PENGERTIAN DAN TERM


  1. 1. Apa itu Pengertian?

Kegiatan akal budi yang paling fundamental adalah membentuk pengertian atau membentuk konsep (Ing to conceive), yang dalam istilah logika sering juga disebut sebagai aprehensi sederhana (simple apprehension). Untuk lebih jelasnya, aprehensi sederhana itu dapat dirumuskan sebagai kegiatan akal budi untuk menangkap asensi atau makna suatu obyek tertentu; dan tangkapan itu disebut pengertian atau konsep. Pengertian atau konsep adalah yang dibentuk akal budi tentang esensi atau makna suatu subyek tertentu. Setelah akal budi membentuk pengertian, misalnya pengertian “kursi”, maka dengan pengertian itu kita dapat berpikir/atau berbicara tentang kursi tanpa menunjukkan sebuah kursi yang konkret lagi, karena kursi itu telah diabastraksi (“ditarik keluar” dari eksistensi konkritnya) dan telah berada di dalam akal budi kita.

Perlu dicatat bahwa pengertian itu berbeda dengan fantasma atau kesan (Ingg . Image). Fantasma atau kesan adalah produk dari fantasi atau imigrasi. Fantasma merupakan produk langsung dari indera manusia. Jika kita mengerti suatu hal, misalnya “anjing”, terdapat di fantasi (gambaran fantasi), yang merupakan tangkapan langsung dari indera manusia, yakni misalnya meskipun kita menutup mata kita, kita masih dapat mengenali bentuk dan warna tertentu dari binatang yang disebut anjing itu. Jadi gambaran fantasi ini bersifat khusus, material karena hasil langsung dari indera. Sedangkan gambar yang lain terdapat di akal budi (gambaran akal budi). Berlawanan dengan gambaran fantasi, gambaran akal budi itu bersifat umum, immaterial, abstrak, dan bukan hasil langsung indera. Dengan kata lain, gambar yang terdapat di akal budi ini bukan mewakili anjing ini atau anjing itu, yang berwarna ini atau yang berbentuk itu, tetapi mewakili semua kelas anjing.

 

 

TABEL

 

Kegiatan indera                                       Kegiatan intelek

1.   Menangkap “apa” yang dilihat            1.   Menangkap aftivesensi” ditangkap o-

didengar, dirasa, dan lain-lain            leh indera.

secara langsung.

2.   Nasib, tangkapan langsung itu  2.      Hasil tangkapan tidak langsung kare-

bersifat material, khusus, dan             na itu bersifat immaterial, abstrak

konkrit.                                                         dan universal.

3.   Hasil kegiatan indera itu dise-   3.      Hasil kegiatan intelek disebut: Pe-

fantasma yang terdapat di fan-           ngertian/konsep yang terdapat di a-

tasi.                                                              kal budi.

 

 

  1. 2. Pengertian dari Segi Isi dan Luasnya

 

  1. a. Isi pengertian (Comprehension of a Concept)

Di atas telah disebutkan bahwa pengertian adalah tangkapan yang dibentuk akal budi tentang esensi atau makna obyek tertentu. Makna tersebut dapat diungkapkan melalui definisi (tentang definisi ini secara khusus nanti masih akan kita bicarakan). Namun, pada kenyataannya, betapapun baiknya suatu definisi, ia tak akan mampu mengungkapkan secara eksplisit semua unsur yang terkandung dalam pengertian itu. Misalnya, jika kita mendefinisikan “manusia” sebagai “hewan yang berakal budi”; definisi ini tidaklah mampu mengungkapkan secara ekspisit semua unsur yang terkandung dalam pengertian “manusia” itu (unsur-unsur: “yang dapat tertawa”, “yang dapat membuat keputusan”, “yang dapat mengasihi” dan sebagainya tidak termuat dalam definisi di atas). Dalam logika, (keseluruhan unsur (sifat) yang termuat dalam suatu pengertian disebut isi pengertian atau komprehensi). Komprehensi dibagi atas dua. Pertama, komprehensi essensial dasar yakni: ciri/sifat yang secara niscaya ada pada satu pengertian. Misalnya: “hewan yang berakal budi” pada pengertian “manusia”. Kedua, komprehensi komplementer (absidental) yakni: ciri/sifat yang secara kebetulan/bersifat melengkapi isi dari suatu pengertian. Misalnya: “menangis” pada pengertian “manusia”.

 

Pemahaman akan isi perngertian ini sangat penting, karena kita hanya bisa membicarakan sesuatu hal sebagaimana mestinya apabila kita mengetahui isi/komprehensi hal tersebut.

 

  1. b. Luas pengertian (extension of a concept)

 

Selain isi atau komprehensi, setiap pengertian memiliki luas atau ekstensi. Yang dimaksud dengan luas atau ekstensi dari suatu pengertian ialah keseluruhan hal atau lingkungan realitas yang dapat ditunjuk dengan pengertian itu. Misalnya, luas pengertian “gajah” adalah semua gajah. Di luar lingkungan atau kelompok binatang yang disebut gajah, pengertian “gajah” tak dapat diterapkan.

Berdasarkan itu, mudah kita mengerti mengapa luas pengertian yang satu dengan luas pengertian yang lain tidak sama. Kalau kita bandingkan pengertian “gajah” tadi dengan pengertian “binatang”, sebagai contoh, jelaslah bahwa luas pengertian “binatang” lebih besar daripada luas pengertian “gajah”, karena gajah termasuk dalam lingkup pengertian “binatang”. Kita juga bisa mengatakan bahwa “gajah” adalah bawahan dari “binatang”, (karena “gajah” merupakan pengertian yang ditunjuk dengan pengertian binatang) sedangkan “binatang” adalah atasan dari “gajah” (karena “binatang merupakan pengertian yang menunjuk – antara lain – pada gajah).

 

  1. c. Hubungan antara isi dan luas pengertian

Dari uraian di atas, jelas kiranya bahwa antara isi dan luas pengertian terdapat hubungan yang berbanding terbalik (timbal balik) artinya semakin bertambah (besar) luas suatu pengertian, semakin berkurangnya (kecil) luas suatu pengertian, semakin bertambah (banyak) pengertian itu. Dengan berpangkal pada contoh uraian di atas, jelaslah bahwa makin umum suatu pengertian makin sedikit isinya dan makin luas lingkungannya. Sebaliknya semakin banyak isinya (makin mendekati realitas konkrit), maka sempit atau terbatas luasnya. Misalnya pengertian “alat”, masih umum dan luas sebab belum menerangkan untuk apa alat itu. Sedangkan “pulpen” adalah pengertian yang lebih konkrit yang menjelaskan alat untuk menulis maka lingkungan atau luasnya pun terbatas sedangkan isinya padat/banyak.

Sifat “hubungan antara isi dan luas pengertian “berbanding terbalik” sebagaimana diperlihatkan dalam tabel di bawah ini:

 

 

Luas pengertian/Eksistensi

 

Substansi                Substansi          Malaikat, mineral, tumbuh-tumbuhan, binatang , manusia

 

Badan                      Substansi          Mineral, tumbuh-tumbuhan, binatang, manu-

Badani               sia

 

Organisme              Substansi          tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia

Badani ber-

nyawa/ber-

jiwa

 

hewan                      Substansi          binatang,  manusia

badani ber-

nyawa/ber-

jiwa, berpe-

rasaan

 

manusia                  Substansi          Manusia

badani ber-

nyawa/ber-

jiwa, berpe-

rasaan, ber-

akal budi

 

 

Isi Pengertian/Komprehensi

  1. 3. Term

 

  1. a. Term dan kata

 

Term adalah suatu kata atau suatu kumpulan kata yang merupakan ekspresi verbal dari suatu pengertian. Sebagaimana pengertian terkandung dalam putusan dan penyimpulan, maka term terkadung dalam proposisi dan silogisme. Karena itu, term bisa juga dirumuskan sebagai bagian dari proposisi yang berfungsi sebagai subyek atau predikat.

