Arsip Kategori: Filsafat Ilmu Pengetahuan

FILSAFAT ILMU DAN ILMU PSIKOLOGI


Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu psikologi merupakan ilmu yang relatif baru. Ilmu ini dulunya merupakan cabang dari dua buah ilmu, yaitu filsafat dan fisiologis. Ilmu psikologi terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Kita bisa mulai dari masa Yunani Kuno sampai pada masa kini, ilmu psikologi terus berkembang. Tetapi, bagaimana ilmu ini dapat berkembang? Apakah ilmu psikologi merupakan ilmu yang ilmiah, yang benar – benar ilmu pengetahuan yang dapat dibuktikan secara empiris, atau hanya sebuah pseudoscience?

Untuk mengetahui jawaban tersebut, kita mulai dari asal muasal ilmu psikologi sampai ia dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu filsafat dan ilmu fisiologis merupakan akar dari ilmu psikologi. Berawal dari isu psyche, soul, dan mind – body problem (yang akan dibahas nantinya), ilmu psikologi berkembang sedemikian rupa sampai pada hari ini. Segala hal akan dibahas, dimulai dari aspek historisitas, filsafat, hingga ilmu pengetahuan modern untuk memahami mengapa ilmu psikologi dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang khas dan dapat berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan.

Filsafat

Apakah itu filsafat? Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philein, artinya mencintai dan Sophia, yang berarti kebijaksanaan (Sihotang, 2009). Dari kedua kata ini, secara harafiah kita dapat mengartikan filsafat sebagai pecinta kebijaksanaan. Tetapi, para filsuf seperti Herodotus menggunakan kata philosophein dalam arti yang lainnya. Ia menggunakan kata ini sebagai  “upaya untuk menemukan sesuatu”. Dalam artian ini, filsafat merupakan rasa ingin tahu manusia terhadap sesuatu.

Menurut Sihotang (2009), Filsafat dapat didefinisikan sebagai tiga hal, yakni (1) filsafat sebagai hasil perenungan. Dalam artian ini filsafat merupakan hasil permenungan terhadap hasil perenungan atau ide yang ada dalam diri manusia. Perenungan ini merupakan refleksi yang dilakukan oleh manusia kepada diri sendiri untuk mencari makna atau jawaban akan sesuatu hal yang dipikirkan dalam diri manusia. (2) filsafat sebagai kritik, yaitu filsafat berusaha untuk mengerti, membedakan, dan mengambil keputusan. (3) filsafat sebagai sebuah ilmu yang berusaha mencari kebenaran secara metodis, sistematis, rasional, dan radikal melampaui kebenaran dan pertanggungjawaban. Filsafat digunakan untuk mempertanyakan segala fenomena yang ada dalam kehidupan manusia. Kegiatan berfilsafat ini selain mempertanyakan segala fenomena yang ada juga digunakan untuk mencari jawaban atas fenomena tersebut. Artinya, tidak hanya menangkap fenomena atas pengelihatan empiris, tetapi digunakan untuk menangkap esensi (nomena) dalam sebuah kejadian. Hal ini kemudian direfleksikan dan dipertanyakan dalam diri manusia untuk mencari jawaban atas sebuah fenomena tersebut dan menggunakan akal budi manusia sebagai media utama manusia dalam mempertanyakan dan menjawab fenomena yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Atas dasar inilah mengapa filsafat dapat dikatakan sebagai akar dari seluruh ilmu pengetahuan, karena dari kegiatan berfilsafat manusia itu sendiri, manusia dapat mencari dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam sebuah fenomena yang terjadi di sekitar manusia.

Fisiologis

Fisiologis adalah sebuah cabang ilmu yang menjelaskan tentang aktifitas otak dan organ tubuh lainnya (Kalat, 2009). Seperti yang kita ketahui, isu fisiologis dan isu biologis memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmu psikologi saat ini. Isu fisiologis diawali dari perkembangan neurofisiologi. Ilmu ini mempelajari bagaimana saraf dan otot bekerja, bagaimana otak berfungsi, dan fungsi organ – organ lainnya terhadap tubuh manusia. Kaitannya isu fisiologis dan biologis terhadap ilmu psikologi adalah bagaimana hal yang terjadi dalam tubuh manusia, misalnya reaksi kimia dalam otak, pengaruh obat terhadap otak, dan lain sebagainya mempengaruhi perilaku kita. Disitulah titik dimana ilmu psikologi mempunyai peran dalam menjelaskan bagaimana perilaku tersebut bisa muncul karena aspek biologi dari diri manusia bereaksi.

Ada banyak sekali teori yang bermunculan dan semua teori itu berkaitan dalam perkembangan ilmu psikologi. Sehingga sumbangsih ilmu fisiologi termasuk juga ilmu biologi memberikan pengaruh besar terhadap ilmu psikologi yang muncul dan berkembang sampai saat ini.

PSIKOLOGI DARI MASA KE MASA

Dalam subbab ini, kita akan melihat bagaimana perkembangan ilmu psikologi dari awal bagaimana psikologi ada sampai psikologi menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang empiris. Dasar perkembangan ilmu psikologi muncul dari jaman Yunani Kuno hingga zaman modern dimana akhirnya psikologi menjadi sebuah ilmu yang empiris dan ilmiah.

Ada banyak sekali tokoh dari zaman Yunani Kuno hingga zaman modern yang membahas bagaimana permulaan ilmu psikologi. Penulis tidak menjelaskan semua tokoh dalam perkembangan ilmu psikologi, tetapi penulis hanya menjelaskan beberapa tokoh yang berkaliber dalam kaitannya dengan ilmu psikologi dan relevan dari zaman ke zaman sehingga pembaca dapat dengan mudah mengerti dan memahami apa yang menjadi titik dasar dalam perkembangan ilmu psikologi dari masa ke masa hingga menjadi ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

ZAMAN YUNANI KUNO

Socrates

Berawal dari Socrates, ia adalah guru dari Plato. Socrates banyak membahas tentang politik, ekonomi, dan ilmu sosial lainnya. Socrates dapat dikatakan sebagai pioner atau ilmuan sosial yang pertama kali ada di dunia ini. Socrates tidak secara gamblang membahas ilmu psikologi, tetapi ada sejumlah argumen yang diberikan oleh Socrates dimana pada masa ia hidup, Socrates pernah tentang psyche dan perkataan Socrates itu memiliki kemiripan dengan perkembangan ilmu psikologi modern. Socrates melihat bahwa psyche manusia, yang diartikan sebagai jiwa atau roh manusia akan meninggalkan tubuh pada saat manusia mati sebagai sebuah bayangan dan menuju kepada Hades, salah satu dewa yang ada di dalam masa Yunani Kuno. Socrates tidak secara langsung berbicara ilmu psikologi, tetapi ada sebuah point penyataan Socrates yaitu “Know thyself”. Hal ini bisa diinterpretasikan sebagai sebuah proses refleksi dalam diri manusia. Tetapi, pada zaman ini, hal ini belum digunakan ke dalam ilmu psikologi, sampai pada zaman pertengahan dimana St. Agustinus menggunakan istilah ini.

Plato

Menurut Lundin (1996), Plato yang merupakan seorang pengikut aliran dualism melihat bahwa ide merupakan bagian yang terpisah dari badan manusia. Realitas sebenarnya datang dari ide. Ide merupakan bagian yang melayang diatas manusia, tidak terbatas, tidak dapat dijangkau, dan sempurna. Tetapi, Ide tersebut dikurung didalam tubuh manusia, sehingga menurut Plato, tubuh manusialah yang memenjarakan ide tersebut sehingga ide tersebut menjadi terbatas, tidak sempurna, dan terperangkap dalam diri manusia.

Seperti Socrates, Plato juga berbicara psyche atau jiwa. Tetapi, psyche yang dimaksud oleh Plato adalah moral manusia, pikiran, dan perilaku manusia yang menjadi sumber dari berbagai perilaku. Plato percaya jika jiwa manusia merupakan hal yang tidak terbatas dan abadi. Pada zaman ini dapat dilihat bahwa pemikiran para filsuf sangat konseptualis, sehingga apa yang mereka pikirkan, itulah yang mereka anggap benar sehingga konsep tentang jiwa atau psyche ini merupakan hal yang menurut kita prinitif pada saat ini. Untuk mendapatkan penjelasan lebih dalam tentang interpretasi Plato terhadap jiwa, bisa ditemukan di dalam buku yang dituliskan oleh Plato yang berjudul Reminiscence.

Aristoteles

Aristoteles merupakan seorang pengikut monisme, dimana Aristoteles menganggap bahwa jiwa dan badan manusia merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Aristoteles dapat dikatakan sebagai “the first real psychologist” karena caranya dalam menjelaskan isu psikologi dengan secara keilmuan. Psikologi dalam Aristoteles dapat ditemukan di dalam dua buah bukunya, yaitu De Anima dan Parva Naturalia.

Dalam De Anima, Aritoteles menjelaskan lebih mendalam tentang apa itu Psyche atau jiwa.Menurut Lundin (1996), Aristoteles menjelaskan ada empat hal dalam kausalitas, yaitu formal, efficient, final, dan material. Material merupakan benda atau hal yang ada dalam sebuah benda. Misalnya material dari sebuah meja adalah kayu. Efficient adalah adalah sesuatu yang berubah, bergerak, atau berpindah tempat. Misalnya “Kenapa kamu ke hutan?” dan jawabannya adalah “untuk mengambil kayu membuat meja.” Hal ini juga bisa merupakan final karena hal ini merupakan tujuan untuk perjalanan ke hutan tersebut.

Untuk mengetahui psikologi dalam Aristoteles, kita harus melihat pendapatnya tentang dunia metafisik. Aristoteles membagi hal ini kedalam dua bagian yaitu form dan matter. Berbeda dengan ide Plato, Aristoteles melihat hal ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Form tidak ada tanpa matter, dan begitu juga sebaliknya. Sehingga dalam hal ini, kedua hal ini saling mempengaruhi dan saling berkaitan.

De Anima

De Anima merupakan buku dari Aristoteles yang menjelaskan tentang psyche atau jiwa. Meja dibuat oleh kayu, hal ini dilihat sebagai sebuah kesatuan. Begitu juga psyche, yang tidak terpisah dalam diri manusia, dalam hal ini jiwa dan badan manusia merupakan sebuah kesatuan. Psyche merupakan subtansi dari badan manusia dan dilihat dari aksi.

Buku De Anima dibagi kedalam tiga bagian, yaitu introduksi dari Aristoteles yang diindikasikan sebagai psikologi, masalah dan sejarah dari kaum terpelajar di zaman itu. Bagian kedua adalah tentang psychological action seperti sensasi dan objeknya. Bagian ketiga adalah berhubungan dengan aktifitas yang lebih kompleks.

Plato mengemukakan bahwa makhluk hidup memiliki hirarki antara psyche atau fungsi. Karena psyche merupakan fungsi atau bagian dari seluruh makhluk hidup, maka tidak ada pembagian antara fungsi biologi dan psikologi dalam makhluk hidup.

Hirarki terbawah yaitu nutritive atau vegetative. Maksudnya adalah fungi dari ini untuk reproduksi dan berkembang. Hal ini dimiliki oleh semua makhluk hidup di dunia ini.

Hirarki berikutnya adalah sensing atau perceiving. Yaitu dasar untuk mendapatkan informasi. Setiap indra dihubungkan dengan organ tertentu dalam tubuh makhluk hidup. Hal ini dimiliki oleh semua makhluk hidup, kecuali tumbuhan.

Hirarki berikutnya adalah motion. Hal ini dimaksud dengan makhluk hidup dapat bergerak tanpa adanya tekanan dari luar dalam dirinya. Hewan bergerak untuk memenuhi, mengarahkan, dan memuaskan kepuasan secara biologis, yang bisa disebut dengan insting dalam hewan tersebut. Manusia sendiri bergerak karena ada alasan tertentu sehingga alasan itulah yang memotivasi manusia untuk bergerak. Manusia dapat berpikir dan melihat masa depannya. Aristoteles menyebutkan ini sebagai wish.

Hirarki berikutnya adalah imagination. Hal ini berkaitan dengan sensasi dan mempengarhui terbentuknya hirarki terakhir, yaitu thinking atau reasoning.

Hirarki terakhir menurut Aristoteles adalah thinking atau reasoning. Hal ini hanya dimiliki oleh manusia. Manusia menggunakan ini atas pengaruh dari sensing dan ini merupakan hal yang harus dia persepsikan untuk mengambil sebuah keputusan. Dalam prosesnya itulah yang disebut dengan thinking.

ZAMAN PERKEMBANGAN ABAD PERTENGAHAN

St. Agustinus

Menurut St. Agustinus, pengetahuan sebenarnya hanya datang dari Tuhan. Dia percaya bahwa segala sesuatu bahkan yang sudah melalui pengamatan empiris adalah bukan ilmu pengetahuan. Menurutnya Tuhan adalah sumber segalanya. Tuhan merupakan pencipta dari manusia, surga, dan bumi yang ditempati manusia. Kita dapat melihat bahwa Tuhan ada di dalam manusia dan manusia ada di dalam Tuhan. Terlihat jelas bahwa pengaruh gereja sangat besar dalam diri seorang St. Agustinus. Ia merupakan seorang filsuf dan teolog besar pada zamannya. Menurutnya, hanya melalui refleksi dalam diri sendiri dan iman jiwa kita dapat dipahami dan diketahui. Jiwa merupakan sesuatu yang tidak berbentuk dan tidak memiliki dimensi fisik.

Ia mengumpamakan jiwa manusia seperti prinsip trinitas, yaitu jiwa kita merupakan satu unit yang tidak bisa dipisahkan. Jiwa kita diciptakan oleh Tuhan pada saat tubuh manusia diciptakan. Sehingga untuk mengetahui jiwa kita lebih mendalam, kita harus melakukan introspeksi atau refleksi dalam diri kita sendiri.

Sumbangan terbesar yang diberikan oleh St. Agustinus dalam perkembangan ilmu psikologi adalah prinsip dari introspeksi tersebut. Dalam perkembangannya nanti, kaum strukturalisme menggunakan cara ini sebagai cara utama dalam menganalisis daerah kesadaraan dalam diri manusia melalui cara ini. Nantinya, cara introspeksi ini juga digunakan oleh kaum strukturalis, fungsionalis, gestalt, dan humanis dalam membantu mereka mencari jawaban atas masalah yang dihadapi. Seperti misalnya oleh kaum gestalt, menurut mereka melalui cara introspeksi ini digunakan karena persepsi dan sensai tergantung pada pengalaman individu, yang kemudian dipahami oleh individu tersebut dengan cara introspeksi itu sendiri.

St. Thomas Aquinas

St. Thomas Aquinas merupakan salah satu seorang filsuf dan teolog besar hingga saat ini. Ia juga disebut sebagai salah satu pujangga gereja yang memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan gereja. St. Thomas Aquinas sangat mengagumi Aristoteles sehingga pemikiran Thomas Aquinas dapat dibilang hampir mirip karena segala pemikirannya berasal dari Aristoteles. Pada tahun 1265, dia membuat sebuah karya yang besar yang disebut dengan Summa Theologica. Dalam karyanya, ia menempatkan psikologinya dalam bagian yang tidak biasa, yaitu antara enam hari penciptaan manusia dan studi tentang manusia yang tidak bersalah. Letak pembahasan psikologi St. Thomas Aquinas merupakan transformasi yang dilakukannya dalam De Anima (seperti yang dibahas pada bagian sebelumnya) dan diberikan sedikit “bumbu” agama katolik karena Thomas Aquinas merupakan seorang teolog pada zamannya. Ia menggunakan De Anima sebagai dasar kerangka berpikirnya dalam melihat psikologi dan menggunakan prinsip – prinsip keagamaan yang ada dalam diri St. Thomas Aquinas.

Kita melihat bahwa pengaruh De Anima yang sudah dipengaruhi oleh agama Kristen memiliki pengaruh besar di abad ke – 20. Menurut St. Thomas Aquinas, apa yang disebut psyche dalam Aristoteles tidak lagi merupakan sebuah kesatuan, tetapi merupakan dua hal yang berbeda. Manusia menurut St. Thomas Aquinas memiliki dua buah bagian, yaitu roh dan badan. Roh memiliki dunia tersendiri yaitu dunia roh dan badan memiliki dunia yang disebut dengan duniawi. Jiwa merupakan hal yang tidak terlihat dan jiwa digunakan untuk memahami Tuhan sebagai sumber kehidupan dalam diri manusia dan hubungan antara manusia dan Tuhan dihubungkan dengan jiwa.

Bagaimana sumbangsih yang diberikan oleh St. Thomas Aquinas terhadap ilmu psikologi? Menurut St. Thomas Aquinas, manusia terdiri dari roh dan badan yang terpisah tetapi saling mempengaruhi satu sama lain. Ia melihat bahwa otak merupakan  tempat dimana jiwa itu berada. Sehingga perdebatan antara mind – body problem terus berlanjut sampai pada hari ini.  St. Thomas Aquinas menggunakan dogma gereja katolik sebagai panduan untuk mengembangkan konsep psikologi yang dikembangkan oleh Aristoteles. Berikut adalah empat fungsi dari psyche yang dikembangkan oleh St. Thomas Aquinas yang berasal dari Aristoteles (Lundin, 1996).

  1. Alasan Aristoteles tentang reasoning atau fungsi rasional diubah menjadi spirit atau jiwa yang terpisah dari badan manusia seutuhnya. Jiwa merupakan sesuatu yang abadi dan berasal dari Tuhan. Hal ini dilihat dari latar belakang Thomas Aquinas sebagai teolog.
  2. Jiwa digunakan untuk kebaikan, menghindari sakit, bertahan dan mengatasi hambatan.
  3. Sensing dan perceiving bereaksi dalam dua cara, yaitu sense yang berasal dari dalam termasuk imajinasi, memori, dan akal budi. Sense yang berasal dari luar (eksternal) yaitu pengelihatan, perasa, sentuhan, dan lainnya.
  4. Vegetative digunakan untk nutrisi, pertumbuhan, dan reproduksi.

ZAMAN PERKEMBANGAN FILSUF MODERN

Mind-Body Problem

Isu ini merupakan salah satu isu tertua yang ada dalam perdebatan dalam dunia psikologi (Lundin, 1996). Para filsuf, teolog, dan psikolog mempunyai pandangan mereka masing – masing. Seperti Aristoteles, dia melihat bahwa jiwa dan badan manusia merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebaliknya, Thomas Aquinas melihat jiwa dan badan manusia merupakan hal yang terpisah tetapi berjalan beriringan dalam membentuk kehidupan. Kedua pandangan ini berkembang dan memiliki masing – masing pendapat dari para filsuf. Tentunya, hal ini dipengaruhi oleh latar belakang dari masing – masing tokoh yang memperdebatkan kedua hal ini. Secara umum, persoalan ini dibagi menjadi dua aliran, yaitu Monisme dan Dualisme. Kedua hal ini masih menjadi perdebatan hingga saat ini dan masing – masing memiliki kelebihan dan kekurangannya dalam menjelaskan fenomena.

Monisme

Monisme adalah aliran dalam psikologi yang melihat bahwa dunia ini hanya memiliki satu kesatuan. Jiwa dan badan merupakan satu substansi manusia yang tidak dapat dipisahkan (Kalat, 2009).

Dualisme

Dualisme adalah aliran dalam psikologi yang melihat bahwa antara jiwa dan badan merupakan dua substansi yang berbeda tetapi bergerak beriringan dalam mempengaruhi manusia. Jiwa dan badan memiliki caranya masing – masing dan bergerak beriringan dalam diri manusia (Kalat, 2009).

Rene Decrates

Seperti yang kita ketahui, Rene Decrates merupakan kaum yang mendukung dualisme. Sebelum dijelaskan lebih jauh tentang apa yang ditemukan oleh Rene Decrates, kita harus memahami latar belakangnya terlebih dahulu.

Rene Decrates merupakan seorang ilmuan, filsuf, matematikawan, dan juga merupakan pioner dalam dunia psikologi. Ia mengumpamakan bahwa badan manusia sebagai sebuah mesin. Dia melihat bahwa hewan hanyalah sebuah mesin dengan reflex, insting, dan gerakan – gerakan refleks lainnya, tidak lebih dari itu. Dia berasumsi bahwa saraf dalam hewan memiliki hal yang disebut jiwa hewan.  Lain halnya pada manusia, Rene Decrates melihat bahwa manusia merespon stimulus yang ada dengan cara yang lebih kompleks. Stimulus masuk ke dalam tubuh manusia melalui rangkaian proses fisik dan masuk ke dalam reseptor dan diproses ke dalam otak dan kemudian dikembalikan kembali ke dalam otak dan menjadi sebuah gerakan. Descrates berasumsi bahwa dalam manusia, beberapa perilaku yang diproduksi mirip dengan refleks yang dibentuk oleh hewan. Tetapi, dia percaya bahwa manusia tidak hanya bergerak begitu saja, tetapi ada proses berpikir sehingga hal ini yang menentukan perilaku tersebut. Dalam hal ini, Descrates memberikan sebuah substansi dalam manusia, yang disebut dengan jiwa. Sehingga dalam manusia, terdapat dua buah substansi yang berbeda yang saling mempengaruhi perilaku manusia, sehingga berdasarkan pemikiran ini, ia merupakan seorang yang mengikuti aliran dualisme.

Pemikiran Rene Decrates terhadap hal ini dapat membawa kita terhadap sebuah hal, yaitu dia melihat manusia bukanlah hanya makhluk hidup biasa, tetapi makhluk hidup yang berperilaku dan hidup. Latar belakangnya sebagai fisiologis yang membantu menjelaskan fenomena awal terhadap psikologi membantu kita memahami bagaimana manusia dapat berperilaku sedemikian rupa terhadap stimulus yang ada di sekitarnya. Sumbangsih Rene Decrates dari bidang fisiologisnya memberikan dampak besar terhadap ilmu psikologi pada saat ini, terutama dalam melihat perilaku manusia berdasarkan aspek biologis dalam diri manusia. Rene Decrates melihat bagaimana jiwa dan tubuh merupakan dua hal yang terpisah dan bergerak bersama, sehingga membentuk sesuatu yang disebut dengan pengalaman.

John Locke

John Locke merupakan seorang filsuf yang berasal dari Inggris. Ia percaya bahwa segala ide manusia berasal dari pengalaman. Pada saat lahir, jiwa manusia dianalogikan sebagai sebuah kertas hitam, sebuah tabula rasa. Kertas hitam ini diisi oleh manusia melalui pengalamannya. Jiwa pada dasarnya bersifat pasif dan hanya bisa melakukan dua hal, yaitu menerima pengalaman dari luar, misalnya merasakan atau disebut dengan sensing. Hal kedua yaitu jiwa bisa melakukan refleksi. Melalui proses refleksi, manusia dapat mengetahui apa yang ada di dalam dirinya. Hal ini juga disebut dengan proses berpikir pada manusia. Dari argument John Locke, dapat dilihat bahwa sumber dari segala pengetahuan adalah pengalaman, dimana Locke menggunakan konsep yang berasal dari Aristoteles.

Saat pengalaman didapat dalam diri kita, pengalaman dibagi menjadi dua hal, yaitu pengalaman sederhana dan kompleks. Pengalaman sederhana hanya datang berasal dari sensasi biasa, misalnya melihat warna biru. Pengalaman kompleks didapat dari kombinasi antara pengalaman sederhana atau ide.

John Locke memperkenalkan sebuah konsep baru yang disebut dengan asosiasi ide. Hal ini adalah saat ide sederhana datang di dalam pikiran manusia, mereka menjadi terelaborasi dan kemudian terasosiasi. Hal ini menjadi saling berkaitan dan saat ide masuk ke dalam pikiran manusia, maka akan terjadi proses asosiasi di dalamnya yang membuat hal ini menjadi saling berhubungan. Dari gabungan anta ide ini, maka ide ini menjadi sebuah ide yang kompleks yang ada di dalam pikiran manusia. Misalnya, ide kompleks sebuah lukisan, dibuat dari sebuah ide sederhana dari sebuah warna, gambar, ketebalan, dan lainnya, sehingga membuat sebuah hasil yang disebut dengan ide kompleks itu sendiri.

