Yusril Bisa Mengalahkan Ahok dalam Pemilukada DKI? Lagi-lagi Sebuah Kesesatan Berpikir


Yusril Vs Ahok
Yusril Vs Ahok di Pemilukada DKI 2017?

Tampaknya tidak akan pernah bisa memastikan sampai kapan ruang publik dinodai oleh pikiran-pikiran sesat dalam arti tidak mengikuti kaidah-kaidah berpikir logis. Saya sudah mempublikasi beberapa di antaranya, dan dengan itu berharap bahwa pihak-pihak yang berkesempatan menyampaikan pendapatnya di ruang publik melakukannya secara benar dan logis. Jika itu tidak tercapai, berarti tugas kita sebagai pendidik masih berat dan menantang. Kali ini, mari kita simak sebuah berita mengenai pemilukada. Kompas.com (lihat http://megapolitan.kompas.com/read/2015/12/09/20215361/Yuslih.Kalahkan.Adik.Ahok.Yusril.Ditantang.Maju.di.Pilkada.DKI?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=kpoprd) menurunkan sebuah berita menggelikan. Yusril Ihza Mahendra, pakar Tata Negara didorong maju mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI menantang Ahok dalam Pemilukada serentak 2017. Pihak yang mendorong itu bernama Eko Dafid Afianto, Managing Director Cyrus Network Research and Consulting.

Mari kita simak alasan-alasan dibalik tantangan Eko Dafid ini.

  1. Yuslih Ihza Mahendra, kakak kandung Yusril Ihza Mahendra telah berhasil mengalahkan Basuri Cahya Purnama, adik kandung Ahok dalam Pemilukada di Belitung Timur.
  2. Tingkat partisipasi warga Belitung Timur dalam pemilukada cukup tinggi, yakni 78,74 persen.
  3. Kekalahan Basuri menunjukkan bahwa kinerja adik Ahok itu belum memuaskan selama 5 tahun memerintah.
  4. Telah terjadi perpindahan kekuasaan dari klan Purnama ke klan Mahendra.

Menurut teman-teman, adakah sesuatu yang aneh dari keempat alasan yang saya kemukakan di atas? Saya ingin membedahnya berdasarkan beberapa kaidah logis (hukum berpikir logis) yang saya ketahui.

Pertama, alasan nomor 1-3 memang mengarah ke kenyataan dalam arti memiliki kandungan kebenaran berdasarkan kenyataan real. Meskipun demikian, alasan nomor 1 dan 2 lebih mendekati kenyataan (kebenaran keras/hard truth) dibandingkan dengan alasan nomor 3 (kebenaran lunak/soft truth). Betul bahwa Yuslih adalah kakak kandung Yusril. Juga betul bahwa Basuri adalah adik kandung Ahok. Betul juga bahwa partisipasi warga Belitung Timur dalam Pemilukada tergolong tinggi. Ini bisa dicek kebenarannya dengan memeriksanya dalam kenyataan. Tidak demikian dengan alasan nomor 3 yang menurut saya masih bisa diperdebatkan. Kita membutuhkan indikator-indikator khusus untuk bisa menjustifikasinya.

Kedua, alasan nomor 1 dan nomor 4 mengandung kesesatan serius. Fakta bahwa Yuslih Ihza Mahendra “berhasil” mengalahkan Basuri dalam Pemilukada di Belitung Timur tahun 2015 tidak berarti bahwa “Yusril “akan berhasil” mengalahkan Ahok dalam Pemilukada DKI 2017. Alasannya bukan karena Ahok susah dikalahkan, juga bukan karena Yusril sangat hebat sehingga bisa menjadi pemenang. Poin yang menyesatkan justru terdapat pada asumsi tersembunyi bahwa Ahok bisa dikalahkan dan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengalahkannya. De facto keluarga Mahendra terbukti bisa mengalahkan keluarga Purnama, itu menjadi modal yang baik untuk pertarungan memperebutkan Kursi DKI-1.

Jadi, apa yang salah dengan asumsi ini? Atau, apa yang salah dengan pendapat Dafid Afianto? Kenyataan mengenai keluarga Mahendra dan keluarga Purnama serta kiprah politik masing-masing anggotanya tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk menyimpulkan sebuah kemenangan politik. Kalau pun bisa, saudara David Afianto harus mampu menunjukkan paralelisme itu dengan praktik politik tertentu yang pernah eksis dalam sejarah. Kalau pun itu ada, apakah satu paralelisme saja cukup? Sebagai peneliti, mestinya saudara David Afianto mengerti dengan baik apakah hanya satu atau dua kenyataan partikular dapat menjadi alasan untuk menarik sebuah kesimpulan?

Aturan berpikir kritis menuntut adanya term menengah atau penghubung antara fakta sebelum menarik kesimpulan. Tetapi juga diandaikan sekurang-kurangnya sebuah kenyataan objektif-universal sebagai penjustifikasi kebenaran ketika tidak tercapainya populasi yang dituntut dalam sebuah penelitian. Dalam arti itu, pernyataan saudara David Afianto itu tidak hanya menyesatkan dan ngawur tetapi cendrung bodoh.

