Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan


Oleh Fika Ayudhia (2008-070-069)

Pengantar:

Berikut ini adalah tulisan mahasiswa saya di Atmajaya. Mereka mahasiswa psikologi semester 4, dan bukan mahasiswa filsafat. Karena itu, tentu tulisan yang mereka hasilkan tidak memiliki flavor filsafat yang memadai. Meskipun demikian, mereka telah menghasilkan suatu renungan yang pantas diapresiasi.

Persoalan dan Tesis

Dalam pembelajaran sehari-hari, sering dijumpai masalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Masalah yang dijumpai seperti kebenaran yang tidak terjamin dari suatu ilmu, ilmu pengetahuan hanya berlaku bagi pihak tertentu, bahkan terkadang sampai merugikan pihak tertentu. Masalah seperti itu mungkin terjadi akibat dari ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai. Ilmu pengetahuan tersebut tercipta dengan adanya pengaruh dari nilai luar selain nilai ilmu itu sendiri. Mulai dari nilai agama, sosial, moral, politik, ekonomi, dan sebagainya. Sehingga dapat mengakibatkan munculnya masalah ketika diterapkan. Hal itu karena ilmu pengetahuan tidak disusun sungguh-sungguh berdasarkan kebenaran ilmiah.

Persoalan ini pun akhirnya menjadi sesuatu yang seringkali dipermasalahkan banyak orang dan dapat merugikan banyak pihak. Ketika suatu ilmu berpihak pada nilai tertentu di luar nilai ilmu pengetahuan itu sendiri, maka nilai kebenarannya pun akan tidak utuh. Ilmu tersebut menjadi tidak ilmiah dan sulit untuk diberlakukan secara universal. Menurut saya, jika kondisinya demikian, bahkan pengetahuan tersebut pun sudah tidak dapat lagi dikatakan sebagai suatu ilmu.

Dalam artikel Menggugat Diktum Bebas Nilai dalam Sains (2007), dikatakan bahwa memang seringkali para ilmuwan terpengaruh oleh tradisi budaya mereka dalam menyusun suatu ilmu. Pengaruh dari nilai luar selain nilai pengetahuan itu sendiri memang sulit untuk dihindari. Karena setiap orang, setiap ilmuwan dan para peneliti pun mempunyai latar belakang yang berbeda. Perbedaan latar belakang tersebut menyangkut tradisi, nilai-nilai agama, moral, sosialisasi, ekonomi, sampai kondisi politik masing-masing negara mereka pun berbeda. Perbedaan nilai-nilai dalam latar belakang setiap orang itulah yang seringkali menyebabkan sangat sulit untuk terciptanya suatu ilmu yang memang benar-benar bebas nilai.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, memang sangat sulit untuk menciptakan suatu ilmu pengetahuan yang benar-benar bebas nilai. Namun, kesulitan inilah yang menjadi tantangan bagi setiap ilmuwan. Bagaimana mereka harus bisa menciptakan suatu ilmu pengetahuan yang benar-benar ilmiah dan mengandung kebenaran secara utuh. Ilmu pengetahuan itu pun juga hendaknya bersifat universal yang dapat diakui kebenarannya di mana pun oleh semua orang. Nilai dari ilmu itu juga hendaknya dapat berguna bagi selunih masyarakat. Jadi ilmu pengetahuan yang diciptakan tidak sekedar hanya dapat berlaku bagi semua pihak saja, tapi juga harus bisa memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

Uraian

Pada persoalan yang telah dijelaskan di atas, memang dewasa ini banyak sekali terjadi permasalahan yang demikian. Banyak aspek nilai lain yang memengaruhi ilmuwan dalam menciptkan suatu ilmu pengetahuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sekarang persoalan yang dipertanyakan ialah bagaimana cara menghindari masalah tersebut. Juga mengapa persoalan itu menjadi penting dan patut untuk diperjuangkan kebenarannya.

Dimulai dari pengertian akan ilmu pengetahuan. Ilmu ialah suatu bidang studi atau pengetahuan yang sistematik untuk menerangkan suatu fenomena dengan acuan materi dan fisiknya melalui metode ilmiah (Marzoeki, 2000). Sedangkan pengetahuan merupakan sesuatu yang diketahui, hal yang diketahui bisa apa saja tanpa syarat dan bisa diperoleh dengan atau tanpa metode ilmiah (Marzoeki, 2000). Maka itu, jika pengetahuan saja, belum tentu merupakan suatu ilmu. Suatu ilmu pengetahuan harus berdasar pada kaidah ilmiah dan menjadi dirinya sendiri (Keraf & Dua, 2001).

Suatu ilmu pengetahuan juga dituntut untuk bebas nilai. Maksud bebas nilai adalah suatu tuntutan yang ditujukan kepada ilmu pengetahuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan nilai-nilai di luar ilmu pengetahuan (Keraf & Dua, 2001). Tuntutan dasarnya adalah agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan dan tidak boleh dikembangkan berdasarkan pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan harus murni dikembangkan berdasarkan pertimbangan ilmiah.

Nilai lain di luar nilai ilmu pengetahuan itu sendiri seperti nilai budaya, moral, agama, politik, dan sebagainya. Ilmu pengetahuan tidak baleh berpihak atau terpengaruh oleh salah satu nilai tersebut. Hal itu agar ilmu pengetahuan dapat berlaku di mana pun juga bagi semua orang. Juga supaya ilmu pengetahuan mengandung kebenaran yang utuh. Dalam artikel Menggugat Diktum Bebas Nilai dalam Sains (2007), juga menyatakan bahwa ilmu pengetahuan memiliki sifat yang netral dan universal.