Sumbangsih terbesar dari John Locke terhadap ilmu psikologi adalah konsep assosiasi yang diperkenalkan olehnya diaplikasikan ke dalam banyak teori psikologi saat ini. Sebagai kaum empirisme, dimana segala sesuatu harus disa dibuktikan secara empiris, maka John Locke memberikan sebuah penyataan bahwa sumber segala ilmu pengetahuan adalah berasal dari lingkungan sekitar manusia itu sendiri yang dapat dilihat dan diobservasi. Walaupun sebagai orang yang mendukung dualisme, ia percaya jika Tuhan tetap ada, tetapi tidak sebagai sumber pengetahuan.

PSIKOLOGI SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN (PSIKOLOGI MODERN)

Wilhelm Wundt

Wilhelm Wundt merupakan salah satu tokoh psikologi terbesar yang pernah ada. Sumbangsih terbesarnya adalah saat Wundt membawa ilmu psikologi kedalam ranah ilmiah dengan percobaan yang ada di dalam laboratorium. Hari ini, kita ketahui bahwa Wundt merupakan salah satu pioner dalam perkembangan ilmu psikologi modern. Wundt mengembangkan metode secara sistematis dalam ilmu psikologi yang kemudian dikembangkan oleh muridnya.

Hal yang terpenting yang dapat kita pelajari dari Wundt adalah pendekatan atau metode yang sistematis dalam dunia psikologi, yang membuat ilmu psikologi menjadi sebuah ilmu yang berdiri sendiri, terlepas dari bayang – bayang ilmu filsafat dan fisiologis. Memang kedua ilmu tersebut (filsafat dan fisiologis) mempunyai peran yang besar dalam perkembangan ilmu psikologi, tetapi berkat sumbangsih Wundt, ilmu psikologi menjadi sebuah ilmu yang mandiri dengan metodenya tersendiri.

Wundt mengembangkan laboratorium psikologi pertama di Universitas Leipzig, di Jerman pada tahun 1879. Wundt merupakan seorang filsuf dan seorang fisiologis, yang kemudian menjadi seorang psikolog. Pada awalnya, Wundt mempelajari obat – obatan, yang kemudian menjadi pintu gerbang bagi dirinya untuk mempelajari anatomi dan fisiologi. Buku pertamanya yang berjudul tentang Contributions to the Theory of Sensory Perception tidak banyak membahas tentang ilmu psikologi, tetapi hanya pada awal (Preface) saja. Tahun 1875 Wundt menjadi pemimpin di fakultas filsafat di Universitas Leipzig, dan kemudian tahun 1879 Wundt membuka laboratorium psikologi pertamanya sampai pada tahun 1881 laboratorium Wundt diambil alih oleh fakultas. Wundt merupakan salah satu dosen yang terkenal di Universitas Leipzig dan untuk mendukung perkembangan ilmu psikologi pertamanya, Wundt seringkali menggunakan eksperimen dalam penelitiannya. Ada banyak sekali mahasiswa yang tertarik dan kemudian menjadi pioneer dalam ilmu psikologi seperti James McKeen, Edward Scripture, dan termasuk E.B. Titchener yang membawa ilmu psikologi dari Jerman menuju ke Amerika yang kemudian disebut dengan strukturalisme.

Dalam perkembangannya, pengaruh John Locke terhadap Wundt yang mengembangkan metode empiris dan ilmu didapatkan berdasarkan pengalaman menjadi dasar penting bagi Wundt dalam mengembangkan ilmu psikologi. Wundt mengikuti tradisi ini (empirisme yang diperkenalkan John Locke) untuk mempelajari conscious experience yang Wundt uji di dalam laboratorium pertamanya.

Wilhelm Wundt menggunakan metode empiris di dalam laboratoriumnya dengan metode eksperimental yang mengukur tentang sensasi, perasaan, dan memori. Dalam laboratorium Wundt, Wundt tidak hanya menggunakan metode ekperimental, tetapi juga menggunakan metode instrospeksi. Introspeksi mempunyai sejarah yang panjang. Seperti yang dipaparkan dalam bahasan sebelumnya, instropeksi disebut sebagai cara untuk menemukan jiwa seperti dipaparkan oleh St. Agustinus. Bagi Wundt, Introspeksi mempunyai artian yang berbeda. Menurutnya introspeksi bukanlah proses yang dapat dihasilkan oleh tubuh, tetapi jiwa itu sendiri.

Wundt dikenal mempunyai banyak murid dan Wundt mempresentasikan apa yang didapatkannya kepada publik sehingga orang ada banyak orang yang menarik untuk mempelajari apa yang dilakukan oleh Wundt, kemudian murid Wundt mengembangkan ilmunya di negara dan laboratoriumnya masing – masing seperti misalnya, E.B Tichener yang merupakan orang Inggris pergi ke Amerika dan membuka laboratorium pertama di Universitas Cornel dan hal ini membuat ilmu psikologi pada awalnya berkembang.

Strukturalisme

Pendiri dari aliran strukturalisme adalah E.B. Titchener yang merupakan salah satu seorang murid Wilhelm Wundt. Titchener pergi ke Amerika dan mengembangkan aliran ini pertama kali di Universitas Cornell. Menurut kaum strukturalisme, kesadaran manusia dapat dibagi sampai kepada bagian terkecil. Dengan menggunakan metode eksperimen dan introspeksi, subjek ditempatkan dan dikondisikan untuk dilihat bagaimana respond dan rekasi dari subjek untuk mencapai persepsi dan sensasi sampai pada tingkat dasar. Tetapi, setelah mendapatkan data, kaum strukturalisme tidak menindaklanjuti data tersebut. Sehingga, kaum strukturalisme hanya menjawab sampai tahapan what. Selain itu, ada kelemahan dalam aliran strukturalisme, yaitu subjektivitas yang sangat mempengaruhi hasil dari eksperimen dari Titchener. Sensasi setiap orang bisa sama tetapi persepsi terhadap sesuatu bisa saja berbeda antara satu subjek dengan subjek yang lainnya. Subjektifitas dari subjek penelitian inilah yang membuat hasil dari eksperimen ini menjadi tidak dapat diandalkan dan tidak valid. Sumbangsih aliran strukturalisme terhadap dunia psikologi adalah bagaimana subjektifitas dari aliran ini membuat para ilmuan saat itu berpikir untuk membuat ilmu pengetahuan yang lebih objektif.

Aliran strukturalisme ini memberikan kesadaran untuk objektifitas. Tanpa adanya aliran ini, maka ilmuan mungkin tidak akan pernah tahu untuk mencari data yang lebih objektif sehingga penelitian mereka menjadi lebih valid dan sepeninggalan Titchener pada tahun 1927, maka aliran ini juga semakin meredup.

Fungsionalsime

Aliran fungsionalisme berkembang di Amerika pada pertengahan sampai pada akhir tahun 1800-an. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah William James. Ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Principle of Psychology. William James dikenal sebagai salah satu pioneer psikologi di Amerika dan orang menyebutnya sebagai “Bapak psikologi Amerika”. Bukunya kemudian dijadikan sebagai standard rujukan dalam ilmu psikologi di Amerika pada saat itu.

Pada dasarnya, dasar penelitian antara Wundt, Titchener, dan James sama yaitu sensasi, persepsi, dan pengalaman. Tetapi, James menyatakan bahwa otak dan jiwa manusia berubah secara konstant. Aliran ini melihat how dan why dari sebuah perilaku dengan mencari data dengan menggunakan metode observasi. Fokus dari aliran ini adalah melihat bagaimana perilaku membantu manusia dalam hidup di lingkungannya, karena James terinspirasi dari teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Menurut Carol dan Tavris (2010), William James menyebutkan kesadaran manusia seperti sungai kesadaran. Menurut James, hal ini diungkapkan kesadaran manusia terbentuk mirip seperti sungai yang mempunyai ombak, alur, yang berbeda – beda. Sehingga hal ini menunjukkan proses mental manusia yang berbeda – beda.

Sama seperti aliran strukturalisme, aliran ini tidak mempunyai umur yang terlalu panjang. Tetapi, kontribusi aliran ini terhadap ilmu psikologi mempunyai sumbangsih yang besar, terlebih sosok William James itu sendiri. Buku yang diterbitkan oleh James pada saat itu dijadikan sebagai acuan untuk mempelajari ilmu psikologi di Amerika pada saat itu. Sehingga, perkembangan ilmu psikologi di Amerika berkembang bermula dari buku yang diterbitkan oleh William James. Apalagi, William James merupakan orang yang kharismatik dan gaya menulisnya yang unik dalam literature psikologi yang ia tulis, membuat banyak orang tertarik untuk mengetahui ilmu psikologi lebih jauh.

Psikoanalisis

Pada awal abad ke – 19, di Amerika Serikat mulai tumbuh banyak sekali aliran terapi psikologi. Sampai pada titik ini, psikologi di masa ini lebih menekankan pada daerah kesadaran manusia. Tetapi, perkembangan ilmu psikologi selanjutnya yang mempunyai dampak sangat besar terhadap ilmu psikologi lahir di sebuah kota di Austria, yaitu Vienna. Saat ilmuan psikologi di Amerika dan Eropa masih bekerja di dalam laboratoriumnya dimana mereka terus mengembangkan ilmu psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang ilmiah, Sigmund Freud, seorang neurologis, berada di kantornya untuk mengobati pasiennya yang mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan mental lainnya. Freud melihat bahwa penyakit yang diderita pasiennya bukanlah akibat dari fisik mereka, tetapi berasal dari tekanan mental yang dialami sehingga menyebabkan konflik dalam internal pasiennya yang berujung kepada penyakit fisik yang dialami. Freud melihat bahwa pengalaman masa kecil dan ketidaksadaran manusialah yang mempunyai peran besar dalam perkembangan kepribadian dan perilaku orang tersebut di masa depan.  Freud melihat bahwa kepribadian manusia digambarkan seperti sebuah gunung es, dimana hanya ada bagian puncak dari gunung tersebut terlihat. Dalam bagian yang tidak terlihat itulah yang banyak mempegaruhi perilaku dan kepribadian orang tersebut.

Freud membagi kepribadian manusia kedalam tiga bagian, yaitu id, ego, dan super ego. Tiga bagian itu masing-masing dibagi berdasarkan komponen kesadaran, misalnya Id, memiliki komponen tidak sadar, Ego memiliki komponen sadar, prasadar, dan tidak sadar, serta superego dengan komponen prasadar dan tidak sadar (Feist, Feist, & Roberts, 2013).

Pemikiran Freud tentang dinamika kepribadian manusia pada awal abad ke – 20 mempunyai peran yang signifikan dalam perkembangan ilmu psikologi. Walaupun banyak sekali kritik yang diberikan kepada Freud, kontribusinya dalam ilmu psikologi tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu pemikiran yang paling cemerlang dalam ilmu psikologi yang kemudian menginspirasi ilmuan psikologi lainnya untuk mengembangkan teori baru berdasarkan teori Freud. Pandangan aliran psikoanalisis ini memberikan pengaruh yang besar dalam seluruh perkembangan ilmu psikologi di masa itu dan tak heran, nama Sigmund Freud disejajarkan dengan Einstein karena sumbangsihnya terhadap ilmu psikologi.

KESIMPULAN

Dalam perkembangannya, ilmu psikologi mempunyai sejarah yang panjang untuk ditelaah untuk sampai pada pemikiran ilmu psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang ilmiah. Ilmu psikologi sudah berkembangan dari zaman Yunani Kuno; walaupun pada zaman itu, ilmu psikologi masih belum secara gamblang disebut sebuah ilmu pengetahuan. Kita dapat melihat, pada zaman perkembangan ilmu Yunani Kuno, ilmu psikologi masih dibayang – bayang oleh ilmu filsafat yang pada saat itu berkembang. Filsuf seperti Socrates dan Plato mempunyai pemikiran tersendiri dalam memaknai konsep jiwa atau psyche. Tetapi, pada Aristoteles melalui bukunya De Anima, memberikan pengaruh besar karena Aristoteles memaparkan konsep psyche secara sistematis dan bukunya menjadi acuan terhadap pengembangan konsep oleh filsuf di zaman selanjutnya.

Di zaman pertengahan, kita dapat melihat bahwa pengaruh gereja katolik memasuki ke seluruh bidang kehidupan, termasuk bidang ilmu pengetahuan. Tak heran filsuf di zaman ini lebih menekankan hidup yang berorientasi pada Tuhan.

Segala sesuatu dilakukan untuk Tuhan dan Tuhan merupakan inspirasi pemikiran dari pada filsuf pada zaman pertengahan.Pada zaman ini, ada sebuah konsep penting yang diperkenalkan oleh St. Agustinus yang nantinya menjadi inspirasi dalam perkembangan ilmu psikologi, yaitu introspeksi. Metode ini digunakan untuk mengetahui kedalaman jiwa seseorang dalam relasinya dengan Tuhan. Termasuk St. Thomas Aquinas yang memberikan pandangan baru terhadap konsep psyche yang dipaparkan oleh Aristoteles.

Dalam perkembangan zaman filsuf modern, kita melihat sumbangsih Rene Decrates yang memberikan pandangan bahwa pengaruh fisiologis dan anatomi manusia terhadap perilaku manusia. Berdasarkan pemikirannya, perilaku manusia ada karena respon biologis manusia terhadap stimulus yang ada disekitar lingkungannya. Dalam hal ini, ilmu psikologi masih belum merupakan ilmu yang dapat berdiri sendiri karena masih dianggap sebagai hasil dari respon biologis dan anatomi manusia. Sebaliknya, John Locke melihat bahwa apa yang dipaparkan Dectrates merupakan hal yang salah. Menurut John Locke yang merupakan pengikut aliran empiris, manusia terbentuk dari pengalaman dan pembelajaran dari lingkungannya, sehingga apa yang dipaparkan John Locke membantah teori yang dipaparkan oleh Rene Decrates. Akan tetapi, pengaruh dari ilmuan ini terhadap ilmu psikologi memberikan sumbangsih bahwa ilmu psikologi harus didasarkan bukti empiris yang dapat dibuktikan kebenarannya melalui pengamatan dan sumbangsih Decrates yang memberikan pandangan fungsi fisiologis terhadap ilmu psikologis menjadi acuan dasar perkembangan ilmu psikologi. Hal inilah yang menjadikan inspirasi bagi Wilhelm Wundt.

Ilmu psikologi pertama kali diperkenalkan sebagai ilmu yang ilmiah karena sumbangsih dari Wilhelm Wundt. Secara resmi pada tahun 1879 Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertamanya di Jerman dan ini merupakan titik kelahiran ilmu psikologi yang ilmiah karena pada saat itu diuji dalam laboratorium pertamanya. Beranjak dari St. Agustinus yang memberikan metode introspeksi, Wundt menggunakan metode ini dalam laboratorium psikologi pertamanya untuk mendapatkan data yang ilmiah melalui eksperimen yang dilakukannya.

Setelah Wundt, muncullah tokoh seperti E.B Titchener dan Willam James yang membawa ilmu psikologi berkembang di Eropa dan Amerika. Mereka terus mengembangkan ilmu yang dipelajari dari Wundt dan memberikan sumbangsih besar terhadap ilmu psikologi pada saat itu agar ilmu psikologi menjadi lebih empiris. Tetapi, tidak dapat dipungkiri, sosok Freud yang mempunyai pandangan berbeda, juga memberikan sumbangsih terhadap perkembangan kepribadian manusia hingga saat ini. Freud memaparkan bahwa kepribadian manusia didominasi oleh alam bawah sadar manusia. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Wundt dan muridnya. Tetapi, sumbangsih tokoh – tokoh psikologi tersebut memberikan dampak terhadap perkembangan teori yang ada sampai pada hari ini. Sumbangsih dasar pemikiran tokoh pada setiap zaman memberikan dampak terhadap perkembangan ilmu psikologi hingga menjadi sebuah ilmu yang berdiri sendiri, terlepas dari ilmu filsafat dan fisiologis, walau tidak dipungkiri kedua ilmu tersebut memberikan peran yang signifikan terhadap ilmu psikologi.

DAFTAR PUSTAKA

Feist, J., Feist, G. J., & Roberts, T.-A. (2013). Theories of Personality. Boston: McGraw-Hill.

Kalat, J. W. (2009). Biological Psychology. California: Wadsworth Publishing Company.

Lundin, R. W. (1996). Theories and Systems of psychology. Lexington: D.C. Health and Company.

Sihotang, K. (2009). Filsafat Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Wade, C., & Tavris, C. (2010). Psychology. Boston: Pearson Education.

Dunia Sebagaimana Ilmu Memahaminya


Jika kita mengatakan bahwa filsafat mempelajari realitas secara sistematis dan mendalam, apakah yang dimaksud dengan realitas? Ada filsuf yang memahami realitas sebagai “ada sejauh dipersepsi” (esse est percipi). Ini berarti ada yang mengenainya tidak bisa dipikirkan bukanlah realitas. Tetapi ada juga filsuf yang berpendapat bahwa realitas adalah sesuatu yang eksis secara real, yang dialami dan dibuktikan keberadaannya secara indrawi. Pemahaman semacam ini langsung mengeksklusikan realitas dalam pengertian pertama di atas.

Memang apa itu realitas yang menjadi bidan kajian filsafat tidak bisa ditetapkan secara sepihak sebagai keberpihakan pada kaum rasionalisme. Demikian pula sebaliknya, realitas tidak sekadar dukungan kita pada para pendukung empirisme. Yang jelas, realitas dalam makna semantiknya merujuk kepada sesuatu (hal) yang real. Jika filsafat harus mempelajari sesuatu hal yang real, katakanlah materi (atau dunia secara umum), apa kekhasan kajian filsafat? Pertanyaan ini relevan karena berbagai ilmu pengetahuan yang ada sekarang pun mengkaji dan mempelajari dunia (materi) atau realitas yang real sebagaimana dimaksud. Apakah filsafat memiliki kajian tersendiri sebegitu rupa sehingga penjelasan-penjelasan yang dihasilkan berbeda sama sekali dengan penjelasan-penjelasan ilmu lain? Apakah filsafat harus memperhatikan juga penjelasan-penjelasan ilmu lain, atau sebaiknya bergerak sendiri dalam dunianya yang khas?

Lanjutkan membaca:Dunia Sebagaimana Ilmu Memahaminya

BIAS DALAM PENELITIAN SOSIAL


BIAS DALAM PENELITIAN SOSIAL[1]

Oleh Yeremias Jena

Tuduhan adanya bias dalam penelitian ilmu sosial bukanlah hal yang asing. Meskipun demikian, term “bias” itu sendiri tidak memiliki makna yang jelas dengan sendirinya bagi para ilmuwan ilmu sosial. Salah satu masalah yang biasanya dihadapi adalah ambiguitas makna term bias itu sendiri. Kadang-kadang term ini dipakai untuk merujuk kepada adopsi sudut pandang tertentu yang darinya seorang ilmuwan ilmu sosial menonjolkan fakta sosial tertentu yang ditelitinya dan menempatkan fakta sosial lainnya hanya sebagai latarbelakang saja. Dalam penelitian kuantitatif, term bias biasanya merujuk kepada eror sistematik (systematic error), yakni penyimpangan dari skor yang benar. Dalam hal ini skor yang benar merujuk kepada pengukuran yang valid atas suatu fenomena tertentu yang diteliti atau ketepatan estimasi atas sebuah parameter populasi.

Term bias juga dapat digunakan dalam pengertian yang lebih khusus lagi, yakni untuk memperlihatkan sumber tertentu dari eror sistematik; dan sumber tersebut terdapat pada ilmuwan ilmu sosial itu sendiri, yang secara sadar atau tidak sadar, menghimpun data, dan/atau menginterpretasikan data tersebut dalam cara yang sebegitu rupa sehingga mengarahkan mereka kepada penarikan kesimpulan yang keliru. Tuduhan bahwa sumber bias terdapat pada para ilmuwan ilmu sosial sendiri adalah hal yang masih diperdebatkan, karena tuduhan semacam ini mendasarkan dirinya pada konsep-konsep lain mengenai “kebenaran” dan “objektivitas” yang justifikasi dan perannya dalam ilmu sosial justru telah dipersoalkan. Lebih khusus lagi, klaim semacam ini mendasarkan dirinya pada asumsi-asumsi epistemologis fondasionalis yang sudah lama ditolak. Dan berbagai macam posisi epistemologis radikal lainnya yang diadopsi oleh ilmuwan tertentu sebagai alternatif atau menyangkal validilitas konsep bias itu sendiri—secara ekplisit atau implisit—atau mengubahnya secara total.

Akan diperlihatkan dalam makalah ini bahwa sudah semestinya para ilmuwan menolak posisi dan klaim fondasional sains (foundationalist conception of science), dan bahwa penolakan itu berimplikasi pada perubahan memahami term bias. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa klaim-klaim fondasionalis sama sekali ditolak. Sebagai praktik sosial, justru konsepsi fondasionalis sains membentuk suatu kerangka yang esensial bagi penelitian. Dalam konteks ini, kita akan menguji eror lebih sebagai persoalan akuntabilitas kolegial, dan mendefinisikan “bias” sebagai salah satu dari banyak kemungkinan kesalahan. Kita akan mengakhiri makalah ini dengan menunjuk kepada sedang munculnya ancaman bias dalam penelitian sosial dewasa ini.

Makna Bias Dalam Penelitian Sosial

Tuduhan mengenai adanya bias biasanya terjadi dalam penelitian ilmu sosial, terutama sosiologi dan  psikologi. Tampaknya beberapa dari tuduhan tersebut sudah merupakan masalah yang ramai diperdebatkan. Kita bisa menyebut dua contoh. Pertama, adanya serangan terhadap teori-teori hereditarian mengenai inteligensi, terutama dalam karya Cyril Burt (lih. Kamin, 1974). Di sini, pandangan bahwa inteligensi merupakan faktor keturunan dipersoalkan sebagai klaim yang mengandung bias, karena hanya akan mempertahankan satus quo atau menguntungkan suatu kelompok tertentu saja. Kedua, kritik Derek Freeman atas karya Margaret Mead berjudul Coming of Age in Samoa (Freeman, 1983). Lebih lanjut, dalam banyak hal tampaknya memperlihatkan bahwa yang dapat dikatakan bias bukan hanya penelitian tetapi juga evaluasi mengenai penelitian itu sendiri.[2]

Ternyata makna term “bias” kurang mendapat perhatian dalam literatur-literatur metodologis. Meskipun demikian, hal ini tidak mengurangi problematika pemahaman term bias itu sendiri. Untuk satu hal, term bias bersifat problematis karena digunakan dalam berbagai cara yang berbeda. Kita akan memulai dengan memperlihatkan tiga makna yang berbeda dari term bias.

Pertama, dalam pengantar kepada bukunya berjudul Arguing Revolution: The Intelectual Left in Postwar France (1993) Sunil Khilnani menulis secara jelas bahwa buku yang ditulisnya ini mengandung bias dalam artinya yang paling jelas dan original. Alasannya, buku tersebut mengusulkan suatu sudut pandang baru dari visi-visi. Dia menyebutnya sebagai suatu sudut pandang baru (new angle), karena menghasilkan pola-pola tertentu yang signifikan yang akan semakin memperjelas fokus terhadap suatu persoalan yang sedang diteliti (Khilnani, 1993: h. vii).

Harus dikatakan bahwa Oxford English Dictionary tidak menunjukkan adanya bukti bahwa kata “bias” sebagaimana diklaim Khilnani memiliki makna yang paling original. Kamus ini bahkan tidak menyebut makna atau nuansa kata bias sebagaimana dimaksud ilmuwan Prancis ini. Paling tidak, gagasan bahwa sudut pandang dapat menghasilkan perbedaan mengenai seberapa baik seorang ilmuwan membedakan pola-pola yang signifikan dalam sebuah adegan, atau dalam sebuah urutan kejadian, adalah hal yang masuk akal. Dan ini telah dikembangkan dalam sebuah konteks metodologis oleh Max Weber, dalam apa yang disebutnya sebagai teori mengenai tipe-tipe ideal. Sebagaimana kita ketahui, Weber mendefinisikan tipe ideal sebagai “a conceptual pattern that brings together certain relationships and events of historical life into a complex that is conceived of as an internally consistent system” (Weber, 1949: h. 90). Dan pengertian ini bukanlah representasi realitas “sebagaimana adanya”, tetapi yang melibatkan “penekanan satu-sisi” (one-sided accentuation) aspek-aspek realitas dengan maksud untuk mendeteksi hubungan kausal.