Tidak semua kata atau kumpulan kata adalah term, meskipun setiap term itu adalah kata atau kumpulan kata. Alasannya ialah bahwa tidak semua kata pada dirinya sendiri merupakan ekspresi verbal dari pengertian dan bahwa tidak semua kata pada dirinya sendiri berfungsi sebagai subyek atau predikat dalam suatu proposisi. Kata-kata seperti “semua”, “tetapi”, “beberapa”, “karena”, “dengan cepat” – kata keterangan, kata depan, kata penghubung, kata sandang – biasanya berfungsi sebagai kata-kata sinkategorimatis). Pada dirinya sendiri kata-kata sinkategorimatis tidak merupakan ekspresi verbal dari suatu pengertian dan karenanya tidak merupakan term, tetapi kata-kata tersebut dapat digabungkan dengan kata-kata lain untuk mengungkapkan pengertian baru. Sebagai contoh, “berjalan” adalah suatu kata kategorismatis, artinya dapat difungsikan sebagai term dalam proposisi, tetapi “dengan cepat” adalah kata sinkategorimatis karena itu tidak mengungkapkan suatu pengertian sehingga juga tidak dapat langsung difungsikan sebagai term dalam sebuah proposisi tetapi “berjalan dengan cepat” mengungkapkan suatu pengertian baru sehingga dapat berfungsi sebagai term dalam sebuah proposisi.

Jadi, kata-kata sinkategorismatis itu selalu tergantung pada kata-kata kategorismatis untuk membentuk sebuah term. Karena itu dalam proposisi “Anak nakal itu menggoda Siti yang sedang belajar di perpustakaan”, term predikatnya adalah menggoda Siti yang sedang belajar di perpustakaan. Hal ini berbeda dengan tata bahasa, karena dalam tata bahasa predikatnya adalah menggoda, sedangkan Siti adalah obyek dan yang sedang belajar di perpustakaan adalah keterangan. Kata-kata sinkategorimatis berdiri sendiri apabila kata-kata itu pada kenyataannya berubah fungsi menjadi kata-kata kategorismatis, yaitu ketika kata-kata itu sendiri merupakan hal yang dibicarakan, seperti yang ditunjukkan dalam proposisi berikut ini: “Kata penghubung yang biasanya digunakan untuk menunjukkan perlawanan adalah “tetapi”.

Dari uraian di atas jelas bahwa suatu term dapat berupa satu kata atau kelompok kata. Term yang terdiri dari satu kata disebut term tunggal; sedangkan term yang terdiri dari lebih daripada satu kata disebut term majemuk. Misalnya: “kuda” (term tunggal) adalah binatang berkaki empat (term majemuk).

 

TABEL

Perbandingan jumlah pengertian dengan jumlah kata

 

 

Pengertian     Kata    Nama term                             contoh

 

1                      1          tunggal majemuk                   gunung; manusia; keadilan

1                      2 dst                                                    Kereta api; Lap. Sepak bola

 

 

 

Yang patut dicatat ialah bahwa meskipun term merupakan ekspresi verbal dari pengertian dalam bentuk kata atau kumpulan kata, tetapi kata atau kumpulan kata itu tidak dengan sendirinya sama dengan pengertian. Alasannya ialah: (1) kata yang sama sering menunjukkan pengertian yang berbeda, misalnya: pasang, bulan, kabur; kata yang berbeda menunjukkan pengertian yang berbeda, misalnya: pasang sama, misalnya: ongkos = biaya, sebab = karena, kendala = rintangan ; (3) kata yang tepat sering sukar ditemukan untuk mengungkapkan pengertian yang ingin disampaikan; (4) kata yang kita maksudkan mengekspresikan pengertian tertentu dalam pikiran orang lain dihubungkan dengan pengertian yang lain dari yang kita maksudkan.

 

  1. b. Pembagian term ditinjau dari luasnya

 

Ditinjau dari luasnya, yaitu dari hal-hal yang ditunjuk dengan term tersebut, term dapat dibagi menjadi tiga, yaitu term singular, term partikular, dan term universal. Perbedaan antara ketiga jenis term itu adalah sebagai berikut:

 

-         Term singular : term yang mengatakan tentang satu hal tertentu; misalnya: pohon itu, mahasiswa yang terpandai di kelas ini, “nama diri”, dan sebagainya.

-         Term partikular : term yang mengatakan tentang sebagian dari luasnya (paling sedikit satu tetapi tidak seluruhnya dan tak tentu); misalnya: seorang anak, beberapa mahasiswa, tidak semua rumah, dan sebagainya.

-         Term universal : term yang mengatakan tentang seluruh luasnya; misalnya: semua buku, setiap manusia, tak seorang pun, dan sebagainya.

 

 

Sehubungan dengan jenis-jenis term di atas, agaknya kita setuju bahwa apabila pada suatu term terdapat kata sinkategorimatis yang menunjuk pada kuantitas (“itu”, “ter …”, “seorang”, “beberapa”, “tidak semua”, “semua”, “setiap”, “tak seorang pun”, dan sebagainya) atau apabila suatu term berupa nama diri (“Amir”, “Jakarta”, “Indonesia”, dan sebagainya), kita tidak akan mengalami kesulitan untuk menentukan luas term tersebut, namun dalam praktek nyatanya kita sering berhadapan dengan term-term yang tidak disertai dengan kata-kata sinkategorimatis seperti itu. Dalam konteks inilah kita bisa keliru untuk menentukan luas suatu term.

Demi menghindari kekeliruan tersebut, kita perlu memperhatikan beberapa catatan ini. Namun sebelum itu perlu disadari bahwa catatan-catatan ini hanya berhubungan dengan luas term subyek suatu proposisi; sedangkan luas term predikat suatu proposisi akan dibicarakan secara khusus pada bab IV nanti.

(1)    Kita perlu membedakan antara term distributif dan term kolektif. Suatu term bersifat distributif apabila pengertian yang terkandung dalam term itu dapat dikatakan untuk setiap anggota yang ditunjuk dengan term itu dapat dikatakan untuk setiap anggota yang ditunjuk dengan term tersebut satu demi satu/secara individual. Term “manusia” dapat dikatakan untuk setiap manusia. Sedangkan suatu term bersifat kolektif apabila pengertian yang terkandung dalam term tersebut dapat dikatakan tentang suatu kesatuan (dari sesuatu lingkungan), tetapi tidak dapat dikatakan tentang setiap anggota dari term tersebut, melainkan hanya dapat dikatakan untuk seluruh anggotanya sebagai suatu kesatuan. Term “kesebelasan”, misalnya, bersifat kolektif, karena pengertian “kesebelasan” itu tidak dapat dikatakan untuk setiap anggota dari term “kesebelasan” tersebut, melainkan hanya dapat dikatakan untuk seluruh anggotanya sebagai suatu kesatuan. Contoh yang lain ialah: “bangsa Indonesia” yang memaksudkan semua warga negara Indonesia sebagai satu kesatuan. “Team” dimaksudkan sebagai satu kesatuan sehingga term itu tidak dapat dikatakan tentang masing-masing anggota “team” itu. Ditinjau dari luasnya, term subyek yang bersifat distributif (ingat: sejauh tidak disertai dengan kata-kata singkategorimatis yang menunjuk pada kuantitas) umumnya merupakan term universal, kecuali apabila term tersebut hanya menunjukkan kecenderungan pada suatu kelompok tertentu. Untuk kasus yang dikecualikan ini, luas term tersebut adalah partikular, karena pada pokoknya tidak mengatakan tentang seluruh anggota term itu, melainkan hanya sebagian besar saja. Atas dasar itu, apabila kita perhatikan proposisi-proposisi berikut ini, kita tentu mengerti mengenai mengapa luas term subyek dua proposisi yang pertama adalah universal, sedangkan luas term subyek dua proposisi yang terakhir adalah partikular:

 

(a)   Kucing adalah binatang buas. (mengatakan tentang seluruh kucing).