Ketiga, bagaimana dengan alasan nomor 4 di atas? Ini lebih ngawur dan bodoh. Dengan mengatakan hal semacam ini, saudara David Afianto menegasikan proses demokrasi yang sangat menekankan kesetaraan dan bukan politik klan. Apakah yang bertarung dalam Pemilukada di Belitung Timur adalah keluarga Mahendra Vs keluarga Purnama? Apakah itu sebuah labelisasi yang sah dan tampak selama proses kampanye dan pencoblosan kemarin? Jika itu sebuah labelisasi yang sah, apakah David Afianto menerimanya juga sebagai wajar?

Per definisi, klan adalah “sekelompok orang yang disatukan oleh kekerabatan dan keturunan aktual atau yang dibayangkan sebagai ada, yang anggota-anggotanya mengatur dan membangun kekerabatan berdasarkan ikatan-ikatan kekerabatan turun-temurun maupun simbolik (lih. https://en.wikipedia.org/wiki/Clan). Kita tidak tahu, apakah Purnama dan Mahendra itu benar dan layak disebut sebagai klan atau sekadar nama sebuah keluarga? Jika ternyata Mahendra atau Purnama bukan klan, maka apa yang dikatakan David Afianto tidak lebih dari sekadar bualan tanpa fakta. Berdasarkan hukum berpikir logis, apa yang dikatakan David Afianto ini disebut sebagai “beban pembuktian pada pembaca”.

Karena kita tidak sedang berdialog atau berdebat secara langsung dengan David Afianto, maka dia harus menanggung beban pembuktian tersebut supaya dia bisa meyakinkan kita bahwa apa yang dikatakannya itu benar dan logis. Jika tidak, dia sendiri akan jatuh ke kesesatan berpikir yang disebut sebagai “argumen ketidaktahuan” (argument from ignorance) dalam arti menyimpulkan sesuatu karena ketidaktahuan (lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Philosophic_burden_of_proof). Mengasumsikan berdasarkan profilnya, Eko David Afianto adalah seorang terpelajar (https://www.linkedin.com/in/eko-dafid-afianto-b73b06ab), seorang lulusan Perguruan Tinggi terkemuka yang seharusnya tidak bertindak gegabah dalam menyampaikan pendapat. Alasannya, beberapa hukum berpikir logis yang saya kemukakan di atas adalah materi pembelajaran critical thinking di tingkat-tingkat awal studi di perguruan tinggi. Karena itu, jika saudara David Afianto memaksudkan ini sebagai benar demikian, saya justru ragu, apakah Beliau sedang menganalisis realitas politik secara ilmiah atau sedang menawarkan dagangan (Cyrus Network) untuk Pemilukada yang akan datang.[]

Format Baku Argumen


Mempresentasikan Argumen dalam Bentuk Standar

Argumen dalam bentuknya yang baku sangat bermanfaat, terutama ketika kita harus menyusun dan mengidentifikasi argumen itu sendiri. Selain itu, harus diingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita biasanya tidak menghadapi argumen dalam bentuknya yang baku (standar). Bentuk baku sebuah argumen harus selalu dikembalikan ke dalam premis-premis dan kesimpulan.

Perhatikan contoh berikut.

Premis 1: Jika Anda ingin mendapat pekerjaan yang baik, Anda harus rajin bekerja.

Premis 2: Anda memang ingin mendapatkan pekerjaan yang baik

Kesimpulan: Jadi, Anda harus rajin bekerja.

Ini adalah bentuk argumen yang baku (standar). Mari kita menuliskan dua argumen lagi menggunakan bentuk yang standar:

  • Kita seharusnya tidak menyertakan rasa sakit yang tidak perlu pada sapi dan babi. Lebih dari itu, kita tidak seharusnya menyertakan rasa sakit yang tidak perlu pada binatang yang memiliki kesadaran, dan sapi dan babi adalah binatang-binatang yang memiliki kesadaran.

Premis 1: Kita tidak seharusnya menyertakan rasa sakit pada setiap binatang yang memiliki kesadaran.

Premis 2: Sapi dan babi adalah binatang yang memiliki kesadaran

Kesimpulan: Jadi, kita tidak seharusnya menyertakan rasa sakit pada sapi dan babi.

  • Jika cairan ini bersifat asam, kertas lakmus akan berubah menjadi merah. Tetapi itu tidak terjadi. Karena itu, cairan ini pasti bukan asam.

Premis 1: Jika cairan ini adalah asam, kertas lakmus akan berubah menjadi merah.

Premis 2: Kertas lakmus tidak berubah menjadi merah.

Kesimpulan: Cairan ini pasti bukan asam.