Dalam terminologinya Khilnani, tipe-tipe ideal dibiaskan sebegitu rupa dengan maksud untuk menonjolkan apa yang justru kita remehkan. Pantas untuk disebut bahwa bias di sini dipahami sebagai hal yang positif. Artinya, bias justru menjadi inspirasi bagi seorang ilmuwan ilmu sosial. Dalam konteks ini, bias melahirkan aspek-aspek penting dari fenomena yang tersembunyi karena perspektif-perspektif lainnya. Pada saat yang sama, kemungkinan adanya bias yang negatif masih ada, dan ini menyifati sebuah perspektif yang lebih menyembunyikan fenomena-fenomena daripada memunculkannya. Dari sudut pandang ini, tampaknya bias adalah sisi yang tidak dapat terelakkan dari setiap penjelasan, dan bagaimana statusnya sebagai hal yang baik atau buruk dibiarkan terbuka bagi penentuan lebih lanjut dalam kasus-kasus yang partikular.

Makna term bias semacam ini kadang-kadang digunakan dalam literatur-literatur metodologi penelitian sosial. Tidak hanya para peneliti kuantitatif, tetapi juga para peneliti kualitatif kadang-kadang menggunakannya (lih. misalnya, Levine, 1993: h. 92). Mengenai hal terakhir ini sering orang merujuk kepada pandangan berpengaruh dari Becker yang mengatakan bahwa analisis sosiologis selalu dilakukan dari sudut pandang seseorang, dan dengan demikian bersifat partisan (Becker, 1967: h. 245).[3] Selain itu, pengaruh gagasan-gagasan kaum relativis menggarisbawahi dan mendukung penggunaan kata bias dalam pengertian ini dalam penelitian kualitatif. Pengaruh dari hal ini adalah jelas, misalnya, dalam klaim bahwa “pertanyaannya adalah bukan apakah datanya bias atau tidak; tetapi kepentingan siapakah yang dilayani oleh bias tersebut” (Gitlin dkk., 1989: h. 245). Di sini penelitian yang dilakukan harus menjadi bias untuk mendukung kepentingan kelompok tertentu daripada kelompok lainnya.

Kedua, tentu saja, ini bukanlah pengertian bias yang paling dominan dalam ilmu-ilmu sosial, dan kita tidak akan mendiskusikan hal ini dalam makalah ini. Yang hendak digarisbawahi adalah bahwa bias umumnya dipahami sebagai sisi yang negatif, sebagai sesuatu yang dapat dan seharusnya dihindari. Sering term bias merujuk kepada penyimpangan (deviasi) sistematis dari validitas, atau perubahan tertentu dari praktik penelitian yang menghasilkan penyimpangan seperti itu. Dalam konteks pengertian ini kita melihat bahwa para peneliti kuantitatif secara rutin merujuk kepada bias pengukuran (measurement bias) atau bias sampel (sampling bias). Yang mereka maksudkan dengan hal ini adalah kesalahan sistematik (systematic error) dalam prosedur pengukuran atau prosedur sampel yang menghasilkan hasil-hasil yang salah.[4] Pengertian bias dalam konteks ini hendak dikontraskan dengan kesalahan yang serampangan (haphazard atau random) di mana bias cendrung menghasilkan hasil-hasil yang palsu dan menghalangi penarikan kesimpulan yang benar.

Ketiga, term “bias” dapat juga dipakai dalam pengertiannya yang lebih spesifik untuk mengidentifikasi sumber kesalahan sistematik. Yang dimaksud adalah kecendrungan pihak peneliti untuk mengumpulkan data, dan/atau menginterpretasikan dan menyampaikannya, dalam cara yang sebegitu rupa sehingga mendukung atau sesuai dengan prasangka-prasangka dan komitmen-komitmen politis atau praktis mereka. Ini dapat terdiri dari tidak hanya tendensi positif ke arah konklusi yang partikular tetapi salah, tetapi juga membatasi kemungkinan-kemungkinan penarikan kesimpulan yang lain yang justru mengandung kebenaran.

Bias semacam ini dapat memperlihatkan dirinya dalam berbagai macam cara. Sumber bias yang paling umum dikenal adalah komitmen-komitmen yang ada di luar dari proses penelitian, misalnya perilaku-perilaku politis, yang justru mendukung ditemukannya hanya fakta-fakta yang disenangi atau yang sesuai dengan kepentingan mereka dan lebih mendukung presentasi “penemuan-penemuan” yang sifatnya palsu. Tidak hanya itu, karena ada juga sumber bias yang muncul dari proses penelitian itu sendiri. Sering dikemukakan bahwa sama seperti suatu interpretasi adalah partikular, seorang peneliti cendrung memakai suatu teori tertentu yang mendukung keinginannya untuk menjelaskan atau menginterpretasi data dalam konteks pengertian teori tersebut, dan itu bisa saja dalam bentuk bagaimana dia mencari dan mengumpulkan data yang menegaskan penejelasan-penejalasannya, atau bahkan membentuk proses pengumpulan dan pengolahan data dalam cara yang membawa kepada kesalahan. Dalam penelitian survai, hal ini dapat muncul dalam jenis pertanyaan yang ditanyakan si peneliti dalam sebuah wawancara, atau sebagai hasil dari cara mereka diwawancara (Oppenheim, 1966). Para peneliti kualitatif pun tidak bisa mengelak dari bias semacam ini. Malah seringkali diterima bahwa peneliti kualitatif lebih mudah jatuh ke dalam bias, tidak terutama karena “peneliti adalah instrumen penelitian”, tetapi dari bagaimana dia mempraktikkan penelitiannya, apakah ia menjadi seorang peneliti yang terlibat atau tidak. Dalam konteks penelitian etnografi misalnya, kita mengenal adanya bahaya penarikan kesimpulan yang salah atau berlebihan jika sang peneliti mengambil sudut pandang penelitian partisipatif (“goes native”), di mana dia bisa menginterpretasikan kejadian-kejadian semata-mata dari sudut pandang partisipan-partisipan yang partikular, dan mengambilalih bias-bias apa saja yang membentuk perspektif- perspektif mereka.

Apakah ketiga pengertian mengenai bias ini sudah menjelaskan secara tuntas apa itu bias dalam ilmu sosial? Kita akan melihat bahwa dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif, konsep-konsep seperti kebenaran dan objektivitas cendrung dipahami dalam pengertian citra fondasionalis (foundationalist image) suatu proses penelitian. Kita tidak hendak mengusulkan bahwa penelitian kuantitatif dan kualitatif seluruhnya percaya pada pencitraan semacam ini. Yang hendak diperlihatkan adalah bahwa pencitraan semacam ini telah lama membentuk pemahaman penelitian-penelitian tersebut, dan bahwa di hadapan kritisisme tajam yang dilontarkan, pengaruh pencitraan ini tidak seluruhnya dapat dihilangkan.

Fondasionalisme dan Konseptualisasi Bias

Semua konsep membentuk bagian dan jaringan-jaringan yang saling berhubungan. Makna konsep-konsep terletak pada kesalinghubungan antarmereka dalam bagian atau jaringan tersebut. Demikian juga halnya dengan konsep “bias”. Makna konsep ini harus dipahami dalam jaringan dan kesalinghubungannya dengan konsep validitas atau kebenaran. Konsep bias mengedepankan suatu tipe atau sumber kesalahan, dan dalam artian ini berfungsi sebagai sebuah antonim bagi objektivitas (dalam salah satu dari makna kata-kata tersebut). Itu berarti bias dipahami sebagai lawan dari objektivitas. Konsep-konsep lainnya yang terlibat dalam jaringan tersebut (kebenaran, validitas, dan objektivitas) bukan tidak dapat diperdebatkan. “Kebenaran” adalah term yang secara sadar dihindari oleh banyak peneliti. Diduga alasannya berhubungan dengan pemahaman yang diterima oleh para peneliti bahwa term kebenaran mengimplikasikan kemungkinan pembuktian yang absolut. Meskipun demikian, konsep kebenaran atau validitas tetap saja terbuka kepada persaingan interpretasi.[5] Demikian juga dengan konsep “objektivitas”. Dewasa ini, terutama di bawah pengaruh dari konstruktionisme dan posmodernisme, telah muncul sejumlah besar perdebatan, terutama di antara para peneliti kualitatif, mengenai makna term ini (Lih. Lather, 1986 dan 1993; Kvale, 1989; Mishler, 1990; Phillips, 1990; Wolcot, 1990; Harding, 1992; Altheide dan Johnson, 1994; Lenzo, 1995).

Tema sentral yang diangkat oleh para peneliti dan penulis ini adalah ketergantungan interpretasi konsevensional pada konsep-konsep kebenaran, validitas, dan objektivitas, terutama dilihat dari sudut pandang dan asumsi-asumsi positivis. Sebagaimana kita ketahui, “positivisme” adalah term yang paling dilecehkan sebegitu rupa sehingga maknanya telah menjadi elastis. Padahal asumsi-asumsi yang seringkali dikritik dalam diskusi-diskusi mengenai validitas dan bias bukanlah hal yang unik bagi positivisme, dalam pengertian apapun juga dari term tersebut. Karena alasan inilah kita tidak akan ragu-ragu menggunakan term “fondasionalisme” untuk merujuk term-term seperti “validitas”, “eror”, “objektivitas”, dan “bias”. Dengan kata lain, keempat term ini menjadi fondamen atau dasar dibangunnya pengetahuan kita mengenai sesuatu.[6]

Dalam bentuknya yang paling ekstrem, fondasionalisme menampilkan dirinya kepada peneliti sebagai fondamen atau sumber penghasil kesimpulan-kesimpulan yang validitasnya muncul secara otomatis dari data yang “terberi” dalam mana kesimpulan-kesimpulan didasarkan. Diasumsikan bahwa dari data yang terberi dapat ditarik suatu kesimpulan yang tidak bisa diragukan lagi. Melalui prosedur-prosedur metodologis, data yang terberi tersebut mentransmisikan validitas dari premis-premis kepada kesimpulan-kesimpulan. Ada beraneka ragam sumber “data yang terberi” yang diacuh oleh kaum fondasionalis. Sumber-sumber tersebut meliputi idea-idea bawaan atau innate ideas (rasionalisme Cartesian), persepsi-persepsi (empirisme), objek-objek fisik (fisikalisme), konsistensi-konsistensi observasional (operasionalisme), dan esensi-esensi ideasional (fenomenologi Husserlian). Hakikat dari data yang terberi adalah beraneka ragam. Meskipun demikian, dalam semua hal, sumber-sumber data diperlakukan sebagai yang independen dari, dan sebagai yang menampilkan dirinya sendiri kepada peneliti. Penarikan kesimpulan apa saja berdasarkan data yang terberi itupun dapat bervariasi, misalnya berupa deduksi atau induksi. Apapun juga bentuk penarikan kesimpulan, telah diterima bahwa kesimpulan-kesimpulan yang boleh dihasilkan adalah yang validitasnya pasti (certain), yang mendukung kebenaran premis-premis.[7][5]

Proses penelitian dalam pandangan fondasionalisme dipahami sebagai yang penuh pada dirinya (self-contained). Artinya, penelitian tidak mendasarkan dirinya pada hal atau aspek apapun juga di luar diri penelitian itu sendiri. Implikasinya adalah bahwa jika ada kesimpulan-kesimpulan yang salah, maka kesimpulan-kesimpulan tersebut pasti karena adanya perembesan atau masuknya hal-hal yang tidak legitim dari faktor-faktor luar. Misalnya aspek subjektivitas peneliti atau pengaruh konteks sosial si peneliti sendiri. Hanya ada satu syarat supaya seorang peneliti dapat menghindari eror dan bias, yakni bahwa dia harus menjadi seorang peneliti yang objektif. Dengan kata lain, si peneliti tersebut harus melakukan penelitian dalam cara yang sama seperti yang dilakukan oleh “siapa pun” juga peneliti, karena semua peneliti memiliki tekad dan tujuan yang sama dalam menemukan kebenaran. Dan ini tidak mempedulikan apa posisi sosial atau sifat-sifat pribadi peneliti tersebut.

Mari kita mengilustrasikan fondasionalisme ini dengan menggunakan analogi permainan bowling (bowl). Kita tahu bahwa dalam sebuah permainan bowling ada jack dalam posisi tetap (fixed) dan garis-garis lintasan. Seorang pemain bowling akan melakukan pengamatan atas targetnya melalui garis lurus lintasan tersebut. Akan ada satu garus lurus lintasan yang membawa pemain bowling ke arah targetnya, sementara garis lurus lintasan lainnya berperan sebagai efek eroro atau bias. Kenyataan bahwa seseorang dapat menerjang (hit) atau mendekati jack dengan bantuan beberapa dari lintasan garis lurus tersebut (jadi bukan hanya satu garis lurus lintasan saja) jelas menunjukkan bahwa kesimpulan yang ditarik seseorang dapat menjadi benar karena alasan-alasan yang salah, sama seperti alasan-alasan yang benar.

Persoalan seputar epistemologi fondasionalisme telah lama dikenal oleh para filsuf. Mereka telah mengeksplorasikan hal ini baik dalam pandangan-pandangan yang mendukung maupun yang mengeritik.[8] Bentuk-bentuk fondasionalisme empiris mendominasi filsafat ilmu Anglo-Amerika sejak tahun 1930-an sampai tahun 1950-an. Permasalahan seputar fondasionalisme telah dipahami oleh banyak orang sebagai masalah yang semata-mata teknis, dan karena itu dapat dipecahkan. Para filsuf ilmu dewasa ini sepakat bahwa bahwa fondasionalisme tidak dapat dibela. Alasannya adalah bahwa tidak ada data fondasional, dan bahwa hubungan antara teori dan bukti atas teori selalu merupakan hal yang tidak dapat ditentukan (Hanson, 1958; Kuhn, 1970; Gillies, 1993). Ambruknya dukungan bagi fondasionalisme ini telah memunculkan pandangan-pandangan yang skeptis dan relatif, bahwa skeptisisme dan relativisme meninggalkan konsep kebenaran dan eror atau menafsirkan kembali kebenaran dan eror tersebut secara aneh, tidak hanya dalam hubungannya dengan fondasionalisme tetapi juga dengan cara berpikir praktis sehari-hari dari kebanyakan peneliti. Harus dicatat, bahwa umumnya filsafat ilmu pasca empirisme mengambil posisi yang lebih moderat, mengeksplorasi, dan mencoba mengatasi masalah-masalah yang dimunculkan empirisme dalam hubungannya dengan realisme (Lih. Hammersley, 1995; bab 1).

Selama beberapa lama fondasionalisme menjadi gagasan utama bagi para peneliti kuantitatif dalam lapangan penelitian ilmu-ilmu sosial. Dan dalam arti tertentu itu berlanjut. Misalnya, masih ada tendensi umum untuk memperlakukan validitas data-data angka sebagai sesuatu yang terberi (given), padahal karakteristik dari data-data itu sendiri adalah terkonstruksi, dan karena itu memiliki potensi sebagai sumber eror (Converse dan Schuman, 1982; Bateson, 1984); Pawons, 1989). Lebih jauh lagi, seringkali teknik-teknik statistik kadang-kadang digunakan seakan-akan mengandung sebuah mesin untuk mengubah data ke dalam kesimpulan-kesimpulan yang valid (Lieberson, 1985; Oakes, 1986; Ragin, 1987; Pawson, 1989). Tentu saja ini tidak dimaksud untuk mengusulkan bahwa semua peneliti kuantitatif adalah naif. Meskipun demikian, ada tendensi yang kuat dalam diri penganut pemikiran-pemikiran metodologis simplistik untuk mempertahankan praktik penelitian jauh mengatasi rentang waktu. Tanpa disadari, mereka justru ditinggalkan oleh para peneliti lainnya.

Bahkan penelitian kualitatif telah dipengaruhi oleh semacam fondasionalisme, terutama oleh positivisme, dan kadang-kadang bahkan juga oleh oleh model-model ilmu-ilmu alam itu sendiri. Sebenarnya semua peneliti kualitatif secara tegas memiliki tekad dan tujuan dalam dirinya untuk melakukan penelitian dengan tujuan memotret realitas dan memahaminya dalam pengertiannya sendiri, lepas dari para peneliti lain dan proses-proses penelitian. Mereka juga memiliki keyakinan bahwa potret yang valid atas realitas hanya dapat dicapai dengan kontak yang dekat atau langsung dengan realitas tersebut, misalnya melalui observasi partisipatif atau wawancara sejarah hidup (Hammersley, 1989 dan 1992). Meskipun demikian, pengaruh fondasionalisme (terutama positivistic mind) tetap sulit mereka hindari.[9]

Dengan melihat pengaruh fondasionalisme dalam kedua ranah (ranah penelitian kuantitatif dan kualitatif), keruntuhan fondasionalisme memiliki konsekuensi yang sama bagi para peneliti kualitatif maupun kuantitatif. Fondasionalisme mengancam upaya justifikasi praktik penelitian konvensional dalam kedua ranah tersebut. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah tanggapan apa yang harus dikemukakan oleh para peneliti atas kegagalan fondasionalisme? Dan implikasi-implikasi apa yang ditimbulkan oleh tanggapa-tanggapan tersebut bagi konsep bias?

Tentu saja keberpihakan penelitian kuantitatif pada positivisme telah melahirkan sejumlah besar kritisisme. Belakangan ini kritisisme yang sama dilontarkan kepada para ilmuwan ilmu sosial yang dalam menjalankan penelitian-penelitian kualitatif justru menyandarkan diri pada realisme. Sehubungan dengan hal ini banyak kaum feminis, konstruksionis, dan posmodernis dewasa ini telah memilih alternatif epistemologi radikal. Ada dua tipe epistemologi radikal yang mendapat dukungan luas di kalangan peneliti, yakni teori relativisme (relativism theory) dan teori standpoint (standpoint theory).[10] Mari kita menguji implikasi-implikasi konsep-konsep bias ini bagi fondasionalisme.

Epistemologi Radikal dan Konsep Bias

Sifat tulisan-tulisan metodologis dari para peneliti kualitatif akhir-akhir ini adalah penyebaran argumen-argumen skeptis dan relativis. Demikianlah, mereka mengandalkan tidak hanya “fakta-fakta” dan tetapi juga “penemuan-penemuan” yang kadang-kadang berhadapan dengan tuduhan positivisme, dan/atau keteguhan pandangan bahwa tidak ada dasar bagi klaim validitas universal. Sejauh tulisan-tulisan tersebut masih dapat digunakan, pendapat-pendapat mereka umumnya ditempatkan dalam kutipan-kutipan yang jarang dengan maksud untuk menjarakkan penulis dari fondasionalisme yang mereka terima untuk diimplikasikan (lih. Haack, 1992: h. 16). Diargumentasikan bahwa semua penjelasan mengenai dunia merefleksikan posisi sosial, etis, gender, dan sebagainya, dari orang-orang yang menghasilkan penjelasan-penjelasan tersebut. Penjelasan-penjelasan tersebut dibangun di atas basis asumsi-asumsi partikular dan tujuan-tujuan. Karena itu, kebenaran atau kesalahan penjelasan-penjelasan tersebut hanya dapat diadili dalam batasan standar-standar yang pada dirinya sendiri adalah konstruksi-konstruksi sosial, dan dengan demikian bersifat relatif. Kadang-kadang, apa yang tampaknya diikutsertakan di sini adalah tuduhan bahwa penjelasan-penejalasan yang mengklaim adanya validitas universal adalah bias. Alasannya, di samping apa yang diklaim, klaim-klaim tersebut merefleksikan lokasi-lokasi sosial dari peneliti. Tapi untuk memformulasikan klaim bahwa semua penjelasan mengungkapkan asal-usul penjelasan itu sendiri sama saja dengan mengatakan bahwa “semua penjelasan adalah bias”. Pemikiran semacam ini berpotensi menyesatkan sejauh bias dipahami sebagai sumber atau tipe error, dan eror hanya mempertahankan makna dengan mengkontraskannya dengan posibilitas kebenaran.

Tentu saja kata “kebenaran” dapat diredefinisikan dalam pengertian relativis, sehingga apa yang benar menjadi apa yang diterima sebagai benar dalam komunitas tertentu yang para anggotanya memiliki perspektif tertentu yang sama. Kembali ke analogi bola bowling di atas, posisi seorang relativis tampaknya mengimplikasikan bahwa jack adalah titik incaran atau target para pemain bowling. Di sini, “eror” dan “bias” memperlihatkan adanya penyimpangan dari kebenaran sebagai yang didefinisikan secara konsensus dalam sebuah komunitas partikular. Penting untuk dicatat, bahwa kebenaran semacam itu tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi bias dalam perspektif komunitas epistemik lain (other), paling tidak bukan tanpa kontradiksi-diri (self-contradiction). Dalam konteks ini, argumennya Kuhn (1970) bahwa paradigma yang berbeda adalah tidak-dapat-diperbandingkan (incomensurable) mendapatkan maknanya yang penuh: adalah tidak masuk akal, dari sudut pandang relativis, bagi anggota dari sebuah komunitas epistemik tertentu untuk menuduh komunitas lainnya sebagai bias, karena pandangan-pandangan mereka menyimpang dari pandangannya yang dianggapnya benar, rasional, dan sebagainya.[11]

Para penganut relativisme berpendapat bahwa kita hidup dalam realitas yang beragam (multiple). Tetapi, argumen bahwa inilah hakikat dari dunia itu sendiri justru melahirkan sebuah sebuah klaim validitas universal.[12] Inilah yang dikenal sebagai inkonsistensi internal relativisme. Sudah lama para pengikut relativisme mengabaikan atau tidak memperhatikan inkonsistensi internal relativisme ini, dan salah satu efeknya adalah bahwa kaum relativis cendrung terombang-ambing di antara toleransi yang tidak memihak (undiscriminating tolerance) dan dogmatisme ideologis. Ketika menyadari adanya perspektif yang multipel sebagai yang masing-masingnya benar dalam pengertiannya masing-masing, relativisme tampak toleran dalam segala sesuatu. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk membatasi penggandaan “realitas-realitas”. Klaim atas nama perspektif apa saja bagi kebenaran universal dapat ditolerir. Sebaliknya, dalam komunitas manapun, relaltivisme dapat digunakan untuk menjustifikasi pemaksaan paradigma epistemik yang dipandang cocok bagi komunitas tersebut, dan membiarkan tidak adanya ruang bagi adanya ketidaksepakatan mengenai hal-hal yang fundamental. Semua gugatan terhadap paradigma dapat diatasi dengan jawaban bahwa ini adalah apa yang kita percaya sebagai komunitas: “jika Anda tidak mempercayainya maka Anda bukanlah anggota dari kita.” Dengan demikian, dalam konteks relativisme, tidak ada kemungkinan jawaban lain bagi mereka yang gigih tidak menyetujui pandangan komunitas/ Dan satu-satunya strategi yang dapat diandalkan bagi mereka yang tidak setuju adalah memenjarakan ketidaksetujuan mereka dalam kerangka konstruksi paradigma baru, yang pada dirinya sendiri memiliki imunitas dari kritisisme eksternal.[13]

Penegasan mengenai adanya inkonsistensi relativisme menunjukkan bahwa  jarang posisi relativisme dipegang teguh secara konsisten. Orang lalu melirik posisi epistemologis lainnya. Salah satu yang dilirik adalah apa yang oleh kaum feminis disebut sebagai epistemologi standpoint (standpoint epistemology). Jelas, epistemologi ini menyediakan sebuah basis yang menopang klaim-klaim atas validitas universal. Selain itu, ia juga menerima argumen bahwa validitas dari semua pengetahuan adalah relatif bagi lokasi sosial. Kembali kepada analogi permainan bowling di atas, menurut standpoint epistemology, mungkin saja tidak ada rute garis-lurus ke titik jack, hanya sebuah bola bowling dengan jenis bias tertentu yang dapat melakukan kontak dengan jack, dengan memperhitungkan hambatan-hambatan di sekitarnya, dan hambatan-hambatan ini adalah merepresentasikan ideologi).