(b)   Mahasiswa angkatan ’88 tidak boleh mengikuti pertemuan itu. (mengatakan tentang seluruh mahasiswa angkatan ’88).

(c)   Orang Bali pandai menari. (mengatakan tentang sebagian besar orang Bali)

(d)   Wanita lebih halus perasaannya daripada pria. (mengatakan tentang sebagian besar wanita).

 

 

Sementara itu, ditinjau dari luasnya, term subyek yang bersifat kolektif (sekali lagi: sejauh tidak disertai kata sinkategorismatis yang menunjuk pada kuantitas) selalu merupakan term singular.

 

Perhatikan proposisi-proposisi berikut ini:

(e)   Kesebelasan adalah suatu team dalam olahraga sepakbola. (mengatakan tentang semua kesebelasan).

(f)     Konser sangat mengandalkan kekompakan. (mengatakan tentang semua konser).

 

Tetapi perhatikanlah proposisi berikut ini:

(g)   Kesebelasan Persebaya bermain sangat cantik pada pertandingan pertama.

 

 

Luas term subyek proposisi (g) di atas tentu saja bukan universal melainkan singular, karena hanya mengatakan tentang satu kesebelasan tertentu. Beberapa buku logika berpendirian bahwa luas term itu adalah partikular dengan alasan bahwa belum tentu semua pemain kesebelasan Persebaya bermain sangat cantik keberatan terhadap pendirian tersebut ialah bahwa proposisi (g) di atas tidak mengatakan sesuatu pun tentang masing-masing pemain kesebelasan Persebaya, melainkan hanya tentang kesebelasan Persebaya itu sebagai kesatuan; dan karena term “kesebelasan Persebaya” adalah term kolektif, maka pengertian yang terkandung dalam term itu sama sekali tidak dapat dikatakan untuk tiap-tiap pemain kesebelasan Persebaya. Hal ini penting untuk dipahami karena pemahaman yang keliru terhadapnya akan membawa akibat kekeliruan yang lebih mendalam sewaktu term sejenis itu muncul dalam silogisme (masalah ini nanti akan dibicarakan lagi dalam pembahasan kita mengenai silogisme).

(2)   Kata “itu” yang langsung mengikuti term subyek dalam suatu proposisi dapat berfungsi baik sebagai kata petunjuk maupun sebagai kopula (kata penghubung antara term subyek dan term predikat yang biasanya dilambangkan dengan “adalah”/tanda “ = “). Hal ini tentu membawa pengaruh terhadap luas term subyek yang bersangkutan. Untuk membedakan apakah kata “itu” sebagai kata penunjuk atau kopula, kita harus memahami fungsi kata “itu” dalam konteks kalimatnya. Perhatikanlah proposisi-proposisi berikut ini:

(h)   Kebun itu penuh dengan bunga anggrek.

(i)     Besi itu logam.

 

Sesuai dalam konteksnya, kiranya jelas bahwa kata “itu” pada proposisi (h) berfungsi sebagai kata penunjuk (kebun tertentu) dan bukan berfungsi sebagai kopula. Seandainya kata “itu” adalah kopula maka “itu” dapat diganti dengan “Adalah” sehingga kalimat itu menjadi “Kebun adalah penuh dengan bunga anggrek”. Karena itu term subyek pada proposisi (h) bukanlan  melainkan kebun itu yang luasnya adalah singular. Pada proposisi (i), kata itu lebih berfungsi sebagai kopula (“besi adalah logam”), kecuali kalau yang dimaksudkan memang jelas sebagai kata penunjuk (sepotong besi tertentu). Kalau kata “itu” pada proposisi (I) dimaksudkan berfungsi sebagai kopula, maka term subyeknya adalah besi dan luasnya adalah universal; sedangkan kalau dimaksudkan berfungsi sebagai kata penunjuk, maka term subyeknya adalah besi itu dan luasnya adalah singular.

 

(3)   Perlu ditekankan di sini bahwa suatu term disebut term singular apabila term tersebut mengatakan tentang satu hal tertentu. Dengan kata lain, kalau suatu term mengatakan tentang suatu hal tetapi tidak tertentu, term tersebut bukanlah term singular melainkan partikular. Dengan demikian term subyek pada proposisi (j) dan proposisi (k) di bawah ini masing-masing adalah singular  dan partikular.

 

(j)      Anak saya yang paling kecil mengalami luka-luka dalam kerusuhan itu. (mengatakan tentang satu anak tertentu).

(k)   Seorang anak mengalami luka-luka dalam kerusuhan itu. (mengatakan tentang satu anak tetapi tidak tertentu).

 

  1. c. Penggunaan suatu kata ditinjau dari arti yang dikandungnya

 

Ditinjau dari arti yang dikandungnya, suatu kata dapat kita gunakan dalam berbagai konteks dengan arti yang tertentu pula. Maka menurut artinya kata-kata dapat dibedakan sebagai berikut: univokal, ekuivokal, dan analogis. Hal ini perlu kita sadari demi mencegah kesesatan dalam penalaran sebagaimana masih akan ditunjukkan pada saat kita bicara tentang silogisme. Perbedaan ketiga cara penggunaan suatu kata menurut arti yang dikandungnya adalah sebagai berikut:

- Univokal = (sama bentuknya, sama artinya)      :  Suatu kata yang digunakan untuk banyak hal dalam arti yang persis – banyak hal dalam arti adikku – mata ibuku; majalah remaja – majalah wanita; tas kulit – tas plastik; Sinaga itu manusia – Paijo itu manusia. Di sini “mata”, “majalah”, “tas”, dan “manusia” diterapkan untuk bawahannya dengan arti yang sama. Tetapi, “tiga ekor anjing dipotong ekornya. “Ekor” di situ tidak dalam arti yang persis sama.

- Ekuivokal (sama bentuknya, lain artinya)          :    Suatu kata yang digunakan untuk beberapa hal dalam arti yang sama sekali berbeda; misalnya: genting tutup atap rumah dari tanah liat) genting (keadaan gawat); bait (sajak dua baris) – bait (rumah) bah (air yang meluap) – bah (kata seru yang menyatakan penolakan, jijik, rasa muak).

- Analogis (sama bentuknya, sedangkan ar-      :    suatu kata yang digunakan

artinya ada kesamaan dan ada perbeda-            untuk beberapa hal dalam arti

annya).                                                                      yang ada kesamaannya dan ada

perbedaannya; misalnya: pohon ada – manusia ada – Tuhan ada; obat sehat – orang sehat – udara sehat.

 

 

“Ada” pada pohon, manusia, dan Tuhan terdapat kesamaannya tetapi juga ada perbedaannya. Kalau “ada” pada Tuhan adalah “ada” dari sendirinya sedangkan pada pohon dan manusia “ada”nya mengambil bagian dalam “ada”nya Tuhan/bukan “ada” dari sendirinya. Begitu pula ‘sehat’ sebenarnya dikatakan tentang binatang yang keadaan biologisnya berfungsi baik, khususnya manusia. Tetapi dapat pula dikatakan tentang jiwanya, tentang obat (karena dapat menyembuhkan gangguan-gangguan pada tubuh, tentang makanan (karena berguna untuk memelihara fungsi-fungsi biologis dari tubuh), tentang hawa (karena berguna untuk kesehatan manusia). Jadi dalam analogi ada unsur kiasan/perbandingan.

