Masalah Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan


Oleh Jessy Nirmala Sari (2008-070-059)

Pengantar:

Berikut ini adalah tulisan mahasiswa saya di Atmajaya. Mereka mahasiswa psikologi semester 4, dan bukan mahasiswa filsafat. Karena itu, tentu tulisan yang mereka hasilkan tidak memiliki flavor filsafat yang memadai. Meskipun demikian, mereka telah menghasilkan suatu renungan yang pantas diapresiasi.

Pendahuluan

Bebas nilai adaiah tuntutan yang ditujukan pada ilmu pengetahtuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan nilai-nilai lain di luar nilai-nilai yang diperjuangkan ilmu pengeyahuan. Tujuan dari tuntutan bebas nilai ini adalah agar ilmu pengetahuan tidak tunduk pada pertimbangan lain di luar ilmu pengetahtuan sehingga mengalami distorsi dan agar kebenaran tidak dikorbankan untuk nilai-nilai di luar ilmu pengetahtuan.

Terdapat dua konteks bebas nilai dalam ilmu pengetahtuan, yakni context of discovery dan context of justification. Context of discovery merupakan konteks di mana ilmu pengetahtuan ditemukan. Dalam konteks ini ilmu pengetahuan tidak bebas nilai. Banyak penemuan ilmu pengetahtuan dilatarbelakangi oleh nilai-nilai di luar ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam context of justification, yaitu konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan kegiatan ilmiah, ilmu pengetahuan harus bebas nilai. Hanya kebenaran data, fakta, dan keabsahan metode ilmiah yang diperhitungkan.

Tesis

“Bagaimana dengan hasil penelitian ilmiah yang telah terbukti kebenarannya berdasarkan kriteria ilmiah murni, tetapi ternyata dianggap bertentangan dengan nilai moral dan religius tertentu?” (Keraf dan Dua, 2001).

Dalam konteks di atas, saya mengambil contoh nyata pembuatan bom nuklir “Project Manhattan” yang digelar oleh Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II. Proyek ini mempekerjakan lebih dari 130.000 orang dan hampir menghabiskan US$ 2 milyar. Proyek Manhattan menghasilkan rancangan, produksi, dan peledakan dari tiga bom nuklir pada tahun 1945. Yang pertama menggunakan Plutonium yang diproduksi di Hanford, dites pada 16 Juli di Situs Trinity, tes nuklir pertama dunia, dekat Alamogordo, New Mexico. Yang kedua adalam bom Uranium yang disebut juga Little Boy, diledakkan pada tanggal 6 Agustus 1945 di kota Hirosima, Jepang. Yang ketiga adalah bom Plutonium yang disebut juga Fat Man, diledakkan di Nagasaki, Jepang, pada tanggal 9 Agustus 1945.

Keputusan untuk menolah atau menerima penelitian ini sesungguhnya tergantung pada kegunaannya bagi masyarakat. Dalam context of justification, penemuan ini telah terbukti kebenarannya berdasarkan kriteria ilmia rnurni. Hasil ini sah secara ilmiah dan tidak dapat ditolak. Namun dalam context of dicovery, pembuatan bom nuklir ini bertentangan dengan nilai moral dan religius. Penggunaan bom nuklir dalam perang telah merenggut nyawa banyak orang. Radiasi nuklir dapat menyebabkan penyakit kanker dam kebutaan. Tanah yang dijatuhi bom nuklir akan terkontaminasi bahan nuklir sebingga tidak bisa dijadikan lahan pertanian. Karena hasil penemuan bom nuklir merugikan orang banvak, hasil tersebut perbi ditolak.

Namun sayangnya pembuatan bom nuklir tetap dilakukan untuk memenuhi kepentingan negara yang berperang. Dari sini dapat kita lihat terdapat unsur kepentingan politik yang rnelatarbelakangi pembuatan bom nuklir ini. Meskipun bertentangan dengan nilai moral dan religius, pembuatan born nuklir tetap dilakukan demi kepentingan politik, yaitu memenaigkan perang.

Kesimpulan

Pada akhimya, keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan penelitian kembali kembali lagi pada moral sang ilmuwan. Ilmuwan yang yang melakukan pembuatan bom nuklir dipersilakan memutuskan sendiri apakah ia akan tetap mengembangkan ilmunya yang merugikan masyarakat, atau menghentikannya. Jika ilmuwan tersebut mengehentikan penemuan tersebut, bukan berarti otonomi ilmiahnya dilanggar atau dibatasi, hanya saja ia merasa penemuanya itu berbahaya bagi bidup manusia sehingga barus dihentikan.

Menurut pendapat pribadi, saya kurang menyetujui pembuatan bom nuklir karena hal tersebut merupakan hal yang tidak memiliki kegunaan bagi rakyat banyak. Pengembangan ilmu pengetahuan harus bebas dari kepentingan goIongan tertentu, apalagi yang dapat merugikan masyarakat. Meskipun ilmu pengetahuan harus bebas nilai, namun jika pengembangan ilmu pengetabuan tersebut membabayakan masyarakat sebaiknya dihentikan. Intinya, menurut saya, pengembangan ilmu pengetahuan seharusnya dilakukan untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Daripada digunakan untuk membuat bom, sebaiknya nuklir digunakan unluk kepentingan lain yang dapat mensejahterakan rakyat, misalnya sebagai sumber energi (pembangkit listrik tenaga nuklir).***

Daftar Pustaka

Keraf, S. A. & Dua, M. 200 1. Ilmu Pengetahuan.: Sebuah Tinjauan Kritis. Yogyakarta: Kanisius.

Wikipedia.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s