Pendekatan standpoint memilih model Marxisme dan filsafat Hegelian. Hegel memahami perkembangan sejarah sebagai sebuah proses yang melaluinya, melalui perubahan yang dialektis, distingsi antara subjek dan objek, yang mengetahui (knower) dan yang diketahui (known), akhirnya diatasi dan akan terealisir pengetahuan yang benar. Karena proses historis telah mencapai tingkat perkembangannya yang final dalam seluruh hidupnya, Hegel mengklaim bahwa dirinya berada dalam sebuah posisi untuk mencapai pengetahuan yang absolut mengenai dunia, dalam cara di mana tidak ada filsuf sebelumnya yang pernah mencapainya. Pada waktu yang sama, dalam karyanya Phenomenology di mana ia mendiskusikan dialektika antara tuan dan budak, dia juga mengemukakan sebuah versi distingsi filsafat sejarah melalui mana kelompok-kelompok yang ditekan (budak) mendapatkan insight ke dalam hakikat dari dunia yang tidak tersedia atau dipahami oleh para penindas mereka. Marx lalu mengembangkan gagasan ini menjadi sebuah konsepsi perkembangan sejarah yang belum lengkap, tetapi yang dapat dibawa kepada pemenuhannya oleh revolusi proletarian. Marx berpendapat bahwa sejauh para buruh menderita dalam bentuknya yang paling mengerikan (alienasi) di bawah kapitalisme, mereka memiliki kemampuan yang unik untuk memahami hal ini, dan dengan demikian berjuang untuk menggulingkannya. Kaum feminis telah mengadopsi posisi yang serupa, tetapi tentu saja dengan perempuan yang diberlakukan sebagai kelompok yang tertindas sebagai standpoint yang menyediakan pengetahuan (Smith, 1974; Hartsock, 1993; Harding, 1983; Flax, 1983).

Dalam standpoint epistemology ada ruang untuk mengklaim kebenaran dan bias. Meskipun demikian, hal ini dapat diformulasikan dalam cara yang berbeda. Bias dapat dipahami sebagai bagian yang tidak dapat dielakkan dari keyakinan-keyakinan mereka yang tidak menempati posisi standpoint: pandangan-pandangan mereka mengenai dunia telah menjadi hal yang sifatnya ideologis. Sementara itu, mereka yang tidak menempati suatu standpoint akan dimengerti sebagai subjek bias, karena alasan lokasi sosial mereka. Sebagai gantinya, barangkali dapat diargumentasikan bahwa perbedaan antara mereka yang memiliki dan yang tidak memiliki standpoint yang benar adalah hakikat dari bias yang disuplai oleh posisi mereka. Kedua jalan (standpoint yang benar dan yang keliru) dipahami sebagai produk-produk sosial, sehingga entah sebuah klaim pengetahuan adalah benar atau tidak ditentukan tidak oleh apakah pengetahuan itu telah dibentuk oleh karakteristik-karakteristik personal dan sosial dari peneliti tetapi oleh hakikat karakteristik-karakteristik tersebut.

Inilah argumen yang kekurangan-kekurangannya telah lama dieksplorasi dalam sosiologi pengetahuan yang dikenal dengan nama genetic fallacy (lih. misalnya Hartung, 1952 dan Popper, 1966: bab 23). Adalah sebuah ilusi bagi epistemologi standpoint yang mengusahakan cara pengenalan atau pencapaian pengetahuan dalam mana validitas semua penjelasan mengenai dunia ditentukan oleh lokasi sosio-historis dari mereka yang menghasilkannya dan menjustifikasi klaim-klaim kebenaran universal. Demikianlah, epistemologi Hegelian sebenarnya mengalami kegagalan yang sama seperti relativisme karena penekanan bahwa semua penjelasan mengenai dunia terlokasi secara sosio-historis dan benar atau salah tergantung pada lokasi mereka. Tidak ada kriteria yang secara historis adalah netral atau independen yang melaluinya validitas filsafat sejarah Hegel dikembangkan. Dan tepat bahwa inilah bagian yang tersisa yang terbuka kepada kemungkinan orang lain menggunakan argumen historisis untuk mengklaim bahwa sejarah dapat direalisasikan pada titik tertentu yang berbeda dalam perkembangannya dan dalam cara yang berbeda, sebagaimana yang terjadi dalam kasus kaum Marxis maupun feminis. Tapi, tentu saja argumen-argumen mereka juga terbuka kepada perdebatan yang yang sama.

Dengan kata lain, pertanyaan kunci adalah bagaimana seseorang menguji pernyataan-pernyataan validitas mengenai klaim sumber pengetahuan? Ini tidak dapat dilakukan dalam kerangka sumber-sumber pernyataan tersebut. Baik Hegel maupun Marx berusaha untuk menghindari hal ini dengan berpihak kepada sebuah logika atau sains. Banyak kaum Marxis dan feminis mencoba untuk menghindari persoalan dengan mengadopsi sebuah versi yang lebih lemah dari standpoint epistemology. Inilah posisi yang memberi ruang bagi kemungkinan bahwa kelas pekerja dapat disesatkan oleh ideologi yang dominan, atau bahwa kaum perempuan tertentu dapat menderita karena kesadaran palsu tertentu. Dengan demikian, standpoint kadang-kadang diperlakukan sebagai yang diadopsi secara sadar daripada sebagai sebuah persepektif yang diwariskan dari posisi sosial seseorang. Dalam pengertian yang lebih lemah ini, tidak ada satupun posisi sosial yang dipahami sebagai yang pada dirinya sendiri menyediakan akses kepada pengetahuan yang valid. Ia hanya menawarkan sebuah potensi bagi pengetahuan semacam itu. Tapi, tentu saja, gerakan ini secara efektif memotong argumen standpoint, karena klaim-klaim pengetahuan tidak lagi dipertimbangkan pertama-tama dalam hubungannya dengan klaim-klaim tersebut, tetapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Kekhasan standpoint epistemology sebagai alternatif bagi fondasionalisme telah lenyap. Sama seperti posisi-posisi nonfondasionalis lainnya, posisi ini sekarang menghadapi masalah bagaimana menentukan apa yang benar dan salah. Dan bias, dalam artinya yang asali, sekali lagi menjadi sebuah ancaman bagi validitas yang adalah universal, tidak terbatas pada mereka yang menempati standpoint yang salah.

Sebagaimana telah kita tunjukkan, relativisme dan standpoint epistemology jarang diadopsi dalam bentuknya yang murni. Demikianlah, apa yang sering terjadi adalah bahwa keduanya digunakan dalam satu cara yang instrumental. Argumen-argumen yang skeptis atau relativis diterapkan secara selektif dengan maksud untuk mengeritik beberapa fenomena tertentu atau sudut pandang tertentu sementara yang lainnya dipertahankan tanpa diutak-atik dari efek atau pengaruh korosifnya. Sebaliknya, standpoint epistemology digunakan untuk melindungi pandangan-pandangan tertentu melalui kemampuannya untuk mendiskualifikasi kritik dalam konteks karakteristik-karakteristik sosial mereka. Tujuan yang disengaja dari instrumentalisme ini seringkali dimaksudkan maksud untuk mengemukakan bias-bias yang muncul dari kekuatan/kekuasaan kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat. Meskipun demikian, sebagaimana telah kita coba tunjukkan, tidak ada satupun pandangan epistemologi ini dapat mempertahankan sebuah konsepsi bias yang bersifat koheren. Dengan demikian, kita menerima di sini bahwa tidak ada satupun alternatif-alternatif epistemologis dewasa ini yang berpengaruh bagi fondasionalisme mampu menyediakan basis yang absah bagi perekonstruksian konsep-konsep bias. Jadi, bagaimana mengatasi masalah ini?

Interpretasi “Bias” Secara Nonfondasionalis

Dengan mengingat kegagalan fondasionalisme dan kelemahan alternatif radikal yang hendak menggantikannya, kita perlu memikirkan kembali isu-isu seputar kebenaran, objektivitas, dan bias dalam hubungan mereka dengan penelitian sosial. Pada bagian ini kita ini akan memahami konsep-konsep kebenaran, objektivitas, dan bias ini lebih lanjut. Kita telah mencatat sebelumnya bahwa sembari kegagalan fondasionalisme telah membawa kepada pengadopsian pandangan-pandangan epistemologis radikal, banyak filsuf sains mengadopsi pendekatan yang lebih moderat, berusaha mengkonstruksikan posisi yang berpusat pada bentuk realisme yang menghindari masalah-masalah yang mempengaruhi fondasionalisme. Inilah salah satu jenis posisi epistemologis yang akan kita asumsikan dalam usaha untuk memahami konsep bias.

Kita hanya akan melihat secara sekilas posisi ini di sini.[14] Asumsi pertama adalah distingsi antara penjelasan-penjelasan dengan fenomena yang dikandung oleh penjelasan-penjelasan tersebut dan dipresentasikan. Asumsi ini masih dapat dipertahankan. Dengan kata lain, fenomena tidak memiliki eksistensi yang independen atau bebas dari penjelasan mengenai mereka. Meskipun demikian, dalam memformulasikan distingsi antara penjelasan-penjelasan dan fenomena (things) yang dirujuk oleh penjelasan-penjelasan, adalah penting untuk tidak memikirkan mengenai tindakan memformulasikan itu sendiri dalam konteks bahasa versus realitas. Tetapi, distingsi beroperasi dalam realitas, antara tanda-tanda partikular dan rujukan-rujukannya (referents). Bahasa adalah bagian dari realitas, demikian pula dengan para pemberi penjelasan (para peneliti) yang tidak bisa berpijak di luar realitas.

Asumsi kedua, para peneliti tidak memiliki kontak yang langsung dengan fenomena yang mereka cari untuk dideskripsikan dan dijelaskan. Penjelasan-penjelasan mereka bukan sekadar impresi-impresi yang tertinggal pada mereka oleh dunia; bukan pula penjelasan-penjelasan yang secara logis diturunkan dari impresi-impresi tersebut. Jadi, dalam artian yang lebih lemah, para peneliti benar-benar mengkonstitusi atau mengkonstruksi fenomena yang mereka deskripsikan, tetapi dengan catatan tidak menghasilkan penjelasan-penjelasan yang aneh atau tidak ada hubungan dengan evidensi yang tersedia. Lebih lanjut, penjelasan-penjelasan mereka tidak menghasilkan (produce) fenomena dalam artian linguistik. Penjelasan-penjelasan mereka merepresentasikan fenomena-fenomena tersebut dari satu atau lain sudut pandang, menjelaskannya dalam artian relevansi-relevansi partikular.[15]

Asumsi ketiga, karena kita tidak memiliki kontak yang langsung dengan fenomena, kita harus membuat putusan-putusan mengenai hal yang masuk akal dan dapat dipercaya mengenai evidensi: menyangkut seberapa besar diandalkan atau sesuai dengan, atau diimplikasikan oleh, apa yang sekarang kita terima sebagai pengetahuan yang mantap (established knowledge), dan keserupaan dari eror yang terlibat dalam menghasilkan pengetahuan tersebut. Dan asumsi keempat, dalam konteks ini, komunitas peneliti memainkan peran penting dalam menundukkan klaim-klaim pengetahuan kepada penilaian menurut dasar kriteria kemasukakalan dan kredibilitas yang secara umum lebih skeptis daripada hal-hal serupa yang biasa diterima dalam ranah lain dari kehidupan sosial; dalam artian komunitas peneliti pertama-tama peduli dengan menghindari bahaya menerima sebagai benar apa yang secara jelas adalah salah.

Elemen dasar dari penilaian komunal ini adalah pertimbangan adanya ancaman-ancaman potensial atas validitas, yakni ancaman atas sumber dan tipe eror. Ini menunjuk kepada sifat performatif konsep eror. Eror biasanya dilabel atau dipahami sebagai sebuah penyimpangan. Eror dan bias membentuk bagian dari sebuah sistem akuntabilitas. Sejauh komunitas peneliti memiliki tanggung jawab untuk melakukan hal yang terbaik untuk menemukan dan setia kepada langkah-langkah yang membawa kepada pengetahuan dan bukan eror, kemungkinan bahwa telah terjadi penyimpangan adalah sebuah preokupasi yang terus-menerus dari para peneliti, sejauh potensi penyimpangan bersifat endemik.

Sebagaimana yang telah kita lihat, untuk seorang fondasionalis yang ekstrem, bias adalah sesuatu yang langsung merupakan persoalan yang serius. Ia akan melihatnya sebagai sebuah kesalahan sistematik yang muncul karena pengaruh presuposisi-presuposisi yang validitasnya tidak terberi, dan karena itu diketahui secara pasti. Dan eliminasinya tergantung pada menghindari seluruh presuposisi semacam itu. Di sini perlu ditegaskan bahwa sulit menarik distingsi apapun antara eror dalam suatu proses penelitian (dependensi pada premis-premis yang salah, dan sebagainya) dengan penemuan-penemuan yang mengandung kesalahan. Hal yang pertama hampir pasti membawa kepada yang kedua; dan jenis kesalahan yang kedua merupakan indikator yang tak terbantahkan dari yang pertama. Menimbang hal ini, baik penemuan dari penelitian dan perilaku para peneliti dapat dideskripsikan sebagai bias tanpa penyebaban yang membingungkan. Lebih jauh, eror sistematik dipahami sebagai hal yang selalu dapat ditolerir, asal hal itu mudah dikenal dan mudah untuk dihindari.

Dengan fondasionalisme kita juga belajar bahwa sebuah distingsi yang jelas tidak selalu ditarik antara, di satu pihak, seorang peneliti yang memiliki komitmen yang relevan, misalnya pandangan-pandangan politik tertentu, dan, di lain pihak, komitmen-komitmen ini mempengaruhi secara negatif proses-proses penelitian. Demikianlah, para peneliti kadang-kadang dideskripsikan sebagai bias semata-mata karena mereka memiliki komitmen yang berhubungan dengan ranah dalam mana penelitian dilakukan. Ini mengacu kepada pemikiran bahwa seorang peneliti harus menelanjangi asumsi-asumsinya sampai suatu fondasi (bedrock) dicapai, dan kemudian membangun pengetahuan yang benar di atas fondasi tersebut semata-mata oleh sarana-sarana logis.[16]

Sekali kita menampik fondasionalisme, maka eror akan menjadi hal yang lebih sulit dan rumit. Untuk lebih jelas, jika sebelumnya ada prosedur yang melaluinya dapat diidentifikasi secara mudah dan pasti putusan-putusan mengenai ketepatan (appropriateness) yang dihasilkan oleh metode-metode dan putusan mengenai validitas kesimpulan-kesimpulan yang harus dipahami sebagai dapat salah (fallible), sekarang tidak bisa lagi demikian. Lebih jauh, dengan menampik fondasionalisme, maka kita tidak melihat sebagai masalah apakah aturan-aturan metodologis tertentu telah ditaati dalam penelitian atau belum. Untuk sebagian besar peneliti, aturan-aturan semacam itu tidak lebih dari kerangka acuan (guidelines) saja. Aturan-aturan metodologis semacam ini pun tidak lagi dilibatkan dalam pengambilan putusan-putusan maupun dalam pengaplikasiannya. Kita juga harus memahami bahwa hubungan antara eror prosedural dan hasil tidaklah seketat asumsi-asumsi fondasionalisme. Di atas semuanya, eror hasil akhir (output error) tidak secara niscaya merupakan hasil dari eror prosedural yang dapat ditolerir (culpable procedural error).

Semua ini memaksa kita untuk membuat seluruh jangkauan distingsi yang didiamkan fondasionalisme (lihat gambar 1).

 

 

Gambar 1: jaringan konseptual yang memperlihatkan tipe-tipe eror

Dalam mengkerangkakan jaringan konseptual ini, kita memusatkan perhatian pada hal yang sifatnya prosedural daripada eror hasil (outcome error); dan kita mempertahankan distingsi antara eror sistematik (systematic error) dan eror serampangan (haphazard error). Meskipun demikian, terjadinya eror sistematik dipahami secara berbeda. Bagi seorang fondasionalis, mengandalkan apa saja pada presuposisi-presuposisi yang validitasnya tidak terberi harus dihindari. Sekarang pengandalan semacam ini dilihat sebagai hal yang tidak bisa dihindari. Dalam hubungan dengan penyelidikan mengenai sesuatu hal tertentu, kita niscaya memperlakukan hal lainnya begitu saja. Dan di hadapan tidak adanya fondasi hal-hal yang absolut, maka hal-hal yang absolut yang tidak hadir ini justru menimbulkan masalah, terutama ketika kita hendak menentukan pengetahuan kita yang mana yang dapat diandalkan dan mana yang tidak. Jika kita tidak membuat asumsi-asumsi semacam itu, kita akan tidak memiliki dasar (fondamen) apapun sebagai tempat pijakan, dan kita akan jatuh ke dalam skeptisisme total.[17]

Bagaimanapun juga, mengandalkan diri secara prosedural pada presuposisi-presuposisi yang validitasnya terbuka kepada potensi diragukan tidak secara niscaya membawa kita kepada eror hasil akhir (outcome error). Kadang-kadang presuposisi-presuposisi ini justru membawa kita kepada kebenaran. Meskipun tidak adanya fondasi hal-hal yang absolut, putusan-putusan harus tetap dibuat. Akibatnya, sistem akuntabilitas yang beroperasi dalam komunitas-komunitas penelitian memikul peran yang lebih penting daripada perannya di bawah fondasionalisme.[18] Lebih jauh, ketika eror prosedural yang semula adalah persoalan logika, sekarang justru menjadi penyimpangan dari putusan-putusan komunal mengenai perilaku mana yang dapat dimengerti dan mana yang tidak di dalam mengejar pengetahuan, dengan pertimbangan bahwa putusan-putusan ini terbuka kepada perdebatan dan revisi-revisi setelahnya.

Sebagaimana yang telah kita lihat, distingsi antara eror sistematik yang dapat ditolerir (culpable) dan yang tidak-dapat-ditolerir (non-culpable) tidak dapat diterapkan dalam konteks fondasionalisme. Meskipun demikian, ia menjadi hal yang sangat signifikan saat kita meninggalkan pandangan tersebut. Andaikan bahwa semua penelitian secara niscaya menyandarkan diri pada presuposisi-presuposisi, tak satupun yang dapat diandalkan dalam mengatasi seluruh keraguan yang mungkin, dan kita tidak pernah dapat tahu dengan pasti bahwa sebuah presuposisi membawa kita kepada kebenaran dan bukan menjauhkan kita dari kebenaran tersebut.[19] Peneliti tertentu dapat saja tidak menyetujuinya, dan penelitian apapun dapat mengubah penilaiannya mengenai hal ini. Bahkan lebih mengejutkan lagi, apa yang kita ketahui sekarang seringkali memampukan kita untuk melihat bagaimana para peneliti di masa lampau melakukan kesalahan, tapi tanpa harus mengimplikasikan bahwa mereka seharusnya telah mengetahui lebih baik dari kita. Dan di masa depan orang lain pun dapat melakukan hal yang sama atas pencapaian kita sekarang, bahkan menolak pandangan-pandangan kita dan pendahulu kita sekaligus. Mengharapkan gagasan atau ide dari peneliti yang sepenuhnya bersifat reflektif adalah sebuah mitos. Dan itu juga berlaku bagi mitos klasik Cartesian: ide bahwa kebenaran, dengan demikian keseluruhan kebenaran, adalah tersedia bagi kita di sini dan sekarang jika saja kita dapat berpikir secara jelas dan logis. Meskipun demikian, tidak mungkin kita mempertanyakan semua asumsi-asumsi seseorang sekaligus, apalagi mempertanyakan asumsi-asumsi selalu melibatkan risiko, demikian juga dengan keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh.

Jadi, misalnya saja bahwa putusan-putusan harus diambil mengenai presuposisi mana yang fungsional dan mana yang tidak-fungsional bagi penelitian, baik oleh para peneliti maupun oleh para komentator atas hasil penelitian, dan bahwa putusan-putusan ini akan selalu berubah seiring dengan pergantian waktu dan atas nama evaluasi atas kemajuan penelitian, kita harus menyadari bahwa selalu saja ada potensi terjadinya eror sistematik, dan bahwa beberapa dari eror tersebut bersifat tidak dapat ditolerir (non-culpable). Artinya, peneliti dapat saja tidak mengetahui bahwa apa yang menjadi sandarannya adalah salah atau disfungsional, sehingga dia bertindak secara masuk akal dalam penelitiannya, meskipun mencapai kesimpulan-kesimpulan yang salah. Pada saat yang bersamaan, eror sistematik tertentu akan dapat ditolerir (culpable), dalam mana para peneliti dinilai sebagai yang telah berada di dalam sebuah posisi untuk memahami bahwa sebuah asumsi yang padanya mereka menyandarkan diri memiliki kemungkin menjadi salah, dan dengan demikian membawa mereka semakin menjauh dari kebenaran. Dengan kata lain, para peneliti tersebut dinilai dapat ditolerir dalam artian bahwa mereka mungkin saja tidak melihat peringatan awal metodologis secara tepat untuk menghindari eror.

Singkatnya, sementara penolakan atas fondasionalisme menuntut kita menyadari bahwa penelitian akan secara tidak terelakkan dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik pribadi dan sosial seorang peneliti, dan bahwa hal ini dapat menjadi nilai yang positif tapi juga merupakan sumber bagi eror sistematis, kenyataan ini tidak menuntut kita untuk menyerah atau tidak memperhatikan pentingnya prinsip-prinsip yang membimbing kepada objektivitas. Dengan demikian, apa yang esensial bagi penelitian, dalam pandangan ini, adalah bahwa tujuan eksklusifnya yang segera adalah menghasilkan pengetahuan. Tentu saja, ada berbagai macam alasan mengapa orang menjadi peneliti dan mempertahankan profesi ini (untuk membangun dunia menjadi lebih baik, untuk membiayai kehidupannya, dan sebagainya). Motif-motif dalam melakukan penelitian ini dapat saja absah. Tetapi begitu para peneliti melibatkan dirinya dalam pekerjaan mereka, kepedulian mereka yang pertama dan terutama adalah produksi pengetahuan, dan bukan hal-hal lainnya. Meskipun mereka juga harus melihat pertimbangan-pertimbangan etis dan strategis yang berhubungan dengan nilai-nilai lainnya, kebenaran harus menjadi satu-satunya nilai yang mengkonstitusikan tujuan penelitian. Dari sini lalu dikatakan bahwa bahwa eror sistematis dapat dimotivasikan oleh pencarian tujuan-tujuan lain selain pengetahuan, di mana hal itu bisa melibatkan koleksi, analisis dan/atau presentasi evidensi dalam cara yang sebegitu rupa dengan maksud untuk mendukung atau menggarisbawahi kesimpulan-kesimpulan tertentu yang telah ditentukan sebelumnya dihubungkan dengan tujuan-tujuan ini. Ini adalah dasar bagi distingsi kita antara eror yang termotivasi secara sistematik (motivated systematic error) dan eror yang tidak termotivasi secara sistematik—eror kedua ini dapat ditolerir (culpable error) (Lihat Gambar 1!).

Dalam kerangka inilah kita seharusnya mendefinisikan “bias” dalam beberapa cara yang berbeda. Kita misalnya, bisa memperketat makna bias hanya pada eror yang sistematik, termotivasi, dan dapat ditolerir (culpable). Kemungkinan lain, kita dapat memperlakuan eror sebagai satu bentuk bias, menggunakan term bias untuk merujuk kepada semua jenis eror yang dapat ditolerir, sistematik, atau bahkan kepada semua jenis eror sistematik. Tampaknya ada sedikit keuntungan untuk mendefinisikan bias sebagai seluruh eror sistematik, sejauh ini melibatkan sebuah duplikasi term, dan ada distingsi lain yang penting yang harus dibuat. Preferensi kita sendiri adalah mendefinisikan “bias” sebagai eror yang sistematik dan dapat ditolerir (culpable); eror sistematik yang peneliti seharusnya telah mengetahuinya dan meminimalkannya. Ini kemudian memungkinkan kita membedakan antara bias yang termotivasi (motivated bias) dan yang tidak-termotivasi (unmotivated bias), berdasarkan apakah bias tersebut dihasilkan dari tujuan-tujuan lain selain pencarian pengetahuan.