Untuk pemikiran kritis dan ilmu pengetahuan, kata-kata univokal adalah yang terpenting, karena kata-kata yang tepat sama artinya yang dapat dipergunakan dalam ilmu dan argumentasi.

Kita harus berhati-hati dalam menggunakan kata-kata ekuivokal karena kata-kata itu bisa menyesatkan dan menimbulkan salah pengertian dalam diskusi atau ulasan ilmiah. Kata-kata itu sering disalahgunakan dalam politik dan propaganda. Misalnya “sosialisme” “toleransi” diberi isi berlainan demi keputusan politik.

 

Dengan kata-kata analogis kita harus hati-hati sekali sebab justru sama dengan kesamaan ada juga ketidaksamaan. Misalnya manusia ‘mengerti’ dan binatang ‘mengerti’ adalah jauh berbeda. Meskipun antara manusia dan binatang ada banyak kesamaan tetapi kalau lantas ditarik kesimpulan ‘manusia sama dengan binatang’ adalah menyesatkan karena di samping kesamaan, ada juga perbedaan. Perlu disadari bahwa ‘suatu perbandingan belum tentu bukti yang kuat. Kalau dikatakan “pikiran anak-anak diisi dengan bermacam-macam ilmu’; di sini pikiran manusia seolah-olah sama dengan semacam kotak yang harus “diisi” Tetapi analogi itu tidak boleh menggiring kita kepada kesimpulan ‘jadi, pada suatu saat kita harus berhenti belajar supaya pikiran (kotak itu) tidak selalu penuh. Memang contoh yang baik belum tentu adalah bukti yang baik juga. Memang contoh yang baik belum tentu adalah bukti yang baik juga. Maka perbandingan/analogi bukanlah dasar yang kuat untuk suatu pembuktian. Sebab kesamaan dalam beberapa sifat belum tentu dapat disimpulkan kesamaan dalam sifat yang lain.

 

 

Tabel

 

Perbandingan jumlah term dengan jumlah pengertian

 

Term   Pengertian        Nama term     Contoh

1          1                         univok             guru; sendok makan

1          2 dst.                  Ekuivok          bulan (= satelit) dan bulan ( = waktu 30 hari)

1          ya. 1,

1          ya, 2 dst.            Analog            (orang) sehat, (obat) sehat, (udara) sehat.

Semua term sehat mempunyai arti yang sekaligus sama dan berbeda.

 

  1. 4. Klasifikasi

  1. a. Apa itu klasifikasi

Yang dimaksud dengan “klasifikasi” adalah pemecahan suatu kelas tertentu ke dalam kelas-kelas bawahan berdasarkan ciri-ciri tertentu khas yang dimiliki oleh anggota-anggota kelas itu. Tujuan dari klasifikasi itu adalah untuk mengetahui keseluruhan logis dari suatu konsep dan bagain-bagiannya dengan lebih baik. Sebuah kelas bukan sekedar sejumlah hal yang kebetulan tercakup dalam suatu kelompok. Sebaliknya, kelas merupakan suatu pengertian atau konsep tentang hal-hal tertentu yang memiliki ciri-ciri yang sama. Misalnya, ciri-ciri mana yang diperlukan untuk menyebut suatu makhluk hidup itu “manusia”? apakah karena ada kaki dan tangan? Kalau kaki dan tangan yang menjadi ciri, apakah seorang yang tangannya dan/atau kakinya buntung masih dianggap manusia? Atau apakah bangsa kera dapat juga disebut sebagai manusia? Suatu makhluk dapat disebut manusia karena ciri-ciri kemanusiaannya: berakal budi. Sebaliknya, manusia sebagai suatu kelas tertentu dapat dibagi lagi ke dalam kelas-kelas yang dimiliki oleh sejumlah individu. Dalam hal ini “kelas manusia” dapat diklasifikasi berdasarkan ras, interese kesatuan politik, agama, kebudayaan, dan sebagainya.

Jadi sebuah kelas ditentukan oleh suatu kumpulan ciri khas yang dimiliki oleh semua anggota kelas. Ciri yang dikenakan pada kelas harus berlaku pada semua anggota tanpa kecuali.

Beberapa buku logika menyebut klasifikasi dengan pembagian atau penggolongan. Di sini perlu ditegaskan bahwa klasifikasi bukan sekedar pembagian atau penggolongan. Karena klasifikasi bukan sekedar membagi atau menggolongkan sejumlah hal menjadi beberapa kelompok. Misalnya pembagian atau penggolongan seratus orang mahasiswa ke dalam sepuluh kelompok yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang bukanlah klasifikasi, karena tidak ada ciri-ciri khas yang menyatukan tiap kelompok itu. Bila seratus orang mahasiswa itu dibagi berdasarkan agama atau berdasarkan daerah kelahirannya, hal itu baru disebut klasifkasi.

Dari uraian di atas, kiranya jelas bahwa klasifikasi merupakan suatu metode untuk menempatkan sejumlah hal dalam suatu sistem kelas, sehingga dapat dilihat hubungannya ke samping, ke atas, dan ke bawah. Misalnya pada waktu berbicara mengenai “demokrasi” dengan menggunakan metode klasifikasi, kita dapat melihat hubungannya ke samping dengan “kediktatoran”, “absolutisme”, sedangkan hubungannya ke atas adalah bahwa semua hal itu merupakan “sistem pemerintahan”, dan ke bawah adalah “demokrasi parlementer dengan sistem seperti di Perancis”, “demokrasi parlementer dengan sistem seperti di Amerika Serikat”, “demokrasi parlementer dengan sistem kerajaan seperti di Inggris dan Belanda”, “demokrasi proletariat”, dan sebagainya.

Selanjutnya perlu ditegaskan pula bahwa klasifikasi merupakan bagian dari logika material dan bukan merupakan bagian dari logika formal. Karena itu, kalau dalam diktat ini klasifikasi disinggung juga, hal tersebut semata-mata untuk menguatkan pemahaman kita tentang isi dan luas pengertian. Sebab, jika kita mampu membuat suatu klasifikasi yang benar terhadap suatu hal tertentu, itu mencerminkan bahwa kita telah memehami isi dan luas pengertian dari hal tersebut.

 

  1. b. Macam-macam klasifikasi

 

Sebuah kelas terdiri dari sejumlah anggota. Jumlah anggota yang dimiliki tiap kelas tidak harus sama. Suatu kelas yang lebih luas terdiri dari beberapa kelas bawahan, sedangkan tiap-tiap kelas bawahan itu mempunyai anggota-anggota yang jumlahnya berbeda-beda. Sehubungan dengan itu klasifikasi dapat dibedakan berdasarkan jumlah anggota yang dimiliki oleh kelas yang diklasifikasikan itu.

 

(1) Klasifikasi sederhana

Klasifikasi sederhana adalah klasifikasi yang jumlah anggota atau kelas bawahan dari kelas yang diklasifikasikan itu hanya dua. Klasifikasi ini disebut juga klasifikasi dikomotis (Yunani : dicha = menjadi dua; temmein = memotong), yaitu suatu sistem yang memecahkan suatu kelas menjadi dua kelas bawahan. Biasanya berupa kelas bawahan yang bersifat negatif dan kelas bawahan yang bersifat positif. Misalnya, kelas “hewan” terdiri dari dua kelas bawahan yaitu “hewan berakal budi” dan “hewan yang tak berakal budi”. Selanjutnya kelas “hewan berakal budi” terbagi lagi menjadi dua kelas bawahan: “laki-laki’” dan “wanita”.

