LOGIKA DAN BAHASA


Sudah kita lihat bab terdahulu bahwa pemikiran atau penalaran itu mengandung dua aspek, yaitu aspek kegiatan mental dan aspek ekpresi verbal. Aspek kegiatan mental menyiratkan bahwa pemikiran atau penalaran berlangsung di dalam “batin”. Tetapi bila pemikiran itu hendak saya beritahukan kepada orang lain, maka pemikiran itu harus saya nyatakan atau saya ungkapkan dengan tanda-tanda, isyarat-isyarat, atau dengan kata-kata. Bahasa – baik lisan atau tertulis – adalah alat untuk menyatakan isi pemikiran. Pikiran berfungsi lewat dan di dalam bahasa. Hanya sejauh dibahasakan sesuatu dapat ditangkap dan dimengerti.

Memang, harus diakui, isi pemikiran tidak selalu dapat diungkapkan dengan sempurna dalam bentuk bahasa. Tetapi bagaimana pun juga, untuk mengetahui pemikiran seseorang mau tak mau kita harus berpijak pada ekspresi verbal pemikiran itu, yaitu bahasa yang digunakannya. Hal itu berlaku juga apabila orang lain mau mengerti pemikiran kita. Maka tepatlah dikatakan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran sekaligus tempat terjadinya penilaian terhadap suatu pemikiran. Apakah sahih? Manakah syarat-syarat yang harus ditaati agar dapat menalar dengan tepat, lurus, dan teratur?

Di sini menjadi jelas bahwa ada hubungan yang erat antara pemikiran dan bahasa. Maka benar pula bahwa berpikir dengan jelas dan tepat menuntut pemakaian bahasa yang tepat. Kekacauan dalam penggunaan bahasa sering menunjukkan kekacauan dalam pemikiran. Sebaliknya, pemakaian bahasa yang tepat dan sangat menolong kita untuk berpikir dengan “lurus”.

Dengan berpegang pada kesadaran akan hal tersebut, maka adalah relevan sekali kacau pada akhir bab I kami mengatakan bahwa meskipun diktat ini sesungguhnya bermaksud untuk memusatkan perhatian pada logika deduktif formal, kami toh merasa perlu juga untuk terlebih dahulu membicarakan kaitan antara logika dan bahasa.

Untuk maksud itu, pendekatan yang kami gunakan adalah pendekatan secara negatif, yaitu dengan menunjukkan beberapa contoh kesalahan logis yang sering terjadi dalam penggunaan bahasa, khususnya bahasa tulisan.

1.    Mencampuradukan Dua Kalimat yang Sudah Benar

Pertama-tama marilah kita menyimak contoh berikut ini, yang dikutip dari kupasan seorang ahli bahasa Indonesia yang terkenal (J. S. Badudu, Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, Jakarta: PT Gramedia, 1983, hlm. 12-13):

(1)   Di Wimbledon, antara Connors dan Borg sudah berhadapan tiga kali.

Kalimat di atas itu mau memberitahu kita bahwa “Connors dan Borg sudah pernah berhadapan tiga kali.” Jika ditanya, “Siapa yang sudah berhadapan tiga kali?” maka jawabannya tidak mungkin “antara Connors dan Borg”. Di sini nyata bahwa kata depan “antara”  yang terletak di depan Connors dan Borg tidak perlu dipakai. Secara tata bahasa kita katakan bahwa “Connors dan Borg” adalah subjek kalimat dan “sudah berhadapan tiga kali” adalah predikatnya.

Kesalahan yang kita lihat dalam kalimat di atas terjadi karena di depan subjek kalimat diletakkan kata-depan atau preposisi. Kalimat yang kita bicarakan itu rancu susunannya karena penutur mengacaukan dua buah kalimat yang betul strukturnya menjadi sebuah kalimat yang kacau. Kalimat yang kacau susunannya (kalimat kutipan dari koran) itu dapat kita kembalikan kepada dua buah kalimat asal yang betul strukturnya, yaitu:

(1a)  Connors dan Borg sudah berhadapan tiga kali Di Wimbledon.