Pantas untuk dicatat bahwa bahkan bias yang termotivasi dapat tampil dalam bentuknya yang beragam. Ia dapat menjadi disadari, tetapi dapat juga tidak disadari, sehingga peneliti boleh menjadi lebih atau kurang sadar bahwa dia menjahit (merancang) sebuah penelitian untuk menghasilkan penemuan yang bertujuan untuk melayani tujuan lain di luar pencapaian pengetahuan. Di sini kita dapat membedakan antara bias yang dikehendaki (wilful bias) dan bias karena kelalaian (negligent bias). Kita juga dapat membedakan cara-cara pelaksanaan penelitian yang terbiaskan dalam artian bagaimana penelitian tersebut memperlakukan atau mengolah evidensi. Pada satu ekstrem, ada kaum propagandis yang akan menyalahgunakan dan bahkan menciptakan (invent) evidensi dengan maksud untuk mendukung penyebaban tertentu. Pada ekstrem yang lain adalah penasihat umum yang menggunakan bukti-bukti yang otentik untuk membuat kasus-kasus menjadi sangat mungkin bagi kesimpulan yang sudah ada sebelumnya, tetapi dalam langkah-langkah yang sangat ketat. Barangkali perlu ditekankan bahwa kita tidak hendak mengusulkan dan mendukung jenis advokasi semacam ini, dan barangkali bahkan tindakan propaganda tidaklah pernah merupakan hal yang legitim. Poin kita hanyalah bahwa semua hal ini bukan merupakan orientasi yang tepat bagi seorang peneliti yang terlibat dalam penelitian sosial. Alasan mengapa kita menolak jenis advokasi ini adalah bahwa hal-hal ini tidak memaksimalkan kesempatan-kesempatan (chances) bagi penemuan kebenaran dari hal yang diteliti.[20]

Kesimpulan

Dalam makalah ini kita telah berusaha mengklarifikasi term “bias”. Kita telah melihat adanya ambiguitas-ambiguitas yang melingkupi term “bias”. Alasan mengapa ada ambiguitas-ambiguitas tersebut, untuk sebagiannya, muncul dari kenyataan bahwa ada ketergantungan pada epistemologi fondasionalis yang adalah tidak absah. Kita juga berpendapat bahwa alternatif-alternatif epistemologis yang radikal seperti relativisme dan standpoint theory ternyata bukanlah alternatif yang dapat diandalkan. Kesimpulan yang kita tarik adalah bahwa jenis realisme nonfondasionalis tertentu memang merupakan hal yang esensial, dan kita menegaskan teori mengenai bias seperti apa yang seharusnya diterima dalam konteks ini. Penegasan ini mendesak kita untuk membedakan berbagai macam bentuk eror, dan menerima makna term “bias” sebagai eror sistematik yang dapat ditolerir (culpable systematic error). Dan kita memberi perhatian secara khusus kepada bentuk bias yang dimotivasi oleh suatu komitmen untuk mencapai tujuan di luar produksi pengetahuan.

Mari kita mengakhiri makalah ini dengan menekankan bahwa mengklarifikasi makna term “bias” sebagaimana yang kita lakukan di atas bukanlah hal yang sia-sia atau tidak bermanfaat atau membuang-buang waktu saja. Tanpa kita sadari, kita sedang hidup dalam zaman yang berbahaya bagi penelitian. Kita melihat adanya usaha di luar komunitas-komunitas penelitian, terutama di pihak penyandang dana—termasuk pemerintah—untuk mendefinisikan tujuan penelitian secara berbeda dari tujuan utama penelitian. Mereka memahami penelitian bukan sebagai proses mengejar pengetahuan, tetapi proses untuk mencapai kepentingan atau agenda tertentu. Di Inggris, misalnya, kecendrungan ini dapat dilihat dalam semakin meningkatnya pengketatan-pengketatan kontraktual dalam lapangan penelitian yang didanai oleh departemen pemerintah. Pemerintah tampaknya merancang proyek penelitian yang mereka danai sebegitu rupa supaya hasil-hasil penelitian tersebut mendukung kebijakan yang sedang berjalan (Pettigrew, 1994; Norris, 1995). Tidak hanya itu. Atas nama “users”, pemerintah mengumumkan badan penyandang dana mana yang dapat menyediakan dana penelitian dan mana yang tidak boleh. Badan seperti Economic and Social Research Council, misalnya, khusus ditunjuk sebagai lembaha penyandang dana. Pada gilirannya, lembaga ini menuntut dari penelitian yang dibiayainya untuk “membantu pemerintah, bisnis dan publik untuk memahami dan memajukan kinerja ekonomi Kerajaan Inggris dan kesejahteraan masyarakatnya” (ESRC Annual Report 1993/1994, sampul belakang).

Pada saat yang sama, kita menyaksikan semakin meningkatnya tekanan di antara para peneliti itu sendiri, dalam banyak wilayah penelitian, untuk mendefinisikan tujuan penelitian mereka dalam pengertian yang praktis atau politik. Di sinilah kita mengerti mengapa kritisi atau ilmuwan ilmu sosial tertentu menuntut agar penelitian yang dilakukan harus dapat diaplikasikan. Contoh yang paling jelas adalah di bidang pendidikan. Di bidang pendidikan, ada tuntutan yang besar supaya penelitian di bidang ini dirancang untuk melayani tujuan-tujuan pendidikan (lih. Stenhouse, 1975 dan Bassey, 1995). Kita juga menemukan hal yang sama dalam bidang penelitian sosial yang memiliki komitmen kepada proyek-proyek politik emansipatoris, misalnya perjuangan melawan sexisme atau rasisme atau melawan diskriminasi berdasarkan orientasi seksual atau ketidakmampuan fisik (lih. Cameron dkk, 1992; Oliver, 1992; Back dan Solomos, 1993; dan Gitlin, 1994). Epistemologi radikal yang telah kita diskusikan tentu saja sering dihubungkan atau diasosiasikan secara dekat dengan tendensi-tendensi semacam ini.

Sejauh perkembangan-perkembangan semacam ini menghasilkan pendefinisian ulang tujuan penelitian sebagai “kesempatan” untuk mempromosikan isu-isu praktis atau politik tertentu, harus dikatakan bahwa tujuan penelitian yang demikian justru menjadi sumber bagi bias yang termotivasi. Jelas, bahwa hal-hal seperti ini harus dilawan atau ditolak oleh para peneliti sosial. Tujuan-tujuan di luar tujuan penelitian yang benar justru menjadi ancaman bagi hancurnya keberlangsungan hidup komunitas penelitian yang padanya pencarian pengetahuan ilmiah justru tergantung secara niscaya. Meskipun demikian, di hadapan ketidakhadiran sebuah pemahaman yang meyakinkan, yakni pemahaman pasca fondasionalis mengenai hakikat dari eror dan bias dalam penelitian sosial, kita memiliki sedikit atau tidak ada senjata pertahanan yang memadai dalam melawan ancaman-ancaman ini. Makalah ini dirancang sebagai sarana pembentukan pertahanan semacam itu.

***

 

Daftar Pustaka

Hammersley, M., The Dilemma of Qualitative Method, London, Routledge, 1989.

Hammersley, M., Reading Ethnographic Research: A Critical Guide, London, Longman, 1990.

Hammersley, M., What’s Wrong with Ethnography?,  Routledge, London, 1992.

Hammersley, M., The Politics of Social Research, London, Sage, 1995.

 


[1] Makalah akhir ini merupakan ringkasan dari pemikiran M. Hammersley sebagaimana diacu oleh daftar pustaka. Semoga catatan mengenai “Bias dalam Penelitian Sosial” ini dapat memperkaya pemahaman kita selama semester ini mengenai Epistemologi Sosial. Terima kasih kepada Dr. J. Sudarminto, SJ yang telah merangsang pemikiran saya selama semester ini.

[2] For this counter-charge in the case of Freeman’s critique of Mead, see Ember (1985).

[3] Tentang diskusi mengenai ambiguitas argumen yang dikemukakan Becker, lihat Hammersley (1997a).

[4] Banyak kebanyakan teks metodologis, penggunaan term ini menjadi sangat dominan. Lihat misalnya Kidder and Judd (1986) and Babbie (1989).

[5] Mengenai diskusi-diskusi filosofis yang beranekaragam mengenai konsep ini, lihat White (1970), Kirkham (1992) and Allen (1993).

[6] Berbeda dengan optimisme Descartes bahwa pengetahuan yang jelas dan terpilah-pilah dapat dicapai oleh aku yang berpikir dan menyangsikan segala sesuatu, atau kaum skeptis yang meragukan pencapaian pengetahuan manusia, sebagai sebuah aliran pemikiran filosofis, fondasionalisme justru menegaskan bahwa subjek dapat mencapai kebenaran dengan kembali kepada dasar atau fondamen pengetahuannya. Fondasionalisme merujuk kepada dasar-dasar pengetahuan yang telah teruji (justified knowledge), yang telah koheren pada dirinya sendiri sehingga tidak perlu pembuktian lagi. Dalam konteks ini pula term-term seperti validitas, objektivitas, eror, dan bias dipahami sebagai dasar atau fondamen bagi pengetahuan manusia. Lihat ISCID Encyclopedia of Science and Philosophy, dalam http://www.iscid.org/encyclopedia/Foundationalism.

[7] Barangkali penting untuk menekankan bahwa that fondasionalisme yang diacu di sini adalah dalam bentuknya yang murni. Ia bahkan tidak berhubungan dengan posisi kaum positivis dari Lingkaran Wina positivists (Lihat Uebel, 1996).

[8] Lih.  Suppe (1954), terutama penjelasan mengenai jatuhnya apa yang disebut sebagai “the received view” dan argumen-argumen yang diikutsertakan. Dari para filsuf yang paling terkenal dan berpengaruh di bidang ilmu pengetahuan, terutama yang mengemukakan gagasan nonfondasionalis adalah Karl Popper (1959) and Polanyi (1958).

[9] Perbedaan ini tidak sebesar apa yang kadang-kadang diharapkan. Adalah sesuatu yang instruktis bahwa William James mendeskripsikan posisinya sebagai “empirisme radikal” (James, 1912).

[10] Instrumentalisme juga kadang-kadang diacu. Untuk diskusi lebih lanjut, lihat Hammersley (1995: h. 71 – 72).

[11] Bisa menjadi sesuatu yang mungkin untuk menuduh mereka sebagai bias dalam pengertian pengetahuan-pengetahuan dan prosedur-prosedur yang berlaku dalam komunitas mereka sendiri, yakni oleh kritik internal, melalui gugatan semacam ini akan selalu membuka ruang kepada tanggapan-tanggapan yang orang luar komunitas tidak dapat memahami kultur dari komunitas-komunitas ini.

[12] Ralativisme epistemologis (epistemological relativism) adalah gagasan bahwa ada beranekaragam realitas, yang harus dibedakan secara jelas dan tajam dari relativisme kultural (cultural relativism), klaim bahwa ada beranekaragam perspektif yang di dalamnya dunia perlu dipahami. Dalam pengertian ini, kita termasuk penganut relativisme secara kultural: kita yakin bahwa kultur dan jenis-jenis diversitas lainnya adalah fakta empiris yang penting dan harus dipertimbangkan. Apa yang kita tolak adalah relativisme epistemologis.

[13] Mengenai argumen-argumen yang mendukung relativisme dalam konteks penelitian sosial dan edukasional, lihat Smith (1989) and Guba (1992).

[14] Untuk diskusi mengenai pemahaman kita atas isi realisme dan implikasi-implikasinya bagi penilaian atas validitas suatu penemuan, lihat  Hammersley (1990) and Foster et al (1996).

[15] Ini bukan bentuk relativisme, karena apa yang diperlihatkan dari perspektif yang berbeda haruslah bersifat non-kontradiktoris.

[16] Tentu saja model original di sini adalah Descartes. Meskipun demikian, gagasan ini dapat dijumpai di seluruh jenis fondasionalisme. Misalnya, dalam konteks penelitian kualitatif, lihat Glaser and Strauss’s (1967: h. 37), yang mengusulkan supaya para peneliti tidak membaca literatur-literatur yang relevan dengan penelitiannya sebelum mereka mulai melakukan proses analisis.

[17] Ini adalah inti dari argumen anti-Cartesian yang dibangun oleh filsuf seperti Peirce dan Wittgenstein.

[18] Ini telah membawa seorang filsuf ilmu ke dalam pendapat bahwa “adalah salah untuk mengasumsikan bahwa objektivitas sains tergantung pada objektivitas dari sang ilmuwan itu sendiri” (Popper 1976: h. 95). Ini berlebihan, sejauh pelaksanaan penelitian oleh suatu komunitas ilmiah dalam memaksakan objektivitas tergantung pada komitmen individual dari setiap ilmuwan pada ideal tersebut. Paling tidak, seperti Popper, kita memahami peran komunitas ilmuwan sebagai sesuatu yang esensial.

[19] Kita mengesampingkan dulu isu mengenai apakah presuposisi-presuposisi yang salah bisa kadang-kadang fungsional dan presuposisi-presuposisi yang benar bisa menjadi disfungsional.

[20] Untuk alasan ini kita tidak setuju dengan mereka yang memahami advokasi sebagai bagian pembentuk (forming part) dari sebuah penelitian. Lih. Paine (1985).

Merefleksikan Berbagai Pengetahuan


Apa itu pengetahuan (knowledge)? Seberapa yakinkah manusia sebagai “penahu” mengetahui sesuatu? Apakah pengetahuan mengenai sesuatu itu merupakan gambaran lengkap mengenai sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bagian dari perkara filsafat pengetahuan. Kita bisa memulai menjawabnya dengan membedakan berbagai pengetahuan yang kita kenal, katakan saja pengetahuan sehari-hari (1), pengetahuan filsafat (2), pengetahuan teologis (3), pengetahuan mistik (4), pengetahuan jurnalistik (5), dan pengetahuan ilmiah (6).

Seluruh catatan yang ada di sini masih berupa refleksi pendahuluan, karena itu masih sangat jauh dari memadai. Sumbangan pemikiran dan gagasan Anda melalui kolom tanggapan akan memperkaya refleksi filosofis mengenai pengetahuan.

1.   Pengetahuan sehari-hari

a.   Pengertian

Apa itu pengetahuan masih menjadi perdebatan serius di kalangan para filsuf dalam cabang filsafat epistemologi. Definisi klasik apa itu pengetahuan dikemukakan Plato yang mengatakan bahwa sebuah pernyataan hanya dapat dipandang sebagai pengetahuan jika memenuhi 3 kriteria utama, yakni harus bisa dibuktikan (justified), harus benar, dan layak menjadi keyakinan. Pendapat ini oleh kebanyakan filsuf sekarang tidak dipandang sebagai kriteria yang memadai mengenai apa itu pengetahuan. Robert Nozick, seorang filsuf ilmu abad ini, misalnya, mengatakan bahwa sebuah proposisi hanya bisa diterima sebagai pengetahuan jika mengandung 4 kriteria utama: (1) sebuah pernyataan adalah pengetahuan jika pernyataan itu benar; (2) jika seseorang atau sebuah komunitas percaya bahwa pernyataan itu memang benar; (3) kalau jika pernyataan itu salah (jadi bukan sebuah pengetahuan), maka subjek atau komunitas juga harus menerimanya sebagai salah; dan (4) sebuah proposisi adalah benar (bukan kondisional lagi seperti syarat pertama tetapi faktual), maka subjek atau komunitas harus menerima kebenaran itu sebagai kebenaran yang bisa diandalkan.

Kondisi pengetahuan semacam ini pasti berbeda dengan keyakinan kaum positivis mengenai pengetahuan. Filsuf seperti Ludwig Wittgenstein berpegang teguh pada keyakinannya bahwa what can be said at all can be said clearly, and what we cannot talk about we must pass over in silence.” Artinya, di luar dari apa yang bisa dikatakan mengenainya maka pikiran tidak bisa mendefinisikan atau mengatakan mengenai sesuatu itu. Klaim kebenaran semacam ini sekaligus mengeluarkan hal-hal yang sifatnya mistik—apa yang dalam filsafat tradisional dianggap sebagai salah satu kajian filsafat—sebagai sumber pengetahuan. Sebuah pernyataan hanya bisa diterima sebagai pengetahuan jika bisa diverifikasi secara empiris.

Perdebatan mengenai penegtahuan tentu tidak akan pernah selesai. Para filsuf idealis atau konseptualis seperti Plato atau Rene Descartes akan mengidolakan pengetahuan yang justifikasi kebenarannya tidak didasarkan pada referensinya pada kenyataan real atau faktual tertentu. Sementara kaum positivis seperti Wittgenstein atau Rudolf Carnap akan sangat menekankan justifikasi empiris sebagai basis dan sumber pengetahuan.

Pengetahuan sebagaimana diperdebatkan di atas sangat berbeda mengenai pengetahuan sehari-hari (everyday knowledge). Pengetahuan sehari-hari dibangun bukan berdasarkan refleksi kritis dan pengambilan jarak terhadap realitas. Pengetahuan sehari-hari lebih mendasarkan diri pada kerja akal sehat (common sense). Sifatnya sangat praktis dan mengarahkan hidup manusia. Pengetahuan sehari-hari yang praktis tersebut pertama-tama dimaksudkan untuk memecahkan persoalan-persoalan keseharian yang dihadapi masyarakat, dan sama sekali tidak dimaksud untuk dikembangkan lebih lanjut atau direfleksikan secara mendalam demi tujuan pada dirinya sendiri. Meskipun demikian, pengetahuan sehari-hari justru menjadi dasar dan titik tolak pengetahuan reflektif manusia. Tanpa pengetahuan sehari-hari kita tidak mungkin berefleksi secara filosofis. Pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) pun dibangun di atas basis pengetahuan sehari-hari ini.

b.         Contoh

Masyarakat desa tertentu melarang penebangan hutan di desa mereka. Bagi mereka, menebang hutan berarti menelanjangi para penjaga hutan atau melecehkan roh nenek moyang. Larangan semacam ini sebenarnya bisa dijelaskan secara saintifik, bahwa menebang hutan berlebihan itu tidak baik karena merugikan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Inilah local wisdom yang bisa dikembangkan ke arah refleksi filosofis dan ilmiah.

c.   Rujukan

2. Pengetahuan filsafat

a. Pengertian

Filsafat bertujuan merefleksikan realitas secara mendalam untuk menemukan jawaban-jawaban final mengenainya. Filsafat mempertanyakan dan merefleksikan realitas, termasuk kesadaran manusia sendiri yang merefleksikan realitas tersebut. Pengetahuan yang dihasilkan dari refleksi yang radikal, kritis, dan mendalam terhadap realitas, termasuk kesadaran subjek berpikir itu sendiri disebut pengetahuan filosofis.

Pengetahuan filosofis memiliki beberapa karakteristik penting. (1) Pengetahuan filosofis mengakomodasi berbagai pendapat atau perbedaan mengenai kebenaran. Pengetahuan tentang kebenaran (truth) tidak pernah dirumuskan sekali untuk selamanya. (2) Pengetahuan filosofis berusaha mensintesa berbagai klaim pengetahuan dan kebenaran. Daripada menjadi dogmatis dan mempertahankan jenis pengetahuan atau kebenaran tertentu (pengetahuan empiris, naturalis, idealis, konstruktivis, dan sebagainya), pengetahuan filosofis membuka ruang seluas-luasnya bagi perdebatan aneka klaim pengetahuan dan kebenaran. Itulah sebabnya mengapa pengetahuan dalam filsafat tidak pernah bisa disepakati. (3) Pengetahuan filosofis bersifat rasional karena mendasarkan diri pada prinsip-prinsip logika tertentu. Pengetahuan logis dibangun berdasarkan refleksi logis atas kenyataan. (4) Pengetahuan filosofis bersifat universal dalam arti bisa diterima, diperdebatkan, atau diteguhkan oleh siapapun juga persis ketika sifatnya yang rasional tersebut.

b. Contoh-contohnya

“Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dihidupi” (Aristoteles)

“Pengetahuan adalah hasil dari justifikasi terhadap keyakinan yang benar” (Plato)

“Kota tidak akan pernah mencapai keadaan damai sebelum para filsuf-raja menduduki kursi kekuasaan atau ketika mereka yang berkuasa sekarang melakukan perenungan-perenungan filosofis, atau ketika kekuasaan politik dan filsafat bersua”  (Plato dalam Republic 473c-d)

c.   Rujukan

3. Pengetahuan teologis

a.  Pengertian

Dalam konteks kekristenan, pengetahuan teologis dipahami sebagai jenis pengetahuan yang dihasilkan pikiran manusia karena kerja atau kuasa Roh Kudus. Jenis pengetahuan ini bersumber pada Tuhan sang maha tahu yang mewahyukan dirinya kepada manusia, ”menunjukkan” diri melalui pikiran (nous) dan mengundang manusia berpartisipasi dalam pikiran Tuhan.

Dalam islam, pengetahuan (Bahasa Arabic: علم : ilm) menunjukkan bahwa Allah Sang Maha Mengetahui adalah salah satu sifat Allah dari 99 nama Allah yang disembah. Pengetahuan dalam Islam selalu dipandang sebagai yang bersumber dan datang dari Allah SWT (2:239). Dalam Haditz Nabi pun dikisahkan bahwa Nabi Muhammad mengatakan kepada umatnya untuk selalu mencari dan mengusahakan pengetahuan. ”Carilah pengetahuan sejak dari dalam kandungan hinggah ke liang kubur”. Orang pintar dalam Islam disebut sebagai “alim”, sebutan yang menunjukkan penghargaan agama ini pada pengetahuan.

Pengetahuan teologis tentu tidak bisa diverifikasi secara saintifik seperti ilmu alam. Jenis pengetahuan ini mengandaikan penerimaan mutlak manusia atasnya persis ketika dia bersumber dari Tuhan sendiri sebagai sang maha mengetahui.

b.  Contoh-contohnya

Surga disediakan bagi mereka yang percaya dan setia menjalankan perintah Tuhan.

Allah akan membalas segala kebaikanmu dan menghukum engkau karena kelalaianmu.

c.  Rujukan

4. Pengetahuan mistik

a.   Pengertian

Mistisisme dalam artinya yang luas dapat dikatakan sebagai hasil akhir dan final dari hasrat manusia mencari pengetahuan. Sebenarnya ini merupakan fenomena biasa dan umum dalam makhluk hidup, terutama manusia. Pengetahuan mistik bisa ditelusuri dalam fenomena pengetahuan manusia bahkan menyertai seluruh hasrat manusia dalam mengetahui. Misalnya, keinginantahu atau kekaguman akan sesuatu mendorong pikiran manusia menanyakan dan menemukan jawaban mengenai sesuatu itu. Filsafat pengetahuan menegaskan bahwa meskipun pengetahuan akan sesuatu harus bisa dijustifikasi sebagai benar atau salah (pembuktian sangat tergantung pada aliran epistemologi: empirisme versus idealisme, objektivisme versus subjektivisme, dan sebagainya), pengetahuan tersebut tidak pernah bersifat mutlak dan absolut. Karena itu, pengetahuan akan sesuatu yang menampakkan diri kepada kesadaran selalu tidak pernah bisa menjelaskan hakikat atau esensi dari sesuatu.

Padahal nalar (nous) manusia diarahkan atau terbuka kepada realitas ultim (the ultimate reality) persis ketika manusia merasa tidak puas dengan jawaban-jawaban yang bersifat sementara atas pertanyaan-pertanyaan filosofisnya. Nalar manusia terarah kepada esensi atau realitas ultim tertentu yang menjadi dasar atau penjelasan akhir bagi berbagai ihwal yang dihadapinya. Di sinilah nalar memiliki kemampuan menangkap dan memahami realitas ultim tertentu yang keberadaannya tidak dipasung atau dibatasi oleh ruang dan waktu. Itulah realitas mutlak, realitas abadi, realitas yang tidak berubah di hadapan realitas yang senantiasa berubah, realitas yang menjadi alasan keberadaan realitas lain. Kemampuan nalar manusia dalam menangkap esensi atau realitas ultim yang menjadi alasan keberadaan data atau fakta akan menghasilkan gagasan atau idea mengenai esensi itu sendiri. Pengetahuan mengenai esensi inilah yang disebut pengetahuan mistik.

Bagi orang beragama, pengetahuan tentang esensi atau pengetahuan mistik ini dihayati sebagai momen ”perjumpaan” Tuhan sang Pencipta dengan manusia selaku ciptaan. Pengetahuan mistik adalah pengalaman kesadaran di mana pengetahuan yang sifatnya terbatas dalam kungkungan ruang dan waktu mampu membawa kesadaran manusia kepada keabadiaan, kepada realitas ultim nan agung. Inilah pengetahuan di mana Tuhan menyatakan diri dalam pikiran manusia dan mengundang penyerahan diri total dari pihak manusia yang mengalami pengetahuan mistik tersebut.

b.   Contoh-contohnya

  • Kesadaran akan makna hidup di hadapan berbagai penderitaan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan mengandalkan empirisme atau naturalisme.
  • Kesadaran akan kebesaran yang maha kuasa melalui renungan atas keteraturan alam semesta.

c.   Rujukan

  • B. Sharpe, Mysticism: Its True Nature and Value, London, Sands & Company, 2003.
  • Robert K. C. Forman, Mystical Knowledge: Knowledge by Identity. Dalam: Journal of the American Academy of Religion, Vol. 61, No. 4 (Winter, 1993), pp. 705-738.