 

(2) Klasifikasi kompleks

 

Klasifikasi kompleks adalah klasifikasi yang jumlah anggota atau kelas bahwan dari kelas yang diklasifikasikan itu adalah lebihd ari dua. Misalnya kelas alat transportasi dapat kita klasifikasikan menjadi : alat transportasi darat, alat transportasi air, dan alat transportasi udara.

 

(3) Prinsip-prinsip klasifikasi

 

Untuk dapat memperoleh sebuah klasifikasi yang benar, kita perlu mematuhi prinsip-prinsip berikut ini:

 

(1)   Klasifikasi harus lengkap/adekuat

 

Maksud dari prinsip ini ialah bahwa apabila kita membuat suatu klasifikasi terhadap suatu kelas tertentu, maka kelas-kelas bawahannya harus dapat menampung semua anggota kelas yang kita klasifikasikan itu. Dengan demikian apabila seluruh kelas bawahan itu kita ambil bersama maka tetap sama dan sebangun dengan keseluruhan sebelum diklasifikasikan. Misalnya, apabila kita mengklasifikasikan “buku-buku yang tak dapat kita masukkan ke dalam kelas-kelas bawahan yang muncul akibat klasifikasi itu. Contoh lain ialah bahwa apabila kita mengklasfikasikan “makhluk hidup” menjadi “manusia” dan “binatang”, klasifikas yang kita lakukan tersebut tidaklah lengkap karena “tumbuh-tumbuhan” tak bisa kita masukkan dalam baik kelas “manusia” maupun kelas “binatang”.

 

(2)   Klasifikasi harus sungguh-sungguh memisahkan

 

Maksud dari prinsip ini ialah bahwa apabila kita membuat suatu klasifikasi terhadap suatu kelas tertentu, jangan sampai ada tumpang-tindih antara kelas-kelas bawahannya, sehingga satu atau lebih anggota kelas bawahan dapat sekaligus menjadi anggota kelas bawahan dari beberapa kelas. Misalnya, apabila kelas “penduduk Jakarta” kita klasifikasikan menjadi “yang berusia atas 30 tahun” dan “yang berusia dibawah 40 tahun”, maka orang-orang yang berusia antara 30 sampai dengan 40 tahun dapat maupun pada baik kelas bawahan yang “berusia di atas 30 tahun” maupun kelas bawahan yang “berusia di bawah 40 tahun”.

 

(3)   Klasifikasi harus menurut prinsip/dasar yang sama/konsisten

 

Maksud dari prinsip ini ialah bahwa apabila kita membuat suatu klasifikasi terhadap suatu kelas tertentu, kita tidak boleh menggunakan lebih dari satu dasar/prinsip. Misalnya, apabila kelas “cincin” kita klasifikasikan menjadi “cincin” kawin “cincin emas”, “cincin perak”, dan “cincin berlian”, maka klasifikasi ini bukan saja tidak lengkap dan tidak sungguh-sungguh memisahkan, melainkan juga tidak menggunakan dasar/prinsip yang konsisten. “Cincin emas”, “cincin perak”, “cincin berlian”, bertolak dari dasar/prinsip bahan baku cincin, sedangkan “cincin kawin”, bertolak dari dasar/prinsip fungsi cincin.

 

(4)   Klasifikasi harus sesuai dengan tujuannya

 

Maksud dari prinsip ini ialah bahwa apabila kita membuat suatu klasifikasi terhadap kelas tertentu, haruslah kita menyesuaikan klasifikasi tersebut dengan tujuan yang hendak kita capai. Misalnya, apabila kita ingin membuat klasifikasi untuk mengetahui distribusi usia pada mahasiswa Universitas katolik Atma Jaya, kita tentu saja tidak perlu mengklasifikasikan mahasiswa-mahasiswa tersebut, misalnya berdasarkan tempat kelahirannya atau agamanya.

 

(5)   Klasifikasi harus dilakukan secara rapi

 

Maksudnya, setiap klasifikasi harus memperlihatkan bahwa kelas-kelas bawahannya jika diklasifikasikan lebih lanjut sampai kelas bawahan yang terkecil mengejawantahkan bagian-bagian yang langsung memperlihatkan keseluruhan lingkup realitas yang ditunjuk dengan pengertian yang diklasifikasikan tersebut.

 

  1. d. Beberapa catatan

Selain dari prinsip-prinsip di atas yang harus diperhatikan dalam membuat suatu klasifikasi, beberapa catatan di bawah ini juga perlu diperhatikan supaya kita tidak melakukan kekeliruan-kekeliruan yang biasa terjadi dalam membuat klasifikasi.

 

(1)   Keseluruhan dan bagian-bagiannya

 

Jika suatu klasifikasi disusun dengan tepat, maka apa yang dikatakan untuk kelas atasan (baik berupa pengakuan atau pengingkaran) dapat dikatakan juga untuk kelas bawahannya, tetapi tidak sebaliknya. Misalnya, sifat-sifat khas yang terdapat pada “hewan” berlaku untuk “manusia” dan “binatang” juga tetapi sifat-sifat khas yang terdapat pada “manusia” belum tentu terdapat pada semua hewan.

 

(2)   Batas-bats kelas

 

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, salah satu prinsip klasifikasi adalah bahwa klasifikasi harus sungguh-sungguh memisahkan, sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara kelas bawahan yang satu dengan bawahan yang lain. Sering tidak gampang menghindari hal itu dalam praktek. Misalnya, apabila “mahasiswa yang berambut panjang” dan “mahasiswa yang berambut pendek”, manakah batas yang jelas dan tegas untuk mahasiswa yang berambut panjang dan mahasiswa yang berambut pendek? Dengan kata lain, kelas “mahasiswa yang berambut panjang” dan “mahasiswa yang berambut pendek” tidak mempunyai batas-batas yang jelas dan tegas sehingga pada gilirannya menyulitkan kita membuat klasifikasi yang sungguh-sungguh memisahkan.

 

(3)   Dikotomi yang keliru

 

Kerap orang cenderung untuk mengklasifikasikan suatu kelas dalam bentuk klasifikasi dikotomis; padahal klasifikasi dikotomis itu tidak dengan sendirinya tepat. Sebagai contoh, kelas itu tidak dengan sendirinya tepat. Sebagai contoh, kelas “manusia” diklasifikasikan menjadi “manusia pandai” dan “manusia bodoh”. Klasifikasi di atas merupakan klasifikasi dikotomis yang keliru karena terlalu menyederhanakan realitas obyektif. Masalahnya ialah klasifikasi di atas tidak lengkap sebab manusia terbuka kemungkinan untuk dipertanyakan misalnya, dimanakah tempat untuk manusia yang tidak pandai namun tidak tergolong bodoh?

 

  1. 5. Definisi

  1. a. Apa itu definisi?

Untuk suatu pemikiran yang lurus serta komunikasi dengan orang lain, perlulah kita memastikan makna istilah-istilah yang kita gunakan. Dengan kata lain, kita perlu memastikan isi dan luas pengertian yang terkandung dalam istilah-istilah tersebut.

 

Tentu saja kita tak akan menemukan kesulitan untuk memastikan pengertian apa yang terkandung dalam suatu istilah tertentu apabila barang/hal yang ditunjuk oleh pengertian tersebut dapat kita perlihatkan secara langsung. Namun masalahnya tidaklah sesederhana itu. Sering kita tidak dapat menemukan barang/hal yang ditunjuk oleh suatu pengertian. Selain itu sering juga istilah-istilah tertentu merupakan istilah-istilah yang merupakan perwujudan dari pengertian yang tidak menunjuk pada “barang/hal konkret” tertentu. Misalnya kata yang dari sudut isinya bersifat abstrak seperti: kemanusiaan, keindahan dan lain-lain.