Dalam mempresentasikan argumen dalam bentuknya yang baku, premis-premis dan kesimpulan harus dapat diidentifikasi secara jelas. Kadang-kadang kita juga harus menulis kembali beberapa kalimat tertentu untuk membuat maknanya menjadi lebih jelas, misalnya pada premis 2 dari contoh kedua di atas. Perhatikan juga bahwa kesimpulan tidak harus ada di akhir dari sebuah wacana yang mengandung argumen sebagaimana ditunjukkan dalam contoh 1 di atas. Kadang-kadang justru terjadi bahwa sebuah argumen tidak ditulis secara eksplisit. Misalnya, ketika itu diungkapkan dalam pertanyaan retorik berikut:

“Bagaimana mungkin Anda percaya bahwa korupsi itu tindakan yang dapat diterima? Tindakan semacam itu tentu tidak adil dan melanggar hukum.”

Pertanyaan retoris semacam ini mengandung sebuah argumen. Kita harus menulis kembali argumen itu dalam bentuk premis-premisnya sebagai berikut.

Premis: Korupsi itu tindakan yang tidak adil dan bertentangan dengan hukum.

Kesimpulan: Korupsi adalah tindakan yang tidak bisa diterima.

Dua catatan sehubungan dengan bentuk baku dari argumen dapat diberikan berikut. Pertama, jika Anda ingin meningkatkan keterampilan membaca dan memahami, Anda harus terus melatih diri dalam hal merekonstruksi argumen yang Anda hadapi dengan cara menulisnya kembali secara hati-hati dalam bentuknya yang baku. Kedua, ketika mengemukakan argumen, Anda sebaiknya tidak sekadar membela posisi dan pendapatmu. Harus diingat bahwa dengan mengemukakan argumen kita justeru dapat memahami posisi kita dan posisi orang lain secara lebih baik.

Latihan

Tulislah kembali atau rekonstruksikan ulang argumen-argumen di bawah ini ke dalam bentuknya yang baku.

  1. Anton bisa jadi sedang berada di Surabaya atau di Bandung. Menurut Pak Teguh, Anton tidak sedang berada di Surabaya. Jika begitu, dia seharusnya sedang berada di Bandung.
  2. Jika pemerintah daerah berencana membangun Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di daerah ini, warga masyarakat yang ada di daerah ini harus dikompensasi. TPA dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi penduduk di sekitarnya. Masyarakat tidak akan memilih tinggal di daerah ini jika semula sudah mengetahui rencana pemerintah daerah tersebut.
  3. FIFA akan menjatuhkan sanksi yang berat terhadap pemain yang suka melakukan aksi pura-pura jatuh (diving) selepas Piala Dunia 2014 di Brazil. Pemain yang suka melakukan aksi diving seperti Arjen Roben atau Didier Drogba harus berhati-hati jika ingin terus berkarier di sepak bola. Arjen Roben dan Didier Drogba ternyata berhasil mengendalikan diri untuk tidak melakukan aksi diving sampai mereka gantung sepatu belum lama ini.
  4. Jika kita tidak memperkuat sistem pendidikan, maka pendidikan di sekolah-sekolah akan hancur. Dampaknya, sekolah-sekolah akan mendidik dan menghasilkan generasi muda yang tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan dunia kerja, dan itu akan menyulitkan mereka untuk keluar dari garis kemiskinan. Kita tidak boleh membiarkan situasi buruk ini terjadi. Karena itu, kita harus memperkuat sistem pendidikan kita.
  5. Meskipun Presiden terus meyakinkan kita bahwa pemerintahannya akan menjamin dan meningkatkan keamanan, kita tidak melihat bukti atau tanda-tanda ke arah itu. Mobil, motor, atau rumah kita sering menjadi sasaran aksi pencurian, dan ini membuat kita kesal dan marah. Keamanan dan rasa aman harus dimulai dari rumah, dan kita tidak harus memilih lagi Presiden yang tidak sanggup mewujudkan janji-janjinya.

Mengidentifikasi Argumen


Bagaimana mengidentifikasi sebuah argumen dalam kehidupan nyata? Tidak ada aturan yang mekanis dan mudah. Banyak kali juga kita harus mengandalkan konteks supaya bisa menentukan manakah premis dan manakah kesimpulan. Tetapi kadang-kadang pekerjaan kita menjadi jauh lebih mudah karena kehadiran premis tertentu atau indikator-indikator kesimpulan. Misalnya, jika seseorang membuat sebuah pernyataan, dan kemudian menambahkan “ini karena ….”, tampak bahwa pernyataan pertama ditampilkan sebagai kesimpulan yang didukung oleh pernyataan-pernyataan yang muncul kemudian.

Misalnya:

  1. Pedagang kaki lima di daerah ini menolak rencana relokasi oleh pemerintah daerah.
  2. Ini karena tempat baru yang digunakan untuk relokasi itu letaknya jauh dari keramaian penduduk.

Premis pertama itu sebetulnya adalah kesimpulan dari argumen tersebut.