5.   Pengetahuan jurnalistik

a.   Pengertian

Pengetahuan jurnalistik dimaksudkan sebagai pengetahuan yang bersumber dari media massa. Media massa sendiri sebenarnya adalah seni mengemas berita, seni mendeskripsikan materi dan opini dalam bahasa yang populer sehingga mudah dipahami masyarakat. Media massa sebagai sumber pengetahuan meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, bahkan handphone.

Dalam pengertiannya yang ketat, pengetahuan jurnalistik tidak bisa dikategorikan sebagai pengetahuan ilmiah. Pengetahuan jurnalistik hanya berurusan dengan bagaimana suatu peristiwa atau kejadian dideskripsikan oleh jurnalis. Wartawan atau jurnalis berusaha menyajikan peristiwa apa adanya seraya memperhatikan kaidah-kaidah penulisan jurnalistik atau etika jurnalistik. Meskipun sangat deskriptif, sulit memastikan apakah pengetahuan jurnalistik benar-benar objektif persis ketika kita kesulitan membedakan karakteristik deskriptif sebuah pemberitaan dengan sudut pandang (angle) sang wartawan, kebijakan redaksi, atau bahkan kepentingan pemilik modal.

Pengetahuan jurnalistik, dengan demikian, bersifat deskriptif, sesaat, dan sementara. Pengetahuan tersebut dapat memicu penyelidikan lebih lanjut, menggugah keinginan tahu, dan membuka perspektif diskusi dan penjelasan lebih mendalam. Itu artinya mengandalkan hanya pengetahuan jurnalistik dalam memecahkan suatu persoalan tentu tidaklah memadai.

b.   Contoh-contohya

Tanggal 3 Maret 2010, ribuan mahasiswa berdemonstrasi di gedung DPR-RI. Mereka meminta DPR memutuskan secara objektif hasil temuan Pansus Bank Century, apakah kebijakan dan implementasi bailed-out Bank Century melanggar hukum atau tidak. Karena demonstrasi itu, ada lima mahasiswa yang ditangkap polisi.

Karena penangkapan ini Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ton Abdillah Has, Kamis (4/3) di Jakarta meminta Kapolri agar membebaskan rekan mereka. Para mahasiswa itu yakin bahwa teman mereka tidak melakukan kesalahan.

Komentar:

Karena sifatnya yang deskriptif dan sesaat, objektivitas pengetahuan jurnalistik semacam ini bernilai rendah. Belum bisa dipastikan apakah mahasiswa yang ditangkap polisi itu memang tidak bersalah. Sama halnya dengan persoalan apakah tindakan polisi menangkap mahasiswa dapat dikategorikan sebagai tindakan profesional atau kesembronoan.

c.   Rujukan

6. Pengetahuan ilmiah

a.   Pengertian

Pengetahuan dihasilkan dari refleksi rasional, kritis, dan sistematis pikiran manusia atas realitas. Refleksi itu pada gilirannya menghasilkan penjelasan-penjelasan tertentu terhadap realitas tersebut. Pada level yang paling rendah, pengetahuan mengenai realitas bersifat umum (general knowledge). Pengetahuan ini menghasilkan prinsip-prinsip penjelas tertentu yang umumnya bersifat pragmatis, karena mampu menjawab atau memecahkan masalah konkret tertentu yang dihadapi manusia. Pengetahuan umum memiliki karakteristik tertentu yang dibutuhkan bagi perkembangannya ke arah pengetahuan ilmiah. Misalnya, pengetahuan umum dihasilkan dari kerja akal budi berdasarkan metodologi tertentu. Pengetahuan umum juga memiliki karakteristik abstrak ketika prinsip penjelas realitas (gagasan, asumsi, hipotesa) bersifat abstrak (kemampuan untuk dapat dibuktikan tanpa harus mengacu kepada data faktual tertentu). Pengetahuan umum juga mulai memperhatikan aspek objektivitas pengetahuan ketika pengetahuan dihasilkan bukan semata-mata sebagai konstruksi pikiran si penahu, tetapi sebagai semacam perjumpaan fenomenologis antara objek yang diketahui dan subjek yang mengetahui.

Pengetahuan ilmiah lahir ketika pengetahuan umum mulai disistematisasi dan dibakukan secara sistematis. Itulah sebabnya mengapa pengetahuan ilmiah tidak hanya memiliki metodologi keilmuan yang ketat, tetapi juga teknik pembuktian yang sangat bisa dipertanggungjawabkan. Pengetahuan ilmiah bekerja berdasarkan metode-metode tertentu untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat. Penjelasan-penjelasan pengetahuan ilmiah bersifat ilmiah karena teruji berdasarkan kadar empirisnya dan prinsip universalitas penjelasannya. Meskipun bersifat sementara, pengetahuan ilmiah dapat diandalkan sebagai penjelasa terhadap berbagai fenomena yang kurang lebih sama dalam kehidupan sehari-hari.

b.   Contoh-contohnya

”Aspirin merupakan obat yang telah lama dikenal memiliki efek antitrombotik. Penelitian Women’s Health Study (WHS) menunjukkan bahwa pemberian aspirin 100 mg pada wanita sehat berusia 45 tahun ke atas selama 10 tahun menyebabkan penurunan risiko stroke pada pada kelompok aspirin, namun tidak menyebabkan risiko miokard infark. Berdasarkan hasil studi ini, maka penggunaan aspirin sebagai prevensi terhadap tromboembolisme vena pada wanita pasca menopause yang menggunakan HRT merupakan hal yang menjanjikan namun masih harus diuji efikasinya” (dikutip dari Majalah Kedokteran Damianus, Vol 8. No. 3 September 2009, hlm. 132).

c.   Rujukan

Verhaak, C & R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan. Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991.

Keraf, A. Sony & Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan. Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta, Kanisius, 2001.


Buat pembahasan disertai argumentasinya tentang:

  1. Perbandingan antara pengetahuan ilmiah (IP) dengan jenis-jenis pengetahuan lainnya
  2. Apakah bisa dikatakan bahwa:

(a)    IP lebih unggul dari jenis-jenis pengetahuan lainnya? Atau:

(b)   Tidak dapat dikatakan bahwa IP lebih unggul karena jenis-jenis pengetahuan lain pun memiliki keunggulannya sendiri-sendiri?

Cantumkan daftar pustaka di bagian akhir

DIMENSI DINAMIS ILMU


Tiga filsuf ini (Thomas S. Kuhn, Paul Feyerabend, dan Imre Lakatos) termasuk para ilmuwan dan filsuf yang membawa pemikiran baru mengenai filsafat ilmu. Pemikiran mereka yang lahir di akhir abad ke-20 pertama-tama dipicu oleh sikap kritis mereka terhadap pandangan filsafat ilmu pada abad 20.

Karena itu, penting bagi kita untuk mengerti konteks pemikiran filsafat ilmu pada abad 20 supaya bisa memahami pemikiran-pemikiran Kuhn, Feyerabend, dan Lakatos.

Lingakaran Wina

Lingkaran Wina (Vienna Circle) adalah suatu kelompok yang terdiri dari sarjana-sarjana ilmu pasti dan ilmu alam di Wina. Kelompok ini didirikan oleh Moritz Schlick tahun 1924.

Pertemuan-pertemuan antarpara ilmuwan sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1922 dan berlangsung terus sampai tahun 1938. Anggota kelompok antara lain: Moritz Schlick, Hans Hahn, Otto Neurath, Hans Reichenbach, dan Victor Kraft.

POKOK-POKOK PEMIKIRAN

Alirannya disebut NEOPOSITIVISME atau POSITIVISME LOGIS atau EMPIRISME LOGIS.  Hanya ada satu sumber pengetahuan, yakni PENGALAMAN. Pengalaman di sini adalah pengenalan data-data indrawi.  Ada dalil-dalil logika yang berguna untuk mengolah data pengalaman indrawi menjadi suatu keseluruhan yang meliputi segala data. Dalil-dalil logika itu bersifat tautologi (subjek dan predikat).

Preokupasi utama: mencari demarkasi antara pernyataan yang bermakna (meaningful) dan pernyataan yang tidak bermakna (meaningless).

Kriterianya: apakah suatu pernyataan memiliki kemungkinan untuk diverifikasi atau tidak. Karena itu, hanya ada 2 pertanyaan yang relevan ketika berhadapan dengan pengalaman: (1) How do you know? (=how do you verify?), dan (2) what do you mean?

Akibatnya: Filsafat tradisional harus ditolak karena ungkapan-ungkapannya melampaui pengalaman. Semua ungkapan teologis lebih tidak bermakna lagi, demikian juga etika, metafisika, dst.

Karena itu, tugas filsafat = memeriksa susunan logis bahasa ilmiah, baik dalam perumusan penyelidikan ilmu alam maupun dalam bidang logika dan matematika.  Satu-satunya bahasa yang dipakai adalah bahasa dan cara kerja ilmu alam.

Filsafat ilmu menurut positivisme logis

Filsafat ilmu pengetahuan = logika ilmu. Jadi, lebih mengurusi bentuk-bentuk logis pernyataan ilmiah, bukan isi pernyataan ilmiah tersebut. Jadi, kerja seorang filsuf ilmu hanyalah melakukan konstruksi representasi formal dari ungkapan-ungkapan ilmiah. Dia tidak usah mempedulikan detail dan perkembangan ilmu dan perubahan teori ilmiah.

Jadi, tidak ada konteks penemuan (context of discovery) dari ilmu pengetahuan. Yang ada hanya konteks pengujian dan pembenaran (context of justification) ilmu pengetahuan.

Jadi, filsafat ilmu = logika ilmu SEMAKIN JAUH DARI KENYATAAN.

BEBERAPA TOKOH

Pemikir yang terkenal karena pengaruh positivisme logis adalah Ludwig Wittgenstein (1889 – 1951) dengan karya termasyurnya berjudul Tractus Logico Philosophicus (1921).

Bagi dia, kerangka pikiran dan penalaran logismatematis adalah cerminan atau lukisan (picture) dari kenyataan yang mau dikenal manusia. Semakin kita memperoleh pandangan yang secara logis paling terinci, makin kita dekat dengan pandangan tentang kenyataan dengan segala hubungan yang terjadi di dalamnya.

Karl Raimund Popper

Mengeritik beberapa pandangan dari Lingkaran Wina. Kritik dan pandangannya dapat ditelusuri melalui pendapat dia mengenai dasar logis cara kerja ilmu empiris, andangan mengenai sejarah ilmu-ilmu dan pandangan mengenai tiga dunia.

Menolak pembedaan antara ungkapan yang bermakna (meaningful) dan ungkapan yang tidak bermakna (meaningless) berdasarkan kriterium dapat tidaknya suatu pernyataan dibenarkan secara empiris.

Dia mengganti pembedaan itu dengan mengemukakan pembedaan baru berdasarkan apakah suatu pernyataan bersifat ilmiah atau tidak imiah. Dasarnya tetap pada ada atau tidak adanya dasar empiris bagi ungkapan bersangkutan. Ungkapan yang tidak bersifat ilmiah mungkin saja sangat bermakna.

Demarkasi antara suatu ungkapan bermakna atau tidak bermakna, yakni realitas empiris dan yang menjadi fondamen seluruh pernyataan ilmu pengetahuan justru rapuh karena kelemaha internal dari cara kerja induksi itu sendiri. Induksi mengandalkan generalisasi, padahal peralihan dari sesuatu yang partikular ke yang bersifat universal justru salah secara logis.

Jadi, demarkasinya harus ada pada fondamen FALSIFIABILITAS = ciri khas ilmu pengetahuan adalah apakah ilmu tersebut dapat dibuktikan salah (it can be falsified).

Metode falsifikasi sederhana saja: dengan observasi terhadap angsa-angsa putih, betapun besar jumlahnya, orang tidak dapat sampai pada kesimpulan bahwa semua angsa berwarna putih, tetapi sementara itu cukup satu kali observasi terhadap seekor angksa hitam untuk menyangkal pendapat tadi.”

Jadi, dengan pembuktian seperti itulah sebuah hukum ilmiah berlaku: bahwa bukan apakah suatu hukum ilmiah dapat dibenarkan melainkan dapat dibuktikan salah.

Ilmu pengetahuan berkembang berdasarkan dinamika falsifikasi ini. Sebuah hipotesa segera ditinggalkan begitu dibuktikan salah, dan diganti dengan hipotesa baru. Atau, jika hanya satu unsur dalam hipotesa yang dibuktikan salah, maka unsur itu itinggalkan dan segera diganti dengan unsur baru.

Suatu teori baru akan diterima kalau sudah terbukti bahwa teori itu dapat meruntuhkan teori lama yang ada sebelumnya. Pengujian lain untuk menegaskan keilmiahan suatu teori adalah melalui TES EMPIRIS. Tes ini direncanakan untuk membuktikan salah sesuatu yang diuji (memfalsifikasi). Teori yang dapat dibuktikan salah akan segera BATAL, dan teori yang bertahan dalam falsifikasi akan dipertahankan sampai ditemukan cara pengujian yang baru atas teori.

Bagi Popper, pengetahuan maju bukan karena akumulasi pengetahuan, melainkan lewat proses eliminasi yang semakin kerasterhadap kemungkinan kekeliruan dan kesalahan. Karena itu, epistemologinya Popper disebut EPISTEMOLOGI PEMECAHAN MASALAH.

Pandangan Tentang 3 Dunia

Dunia 1

Kenyataan dunia fisis

Objektivisme kasar

Dunia 2

Kenyataan psikis dalam diri manusia

Subjektivisme semata

Dunia 3

Sintesa objektivisme dan subjektivisme

Hipotesa, hukum, teori ciptaan manusia.

Hasil kerja sama antara dunia 1 dan dunia 2

Seluruh bidang kebudayaan, seni, metafisika, agama, dll.

Dunia 3

Dunia 3 hanya ada ketika dihayati, yakni dalam karya dan penelitian ilmiah, dalam studi yang sedang berlangsung, membaca buku, dalam ilham yang sedang mengalir dalam diri para seniman, dan penggemar seni yang mengandaikan adanya suatu kerangka.

Sesudah penghayatan, semuanya mengendap menjadi bentuk-bentuk fisik (dunia 1).

Ketika manusia menggauli dunia 3 dan dunia 1, manusia membangkitkan kembali dan mengembangkan kemampuan psikisnya dalam dunia 2 lalu menghasilkan dunia 3, begitu seterusnya.

Thomas S. Kuhn

Karyanya yang terkenal: The Structure of Scientific Revolution (1962) dan terbit edisi revisi tahun 1970. Menolak pemikiran Popper yang melihat gerak perkembangan sains berdasarkan proses falsifikasi terhadap suatu teori. Bagi Thomas Kuhn, perkembangan ilmu pengetahuan harus dipotret dari sejarah perkembangan ilmu itu sendiri. Bagi dia, sejarah perkembangan ilmu akan menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak berkembang melalui proses falsifikasi, tetapi terjadi secara revolusioner.

Struktur Revolusi Ilmiah

Menurut Kuhn, terdapat 3 tahap atau fase yang harus dilalui bagi terjadinya perubahan atau revolusi ilmiah. Ketiga tahap itu adalah (1) Fase praparadigmatik; (2) fase sains normal, dan (3) fase anomali yang kemudian menghasilkan revolusi ilmiah.

Fase Praparadigma

Sebelum sebuah disiplin keilmuan terbentuk, biasanya ada fase panjang praparadigma. Fase ini ditandai oleh penelitian yang masih taraf permulaan (inchoate) dan tak terarah (directionless) mengenai tema atau topik tertentu. Ini adalah fase yang panjang dan melelahkan serta fase yang menunjukkan adanya kemajemukan.

Ada juga banyak aliran pemikiran atau sekolah yang saling berkompetisi. Masing-masingnya memiliki konsepti yang berbeda secara fundamental mengenai apa masalah utama dari disiplin mereka dan kriteria apa yang digunakan untk mengevaluasi teori-teori yang menjadi prinsip penjelasan dalam kelompok mereka.

Lahirnya Sains Normal

Selama berbagai aliran pemikiran dan kompetisi berbagai teori berlangsung dalam fase praparadigma, dalam perkembangannya akan muncul atau menonjol suatu aliran pemikiran atau sekolah tertentu dan kemudian mendominasi berbagai diskusi dan perbincangan keilmuan.

Ilmuwan mulai merujuk pada disiplin tersebut karena kemampuannya dalam penjelaskan masalah-masalah yang timbul. Dan bahwa disiplin yang baru ini juga menjanjikan masa depan penelitian yang lebih sukses. Dari sini berangsur-angsur lahirnya paradigma.

Paradigma

Dasar dari setiap ilmu pengetahuan normal. Ilmu pengetahuan normal menghidupkan dan mempertegas fakta dan teori yang sudah ada. Beberapa karakteristik dalam paradigma:

  • Ilmuwan memperluas pengetahuan dan mencari ketepatan fakta. Ilmuwan tidak mencari prinsip penjelas di luar bidang keilmuannya. Dengan demikian, ilmuwan menjelaskan fakta yang sudah dia kenal dengan cara baru.
  • Ilmuwan hanya bergelut dengan fakta yang berhubungan langsung dnegan implikasi dari teorinya.
  • Ilmuwan dapat menemukan fakta-fakta baru, tetapi sebenarnya ini merupakan pengungkapan kembali dari apa yang sudah ada secara implisit dalam paradigma yang sudah ada.
  • Penelitian dan pembuktian hanya untuk mempertajam teori.
  • Paradigma memiliki kemampuan memecahkan masalah terhadap fakta-fakta yang muncul dalam lingkup paradigma tersebut.

Komunitas Ilmiah

Paradigma dalam sains normal didukung oleh sebuah komunitas ilmiah (scientific community) yang melakukan kerja keilmuwan untuk mengembangkan ilmunya.

Para ilmuwan dalam komunitas ilmiah dipersatukan oleh pendidikan, interaksi profesional dan komunikasi (mis. Jurnal, konvensi), atau yang memiliki interes yang sama terhadap masalah tertentu dan menerima model pemecahan tertentu atas masalah tersebut.

Contoh-contoh paradigma, (1) Teori mekanika dan teori gravitasinya Isaac Newton; (2) Teori kelistrikan dari Franklin; (3)  Teori heliosentris dari Copernicus.

Lahirnya anomali

Situasi di mana sains normal tidak mampu lagi menjelaskan fakta-fakta dan persoalanpersoalan baru. Fakta-fakta sudah tidak sesuai lagi dengan kerangka paradigma baru.

Anomali bisa memunculkan 2 kemungkinan: (1) Penemuan fakta mendorong lahirnya suatu paradigma baru. (2) Perubahan baru selalu menyangkut baik perubahan itu sendiri maupun cara menyikapi perubahan. Anomali memicu lahirnya paradigma baru.

Ketika krisis dan anomali mulai muncul, sikap ilmuwan bisa 2: (1) Mencoba menjelaskan anomali dengan kerangka teori yang sudah ada. Jika berhasil, maka anomali bisa diatasi. Jika tidak berhasil, anomali berlanjut. Di sini krisi memicu ke tidakpercayaan ilmuwan pada skema teori mereka. Akibatnya, timbul ketidakpastian ilmu pengetahuan. Contoh: ketidakpercayaan muncul ketika sistem Ptolomeus tidak mampu menjelaskan posisi bintang dan planet yang tidak berubah-ubah. Sementara kepercayaan lahir ketika muncul teori Copernicus yang lebih mampu menjelaskan, yakni bahwa matahari memang tidak mengalami perubahan posisi menghadapi bumi dan bulan. (2) Mengabaikannya sama sekali. Posisi ini umumnya ditolak oleh ilmuwan yang serius.

Mengkritik Kuhn

Kuhn lupa bahwa setiap penelitian dalam sains selalu diikuti oleh contoh-contoh pengamatan yang bertentangan. Inilah problem yang bertentangan dengan paradigma dan harus dijelaskan (dipecahkan) oleh paradigma tersebut. Problem semacam ini memang tidak bisa ditolak. Tapi Kuhn lupa bahwa sesuatu tidak bisa disebut sebagai problem kalau kita tidak melihatnya sebagai masalah atau problem bagi paradigma yang kita anut.

Ilmu pengetahuan seharusnya tidak identik dengan paradigma. Bahwa ada paradigma-paradigma yang menjadi acuan penjelasan dalam ilmu pengetahuan, dan bukan identifikasi ilmu sebagai paradigma. Karena kalau tidak maka menggantikan paradigma sama saja dengan menggantikan ilmu pengetahuan.

Paul Feyerabend

Bukunya yang terkenal berjudul: Against Method di mana dia mengatakan bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya tidak bisa diterangkan ataupun diatur oleh segala macam aturan dan sistem maupun hukum.

Ilmu pengetahuan tidak mengenal aturan metodologis yang selalu digunakan para ilmuwan. Aturan metodologis hanya akan membatasi aktivitas para ilmuwan, dan dengan demikian akan membatasi kemaju ilmu pengetahuan.

Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi karena KREATIVITAS INDIVIDUAL. Karena itu, satu-satunya prinsip yang tidak menghambat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan adalah ANITHING GOES.

Dengan begitu, dia menolak adanya keteraturan dalam perkembangan ilmu. Lalu keteraturan itu diwujudkan dalam hukum dan sistem. Jadi, Feyerabend memang menentang metode.

Mengapa Feyerabend menentang metode? Menurut dia, dalam menjalankan riset dan menjelaskannya, ilmuwan sebaiknya tidak dibatasi oleh metode-metode yang ada. Ilmuwan harus BEBAS.  Kegiatan ilmiah dan ilmu pengetahuan adalah suatu upaya yang anarkistik karena tidak mengandalkan satu metode tertentu.

Bagi dia, sains sebagimana yang kita ketahui selama ini bisa menjadi monster yang mematikan manusia sendiri demi alasan objektivitas. Karena itu, ilmuwan harus dibebaskan dari berbagi belenggu metodologi keilmuan dan dalam KEBEBASANNYA berusaha memahami dan menjelaskan berbagai fakta, gejala, kejadian secara

lebih subjektif dan anarkis. Bahkan filsafat pun harus ditolak karena tidak mampu memberikan deskripsi yang umum mengenai sains. Sains juga tidak sanggup menemukan sebuah metode keilmuan yang bisa membedakan mana yang merupkan produk sains dan mana yang bukan merupakan produk sains, misalnya mitos-mitos. Karena itu, arahan atau bimbingan filosofis sebaiknya diabaikan saja oleh para ilmuwan.

Untuk menjelaskan pandangannya bahwa dalam bekerja ilmuwan tidak membutuhkan metodologi keilmuan tertentu, Feyerabend mengambil contoh revolusi Copernican. Dengan revolusi ini semua metodologi keilmuan yang selama ini ada dalam masyarakat (prescriptive rules) dengan senidirinya ditolak. Revolusi Copernican tidak mungkin akan terjadi jika ilmuwan bekerja mengikuti metode-metode keilmuan tertentu.

Dia juga mengkritik falsifikasinya Popper. Bagi dia, tidak ada satu teori keilmuan pun yang konsisten dengan semua fakta yang relevan. Jadi, kriteria konsistensi dalam menilai kekuatan sebuah teori dengan sendirinya ditolak Feyerabend.

Bagi dia, sains bukanlah satu-satunya penjelas realitas. Dalam masyarakat masih ada sumber-sumber penjelasan lainnya yang juga memiliki otoritas yang setara, misalnya penjelasan dari mitos, dari agama, dsb. Masyarakat jangan dikungkung oleh metodologi keilmuan tertentu. Biarkan kebebasan dalam masyarakat, di mana semua penjelasan alam semesta hidup dan berkembang.

Konsep anything goes

Dalam bukunya berjudul Against Method dan Science in a Free Society, Feyerabend mempertahankan gagasannya bahwa tidak ada aturan metodologis tertentu yang selalu digunakan oleh para ilmuwan. Bagi dia, setiap metodologi ilmiah tidak lebih dari aturan yang sifatnya preskriptif dan jika digunakan atau dipakai dalam penelitian hanya akan membatasi aktivitas sang ilmuwan itu sendiri. Pekerjaan ilmuwan yang terhambat oleh metodologi dengan sendirinya akan membatasi pula kemajuan ilmu pengetahuan. Dari pada memaksakan suatu aturan yang kaku tertentu ke dalam serangkaian metodologi ilmiah, ilmuwan membiarkan saja segala sesuatu berjalan tanpa dibatasi oleh metodologi. Ilmuwan bahkan bisa belajar dari keadaan yang anarkis dan kacau sekalipun.