(1b) Tiga kali pertandingan sudah pernah terjadi antara Connors dan Borg di Wimbledon.

Pada kalimat (1b) kita lihat bahwa subyek kalimat itu bukan Connors dan Borg, melainkan tiga kali pertandingan. Predikatnya ialah sudah pernah terjadi, dan antara Connors dan Borg merupakan keterangan predikat.

2.    Bentuk Tidak Sejajar

Kesalahan logis lain yang kerap kita jumpai dalam berbahasa ialah bentuk yang tidak sejajar. Kesalahan ini terjadi apabila gagasan-gagasan yang mempunyai fungsi yang sama dalam suatu kalimat ditempatkan dalam struktur kata yang berbeda. Kenyataan ini sesungguhnya menunjukkan kekacauan pikiran pada si penutur. Yang seharusnya ialah apabila salah satu dari gagasan itu ditempatkan dalam struktur kata benda, maka kata-kata atau kelompok-kelompok kata yang lain yang menduduki fungsi yang sama harus juga ditempatkan dalam struktur kata benda; apabila yang satunya ditempatkan dalam struktur kata kerja, maka yang lain-lainnya juga harus ditempatkan dalam struktur kata kerja. Kesejajaran bentuk atau paralisme ini membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal dengan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam struktur yang sama.

Perhatikan contoh berikut ini:

(2)   Tugas pegawai baru itu adalah mencatat jumlah jam lembur para pegawai, mengetik surat dan pembukuan.

Bila kita perhatikan contoh diatas, maka tampak bahwa mencatat jumlah jam lembur para pegawai, mengetik surat dan pembukuan adalah gagasan-gagasan mempunyai fungsi yang sama dalam kalimat tersebut, tetapi ditempatkan dalam struktur kata yang berbeda. Dua yang pertama ditempatkan dalam struktur kata kerja, sedangkan yang terakhir ditempatkan dalam struktur kata benda. Ketidaksejajaran bentuk ini menyiratkan adanya kekacauan pikiran pada si penutur dalam mengemukakan gagasan-gagasan tersebut. Apabila gagasan-gagasan tersebut ditempatkan dalam struktur yang sejajar, ketiganya dapat dihubungkan secara mesra serta akan memunculkan tekanan yang lebih jelas. Dengan demikian kalimat tersebut seharusnya berbunyi:

(2a) Tugas pegawai baru itu adalah mencatat jumlah jam lembur para pegawai, mengetik surat, dan menyusun pembukuan.

Atau:

(2b)Tugas pegawai baru itu adalah pencatatan jumlah jam lembur para pegawai, pengetikan surat, dan pembukuan.

Ketidaksejajaran bentuk ini juga sering terjadi pada kalimat-kalimat yang mengandung pemerian (enumerasi) dalam bentuk butir-butir. Kita perhatikan contoh berikut ini:

(3)   Syarat-syarat untuk mengikuti acara tersebut adalah:

(a)   Mengisi formulir pendaftaran.

(b)   Membayar uang pendaftaran.

(c)   Mengikuti pengarahan yang waktunya akan ditentukan kemudian.

(d)   Indeks prestasi kumulatif minimal 2,75%.

Dalam keseluruhan kalimat (3) di atas gagasan-gagasan yang terdapat pada butir-butir (a), (b), (c), dan (d) mempunyai fungsi yang sama. Namun, kita lihat bahwa struktur-struktur kata pada butir (a), (b), dan (c) berbeda dengan strutkur kata pada butir (d). Tiga butir yang pertama berstruktur kata kerja, sedangkan butir yang terakhir berstruktur kata benda. Ketidaksejajaran bentuk ini tidak hanya mencerminkan kekacauan pikiran, tetapi juga mengaburkan gagasan yang akan disampaikan.