Dalam konteks itulah “definisi” memainkan peranannya. Dengan definisi kita mengeksplisitkan isi pengertian dan membatasi luas pengertian yang terkandung dalam suatu istilah tertentu. Memang, harus diakui bahwa definisi, seperti halnya klasifikasi, adalah juga bagian dari logika material. Meskipun demikian, “definisi” itu sengaja kita singgung dalam diktat ini untuk memperjelas pemahaman kita akan isi dan luas pengertian. Karena apabila kita mampu membuat definisi yang baik, hal itu menyiratkan bahwa kita mampu menangkap isi dan luas pengertian yang terkandung dalam istilah yang kita definisikan itu.

Adapun yang dimaksud dengan “definisi” adalah perumusan yang singkat, padat, jelas, dan tepat tentang makna (isi dan luas pengertian) yang terkadung dalam istilah tertentu sehingga istilah tersebut dapat dibedakan dengan tegas dari istilah-istilah lainnya.

Secara leksikal, “definisi” berarti “pembatasan”. Maksudnya ialah menentukan batas-batas pengertian yang terkandung dalam istilah tertentu, sehingga jelas apa yang dimaksudkan, dan dengan demikian dapat dibedakan dengan pengertian-pengertian lain. Karena itu, definisi yang baik harus merupakan suatu rumusan yang singkat, padat, jelas dan tepat mengenai unsur-unsur pokok (ISI PENGERTIAN) yang terkandung dalam istilah yang didefinisikan sehingga unsur-unsur itu mencukupi cukup bagi kita untuk mengetahui makna istilah tersebut dan sekaligus mengetahui perbedaannya dengan istilah-istilah lain (LUAS PENGERTIAN).

 

  1. b. Jenis-jenis definisi

 

(1)   Definisi nominal

Definisi nominal adalah definisi yang hanya memberikan keterangan dari segi “nama” perilah istilah yang didefinisikan. Definisi nominal ini dapat dilakukan dengan jalan:

 

(a)   mencari kata sinonim, yaitu usaha memahami suatu kata/istilah dengan menggunakan padanan dari istilah kata tersebut. Misalnya:

-         Ongkos = biaya

-         Konggres = musyawarah

 

(b)   mengupas asal-usul (etimologi) istilah tertentu, yaitu usaha memahami suatu istilah dengan meneliti asal-usulnya untuk menemukan arti istilah tersebut. Misalnya:

“Filsafat” berasal dari kata Yunani Philos yang berarti “cinta” dan sophia yang berarti “kebijaksanaan”; jadi filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan.

 

Definisi nominal ini memang berguna karena dapat memberi petunjuk tentang arti istilah dan dapat mencegah salah paham. Tetapi, definisi nominal ini bukanlah definisi dalam arti yang sebenarnya karena definisi nominal belumlah menerangkan makna esensial (isi dan luas pengertian) yang terkandung dalam istilah tertentu.

 

(2). Definisi realis

 

Definisi realis adalah definisi dalam arti yang sebenarnya, karena definisi ini tidak hanya memberikan keterangan tentang suatu istilah dari segi “nama”, tetapi juga memberikan keterangan tentang hakikat suatu istilah sehingga jelas apa sebenarnya pengertian yang terkandung dalam istilah yang didefinisikan itu. Definisi realis ini dapat kita bedakan menjadi:

(a)   Definisi esensial/hakiki/logis, yaitu definisi yang memberikan keterangan tentang sifat khas dari hal yang didefinisikan. Definisi ini selalu terdiri dari dua bagian: bagian pertama berupa “kelas atasan terdekat” (genus proximum) dari hal yang didefinisikan dengan kelas-kelas lainnya); sedangkan bagian kedua berupa sifat khas yang membedakan suatu kelas hanya terdapat pada kelas yang didefinisikan itu sehingga membedakannya dengan yang lain (differentia specifica).

Misalnya:

-         Manusia adalah berakal budi.

“Hewan” adalah kelas atasan terdekat dari “manusia”, yang menyatakan kesamaan kelas “manusia” dengan kelas “binatang” dan kelas “tumbuh-tumbuhan” : sedangkan “berakal budi” adalah sifat khas (differentia specifica) yang hanya terdapat pada manusia, yang menyatakan perbedaan kelas “manusia” dengan kelas “binatang” dan kelas “tumbuh-tumbuhan”.

 

(b)   Definisi deskriptif (deskripsi), yaitu definisi yang memberikan keterangan tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh hal yang didefinisikan sedemikian rupa sehingga kumpulan sifat-sifat itu mencukupi untuk membedakan hal yang didefinisikan itu dengan hal-hal lainnya. Definis deskriptif ini sesungguhnya merupakan perluasan dari definis esensial, yang biasanya digunakan jika penggunaan definis esensial untuk mengungkapkan pengertian yang terkandung dalam istilah tertentu tidak begitu memuaskan.

Misalnya:

-         Istilah “demokrasi” sukar sekali diungkapkan dalam sebuah definisi esensial dengan memuaskan. Apabila kita mendefinisikannya sebagai “suatu sistem pemerintahan dari rakyat oleh rakyat”, definisi ini terlalu kabur.  Karena itu untuk mengungkapkan pengertian yang sedalam-dalamnya, kita harus membuat uraian yang panjang dan lebar berkenaan dengan istilah tersebut, sehingga dapat dibedakan dari istilah-istilah lainnya.

 

(c)    Definisi kausal (definisi berdasarkan sebab/alasan terjadinya sesuatu), yaitu definisi yang memberikan keterangan dengan menunjukkan sebab/alasan (causa) terjadinya hal yang didefinisikan itu.

Misalnya:

-         Gerhana bulan ialah kehilangan sinar pada bulan yang disebabkan karena bumi berada di antara bulan dan matahari (definisi kausal).

 

(d)   Definisi final (definisi berdasarkan maksud/tujuan terjadinya sesuatu), yaitu definisi yang memberikan keterangan dengan menunjukkan maksud/tujuan dari hal yang didefinisikan.

Misalnya:

-         Arloji ialah suatu mekanisme untuk menunjukkan waktu.

 

(e)   Definisi genetis (definisi berdasarkan proses terjadinya sesuatu), yaitu definisi yang memberikan keterangan dengan menunjukkan genesis/jadinya sesuatu.

Misalnya:

-         Air adalah sesuatu yang terjadi karena gabungan dari H2 an O.

 

 

  1. c. Prinsip-prinsip definisi

Definisi harus dapat dibolak-balik dengan yang didefinisikan.

 

Maksudnya pengertian yang terkandung dalam definisi yang kita buat harus sama dengan pengertian yang terkandung dalam hal yang kita definisikan, sehingga keduanya dapat ditukar tempatkan. Misalnya, “manusia” (hal yang didefinisikan adalah hewan yang berakal budi (definisi)”. Dalam definisi tersebut luas definisi dan hal yang didefinisikan itu sama maka dapat dibalik (tanpa menambah arti) menjadi  “hewan yang berakal budi adalah manusia”. Tetapi kalau kita mendefinisikan “topi” adalah “alat untuk menutup kepala”, definisi ini tidak benar karena definisi (“alat untuk menutup kepala”) lebih luas daripada hal yang didefinisikan (“topi”). Dengan demikian kalau definisi tersebut dibalik artinya akan berubah.

 

(2)   Hal yang didefinisikan tidak boleh masuk ke dalam definisi

 

Maksudnya, definisi sebagai perumusan yang singkat, padat, jelas dan tepat tentang makna (isi dan luas) pengertian yang terkandung dalam hal yang didefinisikan tidak boleh mengandung hal yang didefinisikan sama sekali tidak menjawab pertanyaan/tidak menyatakan makna yang terkandung dalam hal yang didefinisikan tersebut. Misalnya, “kemerdekaan” didefinisikan sebagai “hak untuk melakukan sesuatu tanpa menganggu kemerdekaan orang lain”. Definisi itu tidaklah benar karena makna “kemerdekaan” dijelaskan dengan memakai – antara lain – istilah “kemerdekaan” juga; dan karena itu belum menjawab pertanyaan tentang makna “kemerdekaan” itu sendiri.