Ilmu pengetahuan yang bebas nilai juga bertujuan agar ilmu pengetahuan dapat mencapai kebenaran ilmiah yang objektif dan rasional (Keraf & Dua, 2001). Tidak dibenarkan bila suatu ilmu pengetahuan hanya berlaku bagi kepentingan suatu pihak tertentu. Jika demikian maka ilmu pengetahuan tidaklah bersifat universal. Maka suatu ilmu pengetahuan yang bebas nilai amatlah penting. Hal itu untuk mencapai tujuan akhir diciptakannya ilmu pengetahuan. Tujuan akhir dari ilmu pengetahuan ini ialah untuk mencari dan memberi penjelasan tentang fenomena dalam alam semesta ini, serta memberi pemahaman kepada manusia tentang berbagai masalah clan fenomena dalam hidup (Keraf & Dua, 2001).

Kesimpulan

Banyak masalah yang sering terjadi dalam ilmu pengetahuan. Terutama berkaitan dengan masalah ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai. Ilmu tersebut terpengaruh pada nilai lain seperti budaya, agama, moral, politik, atau lainnya. Seringkali para ilmuwan dalam rnenciptakan suatu ilmu terpengaruh nilai-nilai lain tersebut, sehingga ilmu yang tercipta hanya berpihak pada pihak tertentu clan ticlak berlaku universal.

Maka dari itu, menurut saya, sangatlah penting suatu ilmu yang bebas nilai. Ilmu pengetahuan harus terbebas akan nilai lain di luar nilai ilmu pengetahuan itu sendiri. Selain itu ilmu pengetahuan juga harus berdasarkan pada kaidah ilmiah yang mengandung kebenaran utuh. Sehingga ilmu pengetahuan dapat bersifat universal, terjamin kebenarannya, clan dapat mencapai tujuannya. Adapun tujuan dari ilmu pengetahuan ialah untuk mencari clan memberi pemahaman kepada manusia mengenai berbagai masalah dan fenomena dalam hidup (Keraf & Dua, 2001).

Daftar Pustaka

Keraf, A. S. & Dua, M. (2001). Ilmu Pengetahuan. Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Kanisius.

Marzoeki, D. (2000). Budaya Ilmiah dan Filsafat Ilmu. Jakarta: Grasindo.

Marzoeki, D. (2007). Menggugat Diktum Bebas Nilai dalam Sains. UGM.

About these ads

5 responses to “Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan

  1. gini…. aku tu sering kesulitan dakam mata kulia filsafat apalagi pengertian ilmu yang bebas nilai… bisa bantu ngak k fika???…. penting niee… aku tu sering debat sama teman-teman soal ini…. jadi aku sering malu sendiri karena belum mendapatkan jawaban yang pas…. yang intinya saja…. mengapa ilmu pengetahuan bebas nilai??….

  2. Sorry, sudah lama sekali saya tidak up date blog ini. Saat ini saya sedang tugas belajar di luar negeri, jadi agak jarang akses blog ku sendiri.

    Tentang pertanyaanmu itu, saya coba berikan beberapa jawaban di sini, ya. Kalau kita bicara tentang ilmu yang bebas nilai (value free), biasanya yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan dan pengembangannya berdasarkan logika ilmu pengetahuan itu sendiri, tidak ditentukan atau tidak merujuk ke nilai-nilai tertentu dalam masyarakat, misalnya nilai keagamaan, etika, norma, kebiasaan, adat istiadat, dan sebagainya. Dalam arti ini, kalau Anda seorang ilmuwan, misalnya, yang yakin berdasarkan keahlianmu, bahwa prenatal diagnosis dapat mencegah lahirnya anak-anak cacat, dan bahwa ketika mendeteksi embrio dalam kandungan ternyata ditemukan embrio cacad, karena itu harus digugurkan. Perhitungan keilmuan yang bebas nilai akan mengatakan bahwa menggugurkan kandungan itu dilakukan secara ilmiah dengan menerapkan teknologi reproduksi semata-mata demi alasan keilmuan (objektivitas ilmu), tidak peduli nilai dalam masyarakat mau mengatakan apa (itu bukan urusan ilmu pengetahuan).

    Tetapi ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai (value laden) akan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan pengembangannya tidak boleh melupakan begitu saja nilai-nilai dalam masyarkat. Mereka yang pro pada pendekatan ini akan mengatakan bahwa menggugurkan kandungan karena alasan bayinya cacad tidak bisa dibenarkan secara etika, apalagi agama.

    Dalam praktik, ilmu pengetahuan tidak bisa bebas nilai sama sekali. Bagaimana pun juga ilmu pengetahuan berkembang dan bertumbuh dalam masyarakat yang memiliki nilai dan norma. Tetapi di lain pihak, ilmu pengetahuan tidak bisa diberi beban berlebihan untuk memperhatikan selalu nilai-nilai. Dalam filsafat ilmu kita membedan konteks penemuan ilmu (context of discovery) dan konteks pembuktian ilmu (context of justification). Dalam konteks pembuktian atau justifikasi, ilmu pengetahuan tidak bisa bebas nilai. Sementara dalam konteks penemuan ilmu, demi alasan objektivitas, ilmu pengetahuan tentu bisa bebas nilai.

    Apakah ini bisa menjawab pertanyaan Anda??

  3. ketika kita sedang mempelajari ilmu bebas nilai kemudian kita menemui bahwa terjadi kesalahpahaman mengenai ilmu bebas nilai dikalangan masyarakat, apa yang harus kita lakukan?

  4. terimakasih atas sharing nya… bermanfaat sekali..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s