Konsekuensi lebih lanjut dari ketidaksejajaran bentuk pada pemerian di atas ialah bahwa sebagai satu kesatuan kalimat, kita mendapatkan adanya bagian yang tidak “nyambung”. Apabila gagasan-gagasan yang terdapat pada masing-masing butir itu kita satukan dengan gagasan utamanya (syarat-syarat untuk mengikuti acara tersebut adalah :) , maka  nampak bahwa penyatuan masing-masing gagasan yang terdapat pada butir (a), (b), dan (c) dengan gagasan utama tersebut akan melahirkan penalaran yang “nyambung”. Sedangkan penyatuan gagasan yang terdapat pada butir (d) dengan gagasan utama tersebut akan melahirkan penalaran yang tidak “nyambung”. Dengan demikian kalimat yang benar seharusnya berbunyi:

(3a) Syarat-syarat untuk mengikuti acara tersebut adalah:

(a)   mengisi formulir pendaftaran.

(b)   Membayar uang pendaftaran.

(c)   Mengikuti pengarahan yang waktunya akan ditentukan.

(d)   Memiliki indeks prestasi kumulatif minimal 2,75%

Pada contoh (3) ini, gagasan-gagasan yang terdapat pada masing-masing butir tidak akan kita ubah strukturnya menjadi kata benda. Karena kalau masing-masing butir itu berstruktur kata benda maka pada saat kita satukan dengan gagasan utamanya akan terjadi penalaran yang tidak “nyambung”.

Catatan:

Apabila kita bandingkan kalimat (3) dengan (3a), maka segi penggunaan huruf kapital dan penggunaan tanda baca terdapat perbedaan. Pada kaliamt (3), masing-masing butir diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik (.); sedangkan pada kalimat (3a) masing-masing butir diawali dengan huruf kecil dan diakhiri dengan tanda baca koma (,). Yang manakah yang benar? Kami berpendapat bahwa karena ia merupakan satu kesatuan kalimat, maka tidak ada alasan untuk menggunakan huruf kapital dan tanda baca titik pada masing-masing butir tersebut, sebab masing-masing butir tersebut bukanlah kalimat baru. Lain halnya kalau pembaca diminta hanya memilih salah satu dari butir-butir tersebut, seperti yang biasa terjadi pada soal-soal “pilihan berganda”. Sebagai contoh:

Nama lain logika simbolis ialah:

  1. logika klasik,

0logika tradisional,

  1. logika modern,
  2. logika Aristoteles.

Pada contoh ini, tanda baca titik memang harus digunakan, karena hanya satu saja dari butir-butir itu yang boleh disatukan dengan gagasan utamanya; dan dengan penyatuan salah satu butir tersebut kalimat telah selesai. Tetapi, karena butir-butir tersebut bukan merupakan suatu kalimat baru, maka tak perlu juga butir-butir tersebut diawali dengan huruf kapital, kecuali kalau memang kata yang bersangkutan pada dirinya sendiri memang harus diawali dengan huruf kapital (misalnya nama orang, kota, dll).

3.    Ungkapan yang keliru

Apabila logika seseorang tidak berjalan dengan baik, maka dalam berbahasa tidak mustahil orang tersebut menggunakan ungkapan yang keliru atau kata yang tidak tepat, sehingga menimbulkan ketidaklogisan alur pikiran. Berikut ini kita lihat contoh yang mewakili hal tersebut.

(4) Target yang berusaha dicapai itu tak seluruhnya harus kamu penuhi.

Bagian awal kalimat itu (subyek kalimat) berbunyi “target yang dicapai itu”. Kita bertanya, “Adakah target dapat berusaha?” Yang berusaha itu bukan target, tetapi orang. Di sini kita lihat bahwa logika si penyusun kalimat itu tidak jalan. Kata “berusaha” pada kalimat itu tidak tepat dan membuat kalimat itu menjadi tidak logis. Kalimat di atas menjadi benar dan logis jika kata berusaha diubah menjadi diusahakan.