Kata-kata lain yang juga dapat digunakan sebagai indikator premis adalah sebagai berikut.

  • Sejak …
  • Pertama, kedua, dst ….
  • Karena …
  • Ini merupakan implikasi dari …
  • Berdasarkan …
  • Sebagaimana ditunjukkan …
  • Sebagaimana diindikasikan …
  • Dapat disimpulkan …

Sekali lagi, tidak selalu otomatis untuk menunjukkan premis-premis berdasarkan indikator-indikator di atas. Kita juga harus selalu memperhatikan konteks. Misalnya, kata “sejak” memiliki fungsi yang sangat berbeda dalam dua pernyataan berikut.

(1) Saya sudah bekerja di kantor ini sejak sepuluh tahun yang lalu.”
(2) Sejak menikah dengan Maria, aku berhenti merokok.

Kata “sejak” dalam pernyataan pertama jelas bukan indikator premis. Sementara kata “sejak” dalam pernyataan kedua termasuk indikator sebuah premis.
Kesimpulan: saya berhenti merokok.
Premis (pendukung kesimpulan): Saya menikah dengan Maria.
Sementara itu, kata-kata berikut dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesimpulan.

• Implikasi lebih lanjut adalah …
• Kita dapat menyimpulkan bahwa …
• Hal ini memperlihatkan bahwa …
• Jadi, …
• Dengan demikian …
• Sesuai dengan itu …
• Konsekuensinya …
• Maka …
• Karena itu …

Beberapa contoh di bawah ini tidak mengandung satu argumen pun.

  1. Orang cenderung mengkonsumsi banyak air jika berkeringat [hanya satu premis tunggal, tidak memadai untuk membentuk sebuah argumen]
  2. Pada zaman dahulu hiduplah seorang pangeran dan ratu. Mereka hidup bahagia dan suatu waktu mereka memutuskan untuk memiliki seorang anak. Tetapi anak mereka ternyata bertumbuh menjadi orang yang nakal dan kasar sehingga mereka sangat menolaknya [sebuah deskripsi kronologis yang terdiri dari beberapa pernyataan bukanlah sebuah argumen. Ini karena tidak ada premis-premis maupun kesimpulan].
  3. Dapatkah Anda hadir dalam pertemuan besok? [Ini jelas bukan argumen karena merupakan kalimat tanya]

Latihan
Identifikasikan argumen (premis-premis dan kesimpulan) dari wacana-wacana di bawah ini!

  1. Dua pekan menjelang bulan Ramadan, harga beberapa bumbu dapur mulai naik. Di antaranya bawang merah dan bawang putih yang umumnya meningkat sejak sepekan yang lalu. Yatmi, 49 tahun, pedagang di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur membenarkan harga bawang merah dan putih sedang naik. Ia menuturkan, bawang putih yang biasanya Rp 12.000-18.000 per kilogram saat ini sudah mencapai Rp 20.000 per kilogram. Bawang merah asal Brebes, Jawa Tengah biasanya pada sebulan yang lalu berada di kisaran harga Rp 10.000-12.000 kilogram, saat ini telah mencapai Rp 20.000 per kilogram. “Pasokan dari Brebes sedang berkurang, sehingga harga di agen lebih tinggi dari biasanya,” Yatmi melanjutkan (Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/06/17/090585686/Harga-Bawang-Merah-dan-Bawang-Putih-Merangkak-Naik)
  2. Semua karyawan di kantor ini berpendidikan sarjana. Mereka tidak menunggu waktu lama untuk mendapat pekerjaan yang diinginkan begitu selesai kuliah. Itu berarti mereka yang berijasah sarjana tidak sulit mendapatkan pekerjaan.
  3. Identifikasikan argumen yang terdapat dalam wacana berikut (wacana diketik miring). Saya yakin semua orang akan setuju bahwa hidup ini pantas dilindungi, dan bahwa alam semesta menjamin kelangsungan hidup semua makhluk. Karena itu, dapat dimengerti bahwa kita wajib melindungi alam. Satu ancaman khusus terhadap alam adalah emisi gas rumah kaca. Ini karena gas rumah kaca menyerap energi matahari, menyebabkan pemanasan planet, di mana pemanasan planet itu sendiri dapat menghancurkan lingkungan itu sendiri. Karena itu, kita tidak bisa menolak kesimpulan yang menyatakan bahwa kita harus mengurangi emisi gas rumah kaca.
  4. Bill akan membayar uang tebusan yang dimintakan para penculik. Ini karena dia sangat mencintai isteri dan anak-anaknya dan akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan mereka.
  5. Direktur Utama PT KAI (Persero) Ignasius Jonan menilai megaproyek Shinkansen alias kereta api cepat Jakarta-Bandung yang menelan investasi sekitar Rp 56 triliun tidak berkeadilan. “Soal kereta cepat Jakarta-Bandung, saya yang paling menentang. Itu tidak berkeadilan,” kata Jonan di Jakarta, Senin (30/6/2014). Jonan mengatakan, dirinya menolak pembangunan proyek itu jika didanai dengan anggaran APBN, baik langsung maupun dengan cara utang. Menurut dia, proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung tidak terlalu penting dibanding mengembangkan kereta api trans-Sumatera, trans-Kalimantan, trans-Sulawesi, serta trans-Papua. “Rohnya APBN itu NKRI. Kalau Jawa aja yang maju, ya merdeka aja Papua dan lainnya itu,” ucap Jonan (Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/07/01/0805385/Dirut.PT.KAI.Saya.Menentang.Kereta.Cepat.Jakarta-Bandung).