Feyerabend justru mempertanyakan, apakah metode ilmiah dengan klaim objektivitasnya dapat sungguh-sungguh menghasilkan pengetahuan yang tidak membahayakan manusia? Dan, apakah tidak mengikuti metodologi ilmiah tertentu hanya akan menghasilkan monster bagi manusia? Dia berpendapat, bahwa bahkan atas nama metodologi ilmiah sekalipun, ilmu pengetahuan ternyata bisa menghasilkan luaran yang justru membahayakan hidup manusia itu sendiri. Mengutip Kierkegaard, Feyerabend menulis: ”Is it not possible that my activity as an objective [or critico-rational] observer of nature will weaken my strength as a human being?” I suspect the answer to many of these questions is affirmative and I believe that a reform of the sciences that makes them more anarchic and more subjective (in Kierkegaard’s sense) is urgently needed. Against Method. p. 154).

Posisi atau pandangan yang dibela Feyerabend digolongkan sebagai pandangan radikal dalam filsafat ilmu. Disebut demikian karena filsafat filsafat tidak mampu menyediakan atau memberikan suatu deskripsi umum mengenai sains, juga tiadk mampu menyediakan sebuah metode yang bisa membedakan produk-produk yang dihasilkan sains sendiri dengan produk-produk yang dihasilkan pseudosains.

Imre Lakatos

Bukunya yang terkenal berjudul Criticism and Methodology of Scientific Research Programmes (1968. Dia menganggap Thomas Kuhn tidak memahami falsifikasi dengan benar. Menurut Lakatos, bukan teori tunggal yang harus dinilai sebagai ilmiah atau tidak ilmiah, tetapi rangkaian teori-teori.

Rangkaian teori-teori ini dihubungkan oleh suatu kontinuitas yang menyatukan teori-teori tersebut menjadi program-program riset. Dalam program riset ada aturan-aturan metodologis yang dibedakan menjadi: (1) yang memberitahu cara atau jalan mana yang harus dihindari (heuristik negatif); dan (2) cara atau jalan mana yang harus dijalankan (heuristik positif). Heuristik positif = inti program yang dilindungi dari upaya falsifikasi. Lapisan pelindungnya adalah hipotesa pendukung, kondisi-kondisi awal.

Dalam penelitian, yang pada akhirnya menang adalah program riset yang mampu mengembangkan isi empiris lebih besar dan derajat koroborasi (confirmation/support by further evidence) empiris yang lebih tinggi.

Bagi Lakatos, bahkan teorema matematika sekalipun tidak bisa langsung dibenarkan hanya karena belum ada kontra teorema baru. Bahkan teorema matematika pun adalah

conjecture (dugaan. Bersifat quasi-empiricism) yang akan diuji melalui contoh-contoh yang berbeda (counterexample). Inilah yang disebutnya sebagai refutation. Di sini ilmu pengetahuan berkembang maju dalam proses CONJECTURE —> REFUTATION.

Berusaha mendamaikan pemikiran Popper dan Kuhn mengenai perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi Popper, melalui falsifikasi, ilmuwan akan berhenti mengacu atau membandingkan teori keilmuan tertentu dengan fakta-fakta. Teori keilmuan harus segera ditinggalkan jika ilmuwan menemukan adanya falsifying evidence.

Sementara Kuhn melihat bahwa dalam periode sains normal para ilmuwan tidak sibuk dengan falsifikasi, tetapi justru berusaha memajukan ilmunya dengan meningkatkan kemampuan menjelaskan dari ilmu mereka. Bahkan ketika berhadapan dengan keadaan anomali pun ilmuwan tetap menaruh harapan pada paradigma yang mereka anut sebagai yang memiliki kemungkinan menjelaskan. Peralihan teori baru terjadi ketika tidak bisa diandalkan lagi. Di sini Popper tidak sedang berbicara mengenai perilaku aktual ilmuwan, sementara Kuhn berbicara mengenai perilaku aktual ilmuwan.

Preokupasi Lakatos adalah menemukan metodologi keilmuan tertentu yang sanggup mengakomodasi pemikiran Popper dengan Kuhn. Bagi Lakatos, apa yang menurut kita adalah teori, barangkali lebih merupakan semacam suksesi berbagai teori yang berbeda dan teknik-teknik eksperimentasi yang telah berkembang dan dikembangkan selama periode tertentu. Di mana berbagai teori itu memiliki common idea tertentu yang dia sebut dengan istilah ‘hard core’. Lakatos menyebut rangkaian perubahan semacam ini dengan nama PROGRAM RISET (Research Programmes).

Setiap ilmuwan yang terlibat dalam sebuah “Program Riset” akan berusaha untuk melindungi wilayah teoretis (the theoretical core) dari upaya falsifikasi. Perlindungan ini dilakukan ilmuwan dengan melindungi wilayah teoretisnya di bawah sabuk pelindung auxiliary hypotheses. Dan ini sah-sah saja.

Bagi Lakatos, daripada mengajukan pertanyaan apakah sebuh hipotesa adalah benar atau salah, lebih baik mengajukan pertanyaan apakah sebuah “program riset” lebih baik dari program riset lainnya supaya ada dasar rasional bagi ilmuwan untuk mempertahankan dan melanjutkannya. Dalam kasus tertentu “program riset” tertentu dapat dideskripsikan sebagai PROGRESIF, sementara di kesempatan lain bersifat MEROSOT (degenerating).

Program riset yang progresif ditandai oleh pemkembangan program itu sendiri, terutama ketika ditemukannya fakta-fakta baru yang mencengangkan, perkembangan teknik-teknik eksperimentasi baru, prediksi-prediksi yang lebih tepat,, dst. Sementara “program riset” yang bersifat merosot ditandai oleh kurangnya pertumbuhan, atau bertumbuhnya sabuk pelindung yang tidak mengarah kepada faktafakta baru. (Atma Jaya Semanggi, Yeremias Jena, 19 Mei 2010).

Model-Model Ilmu


Pertemuan ini akan membahas beberapa model ilmu, seperti explanation science, universality science, dan warrant science.

Tujuan: agar mahasiswa memahami dengan tepat hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan implikasinya tentang konsep ilmu pengetahuan itu sendiri.

Sumber: McMullin

Polemik sains di abad 17 dan 18 akhirnya menegaskan bahwa sains yang semata-mata bersifat konseptualis tidak bisa diandalkan. Namun sebaliknya, sains yang melulu bersifat empiris pun tidak mampu menjelaskan seluruh gejala alam persis ketika karakteristik dari jenis pengetahuan empiris yang fragmentaris, terdiri dari fakta-fakta yang penjelasan atasnya mengandung kebenaran yang bersifat kemungkinan (probability).

Dalam pertemuan ini kita akan membahas secara khusus dua filsuf ilmu yang pemikiran-pemikirannya menegaskan pentingnya sintesis antara sains yang sifatnya konseptualis dan sains empiris. Kedua filsuf itu adalah Francis Bacon dan Rene Descartes.

1.    Francis Bacon

Mengenai filsuf yang satu ini umumnya dikatakan bahwa dialah sosok sejati dari seorang pemikir empiris. Apakah dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Bacon memang seorang filsuf ilmu yang menolak sama sekali sains konseptualis, paling tidak penjelasan sains yang bersifat rasionalistik? MacMullin berpendapat bahwa pemikiran menelusuri pemikiran Bacon secara lebih mendalam justru menunjukkan bagaimana dia menegaskan pentingnya mengoperasikan dimensi eksperimental dan penjelasan-penjelasan rasionalistis dalam sains. Kutipan berikut mewakili gagasan Francis Bacon sebagaimana diargumentasikan MacMullin:

“Orang-orang yang bereksperimen ibarat semut: mereka hanya mengumpulkan dan menggunakan; sementara kaum rasionalis ibarat laba-laba, mereka membangun jaring-jaring dari substansi mereka sendiri. Berbeda dengan semut dan laba-laba, lebah mengambil jalan tengah: dia mengumpulkan material yang dibutuhkan dari kembang-kembang yang ada di taman dan ladang, tetapi mengubah dan mencernanya dengan kekuatannya sendiri. Seperti inilah bisnis utama dari filsafat: karena filsafat tidak mengandalkan semata-mata pada kemampuan nalarnya, juga tidak semata-mata menggantungkan diri pada bahan-bahan yang diambilnya dari sejarah alam dan eksperimen-eksperimen mekanikal dan menjelaskannya kemudian menjelaskannya sebagaimana bahan-bahan menampakkan diri; tetapi justeru menjelaskannya berdasarkan pemahaman yang sudah diolah dan dicerna. Karena itu, dari persaingan yang terbuka dan murni antara kedua fakultas ini, yang eksperimental dan yang rasional, banyak yang bisa diharapkan” (dikutip dari MacMullin, hlm. 48).

Sangat menakjubkan bahwa Francis Bacon menegaskan pentingnya mengkombinasikan pandangan konseptualis dan tendensi-tendensi empiris dalam ilmu pengetahuan. Francis Bacon memang pendukung metode induksi dalam mencapai pengetahuan, dan bagi dia inilah prosedur mencapai pengetahuan yang harus dilalui. Meskipun demikian, bagi dia, pengetahuan yang sifatnya induktif menjadi pembuktian dan kepastian atas pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya kualitatif yang dihasilkan oleh kerja nalar manusia. Meskipun demikian, harus diakui bahwa peranan hipotesa dan “kemampuan menalar” (dimensi rasionalitas) dalam pengetahuan manusia tidak bisa dijelaskan Bacon secara berhasil.

2.    Rene Descartes

Descartes dipotret sebagai tokoh sentral dan wakil dari pemikiran rasionalisme. Dialah representasi dari sains konseptualis par execellence. Dialah yang melanjutkan pemikiran Aristoteles mengenai sains dan konsisten dengan pemikiran sains konseptualis. Para ilmuwan menganggap Cartesius, terutama setelah kegagalan fisika Cartesian, sebagai ilmuwan yang mengandalkan pendekatan a priori dalam pemikiran-pemikirannya. Pemikiran-pemikirannya berkarakter a priori. Meskipun demikian, Descartes sendiri melakukan banyak sekali eksperimen dan menegaskan bahwa “eksperimen-eksperimen menjadi begutu perlu dan dibutuhkan ketika seseorang maju dalam pegetahuan.”

Penegasan ini menunjukkan semacam paradoks, bahwa Descartes yang adalah pendukung berat posisi sains konseptualis justru menegaskan pentingnya eksperimen dalam sains. Kontradiksi semacam ini tidak bisa dijelaskan dengan mengatakan bahwa Descartes menjadi pembela sains konseptualis ketika dia masih muda (dalam karyanya Regulae) dan dia menjadi pembela dari metode pengetahuan empiris dan hipotesis dalam karya-karyanya di lanjut usia.

MacMullin menunjukkan sebuah kutipan pemikiran Descartes dalam karyanya Discours yang kalau dicermati secara baik justru memperlihatkan bagaimana dia sanggup menunjukkan semacam sintesa antara sains yang konseptualis dan sains yang empiris.

“Saya pertama telah berusaha menemukan secara umum prinsip-prinsip atau penyebab pertama dari segala sesuatu yang ada atau yang mungkin ada di dunia ini, tanpa memperhitungkan hal apapun juga yang bisa membantu tercapainya tujuan ini selain Allah sendiri yang telah menciptakan dunia ini, atau menurunkan mereka dari sumber-sumber apapun juga kecuali dari kuman tertentu dari kebenaran yang eksis secara alamiah dalam jiwa kita. Setelah itu saya mempertimbangkan yang mana yang primer dan dan merupakan efek yang yang paling biasa yang bisa saja dideduksikan dari sebab-sebab ini, dan hal itu tampak bagi saya bahwa dalam cara ini saya telah menemukan langit, bintang-bintang dan bahkan bumi, air, udara, api, barang-barang tambang dan hal-hal lain sejenisnya … . Dan ketika saya berharap untuk turun (descend) ke hal-hal yang lebih partikular, begitu banyak objek dari berbagai jenis menampakkan diri mereka kepadaku sehingga saya tidak yakin jika mungkin bagi pikiran manusia untuk membedakan forma-forma dari benda-benda yang ada di atas bumi, dari hal-hal lain yang kekal yang mungkin demikian adanya jika itu sudah merupakan kehendak dari Allah yang menempatkan mereka di sana, jika bukan bahwa kita sampai pada sebab-sebab setelah berangkat dari akibat-akibat (effects) dan menguntungkan diri kita sendiri dari berbagai macam eksperimen. … Kekuasaan dari alam itu begitu banyak dan luas, sementara prinsip-prinsip ini begitu sederhana dan umum, sehingga saya mengobservasi secara sulit efek apapun …. yang mungkin saja tidak bisa dideduksikan dari prinsip-prinsip dalam berbagai cara; dan kesulitan saya terbesar adalah biasanya menemukan dalam cara-cara manakah efek-efek biasanya tergantung. Mengenai hal ini, saya tidak mengetahui rencana apapun selain mencoba menemukan eksperimen-eksperimen dari alam semacam itu sehingga hasil-hasilnya tidaklah sama jika hal itu harus dijelaskan oleh salah satu metode (deduksi) sama seperti itu dijelaskan oleh metode lainnya” (dikutip dari MacMullin, hlm. 49-50).

Dalam kutipan yang panjang ini Descartes mengklaim bahwa (1) ada banyak sekali pernyataan yang spesifik mengenai hakikat dari alam semesta (misalnya mengenai mineral) dapat dideduksikan dengan kepastian dari prinsip-prinsip pertama (prima principia) dari metafisikanya, dan bahwa prinsip-prinsip penjelas demikian berasal dari “kuman-kuman kebenaran” (germ of truths) yang ada dalam pikiran manusia; (2) menyangkut entitas yang lebih partikular, adalah mustahil untuk mendeduksikan mereka dalam cara seperti ini oleh karena adanya keanekaragaman sebab-sebab yang mungkin dan dengan demikian seseorang harus berpaling kepada eksperimen sebagai sarana yang membantu dalam menentukan (memutuskan) dari antara berbagai kemungkinan yang saling bersaing.

“Semua badan yang membentuk alam semesta ini disusun oleh materi yang sama yang bisa dibagi ke dalam bagian-bagian yang digerakkan secara berbeda yang gerakan-gerakannya dalam cara tertentu bersifat melingkar …. selalu saja terdapat kuantitas yang setara dari gerakan-gerakan ini di alam semesta. Tetapi kita sendiri tidak sanggup untuk menentukan dalam cara yang sama berapa banyaknya bagian ke dalam mana materi-materi ini dibagi, juga tidak sanggup menentukan kecepatan seperti apakah gerakan-gerakan itu yang dengannya materi-materi itu berputar, atau juga tidak mampu menentukan lingkaran pergerakan mereka. Karena sejauh semuanya ini bisa ditetapkan oleh Allah sendiri dalam cara yang beragam pula, hanyalah pengalaman sendiri dan bukanlah kekuatan penalaran yang memungkinkan kita mengetahui yang mana dari semuanya ini yang sudah dipilih oleh Allah” (Dikutip dari MacMullin, hlm. 50).

Dengan kata lain, Descartes menemukan atau menghadapi kesulitan hanya mengenai bagaimana membuktikan secara meyakinkan distribusi dan gerakan-gerakan dari materi dalam dunia nyata ini. Semuanya ini harus diposisikan sebagai kontingen. Descartes sendiri terbiasa dengan pemikiran semacam ini karena adanya diktum teologis mengenai kemahakuasaan Allah (the omnipotence of God). Perhatikan bahwa Descartes tidak mengatakan di sini bahwa hukum-hukum tertentu dari fisikanya menjelaskan hal yang kontingen tersebut. Semua yang dikatakan Descartes dapat ditemukan melalui “kemampuan menalar” saja. Peran dari eksperimen adalah, dalam contoh pertama, bukan dalam artian menegaskan sesuatu dengan prinsip-prinsip pertama. Adalah dalam penemuan dari distribusi materi faktual yang sifatnya kontingen pada suatu waktu tertentu yang memungkinkan orang membuat prediksi-prediksi. Dengan kata lain, apa yang sedang dikatakan Descartes adalah bahwa fisikanya sendiri tidak boleh ditempatkan sebagai yang menyediakan dalam dirinya apa-apa yang dibutuhkan untuk melakukan prediksi nyata akan apa yang akan terjadi dan kapan sesuatu terjadi.

Mengapa Belajar Filsafat Ilmu Pengetahuan?


Tidak ada seorang pun yang akan berhenti berpikir. Oleh karena alasan inilah maka filsafat memainkan peranan yang sangat krusial dalam proses pemikiran manusia, yakni menjadikan pemikiran tersebut menjadi lebih jelas dan tetap (konstan) di hadapan realitas yang jamak dan sering membingungkan. Dengan ini lalu filsafat membantu setiap orang untuk memiliki perspektif tertentu. Mengenai hal ini, James K. Feibleman menulis:

“No one stops to think that it is the business of philosophy to bring clarity and consistency into all this confusion and to give the individual somewhere to stand while all the various new theoretical and practical advances swirl around him”[1]

Untuk menarik beberapa pemikiran mengenai kegunaan filsafat ilmu pengetahuan, sebaiknya kita memulainya dengan memahami terlebih dahulu apa manfaat dari mempelajari filsafat pada umumnya. Secara umum dikatakan bahwa filsafat memiliki dua kegunaan yang saling mendukung, yakni kegunaan bagi individual dan kegunaan bagi kehidupan sosial. Bagaimana kedua kegunaan filsafat ini dapat dipahami?

Dari segi manfaat atau kegunaan bagi individu, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat filsafat ini.

a)       Filsafat berguna untuk memuaskan keinginan tahu individu yang sifatnya sederhana (belum complicated). Aspek inilah yang membuat manusia berbeda dari binatang. Pada taraf tertentu, kera misalnya, dapat berpikir, dengan misalnya mempertimbangkan adanya tongkat yang ada didekatnya yang dapat digunakan untuk mencapai pisang yang tergantung dalam sebuah ruangan. Meskipun demikian, kera tetap tidak dapat berpikir lebih jauh dari determinasi alat atau tongkat ini. Kera tidak dapat menghubungkan pikirannya dengan pengalaman pemikiran yang telah terjadi di masa lampau, apalagi memproyeksikan pemikirannya secara visioner ke masa depan. Hanya manusia yang dapat berpikir dalam ruang dan waktu tertentu.

Selain itu, di sini juga dapat dikatakan bahwa selama hidup—dari masa kanak-kanak sampai meninggal dunia—manusia harus melewati dua tahap pengenalan (kesadaran) yang penting, yakni tahap keadaan ketidaktahuan (the state of innocence) dan tahap kehilangan ketidaktahuan (the innocence lost). Keadaan ketidaktahuan pada masa kanak-kanak sebetulnya penuh dengan keinginantahu (curiosity) yang menempatkan masa kanak-kanak sebagai tahap yang penuh dengan pertanyaan. Di sini dapat disimpulkan, bahwa jika filsafat memiliki asal-muasal, maka asalnya tentulah pada masa kanak-kanak yang giat mengajukan pertanyaan tersebut. Pertanyaan dan keingintahuan anak-anak ini apabila dimatikan atau dijawab secara sangat otoritatif dan ideologis akan mematikan dan menghentikan kemampuan anak-anak untuk bertanya. Inilah yang dimaksud dengan keadaan the innocence lost tersebut.

b)     Filsafat dapat membantu individu untuk menemukan prinsip-prinsip yang benar yang sangat bermanfaat dalam mengarahkan hidup dan perilakunya. Di sini kita berhadapan dengan peran dari cabang filsafat yang namanya filsafat moral atau etika. Dengan bantuan pemikiran filsafat moral (etika), individu semakin mendalami hidupnya, mempertanyakan secara moral seluruh tindakannya dan menetapkan prinsip-prinsip yang baik bagi hidupnya. Dengan ini individu membebaskan diri dari kedangkalan hidup atau hidup yang hanya menuruti keinginan dari luar saja, kehidupan tanpa subjektivitas.

c)       Filsafat sangat membantu individu untuk memperdalam hidupnya. Filsafat hukum misalnya, membantu manusia mengintensifkan makna dari hukum bagi masyarakat pada umumnya dan para praktisi hukum itu sendiri. Misalnya dalam memahami keterbatasan dari hukum positif dan pentingnya rasa keadilan masyarakat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi dalam setiap keputusan hukum. Sementara itu, filsafat ilmu pengetahuan membantu individu (ilmuwan) semakin mendalami ilmunya. Tidak jarang terjadi bahwa semakin seseorang mendalami ilmunya filsafat, semakin ia mampu mengatasi disiplin keilmuannya yang empiris dan metodis dan memasuki dunia yang non-empiris, tetapi yang menarik akal budi dan menghantui batinnya. Albert Einstein misalnya, tidak hanya menjadi seorang ilmuwan (ahli fisika) murni. Ia adalah seorang ilmuwan dan filsuf. Einstein bahkan berani mengatakan: “Science without religion is lame, religion without science is blind.”[2] Tidak hanya itu. Filsafat seni (estetika) memampukan seseorang untuk melihat segala sesuatu dalam kerangka yang sangat pribadi. Estetika memfungsikan dan memperdalam penginderaan manusia. Estetika memampukan individu untuk melihat dunia dengan mata seorang seniman, yakni melihatnya secara sangat personal.

Sementara itu, dari segi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat filsafat ini.

a)             Prinsip-prinsip atau pemikiran filsafat membentuk organisasi sosial berdasarkan basis atau fondasi tertentu yang sifatnya permanen. Misalnya institusi-institusi sosial yang berdasarkan hukum-hukum positif tertentu yang telah disepakati bersama.

b)             Filsafat sosial terdiri dari serangkaian prinsip-prinsip atau hukum-hukum yang menuntut keyakinan dan penerimaan atas kebenaran mereka. Selain itu, tentu saja juga persoalan dimensi ketaatan. Ambil saja beberapa contoh. Negara Amerika Serikat mendasarkan hidup bersama sebagai bangsa dan negara pada prinsip-prinsip American Declaration of Independence yang sangat dipengaruhi oleh gagasan dan pemikiran dua filsuf besar, yakni John Lock dan Montesquieu. Uni Soviet mendasarkannya pada filsafat dan ideologi Marxisme-Leninisme, dan Indonesia mendasarkannya pada filsafat dan ideologi Pancasila.

Semua yang telah dikatakan di atas merupakan manfaat dari mempelajari filsafat secara umum. Nah, sekarang apa manfaat dari mempelajari filsafat ilmu pengetahuan? Ada paling kurang 4 manfaat yang dapat dikemukakan di sini.[3]

  1. Bersama mata kuliah filsafat lainnya, filsafat ilmu pengetahuan membantu mahasiswa untuk semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan, mahasiswa menjadi sangat kritis terhadap segala pandangan, keyakinan, dan teori-teori yang dihadapinya.
  2. Filsafat ilmu pengetahuan membantu mahasiswa untuk menjadi seorang ilmuwan yang andal kelak di kemudian hari. Dengan mendalami filsafat ilmu pengetahuan diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan analisis ilmiahnya berdasarkan metode-metode ilmiah tertentu. Dalam menggeluti dan mengembangkan ilmunya, seseorang dibantu oleh pemikiran filsafat ilmu pengetahuan untuk tetap menempatkan realitas sebagai tanda tanya dan bukan tanda seru, dan untuk selalu menemukan jalan pemecahan terbaik atas masalah-masalah.
  3. Pemikiran-pemikiran filsafat ilmu pengetahuan sangat membantu mahasiswa dalam pekerjaannya di kemudian hari. Bukankah setiap pekerjaan adalah upaya untuk memecahkan masalah tertentu yang kongkret? Setiap pekerjaan senantiasa bergerak dalam 3 tataran utama, yakni tataran pengetahuan dan keterampilan (keahlian), tataran pemecahan masalah, dan tataran manfaat (nilainya bagi kehidupan). Pemikiran-pemikiran filsafat ilmu pengetahuan sangat membantu dalam menjawab pertanyaan apa yang harus diketahui atau dikuasai (tataran 1), bagaimana pengetahuan atau keterampilan atau keahlian tersebut dicapai (tataran 2), dan apa manfaat (nilai) dari pemecahan masalah tersebut bagi kehidupan individu dan sosial.
  4. Pemikiran filsafat ilmu pengetahuan membantu memecahkan persoalan-persoalan yang ditimbulkan modernisme, seperti masalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Masalah-masalah tersebut ternyata tidak dapat semata-mata diselesaikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan terkesan sains dan teknologi justeru dapat menghancurkan manusia itu sendiri. Filsafat banyak kali muncul dengan suara lantang, meneriakkan dihentikannya penghancuran dunia dan manusia.