(4a) Target yang diusahakan dicapai itu tak seluruhnya harus kamu penuhi.

Kita teruskan dengan contoh berikut ini:

(5) Peningkatan mutu universitas kami sungguh-sungguh kami beri prioritas untuk ditingkatkan.

Pada kalimat (5) kita dapat mengajukan pertanyaan, “Apa yang diberi prioritas untuk ditingkatkan?” Jawaban yang tepat ialah “mutu univrsitas kami”, tetapi jawaban itu ternyata tidak terdapat dalam kalimat tersebut. Yang ada hanyalah “peningkatan mutu universitas kami”. Di sini terlihat adanya kekeliruan atau ketidaktepatan penggunaan ungkapan atau kata, sehingga alur pihak menjadi tidak logis. Hal ini menunjukkan kacaunya pikiran si penutur.

Seharunya ialah:

(5a) Peningkatan mutu universitas kami sungguh-sungguh kami beri prioritas untuk dilaksanakan. Atau

(5b) Mutu universitas kami sungguh-sungguh kami beri prioritas untuk ditingkatkan.

4.    Ungkapan yang Ambigu

Dalam penggunaan bahasa, khususnya bahasa tulisan, selain dituntut ketepatan ungkapan juga dituntut ketunggalan arti. Hal ini perlu diperhartikan supaya orang yang membacanya dapat menangkap dengan tepat pengertian yang mau disampaikan. Karena itu, dalam bahasa tulisan sangat dituntut pertimbangan yang seksama terhadap penggunaan kata, frase, dan kalimat agar tidak terjadinya ungkapan yang ambigu. Dalam contoh berikut ini kita temukan ambiguitas itu, karena keterangan yang lincah bisa menerangkan sitri perwira atau hanya perwira.

(6) Istri perwira yang lincah itu sedang membaca koran. Kalau yang lincah dalam kalimat di atas dimaksudkan sebagai keterangan dari istri perwira, demi mencegah ambiguitas kita dapat menggunakan tanda penghubung antara istri dan perwira untuk menunjukkan adanya kesatuan yang mesra antara kedua kata tersebut, sehingga jelas bahwa yang lincah bukan menerangkan perwira saja. Jadi kalimatnya tertulis sebagai berikut:

(6a) Isteri-perwira yang lincah itu sedang membaca koran. Sedangkan kalau yang lincah tersebut dimaksudkan sebagai keterangan dari perwira saja, maka kita dapat menggunakan tanda penghubung antara perwira dan yang dan lincah atau juga kita dapat menggunakan kata dari antara istri dan perwira untuk menunjukkan mesranya hubungan perwira dengan yang lincah dan secara bersama-sama (perwira yang lincah) menerangkan istri. Jadi kalimat tertulis sebagai berikut:

(6b) Istri perwira-yang-lincah itu sedang membaca koran. Atau

Contoh lain ialah:

(7) Yang diperbolehkan ikut dalam proyek penelitian itu adalah mahasiswa fakultas ekonomi dan mahasiswa fakultas kedokteran angkata ’88.

Pada contoh (7) di atas kita menemukan ambiguitas, karena keterangan angkatan ’88 bisa menerangkan hanya mahasiswa fakultas kedokteran atau mahasiswa fakultas kedokteran. Kalau angkatan ’88 itu dimaksudkan untuk menerangkan mahasiswa fakultas kedokteran saja, maka kalimat berikut ini akan lebih jelas:

(7a) Yang diperbolehkan ikut dalam penelitian itu adalah mahasiswa fakultas kedokteran angkatan ’88 dan mahasiswa fakultas ekonomi.