ARGUMEN


Mari kita bahas lebih lanjut salah satu materi penting dalam logika, yakni argumen. Kali ini saya hanya akan menguraikan pengertian argumen. Lain waktu, saya akan menjelaskan lebih lanjut aspek-aspek lain dari argumen, misalnya bagaimana mengidentifikasi argumen, bentuk baku sebuah argumen, validitas sebuah argumen, argumen yang masuk akal, dan sebagainya. Tugas Anda adalah mendalami materi ini dan kemudian mengerjakan soal-soal yang diberikan.

Pengertian Argumen

Salah satu bagian terpenting dari berpikir kritis adalah mengidentifikasi, membangun, dan mengevaluasi argumen.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan orang memahami argumen sebagai pertengkaran atau adu mulut antarindividu. Argumen dalam logika dan pemikiran kritis tidak dipahami seperti itu. Argumen lebih dimengerti sebagai rangkaian pernyataan, di mana salah satunya adalah kesimpulan dan yang lainnya adalah premis (asumsi) dari argumen tersebut.

Mengemukakan sebuah argumen selalu merupakan tindakan rasional mengajukan serangkaian pernyataan yang berfungsi sebagai alasan untuk menerima kesimpulan tertentu. Mengemukakan sebuah argumen tidak harus berarti menyerang atau mengkritik seseorang. Argumen dapat juga digunakan untuk mendukung pandangan orang lain.

Perhatikan contoh berikut:

  • Jika Anda ingin mendapatkan sebuah pekerjaan, Anda harus bekerja keras (1)
  • Anda memang sungguh-sungguh ingin mendapatkan sebuah pekerjaan (2)
  • Jadi, Anda harus bekerja keras (3)

Dua pernyataan pertama dalam contoh di atas berfungsi sebagai premis dari argumen. Sementara pernyataan ketiga adalah kesimpulan. Tampak jelas dalam argumen ini bahwa kesimpulan dapat diterima sebagai konsekuensi logis dari kedua premisnya. Dengan kata lain, kedua premis yang diberikan itu menjadi alasan untuk menerima kesimpulan dalam sebuah argumen.

Perhatikan beberapa catatan kritis berikut.

  • Orang-orang dogmatiscenderung menerima suatu kesimpulan tanpa memberikan alasan-alasan yang mendukungnya. Ketika mereka dikritik karena bersikap demikian, mereka umumnya tidak mampu memberikan atau membangun argumen yang memadai untuk mendukung posisinya (Catatan: dogma = [n] (1) pokok ajaran (tt kepercayaan dsb) yg harus diterima sbg hal yg benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan; (2) keyakinan tertentu Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/dogma#ixzz36ByIrDuk).
  • Untuk memperbaiki dan mempertajam keterampilan berpikir kritis, kita harus membangun kebiasaan selalu menyediakan argumen-argumen yang baik untuk mendukung opini kita.
  • Jika harus membela sebuah opini, pertimbangkan apakah Anda bisa memberikan lebih dari satu argumen pendukungnya. Juga, pertimbangkan kemungkinan-kemungkinan keberatan kontra atas argumen Anda, misalnya argumen-argumen yang melawan opini Anda. Seorang pemikir yang baik akan mempertimbangkan argumen dari kedua sisi sebuah isu.

Latihan 1

Pertimbangkan, apakah Anda bisa memberikan argumen tertentu yang dapat mendukung beberapa keyakinan Anda.

  • Menurut Anda, apakah keadaan ekonomi negara ini akan semakin baik atau semakin buruk dalam enam bulan ke depan? Mengapa dan mengapa tidak? Argumen apa yang dapat Anda berikan untuk mendukung posisi Anda?
  • Menurut Anda, apakah orang beragama hidupnya jauh lebih bermoral dari orang-orang yang tidak beragama? Argumen apa yang dapat Anda berikan untuk mendukung pandangan Anda? Pastikan bahwa argumen Anda disusun dari pernyataan-pernyataan.

LANGKAH-LANGKAH BERPIKIR KRITIS


Gunakan langkah-langkah berpikir kritis sebagaimana dibahas dalam buku Critical Thinking (Kasdin Sihotang, dkk, Sinar Harapan, Jakarta: 202, hlm. 7-8) untuk membedah artikel berjudul “Menyimak Gelagat Rudi Rubiandini” di bawah ini.