[1] James K. Feibleman, Understanding Philosophy, A Popular History of Ideas, Jaico Publishing House, Mumbai, India,1999 (cet. Ke-4), h. 12.

[2] Dikutip dari Charles P. Henderson, Jr., God and Science. The Death and Rebirth of Theism, John Knox Press, Atlanta,1986, h. 17.

[3] Diringkas dari A. Sony Keraf & Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan. Sebuah Tinjauan Filosofis, Kanisius, Yogyakarta, 2001, hlm. 25-27.

Dari Pengetahuan ke Ilmu Pengetahuan


Pendekatan fenomenologis dapat membantu kita memahami pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Yang mau dikatakan dengan pendekatan fenomenologis atas gejala pengetahuan dan ilmu pengetahuan adalah bagaimana pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu sendiri disadari oleh subjek. Mengenai hal ini, ada dua kutub pemikiran yang terus saling berdebat dan tidak sepakat. Dengan memahami perdebatan kedua kutub ini kita bisa memahami bagaimana hubungan antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

(1) Kelompok pemikir atau para filsuf yang berpandangan bahwa pengetahuan tersusun dari unsur-unsur tunggal, apa yang mereka sebut sebagai kesan-kesan inderawi. Menurut kelompok ini, satu-satnya sumber pengetahuan yang benar adalah hal yang empiri atau pengalaman yang dapat diinderai. Berhadapan dengan pengalaman penginderaan, akal budi manusia berperan sebatas mengatur dan mengkombinasikannya supaya dapat dimengerti atau dipahami. Kita menyebut pemikiran semacam ini sebagai EMPIRISME dengan tokoh-tokohnya seperti John Lock, David Hume, ataupun kaum positivis. Di sini empirisme memprioritaskan atau mementingkan objek pengetahuan. Peran akal budi (subjek) terbatas pada menangkap kesan-kesan inderawi tersebut dan kemudian mengaturnya supaya dapat dipahami.

(2) Kelompok pemikir atau filsuf yang berpendapat bahwa pengetahuan kita tidab bisa tidak berakar pada akal budi. Menurut kelompok ini, dalam berpikir kita tidak pernah bisa melepaskan diri dari konsep-konsep seperti substansi, jiwa, dan ketuhanan. Konsep-konsep ini tidak ditemukan di dalam pengalam penginderaan, karena mereka ada bersama manusia sejak lahir. Kita menyebut kelompok ini sebagai RASIONALISME dengan tokoh seperti Rene Descartes. Para pemikir rasionalis mementingkan akal budi manusia (subjek) sebagai yang menentukan eksistensi suatu hal atau realitas. Demikianlah, orang seperti Descartes misalnya, akan berpendapat bahwa sesuatu itu ada sejauh ia dipikirkan subjek atau sejauh hadir di dalam pikiran si subjek yang sedang berpikir. Di sini tampak jelas bahwa kelompok ini mementingkan privilese subjek.

Harus dikatakan bahwa dewasa ini semakin disadari bahwa dikotomi semacam ini tidak menggambarkan secara tepat fenomena pengetahuan manusia. Berhadapan dengan objek pengetahuan atau realitas, akal budi manusia tidak akan pernah tinggal diam atau pasif atau hanya memainkan peran sebatas mengatur pengalaman inderawi tersebut. Subjek membuka dan mengarahkan dirinya kepada objek untuk mengenal dan mengetahuinya sebagaimana adanya. Dan pada gilirannya, objek juga membuka diri kepada subjek dan membiarkan dirinya diketahui.

Manusia dapat membuka dirinya kepada objek karena dimensi materi (kebertubuhan) yang dimilikinya. Tetapi karena manusia juga memiliki dimensi rohani, maka akal budi dapat mengatasi pengalaman partikular-inderawinya tersebut, yakni dengan mengabstraksikannya. Dengan ini akal budi manusia tidak terjerat pada pengetahuan inderawi semata, tetapi mampu melihat hubungan dengan realitas-realitas lainnya. Bahkan karena subjek yang lain pun memiliki kesadaran dan pengetahuan yang sama karena keterbukaannya terhadap objek lain, maka manusia juga dapat membangun hubungan dengan sesama dan berdialog dengan kesadaran serta pengetahuan mereka. Di sinilah pengetahuan juga bersifat intersubjektif.

Dengan demikian, tampak jelas di sini bahwa dimensi subjek dan objek pengetahuan manusia tidak dapat dipisahkan atau dipertentangkan satu sama lain. Dan bahwa pengetahuan hanya terjadi kalau terdapat keterbukaan dari kedua belah pihak untuk diketahui. Meskipun demikian, hal lain yang menarik untuk hal lain yang menarik untuk diketahui adalah bahwa dimensi subjek tetap memainkan peran yang penting. Keterarahan subjek kepada objek hanya mungkin terjadi jika di dalam diri manusia terdapat kesamaan-kesamaan prinsip atau kategori tertentu yang memungkinkan manusia dapat mengenal dan menangkap objek tersebut. Sebagaimana telah disebutkan di atas, inilah dimensi kebertubuhan (materi) dari manusia itu.

Dimensi rohani manusia yang memungkinkan terjadinya abstraksi atas pengetahuan tidak hanya terjadi dengan maksud untuk mengatasi keterpenjaraan subjek yang mengetahui pada materi atau objek pengetahuan. Abstraksi justeru menunjukkan pentingnya aspek non-material dan intersubjektivitas pengetahuan manusia. Abstraksi terjadi melalui refleksi. Apa yang direfleksikan kemudian dikomunikasikan melalui bahasa. Bahasalah yang lalu menjadi sarana pengungkap pengetahuan manusia. Melalui bahasa manusia mendiskursuskan pengetahuannya. Dan melalui bahasa pula pengetahuan manusia tersebut diperdebatkan, didiskusikan, dipersoalkan untuk mencapai pengetahuan yang lebih “sempurna” lagi.

Ilmu pengetahuan muncul ketika pengetahuan yang telah terjadi tersebut disusun secara teratur dan sistematis berdasarkan metode tertentu yang bersifat baku. Jadi, berhadapan dengan fenomena (objek pengetahuan) memanasnya suhu bumi misalnya, manusia (subjek pengetahuan) berusaha untuk mengetahui sebab-sebabnya, yakni menipisnya lapisan ozon karena efek rumah kaca atau juga meningkatnya kadar karbondioksida. Pemahaman semacam ini kemudian disusun secara sistematis berdasrkan metode tertentu untuk mencapai kesimpulan bahwa upaya penurunan suhu bumi melalui pengurangan efek rumah kaca atau penghentian pengrusakan hutan memang sunggu-sungguh sebuah pengetahuan ilmiah yang tidak hanya didiskursuskan, tetapi juga diajarkan dalam bentuk ilmu pengetahuan.

Filsafat: Bermula dan Berakhir dengan Pertanyaan


A.     Pengertian filsafat

Filsafat berasal dari kata bahasa Yunani, yakni philos yang artinya pencari atau pencinta (philein) dan sophos atau sophia yang artinya hikmat atau pengetahuan. Dengan demikian, filsafat berarti pencari atau pencinta kebijaksanaan. Ini adalah pemahaman secara etimologis. Sementara itu, pada umumnya filsafat dipahami sebagai “pemikiran yang rasional dan kritis dan yang kurang lebih sistematis mengenai seluruh aspek kehidupan manusia, hakikat dunia, dan justifikasi atas keyakinan-keyakinan”.[1] Dengan pemahaman semacam ini, harus ditegaskan, bahwa mereka yang menyebut dirinya atau yang dikenal sebagai filsuf harus menjadi orang yang terus-menerus mencintai kebijaksanaan atau kebenaran, orang yang senantiasa mencari kebenaran dengan mempertanyakan segala sesuatu—termasuk kesadarannya sendiri, orang yang tidak pernah mengklaim diri sebagai yang telah menemukan kebenara, karena kebenaran dalam artinya yang final atau ultim tidak akan pernah diperoleh.

Sebagai sebuah ilmu, apa yang membedakan filsafat dari ilmu-ilmu lain? Sebetulnya filsafat dan ilmu-ilmu lain memiliki kesamaan dasar, yakni sebagai abdi bagi kesejahteraan manusia. Artinya bahwa dengan mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu pada umumnya, manusia memperoleh pengetahuan yang pada gilirannya menjadi sarana untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam hidup sehari-hari. Dan karena tujuan tertinggi manusia adalah mencapai kebahagiaan atau kesejahteraan hidup, maka filsafat dan ilmu-ilmu lain membantu merealisasikan tujuan tersebut. Di sinilah sebetulnya, dari sudut pandang objek material[2], filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan lain memiliki kesamaan dasar. Semuanya mempertanyakan realitas, segala sesuatu yang dijumpai dalam hidup, menemukan jawaban atas persoalan-persoalan yang merisaukan, yang menjengkelkan, menggetarkan, menimbulkan rasa kagum dan heran, pesona, penuh tanya, dan sebagainya. Dengan demikian, dari sudut pandang objek material harus disimpulkan bahwa baik filsafat maupun ilmu-ilmu lain memiliki kesamaan dasar sebagai ilmu pengetahuan rasional yang berusaha mempertanyakan segala sesuatu yang dihadapi dalam hidup dengan maksud untuk menemukan jawaban finalnya.

Yang membuat filsafat berbeda dari ilmu pengetahuan lain adalah objek formalnya. Objek formal adalah cara pendekatan pada suatu objek material yang sedemikian khas sehingga mencirikan, atau mengkhususkan bidang kegiatan bersangkutan.[3] Demikianlah, jika objek material filsafat adalah realitas sejauh eksis (yang sama dengan ilmu-ilmu lain), maka berdasarkan objek formalnya filsafat hendak mendalami dan mencapai sebab-sebab pertama (the first causes) atau sebab-sebab terakhir (the last causes). Sering juga dikatakan bahwa filsafat mau memahami sebab-sebab terdalam dari objek material, yakni manusia di dunia yang sedang mengembara menuju akhirat.[4]

Filsafat pertama-tama sebetulnya merupakan sikap. Yang dimaksud adalah sikap bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu, mempertanyakan apa saja. Filsafat tidak lain dari sebuah metode, yakni cara, kecenderungan, sikap bertanya tentang segala sesuatu, tentu saja termasuk mempertanyakan kesadaran dan pengetahuan subjek yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, mempelajari filsafat membuat orang memiliki sikap kritis yang suka mempertanyakan segala sesuatu. Filsafat selalu merupakan tanda tanya dan tidak pernah merupakan tanda seru. Berhadapan dengan realitas, kita memperlakukannya sebagai masalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan atasnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut akan menghasilkan gagasan-gagasan, ide-ide, atau pemikiran-pemikiran tertentu yang sifatnya sementara karena akan terus dipertanyakan. Dengan demikian, filsafat selalu berurusan dengan pengajuan pertanyaan secara kontinyu. Berfilsafat adalah berada di dalam lingkaran pertanyaan dan menjadi aktor aktif yang mengajukan pertanyaan (lihat diagram 1.1!). Dan ini berbeda dari sikap dogmatis yang menerima segala sesuatu begitu saja, tanpa mempertanyakannya. Inilah sebabnya mengapa filsafat bukan merupakan ideologi atau dogma.

Bukankah dengan bertanya secara terus-menerus, kita berada di dalam keadaan ketidakpastian? Lalu, kepastian apa yang dapat kita jadikan sebagai pegangan untuk menyiasati kehidupan kita sehari-hari? Apakah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kita sama sekali tidak memiliki pengetahuan tertentu? Di sini harus ditegaskan, bahwa ada kepastian yang dapat dipegang, tetapi kepastian ini sifatnya sementara. Artinya bahwa selama kepastian lain belum kita temukan, kita akan mengandalkan diri pada kepastian yang sifatnya sementara itu. Yang penting bisa dipertanggungjawabkan secara rasional dan didukung oleh bukti-bukti yang absah. Dalam mengajukan pertanyaan kita juga sebetulnya memiliki kadar pengetahuan tertentu mengenai apa yang kita tanyakan tersebut. Kadar pengetahuan inilah yang membuat kita kemudian setuju atau menolak jawaban-jawaban yang kita peroleh. Di sini seakan-akan berlaku apa yang disebut sebagai “paradoksal pengetahuan”. Artinya bahwa kita mengalami kahausan dan kekosongan akan kebenaran, dan karena itu kita mengejar atau mencintai kebenaran tersebut, kita membuka diri untuk diisi olehnya, tetapi sekaligus yang dikejar atau dicintai itu sudah ada melalui representasinya dalam sikap mencintai itu sendiri.”

Dari penjelasan di atas dapat ditarik dua kesimpulan berikut. Pertama, filsafat dipahami sebagai upaya, proses, metode, cara, dambaan untuk selalu mempersoalkan apa saja untuk samapai pada kebenaran. Kedua, filsafat dilihat sebagai upaya untuk memahami konsep atau ide-ide atau gagasan-gagasan. Dengan bertanya orang lalu berpikir tentang apa yang ditanyakan. Dengan bertanya orang berusaha menemukan jawaban atas apa yang ditanyakan. Di sini lalu muncul ide atau gagasan tertentu yang dapat menjawab pertanyaan tadi. Ide atau gagasan ini tidak pernah bersifat final, karena akan dipertanyakan lagi. Dalam filsafat, jawaban yang paling akhir dan paling benar tidak pernah akan ditemukan.

Orang yang suka mengajukan pertanyaan, yang terus-menerus mempersoalkan segala sesuatu dapat disebut sebagai filsuf. Jika demikian, apakah semua orang dapat disebut sebagai filsuf? Berdasarkan hakikatnya semua orang dapat disebut sebagai filsuf, sejauh memiliki sifat-sifat suka mempertanyakan atau mempersoalkan segala sesuatu tersebut. Ada pendapat yang mengatakan bahwa semua orang dapat disebut sebagai filsuf umum.  Ini mau dibedakan dengan filsuf khusus yang membaktikan hidupnya dan menjadikan filsafat sebagai profesi, yang mempertanyakan segala-sesuatu sebagai mata pencahariannya, yang mempersoalkan gagasan-gagasan, mendiskusikan, dan menuliskannya, yang mencari hubungan-hubungan antara satu pemikiran dengan pemikiran lainnya. Barangkali kelompok kedua ini yang pantas disebut sebagai ahli filsafat atau filsuf dalam artinya yang khusus.

B.      Sumber-Sumber Filsafat

Filsafat bersumber pada pengalaman hidup sehari-hari.[5] Dengan demikian, filsafat bersifat terbuka kepada semua orang, terutama kepada mereka yang tidak mau puas dengan kejelasan realitas. Oleh karena senjata utama filsafat adalah bertanya (mengajukan pertanyaan-pertanyaan), maka dengan bertanya kita sebetulnya terus mempersoalkan realitas. Pertanyaan biasanya diajukan, baik kepada kejelasan realitas maupun kepada subjek yang bertanya (mengetahui) itu sendiri.

Meskipun demikian, tidak semua peristiwa sehari-hari bisa difilsafatkan. Ada peristiwa tertentu yang dirasakan unik dan bermakna badi pribadi—hal yang eksistensial—saja yang biasanya difilsafatkan. Peristiwa-peristiwa unik tersebut antara lain kelahiran, kematian, pernikahan, penderitaan, pertobatan, rasa terperanjat, penyembuhan, dan sebagainya.

Tiga hal yang mendorong manusia berfilsafat (bertanya-tanya dan mencari jawaban ultimnya):

  1. 1. Keheranan (Kekaguman)

Filsafat dipahami sebagai bertanya-tanya disertai rasa kagum/heran.

Beberapa filsuf menggarisbawahi hal ini.

(a) ARISTOTELES

Di dalam segala kegiatan manusia sehari-hari, filsafat—dengan rasa heran sebagai perangsangnya—menelusuri kembali/terus bertanya tentang apa-apa yang diambilnya. “Kemampuan untuk mengadakan renungan filsafat mengangkat manusia di atas martabat dan derajatnya sendiri.”

(b) PLATO

Orang yan berfilsafat diibaratkan dengan keadaan perjumpaan dengan (atau menjadi perantara dengan) dewa. Katanya, keadaan heran membuat seseorang menjadi pening karena telah mengatasi keadaan biasa, dan mulai berjumpa dengan perspektif orientaso bagi dirinya.

(c) IMANUEL KANT (1724 – 1804)

Dengan ucapan yang amat tersohor: “Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me”. Kedua gejala yang paling mengherankan Kant adalah “langit berbintang-bintang di atasku”, dan “hukum moral dalam hatiku”.

(d) GABRIEL MARCEL

Dengan keheranan/kekaguman seseorang mengambil sikap menjadikan realitas bukan sebagai fakta tetapi sebagai misteri. Dalam pemahaman realitas sebagai misteri itulah teruntai indah hubungan I – Thou menjadi reaksi “kekitaan”.

  1. 2. Kesangsian

Terumuskan dalam pertanyaan, “Apakah saya sungguh-sungguh bisa mengetahui sesuatu?” “Apakah sesuatu yang ku ketahui itu tidak menipuku?” Kalau saya ditipu oleh panca inderaku, maka keheranan dengan sendirinya akan gugur.

Di sini bisa disebutkan beberapa contoh:

(a) AGUSTINUS (354 – 430 M)

Dalam ajarannya tentang iluminasi Agustinus menggeluti dengan serius masalah skeptisisme sebagai aliran pemikiran yang bisa diandalkan atau tidak. Dan menurut Agustinus, skeptisisme tidak tahan uji. Katanya: “Jika saya menyangsikan segala sesuatu, tidak dapat saya sangsikan bahwa saya sangsikan. Memang ada atau terdapat kebenaran-kebenaran yang teguh. Rasio insani dapat mencapai kebenaran-kebenaran yang tak terubahkan. Hak ini mungkin terjadi karena kita mengambil bagian di dalam Rasio Ilahi, di mana di dalam Rasio Ilahi tersebut terdapat kebenaran-kebenaran abadi: kebenaran-kebenaran yang mutlak dan tak terubahkan. Rasion Ilahi itu menerangi rasio insani. Allah adalah guru batiniah yang bertempat tinggal di dalam batin kita dan menerangi roh manusiawi kita dengan kebenaranNya.

(b) RENE DESCARTES (1596 – 1650 M)

Descartes terkenal sebagai filsuf skeptis yang berusaha mencari suatu kebenaran yang menjadi fondasi bagi segala pengetahuan. Menurutnya, kebenaran itu bersifat final, dalam arti kebal terhadap kesangsian. Untuk mencapai pengetahuan semacam itu ditempuh melalui jalan menyangsikan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang umumnya sudah diangngap sebagai jelas, seperti dunia material, dimensi kebertubuhanku, dan bahwa Allah ada. Bagi Descartes, kebenaran yang tidak bisa disangsikan adalah cogito ergo sum yang artinya “saya berpikir, jadi saya ada”. Kebenaran tunggal ini yang membuat Descartes mampu memahami realitas secara claro et distincta. Inilah norma untuk menentukan kebenaran.

C.     Kesadaran akan keterbatasan

Di hadapan realitas yang terbatas ini manusia dengan dinamisme pikirannya berupaya untuk menemukan sesuatu yang tidak terbatas, yakni Realitas Mutlak. Begitu pula dengan pengalaman-pengalaman yang menggoncangkan eksistensi manusia, seperti kematian orang yang dicintai, kematian orang-orang yang tidak berdosa, bahkan kenyataan bahwa suatu ketika kita akan mati.

Beberapa conto filsuf bisa disebutkan di sini.

KARL JASPER (1883 – 1969)

Di hadapan berbagai macam ilmu yang juga berbicara mengenai manusia, Jasper tidak menemukan satu ilmu pun yang berbicara mengenai “aku sebagai subjek”. Proyek pencarian jati dari “aku sebagai subjek” inilah yang ia sebut sebagai penerangan eksistensi (existenzerhellung).

Existenzerhellung ini terjadi lewat:

1)            Mengatasi dunia yang terbatas ini. Saya yang sudah terbatas tidak bisa menemukan dunia yang mendasari jati diriku dalam hal-hal yang terbatas. Apalagi saya tidak bisa melebur diri di dalam hal-hal yang terbatas.

2)            Kemungkinan “penemuan” dunia yang menjadi dasar keberadaanku bisa mulai dirintis, antara lain lewat komunikasi yang sejati dengan sesama. Dalam komunikasi sejati di mana tidak ada kemungkinan saling mengobjekkan, manusia mulai memahami realitas yang lebih tinggi yang mendasari komunikasi sejati tersebut.

3)            Jasper suka dengan idea Agustinus mengenai esse ad Deum (ke-ada-an manusia itu terarah kepada Allah). Allah yang hanya bisa diikuti jejak-jejaknya (vestigia Dei) melalui kesenian, mitologi, simbol-simbol, justru menjadi realitas terakhir yang mengandung makna bagi eksistensiku. Bagi Jasper, (a) Allah ada atau ketiadaan. Dan Jasper memilih Allah ada; (b) kalau Allah ada, maka saya bisa berbicara juga mengenai tuntutan-tuntutan etis yang absolut, yang akhirnya dirancang dan didasri oleh Allah; (c) dunia mempunyai status yang bersifat sementara di antara Allah dan manusia.

D.   Cabang-cabang filsafat

Sebagai sebuah ilmu, filsafat dapat dibedakan menurut cabang-cabangnya. Pembagian ilmu filsafat ke dalam cabang-cabangnya didasarkan pada bagaimana cabang-cabang tersebut mengabstraksi[6] realitas yang dihadapinya. Ini sekaligus menentukan perbedaan level atau tingkat abstraksi pengetahuan filosofis manusia. Terdapat dua level utama dari abstraksi, yakni abstraksi spekulatif atau teoretis dan abstraksi normatif atau praktis. Mari kita lihat level abstraksi dan cabang-cabang filsafat berikut ini:

1. Abstraksi spekulatif/teoretis

  • Abstraksi tingkat pertama: Di sini akal budi mengabsraksikan realitas singular atau individualitas sebagai sesuatu yang bergerak dan dapat diinderai. Di sini terdapat cabang filsafat alam, seperti psikologi dan kosmologi.
  • Abstraksi tingkat kedua: Di sini akal budi mengabstraksi realitas yang bergerak sebagai kuantitas. Di sini terdapat bidang ilmu matematika.
  • Abstraksi tingkat ketiga: Di sini akal budi mengabstraksi realitas kuantitas sebagai pengada-pengada. Di sini terdapat cabang filsafat metafisika, seperti ontologi dan teodise.

2. Abstraksi normatif/praktis

  • Abstraksi tingkat pertama: Di sini objek dari kerja atau operasi akal budi adalah kebenaran. Cabang filsafat yang penting di sini adalah logika.
  • Abstraksi tingkat kedua: Di sini kerja atau operasi akal budi yang terjadi secara volisional (berdasarkan kemauannya sendiri), memiliki kebaikan sebagai objek.
  • Abstraksi tingkat ketiga: Di sini terdapat operasi akal budi yang sifatnya artistik, dengan keindahan sebagai objeknya. Di sini terdapat cabang filsafat estetika.

Pembagian filsafat yang paling mudah dan paling banyak diiukuti adalah sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles. Aristoteles membagi filsafat ke dalam tiga bagian pokok, yakni filsafat teoretis, praktis, dan puitis. Masing-masing bagian tersebut dapat diringkas sebagai berikut.

  1. Filsafat teoretis atau spekulatif. Di sini akal budi mengejar pengetahuan demi dirinya sendiri. Cabang filsafat yang terdapat di sini adalah filsafat alam (kosmologi dan psikologi), gnoseologi, metafisika (ontologi dan teodise), dan sejarah.
  2. Filsafat praktis atau normatif. Di sini akal budi mengejar pengetahuan demi tindakan tertentu. Cabang filsafat yang terdapat di sini adalah etika, politik, logika, dan pedagogi.
  3. Filsafat puitis. Di sini akal budi mengejar pengetahuan demi keindahan. Cabang filsafat yang terdapat di sini adalah estetika.

[1]Encyclopedia Americana, vol. 21, h. 925.

[2] Objek material artinya apa yang dikupas atau dibahas sebagai bahan atau materi. Di sini objek material dari filsafat dan semua ilmu lainnya adalah realitas sejauh eksis atau ada.

[3] C. Verhaak dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan. Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 1991, h, 1.

[4] Loc. Cit

[5] C.A. van Peursen, Orientasi Di Alam Filsafat, PT Gramedia Pustaka Utama, 1991, h. 1-18.

[6] Abstraksi berasal dari kata bahasa Latin, yakni abstrahere, yang artinya menjauhkan diri atau mengambil diri.