Sedangkan kalau angkatan ’88 itu dimaksudkan untuk merangkan baik mahasiswa fakultas ekonomi maupun mahasiswa fakultas kedokteran, maka kalimat berikut ini akan lebih jelas:

(7b) Yang diperbolehkan ikut dalam proyek penelitian itu adalah mahasiswa angkatan ’88, khusus dari fakultas ekonomi dan dari fakultas kedokteran.

Demi menghindari ambiguitas ini, kerap kali peranan tanda baca menjadi amat penting. Kita mungkin tidak menyadari hal ini sehingga pengertian yang ingin kita sampaikan menjadi kabur atau ambigu. Perhatikanlah kalimat-kalimat berikut:

(8) Pacar saya yang tinggal di Bandung sangat romantis. Karena anak kalimat yang tinggal di Bandung pada kalimat (8) membatasi pengertian pacar saya, maka implikasinya ialah bahwa saya mempunyai lebih dari satu pacar dan salah satu di antara mereka tinggal di Bandung. Marilah kita bandingkan kalimat (8) itu dengan kalimat (8a) berikut ini:

(8a) Pacar saya, yang tinggal di Bandung, sangat romantis. Pada kalimat (8a) ini, anak kalimat yang tinggal di Bandung, yang ditulis di antara dua tanda koma, hanyalah merupakan keterangan tambahan dan tidak membatasi frase pacar saya. Implikasi kalimat (8a) ini ialah bahwa saya hanya mempunyai seorang pacar dan pacar saya itu tinggal di Bandung. Karena itu, supaya apa yang ingin kita sampaikan dapat ditangkap dengan tepat oleh orang lain, peranan tanda baca perlu pula kita sadari.

5.    Subjek yang Tidak Sesuai dengan Frase Partisipial

Yang kami maksud dengan “frase partisipal” ialah frase yang mendahului subyek kalimat dan memberi keterangan tentang subyek tersebut. Dengan kata lain, frase ini adalah frase yang ditempatkan sebelum subyek kalimat dan menunjuk langsung pada subyek tersebut. Sehubungan dengan penggunaan frase partisipal ini, orang sering tidak menyadari hubungan antara frase partisipal dan subyek, sehingga kalimat yang mengandung frase partisipal yang dilontarkannya sesungguhnya tidak mewakili apa yang mau disampaikannya. Perhatikanlah contoh-contoh berikut ini:

(9) Petinju terguncang oleh pukulan yang keras, penonton menyoraki petinju itu.

(10) Karena tidak membuat pekerjaan rumah, guru menghukum murid itu.

Pada kalimat (9), subyeknya adalah penonton. Karena frase partisipial dalam suatu kalimat majemuk langsung pada subyek kalimat tersebut, maka dalam kalimat (9) di atas “terguncang oleh pukulan yang keras” menerangkan atau menunjuk langsung pada penonton. Kalau si penutur kalimat tersebut bermaksud untuk mengatakan bahwa yang terguncang oleh pukulan yang keras adalah petinju itu, maka kalimat yang benar berbunyi:

(9a) Terguncang oleh pukulan yang keras, petinju itu disoraki penonton.

Kalau kita bandingkan kalimat-kalimat sesudah koma pada (9) dan (9a) sesungguhnya keduanya mempunyai arti yang sama. Akan tetapi, dalam kaitannya dengan frase di muka koma, maka yang terguncang pada masing-masing kalimat itu berbeda.

Berdasarkan uraian tersebut, kita tentu mengerti mengapa kalimat (10) itu agaknya bukanlah kalimat yang mewakili maksud si penutur yang sesungguhnya. Sebab, kalau kalimatnya seperti itu, yang tidak membuat pekerjaan rumah bukanlah murid itu melainkan guru. Kalau betul yang dimaksudkan sebagai yang tidak membuat pekerjaan rumah adalah murid itu, maka kalimat yang benar berbunyi:

(10a) Karena tidak membuat pekerjaan rumah, murid itu dihukum guru.