Menyimak Gelagat Rudi Rubiandini

             BANYAK orang mengaku terhenyak dengan ditangkapnya Rudi Rubiandini, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Tragis memang, mengingat posisinya juga sebagai mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Bahkan secara akademik, gelar guru besar juga disandang.

Lebih miris lagi, justru dia tertangkap tangan bersama dengan uang dalam valuta dolar AS senilai $400 ribu atau lebih dari Rp 4 miliar. Ada motor merek BMW pula yang ikut diangkut Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai barang bukti dugaan suap. Pupus sudah persepsi yang dibangun Rudi. Sejatinya, dari gelagat yang diperlihatkan ke publik melalui media, dia ingin tampil sebagai pejabat sederhana dengan cara menumpang kereta kelas ekonomi saat mudik. Foto keberadaannya di besi merayap itu pun disebarkan media – entah media ikut atau memang sengaja disebarkan. Selain itu, dosen teladan Institut Teknologi Bandung ini juga ingin mencitrakan diri sebagai pejabat yang peduli terhadap pemberantasan korupsi. Ketika menjadi Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, dia mendatangi KPK dengan sesumbar ingin mencegah terjadinya korupsi di sektor migas.

Usia pencitraan Rudi tak berlangsung lama. Hijab itu terbuka sudah. Bahkan selain dana $700 ribu dolar yang Rudi terima secara langsung, KPK menemukan miliaran dananya yang lain berceceran di banyak tempat. Dari kotak deposit pada Bank Mandiri hingga brankas ruang kerjanya.

Apa yang terjadi pada Rudi, sejatinya mengajarkan kita pada satu hal penting. Pencitraan yang dilakukan oleh pejabat publik, sangat mungkin sebagai pengelabuan atau deception dalam rangka membangun persepsi. Salurannya adalah media. Memang, secara jurnalistik, sudut pandang sisi kemanusiaan atau human interest seorang tokoh menarik diliput. Sayangnya, nalar kritis pun ikut larut. Hanyut bersama medianya yang mudah takjub. Gelagat pejabat mencitrakan dirinya dengan pendekatan human interest ini sebenarnya tak hanya dilakukan Rudi. Masih ada yang lain.

Sebagai contoh, beberapa menteri merasa perlu menginap di rumah petani miskin dana demi dicitrakan sebagai pejabat peduli rakyat. Foto pun disebar lewat media, yang kemudian menyajikannya kepada pembaca. Padahal tidak ada hubungan antara tidur di rumah petani dengan tugas sebagai pejabat publik yang diemban. Begitulah memang model pengelabuan alias deception. Seperti pemain sulap. Tugasnya adalah menjajah serta menguasai pemikiran dan persepsi publik agar mempercayai peran manipulatif yang dimainkan.Dalam kerangka berpikir pengelabuan itu, para pelaku menciptakan fiksi atau dunia mimpi semacam mitologi Cinderella. Kisah inilah yang disajikan.

Model lain dalam upaya pengelabuan, ada juga melalui penyembunyian fakta sesungguhnya. Contoh paling mudah bisa dilihat pada pejabat publik yang biasa mengumumkan sudah melepas semua bisnisnya saat pertama diangkat. Padahal tidak seperti itu kebenarannya. Hanya beralih nama, tapi tidak pindah kepemilikan.

Mengapa perlu menyembunyikan jika memang tidak memiliki niat jelek? Kembali soal Rudi. Dalam gelagatnya yang terakhir diketahui ini, dia sudah memperlihatkan bukan sebagai tokoh sederhana dan lugu seperti pengelabuannya. Selera terhadap motor klasik merek BMW serta uang miliaran yang tak masuk dalam sistem keuangan rumah tangganya bisa dijadikan bukti. Selain itu, gajinya yang sekitar Rp 200 juta – dari jabatan Kepala SKK Migas dan Komisaris Bank Mandiri – terasa tak cukup. Meski bukan profesional atau eksekutif di perusahaan mentereng berskala multinasional, pendapatan resminya itu sudah tergolong sangat besar. Untuk itu, kita memang perlu makin mawas diri oleh ulah para pejabat publik yang senang menebar kisah fiksi. Sesungguhnya mereka sedang mendesain pengelabuan dengan menjajah alam pikir audiensnya, yaitu masyarakat yang seharusnya dilayani. (Artikel diambil dari Herry Gunawan | Newsroom Blog – Jum, 16 Agu 2013).

Jawab:

Langkah pertama: mengenali masalah. Langkah ini sangat penting karena akan menentukan kemampuan seseorang dalam bersikap kritis terhadap suatu masalah. Setelah membaca artikel di atas, kita bisa mengajukan pertanyaan ini: “Apa masalah yang diangkat dalam artikel ini?”

Di kelas saya, para mahasiswa mengemukakan empat masalah berikut.