 

(3)   Definisi tak boleh dirumuskan secara negatif sejauh dapat dirumuskan secara positif

Seperti yang sudah kita lihat, definisi dimaksud untuk menjawab pertanyaan “apa makna yang terkandung dalam hal yang didefinisikan?” bukan dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan makna yang tidak terkandung dalam hal yang didefinisikan. Maka apabila suatu definisi dirumuskan dengan benar dengan sendirinya menyatakan makna yang terkandung dalam hal yang didefinisikan itu, tetapi tidak sebaliknya. Sebab apabila yang dirumuskan dalam definisi adalah makna yang tidak terkandung dalam hal yang didefinisikan, maka dengan sendirinya makna yang terkandung dalam hal yang didefinisikan diabaikan. Misalnya, apabila kita mendefinisikan “manusia” sebagai “bukan  tumbuh-tumbuhan”, definisi tersebut tidaklah benar karena sama sekali tidak kita mendefinisikan “manusia” itu sendiri. Apabila kita mendefinisikan “manusia” secara benar, yaitu “hewan yang berakal budi”, dengan sendirinya tersirat pengertian bahwa manusia itu “bukan tumbuh-tumbuhan” dan “bukan binatang”.

Kecuali, apabila makna yang terkandung dalam hal yang didefinisikan itu memang hanya akan muncul dengan perumusan secara negatif, maka definisi seperti itu memang dapat dibenarkan. Misalnya, “sejajar” kita didefinisikan sebagai “dua garis atau lebih yang tidak akan berjumpa”, definisi ini adalah benar karena memang hanya melalui definisi itu makna “sejajar” dapat diungkapkan.

 

(4)   Definisi harus bersifat paralel dengan hal yang didefinisikan

 

Supaya definisi sungguh-sungguh merupakan rumusan tentang makna yang terkandung dalam hal yang didefinisikan, maka definisi harus paralel dengan hal yang didefinisikan. Kalau hal yang didefinisikan itu suatu sifat, maka jangan disebut suatu benda. Misalnya, apabila “keadilan” kita definisikan sebagai “orang yang mengambil apa yang tidak merupakan haknya”, definisi ini tidaklah paralel karena “keadilan” bukanlah “orang”. Ketidakparalelan ini juga muncul apabila orang merumuskan definisi dengan menggunakan contoh (-contoh) atau syarat (-syarat. Misalnya apabila “agama” kita definisikan sebagai “seperti misalnya Islam atau Kristen”, definisi ini tidaklah paralel karena definisi tersebut hanya merupakan contoh “agama” dan tidak menjawab makna “agama” itu sendiri. Juga, apabila kita mendefinisikan “berjalan” sebagai  “bila seseorang melakukan gerak pindah dengan mengayunkan kakinya”, definisi ini hanya menyatakan syarat bilamana sesuatu itu disebut “berjalan” dan tidak menyebabkan makna “berjalan” itu sendiri.

 

 

LATIHAN

  1. Susunlah pengertian-pengertian yang terdapat pada masing-masing butir di bawah ini dari pengertian yang isinya paling sedikit ke pengertian yang isinya paling banyak!
    1. Olahraga, pendidikan jasmani, pendidikan, olahraga permainan, sepak bola.
    2. Binatang, anjing, makhluk binatang daratan, binatang buas yang hidup di darat.
    3. Bunga, tumbuh-tumbuhan, organisme, benda, mawar.
    4. Suku, masyarakat, bangsa, manusia, kelompok, individu.
    5. Binatang, harimaum binatang bertulang belakang, binatang buas, binatang menyusui.
  2. Susunlah pengertian-pengertian yang terdapat pada masing-masing butir di bawah ini dari pengertian yang luasnya paling besar!
    1. Alat transport, kendaraan, sepeda motor, kendaraan bermotor, scooter, kendaraan daratan bermotor.
    2. Pemuda, orang, mahasiswa Universitas Indonesia, orang yang menuntut ilmu, mahasiswa Universitas Indonesia Fakultas Matematika, mahasiswa.
    3. Manusia, doktorandus, orang berpendidikan, pria , makhluk hidup.
    4. Kursi, tempat duduk, kursi malas, perabot rumah tangga, alat.
    5. Perhiasan emas, logam, kalung emas, logam mulia, benda padat.

 

  1. Carilah atasan terdekat dari pengertian-pengertian yang terdapat pada masing-masing butir di bawah ini.
    1. Nyamuk, lalat, tawon, kupu-kupu, laba-laba.
    2. Mobil, bis, sepeda, becak, kereta api, delman.
    3. Minyak tanah, intan, emas, batu bara, tembaga.
    4. Pulpen, pensil, buku tulis, penggaris, stip.
    5. Ayam, merpati, itik, gelatik, angsa.

 

  1. Manakah bawahan dari kata pertama pada masing-masing di bawah ini?
    1. Pedagang : orang, tukang, importir, makelar.
    2. Kitab :kamus, buku tulis, kertas, alat tulis.
    3. Manusia : Makhluk, organisme, anak, ada.
    4. Umbi : biji, akar, kecambah, bawang.
    5. Sandang : pakaian, kebutuhan, kebutuhan pokok, beras.

 

  1. Tentukan term subyek proposisi-proposisi di bawah ini tentukan juga luas term subyek tersebut!
    1. Seorang kuli bangunan jatuh dari gedung bertingkat itu.
    2. Mahasiswa itu tergolong orang penting dalam masyarakat.
    3. Karena tidak membuat pekerjaan rumah, anal itu tak bisa tenang selama pelajaran berlangsung.
    4. Kolam itu mengandung air yang sangat keruh.
    5. Orang Eropa suka makan keju.
    6. Armada itu sedang melintasi Samudra Indonesia.
    7. Pria lebih mudah berganti pacar daripada wanita.
    8. Mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti pendakian itu mendapat pujian.
    9. Bagaimanapun juga, mahasiswa yang terpandai di kelas dapat dengan mudah mengerjakan soal itu.
    10. Banyak orang Jawa bertransmigrasi ke Sumatera.
    11. Ikan hidup dalam air.
    12. Team Basket dalam turnamen itu harus mengenakan kostum yang seragam.
    13. Manusia tidak pernah bisa sempurna.
    14. Tidak semua x dapat disebut y.
    15. Ketidakadilan dalam semua bidang kehidupan harus kita tolak.
    16. Orang yang berakal sehat pasti menyetujui usul ini.
    17. Seorang lelaki tewas dalam perkelahian massal itu.
    18. Bangsa Indonesia menolak segala bentuk penjajahan.
    19. Intelektualitas tidak dapat dibeli.
    20. X yang tidak termasuk Y adalah Z.

 

  1. Pasangan kata yang digarisbawahi pada masing-masing butir di bawah ini digunakan dengan cara univokal, ekuivokal, atau analogis?
    1. Jangan memaksa dia menjadi dokter. Jiwanya bukan seorang dokter.
    2. Bisa mati aku kalau badanya yang gembrot itu menindih badanku yang kerempeng.
    3. Tiga ekor anjing terpotong ekornya.
    4. Dengan semangat yang bernyala-nyala, ia meniup api obor yang bernyala-nyala itu.
    5. Tidak dapat dipastikan bahwa bulan Desember nanti terjadi gerhana bulan.
    6. Awas! Penglihatannya kurang awas.
    7. Sudah tujuh kali ia menelusuri kali itu.
    8. Putera Pak Amir yang bernama Sigit mempunyai dua putera.
    9. Ayahmu sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri.
    10. Mata anak itu mirip benar dengan mata ibunya.
    11. Bisa saja kata-katanya yang manis itu berubah menjadi bisa yang mematikan.
    12. Dengan penglihatan yang kabur, ia kabur dari penjara itu.