6.      Perbandingan yang Tidak Setara

Dalam membuat kalimat-kalimat yang mengandung perbandingan kesalahan logis yang bisa terjadi ialah bahwa hal-hal yang kita perbandingkan tidaklah setara. Perhatikanlah contoh-contoh berikut ini:

(11)     Kualifikasinya jauh lebih baik daripada calon-calon lain.

(12)     Bentuk ruangan-ruangan kelas di universitas ini berbeda dengan universitas-universitas lain.

Pada kalimat (11) perbandingan yang terjadi sesungguhnya antara kualifikasinya dengan calon-calon lain. Tentu saja apa yang diperbandingkan ini tidaklah setara. Kalau maksud si penutup adalah memperbandingkan antara kualifikasinya dengan kualifikasi calon-calon lain, maka kalimat itu seharusnya berbunyi:

(11a) Kualifikasinya jauh lebih baik dari pada kualifikasi calon-calon lain.

Begitu juga halnya dengan kalimat (12). Perbandingan yang terjadi pada kalimat itu tidaklah setara, karena yang diperbandingkan adalah bentuk ruangan-ruangan kelas di universitas ini dan universitas-universitas lain. kalau maksud di penutur adalah memperbandingkan antara bentuk ruangan-ruangan kelas universitas ini dengan bentuk ruangan-ruangan kelas di universitas lain, maka kalimat itu seharusnya berbunyi:

(12a) Bentuk ruangan-ruangan kelas di universitas ini berbeda dengan bentuk ruangan-ruangan kelas di universitas lain.


LATIHAN

  1. Tentukan manakah kalimat yang rancu, kemudian kembalikan ke dalam dua kalimat yang berstruktur logis!

a.   Dari puluhan pelamar mendapat imbalan Rp. 100.000,00.

b.   Di nomor itu peluang kita paling besar untuk meraih medali emas.

c.   Di teluk Oman, antara pemimpin militer Amerika Serikat dan Arab Saudi terjadi pertikaian pekan lalu.

d.   Dengan adanya perubahan sistem mengakibatkan program-program organisasi bisa berjalan dengan baik.

e. Di masyarakat Jawa sejak dahulu sudah mengenal gotong-royong.

f.   Bapak Gubernur kami persilahkan naik ke atas pentas.

  1. Kebanyakan orang mengira bahwa kalau orang berbicara tentang hukum berarti orang secara implisit berbicara tentang keadilan.
  2. Dengan acara gila-gilaan seperti itu bisa menimbulkan kecil hati para penonton.
  3. Di sekolah murid-murid dilarang tidak boleh merokok.
  4. Suasana saat itu benar-benar terasa sangat mencekam.
  5. Serbuk gergaji, potongan kayu, dan kayu gelondongan kelihatan banyak mengambang menghalangi lalulintas di sungai itu.
  6. Malam harinya, antara Sanyiwo dan Kasim mulai menunjukkan tanda-tanda tak bersahabat.
  7. Dalam perkelahian di antara sesama saudara kandung di Arab ada “aturan mainnya”.
  8. Dalam membangun jembatan itu, antara ABRI dan rakyat telah bekerja sama dengan baik.
  9. Dengan surat ini menerangkan bahwa hari ini dia berhalangan hadir karena sakit.
  10. Pada tahun-tahun kritis, ada petani yang terpaksa mengobral barang-barang mewah yang dibelinya saat emas dan coklat berjaya.
  11. Dari isi suratnya menyatakan bahwa ia sedang kekurangan duit.
  12. Tentukanlah manakah kalimat yang bentuknya tidak sejajar dan kemudian perbaiki kalimat tersebut!
    1. Dibutuhkan segera seorang tenaga sekretaris eksekutif dengan syarat:

-         Sarjana dengan latar belakang pendidikan ekonomi.

-         Menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan.

-         Pengalaman kerja minimal lima tahun di bidang administrasi.

-         Mampu bekerja sendiri.

-         Pria/wanita.