  • Korupsi
  • Penyalahgunaan kekuasaan.
  • Pembohongan publik melalui pencitraan.
  • Mengejar kepentingan diri.

Dapat ditanyakan lebih lanjut kepada setiap mahasiswa yang menjawab pertanyaan di atas, misalnya “mengapa dia menyimpulkan bahwa masalahnya adalah korupsi?” Demikian pula terhadap mahasiswa yang mengajukan jawaban “penyalahgunaan kekuasaan”, “pembohonan publik melalui pencitraan”, dan “mengejar kepentingan diri”. Pertanyaan lanjutan ini penting untuk mendalami pokok persoalan, apakah artikel di atas memang berbicara tentang hal-hal yang dikemukakan mahasiswa tersebut.

Kita juga bisa bertanya kepada mahasiswa yang lain, apakah artikel tersebut memang membicarakan hal-hal sebagaimana diangkat oleh teman mereka. Pasti kita akan menemukan beragam pendapat dan sudut pandang yang berbeda. Di kelas saya, akhirnya – dengan bantuan pertanyaan pendalaman – mahasiswa sepakat bahwa artikel tersebut sedang berbicara mengenai pembohonan publik melalui pencitraan. Kelas sepakat bahwa kasus korupsi dijadikan sebagai “cara bernarasi” untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan politik pencitraan untuk meyakinkan publik bahwa seseorang itu baik secara moral.

Sebagaimana sudah kita pelajari, suatu masalah sebaiknya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Karena itu, pertanyaan atas masalah tersebut dapat dirumuskan demikian: “Apakah dapat dibenarkan atau tidak jika seorang pejabat publik melakukan politik pencitraan dengan menampilkan diri sebagai sosok yang baik hanya demi menutupi kebobrokan dan sikap koruptifnya?”

Langkah kedua: menemukan cara-cara untuk menangani masalah tersebut. Di kelas saya ada banyak pendapat yang muncul. Ada mahasiswa yang berpendapat bahwa caranya adalah dengan menghentikan politik pencitraan. Ada juga yang mengatakan bahwa media massa tidak usah meliput dan menyiarkan sepak terjang pejabat publik yang hanya mau mencari popularitas demi kepentingan dirinya. Hal yang menarik adalah argumen yang dikemukakan oleh penulis artikel di atas. Bahwa masyarakat Indonesia menyukai hal atau pemberitaan yang berbau sensaional, yang mengangkat kehidupan orang dengan bumbu-bumbu yang cenderung dramatis. Jika potret ini benar, akan sulit menghilangkan politik pencitraan.

Menyadari hal ini, ada mahasiswa yang kemudian mengajukan jalan keluar yang menurut saya cukup tepat. Bahwa masyarakat harus dididik untuk bersikap kritis terhadap setiap pemberitaan. Ada yang dengan lugu menjawab, “Masyarakat harus belajar critical thinking”. Poin yang diangkat sebenarnya adalah pentingnya mengedukasi masyarakat untuk tidak mudah percaya pada berbagai upaya pembohongan publik, termasuk mencitrakan diri sebagai orang baik dan bermoral, padahal kenyataannya tidak demikian.

Langkah ketiga: mengumpulkan dan menyusun informasi untuk menyelesaikan masalah. Para mahasiswa diminta untuk menyebutkan berbagai fakta yang relevan yang dapat membantu kelas mencari jalan keluar pemecahan masalah. Informasi bisa saja berasal dari fakta yang ada dalam artikel tersebut, tetapi bisa juga dengan menambahkan informasi dari sumber lain, asal relevan dengan masalah yang dibicarakan.

Karena mahasiswa berpendapat bahwa jalan keluar untuk memecahkan masalah yang mereka kemukakan adalah dengan mengedukasi masyarakat (supaya memiliki sikap kritis), maka fakta-fakta yang dicari dapat juga diarahkan ke situ. Beberapa fakta dapat dikemukakan.

  1. Media massa Indonesia suka memanfaatkan kelemahan pembaca (sulit bersikap kritis) jika membaca atau menyimak pemberitaan yang menonjolkan sisi kemanusiaan atau sisi human interests.
  2. Pejabat publik memiliki agenda tersembunyi (“rencana” korupsi) tetapi supaya masyarakat tidak mencurigainya, dia terlebih dahulu menampilkan diri sebagai orang baik (secara moral: sopan, lugu, peduli pada kepentingan publik, dsb).
  3. Orang cerdas secara intelektual ternyata tidak menjadi jaminan bahwa dia akan bersikap baik secara moral.

Untuk kasus ini, mahasiswa memang tidak menyebutkan fakta-fakta lain di luar artikel tersebut. Meskipun demikian, kita bisa menarik atensi mahasiswa kepada berbagai upaya pejabat publik lainnya dalam mencitrakan diri sebagai orang baik, padahal perilakunya buruk secara moral. Fakta-fakta lain tersebut mendukung usaha menyelesaikan masalah yang diangkat di atas, yakni pentingnya mengedukasi masyarakat supaya bersikap kritis terhadap berbagai pemberitaan.

