarang terjadi bahwa semakin seseorang mendalami ilmunya filsafat, semakin ia mampu mengatasi disiplin keilmuannya yang empiris dan metodis dan memasuki dunia yang non-empiris, tetapi yang menarik akal budi dan menghantui batinnya. Albert Einstein misalnya, tidak hanya menjadi seorang ilmuwan (ahli fisika) murni. Ia adalah seorang ilmuwan dan filsuf. Einstein bahkan berani mengatakan: “Science without religion is lame, religion without science is blind.” (Dikutip dari Charles P. Henderson, Jr., God and Science. The Death and Rebirth of Theism, John Knox Press, Atlanta,1986, h. 17). Tidak hanya itu. Filsafat seni (estetika) memampukan seseorang untuk melihat segala sesuatu dalam kerangka yang sangat pribadi. Estetika memfungsikan dan memperdalam penginderaan manusia. Estetika memampukan individu untuk melihat dunia dengan mata seorang seniman, yakni melihatnya secara sangat personal.

Sementara itu, dari segi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat filsafat ini.

a)            Prinsip-prinsip atau pemikiran filsafat membentuk organisasi sosial berdasarkan basis atau fondasi tertentu yang sifatnya permanen. Misalnya institusi-institusi sosial yang berdasarkan hukum-hukum positif tertentu yang telah disepakati bersama.

b)            Filsafat sosial terdiri dari serangkaian prinsip-prinsip atau hukum-hukum yang menuntut keyakinan dan penerimaan atas kebenaran mereka. Selain itu, tentu saja juga persoalan dimensi ketaatan. Ambil saja beberapa contoh. Negara Amerika Serikat mendasarkan hidup bersama sebagai bangsa dan negara pada prinsip-prinsip American Declaration of Independence yang sangat dipengaruhi oleh gagasan dan pemikiran dua filsuf besar, yakni John Lock dan Montesquieu. Uni Soviet mendasarkannya pada filsafat dan ideologi Marxisme-Leninisme, dan Indonesia mendasarkannya pada filsafat dan ideologi Pancasila.

10. Cabang-cabang Filsafat

Ada enam cabang filsafat yang utama, yakni logika, epistemologi, etika, metafisika, filsafat politik, dan estetika.

Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari metode penalaran dan argumentasi.

Epistemologi adalah cabang filsafat yang menginvestigasi dasar dan hakikat pengetahuan manusia. Studi-studi epistemologi akan dipusatkan pada mempelajari sarana atau alat untuk mencapai pengetahuan, debat antara rasionalisme dan empirisme atau diskusi panjang antara pengetahuan apriori dan aposteriori.

Etika adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mengkaji prinsip-prinsip dasar tindakan moral manusia, mengapa manusia bertindak berdasarkan prinsip moral tertentu dan mengeksklusikan prinsip moral lainnya, sejauh mana sebuah prinsip moral memadai sebagai landasan atau dasar tindakan, masalah kebebasan, tanggung jawab, suara hati, dan sebagainya.

Sebagai salah satu cabang filsafat, metafisika adalah studi mengenai hakikat fundamental dari realitas. Pertanyaan-pertanyaan metafisika adalah “apa itu realitas?” dan “bagaimana kita bisa memahami realitas?” Metafisika bukan ilmu yang mempelajari realitas yang tidak tampak, realitas tak kasat mata, atau hal-hal di balik yang kelihatan. Metafisika justru mempelajari hal yang tampak atau kelihatan, mempertanyakan dan menemukan hakikat fundamental dari realitas yang nyata itu.

Filsafat politik khusus mempelajari pembentukan pemerintahan dan negara (alasan terbentuk, mengapa terbentuk), sistem kekuasaan mana yang lebih baik dibandingkan dengan sistem kekuasaan lainnya, apa tujuan terbentuknya sebuah negara, apa tujuan sebuah pemerintahan, dan sebagainya.

Filsafat seni atau estetika adalah studi atau kajian filosofis mengenai keindahan dan rasa keindahan sebagaimana terekspresikan dalam karya-karya sastra. Filsafat seni atau estetika mengkaji persepsi mengenai keindahan dan rasa seni, mengapa suatu ekspresi seni memiliki cita rasa seni yang tinggi dan sebaliknya, dan sebagainya.

Beberapa dari cabang filsafat ini (terutama logika, epistemologi, etika, dan filsafat politik) akan dipelajari secara singkat selama semester ini. Sampai Ujian Tengah Semester  (UTS) kita akan membatasi diri pada mempelajari Pengantar Filsafat. Setelah UTS kita akan mempelajari logika, itu pun secara singkat dan garis besar.***

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s