  1. Acara pertama setelah bangun tidur dan selepas shalat subuh adalah membaca koran, merapihkan ruangan, dan perhatiannya diarahkan pada kelengkapan kantor.
  2. Dalam setiap kehidupan pastilah terjadi gesekan-gesekan, percobaan-percobaan, dan benturan-benturan.
  3. Tahun ini ekspor kita ke Eropa bertambah dengan 25%, sedangkan ekspor kita ke Amerika hanya naik 10% saja.
  4. Bahasa Indonesia mengalami kekacauan, baik dalam penggunaan istilah maupun dalam pemakaiannya sehari-hari sebab kita kekurangan sarana bacaan, buku-buku, dan ditambah pula dengan adanya metode mengajar yang kurang baik, serta adanya kemalasan berpikir.
  5. Tiga pasang suami-isteri; A+a, B+b, C+c pergi bertamasya.
  6. Ada anak: M, N, O, P, Q, R, S dan T. masing-masing mempunyai dua dari sifat-sifat berikut: kuat, sportif, cerdas, besar, ketenangan, dan ketangkasan.
  7. Lala, Mama, dan Nana dilahirkan  di negeri Lili, Mimi, dan Nini, sekarang tinggal di kota Lolo, Momo, dan Nono.
  8. Untuk mempersiapkan sebuah pidato yang baik perlu diperhatikan langkah-langkah berikut:
    1. meneliti masalah;
    2. mempersiapkan bahan.
    3. Penyajian.
  9. Keuntungan layanan Unicash ialah:
    1. Pengambilan uang tunai 24 jam setiap hari termasuk hari libur.
    2. Dapat mengikuti perkembangan saldo rekening tiap saat.
    3. Tidak perlu antri dan menunggu berbagai proses pengesekan.
    4. Layanan Unicash akan terus menyebar di berbagai lokasi strategis.
    5. Penggunaan yang mudah dan cepat.
  10. Ny. Pramono mengatakan bahwa pendidikan seks itu tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, sehingga tidak mungkin diberikan di depan umum, baik terhadap anak maupun orang dewasa, karena sifat, pembawaan, daya tangkap, adat-istiadat, agama, dan lain-lainnya berbeda-beda.
  11. Guru sangat cocok bagi wanita sebab mereka hanya bekerja setengah hari.
  12. Keputusan itu disetujui oleh 12 orang anggota dan sisanya abstein.
  13. Buku ini diterbitkan dengan tujuan meningkatkan pengajaran bahasa Indonesia terutama mengenai/tentang wawasan bahasa Indonesia.
  14. Saya memilih Atma Jaya, karena Universitas ini memiliki disiplin yang ketat, pohon-pohon yang rimbun, udara yang sejuk, dan letaknya yang tidak jauh dari rumah saya.
  15. (a) setelah tamat dari SLA, (b) saya melanjutkan ke perguruan tinggi (c) karena saya ingin memperdalam pengetahuan saya (d) dan kebetulan orang tua saya masih mampu membiayai (e) dan memberi dorongan.
  16. Untuk mobil diakui proteksi berlebihan, tetapi dengan kebijaksanaan berupa produksi komponen diharapkan akan teratasi masalah produksi itu sendiri.
  17. Tentukan manakah dari kalimat-kalimat di bawah merupakan ungkapan yang keliru, kemudian perbaikilah kalimat tersebut sehingga mudah dipahami.
    1. Asian Games adalah arena Pekan Olah raga untuk pengukuran sampai batas mana prestasi cabang-cabang olah raga Indonesia.
    2. Pengamalan Pancasila secara murni dan konsekuen masih harus ditingkatkan.
    3. Kemenangan itu sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai pelari puteri tercepat tahun ini.
    4. Penekanan angka-angka kelahiran yang diusahakan dilakukan dalam pelaksanaan program KB mulai menampakkan hasil.
    5. Peninjauan Surat Keputusan itu sudah selayaknya ditinjau.
    6. Penanganan krisis teluk merupakan problem utama PBB yang harus ditangani.
    7. Pelaksanaan jalan tembus di kecamatan Semplak Kabupaten Bogor harus segera dilaksanakan.
    8. Akhirnya Serda Pol.  Agus Suryana tewas dikeroyok massa ketika akan menangkap tersangka pelaku kejahatan bersama tiga rekannya dari Polresta Cirebon.
    9. Mutu padi tahun ini sungguh-sungguh kami beri prioritas untuk ditingkatkan.
    10. Pak Ujo berani menyatakan tidak setuju dengan kebijaksanaan pemerintah dalam hal penempatan industri di daerah ini.
    11. Penjahat kawakan itu berhasil dibekuk polisi di jalan Garnizun Dalam.
    12. Kalimat-kalimat di bawah ini manakah yang mengandung ungkapan yang ambigu dan bagaimana memperbaikinya?
      1. Pria dan wanita yang muda harus ikut serta.
      2. Adik saya, yang kuliah di Universitas Indonesia, sangat gemar membaca buku dan majalah ilmiah.
      3. Keluarga direktur yang muda itu dikurung penjahat.
      4. Setidak-tidaknya tayangan nada dan irama baru itu lebih memberi harapan.
      5. Orang tua dan bayi yang hilang ingin naik banding.
      6. Jelaskan arti dari kalimat-kalimat di bawah ini.
        1. - Pria dan wanita yang muda harus ikut serta.