 

  1. Buatlah suatu klasifikasi (dengan menggunakan skema ) dari data-data yang terdapat pada masing-masing butir di bawah ini!
    1. Dalam suatu ruangan pameran, terdapat 15 buah figura sebagai berikut (berturut-turut : bentuk, warna, ukuran):

-         lingkaran, putih, besar (ada lima buah: A, B, C, D, E);

-         segi empat, putih, besar (ada tiga buah: F, G, H);

-         lingkaran, hitam, besar (ada empat buah: I, J, K, L);

-         segi empat, putih, kecil (ada sebuah : P);

-         lingkaran, putih, kecil (ada dua buah : Q, R).

 

  1. kelas logika seksi 14 pada semester ini diikuti oleh 46 mahasiswa, yaitu (berturut-turut: nama, fakultas, angkatan, jenis kelamin):

-         Suryati, Hukum, ’86, wanita;

-         Fenny, Ekonomi, ’87, wanita;

-         Donny, Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 87, pria;

-         Hendra, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, pria;

-         Anto, Ekonomi, ’86, pria;

-         Agnes, Ilmu Administrasi, ’87, pria;

-         Agus, Ilmu Administrasi, ’88, pria;

-         Novy, Ekonomi, ’87, wanita;

-         Kardi, Ekonomi, ’88, pria;

-         David, Kedokteran, ’88, pria;

-         Effendy, Tehnik, ’88, pria;

-         Ratna, Ilmu Administrasi, ’88, pria;

-         Rudy, Ekonomi, ’87, pria;

-         Ferdy, Hukum, ’86, pria;

-         Dessy, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, wanita;

-         Helen, Ilmu Administrasi, ’87, wanita;

-         Badil, Ilmu Administrasi, ’88, pria;

-         Sofian, Tehnik, ’87, pria;

-         Ricky, Hukum, ’86, pria;

-         Abdul, Ekonomi, ’88, pria;

-         Felix, Kedokteran, ’87, pria;

-         Bambang, Ekonomi, ’88, pria;

-         Riskan, Ekonomi, ’87, pria;

-         Elis, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’86, pria;

-         Erny, Hukum, ’87, wanita;

-         Yulius, Tehnik, ’87, pria;

-         Andre, Tehnik, ’88, pria;

-         Lily, Hukum, ’88, wanita;

-         Santo, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’87, pria;

-         Silvy, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’87, pria;

-         Christian, Hukum, ’88, wanita;

-         Rakhmat, Tehnik, ’88, pria;

-         Yanti, Kedokteran, ’87, wanita;

-         Fity, Kedokteran, ’87, wanita;

-         Gatot, Kedokteran, ’87, pria;

-         Tono, Ekonomi, ’86, pria;

-         Asrul, Ekonomi, ’88, pria;

-         Toni, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, pria;

-         Bejo, Ilmu Administrasi, ’88, pria;

-         Maria, Ilmu Administrasi, ’87, wanita;

-         Susy, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, wanita;

-         Erik, Kedokteran, ’87, pria;

-         Andi, Ekonomi, ’88, pria;

-         Yuli, Ilmu Administrasi, ’88, wanita;

-         Yono, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, pria;

-         Ilham, Tehnik, ’88, pria;

  1. Setiap butir di bawah ini mengandung suatu klasifikasi. Selidikilah klasifikasi tersebut dan kemudian berilah komentar anda!
    1. Lagu-lagu dapat digolongkan menjadi lagu-lagu modern dan klasik.
    2. Bung Karno adalah Pemimpin Besdar Revolusi. Yang menentang Bung Karno adalah kontra-revolusi.
    3. Menurut bahasanya, lantai dapat kita bagi menjadi: lantai batu, lantai papan, lantai tanah, dan permadani.
    4. Mahasiswa di kelas ini terdiri dari mahasiswa yang berambut panjang, berkacamata, berambut pendek, dan tidak berkacamata.
    5. Mahasiswa yang mendapat nilai di atas 6 tidak perlu mengerjakan tugas ini; sedangkan mahasiswa yang mendapat nilai di bawah 5 harus mengerjakan tugas ini.
    6. Binatang dapat kita golongkan menjadi binatang menyusui dan binatang buas.
    7. Karena kamu tidak pergi ke pesta Santi, pasti semalam kamu tidak pergi ke mana-mana.
    8. Makhluk hidup dapat kita klasifikasikan menjadi manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Karena anjing si Gunawan setia pada tuannya, maka kesetiaan merupakan ciri khas binatang yang tidak dimiliki oleh baik manusia maupun tumbuh-tumbuhan.
    9. Kalau kita tinjau pakaian berdasarkan fungsinya, maka kita mengenal pakaian dalam, pakaian hangat, pakaian luar, dan pakaian tipis.
    10. Yang tingginya di atas 160 cm silahkan berdiri di samping kanan saya; sedangkan yang tingginya di bawah 170 cm silahkan berdiri di samping kiri saya.

 

  1. Tentukanlah jenis definisi-definisi di bawah ini!
    1. Mahasiswa adalah orang yang menuntut ilmu di bangku perguruan tinggi.
    2. Yang dimaksud dengan burung merpati adalah burung dara.
    3. Mistar adalah alat yang digunakan untuk membantu membuat garis secara rapi dan sekaligus juga dapat digunakan untuk mengukur jarak tertentu.
    4. “Lokomotif” berasal dari kata Latin loko yang berarti “tempat” dan motif yang berarti “yang dapat menggerakkan”; jadi lokomotif adalah benda yang dapat bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
    5. Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh nyamuk anopheles.
    6. Fakta sejarah dapat didefinisikan sebagai sesuatu unsur yang dapat dijabarkan secara langsung atau tidak langsung dari dokumen-dokumen sejarah dan dianggap kredibel setelah pengujian yang seksama sesuai dengan hukum-hukum metode sejarah, serta mudah direkam, mudah diobservasi, tidak menyangkut penilaian, tidak bertentangan dengan pengetahuan lain yang tersedia bagi kita, dan nampaknya dapat diterima baik secara logis.
    7. Air adalah zat yang terbentuk dari persenyawaan dua atom H dan satu atom O.

 

10. Tentukanlah prinsip mana yang dilanggar dalam definisi-definisi berikut ini!

  1. Laboraturium adalah tempat pemeriksaan darah.
  2. Gelas adalah alat yang digunakan bukan untuk makan.
  3. Meja adalah perabot rumah tangga untuk menempatkan makanan.
  4. Mengerti adalah tahu akan sesuatu hal yang dimengerti.
  5. Tumbuh-tumbuhan adalah makhluk hidup yang tidak berakal budi.
  6. Moralitas adalah orang yang melakukan perbuatan baik ditinjau dari sudut etika.
  7. Pulpen adalah alat yang digunakan untuk menulis.
  8. Logika adalah ilmu dan keterampilan berpikir sesuai dengan aturan-aturan logika.
  9. Pengacara adalah orang yang berusaha membela orang lain yang didakwa telah melakukan pelanggaran hukum.
  10. Dewasa adalah kalau orang dapat mengambil keputusan sendiri.

One response to “PENGERTIAN DAN TERM

  1. Terimakasih atas sharing yang sangat berharga, Kiranya Tuhan YME menjadikan ini sebagai amal kebajikan dari anda untuk sesama, dan semoga mendapatkan imbalan pahala yang tiada putus-putusnya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s