- Wanita yang muda dan pria harus ikut serta.

  1. - Petani di Aceh sedang menebang hutan.

- Petani sedang menebang hutan di Aceh

  1. - Terpana oleh keindahan, bunga itu langsung menjadi obyek kameranya.

-         Terpana oleh keindahan bunga tersebut, ia langsung menjadikan bunga tersebut obyek kameranya.

  1. - Karena teriakan histeris, dokter itu memberi pasiennya obat penenang.

-         Karena teriakan histeris, pasian itu diberi dokternya obat penenang.

  1. -    Harga saham dan emas merosot sedangkan minyak menguat.

-         Harga saham dan emas merosot sedangkan harga minyak menguat.

  1. -     Permainan Graf jauh lebih mundur bila dibandingkan tahun lalu.

-         Permainan Graf jauh lebih mundur bila dibandingkan dengan permainannya tahun lalu.

  1. Termasuk kesalahan logis yang mana masing-masing kalimat di bawah ini? Bagaimana memperbaikinya?
    1. Dipajang di Hotel Indonesia gaun raksasa ini melampaui Miraldi dan jelas kedodoran bila dipakai nona Liberty karena panjangnya 40 meter.
    2. Lagu dan album mereka yang dikemasi dalam kaset produksi BASF ternyata paling laris dibandingkan dengan lainnya.
    3. Bagi mahasiswa yang gagal diharap menghubungi dekan.
    4. Sapardi mengatakan, bahwa puisi adalah cerminan hati.
    5. Yang dimaksud dengan terjemahan setengah bebas, ialah terjemahan yang tujuannya …
    6. Dengan prestasi yang masih mengagunkan, promotor berusaha mengajak Hagler untuk tanding ulang dengan Sugar Ray Leonard.

 

2 responses to “LOGIKA DAN BAHASA

  1. Salam,
    Menurut anda PSK atau pekerja seks komersial itu bahasa yang tepat atau tidak. Masak sih seks dianggap sebagai suatu pekerjaan ?
    Sudah hilangkah adat ketimuran kita atau kalau ndak mau dibilang etik atau rasa kemanusiaan kita ???

    • Mungkin bahasa yang paling tepat adalah SUNDAL kali ya. Soalnya di bahasa inggris dikenal istilah prostitute. Kata ini sendiri mulai digunakan sejak tahun 1520-an untuk menggambarkan apa yang disebut sebagai “indiscriminate sexual intercourse (usually in exchange for money).”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s