Langkah keempat: mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan. Langkah ini penting untuk mendeteksi maksud tersembunyi di balik suatu permasalahan, kasus, asumsi, klaim atau tulisan. Langkah keempat ini bisa dijawab, misalnya dengan mengajukan pertanyaan ini: “Apakah ada kepentingan tertentu yang ada di balik pemikiran penulis ketika mengangkat masalah ini?” “Apakah penulis memang berangkat dari motivasi murni untuk menyadarkan publik tentang bahaya pembohongan publik yang dilakukan oleh pejabat publik?” “Atau, jangan-jangan penulis memiliki bias tertentu terhadap tokoh yang dia kritik?”

Artikel ini menunjukkan bahwa kalaupun penulis memiliki kepentingan tertentu yang ingin dia capai, kepentingan tersebut semata-mata adalah keinginan untuk “membebaskan” masyarakat dari berbagai pembohongan publik.

Langkah kelima: Menggunakan Bahasa Indonesia yang tepat, jelas, dan khas dalam mendiskusikan persoalan yang diangkat oleh penulis artikel tersebut. Langkah ini tercapai ketika dosen (pengajar) memiliki kepekaan terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar supaya dia bisa langsung mengoreksi kesalahan mahasiswanya dalam mengemukakan pendapat.

Langkah keenam: Mengevaluasi data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan. Mahasiswa bisa diajak untuk menyusun pernyataan mereka; bisa berupa pernyataan sikap. Mahasiswa di kelas saya mengajukan pernyataan berikut: “Kami menolak berbagai upaya pembohongan publik melalui politik pencitraan dengan maksud untuk membohongi masyarakat.” Mahasiswa juga berpendapat, “Kami memboikot media massa yang pemberitaannya menonjolkan semata-mata aspek human interest dengan maksud untuk memanfaatkan kelemahan pembaca demi kepentingan tertentu.”

Mahasiswa dapat mengajukan pernyataan apa saja yang ingin mereka kemukakan, yang penting relevan dan sejalan dengan jalan keluar atas masalah yang diangkat di atas. Yang penting, terhadap setiap pernyataan yang dikemukakan itu, kita bisa mengajukan pertanyaan, “Apakah pernyataan tersebut didukung oleh fakta-fakta yang memang relevan dengan topik yang diberikan? Karena kasus yang diangkat dalam artikel itu adalah pembohongan publik melalui pencitraan diri, maka kedua pernyataan yang dikemukakan mahasiswa tersebut adalah relevan dan didukung oleh data dan fakta yang memadai.

Langkah ketujuh: mencermati adanya hubungan logis antara masalah-masalah dengan jawaban-jawaban yang diberikan. Di sini kita bisa mengulang sekali lagi masalah yang sudah dirumuskan di atas, yakni “Apakah dapat dibenarkan atau tidak jika seorang pejabat publik mencitrakan dirinya sebagai orang baik, padahal motifnya adalah ingin menutupi keburukan perilakunya dalam melakukan korupsi?”

Mahasiswa menjawab bahwa sikap atau perilaku semacam itu sangat tidak dibenarkan. Dan jalan keluar yang mereka tawarkan bukan sekadar mengecam pejabat publik yang berperilaku demikian, tetapi lebih pada bagaimana mengedukasi masyarakat supaya memiliki sikap kritis. Tentu ada hubungan logis antara masalah yang dikemukakan (dalam bentuk pertanyaan) dengan jawaban yang diberikan. Hubungan logisnya dapat diuraikan demikian:

  • Bersikap kritis dapat membantu manusia untuk tidak mudah percaya pada suatu hal, termasuk berbagai politik pencitraan melalui media massa.
  • Masyarakat Indonesia (pembaca) masih mudah percaya pada politik pencitraan melalui media massa.
  • Karena itu, sikap kritis dapat membantu masyarakat Indonesia agar tidak mudah percaya pada politik pemberitaan melalui media massa.
  • Hal ini dapat dicapai melalui edukasi atau pendidikan sikap kritis.

Langkah kedelapan: Menarik kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan yang sedang dibicarakan. Sebagai langkah terakhir dari langkah-langkah berpikir kritis, kita bisa mengulang kesimpulan (jalan keluar) yang sudah disepakati kelompok (kelas). Sejauh kelompok/kelas tidak berkeberatan lagi terhadap kesimpulan yang kita kemukakan, kita menganggap langkah-langkah berpikir kritis ini sudah tercapai.[]

Critical Thinking dan Keterampilan Berpikir Kritis


 

  • Judul             :      Critical Thinking. Membangun Pemikiran Logis
  • Penulis          :      Kasdin Sihotang, Febiana Rima K., Benyamin Molan, Andre Ata Ujan, Rodemeus Ristyantoro
  • Editor           :      Yeremias Jena
  • Penerbit        :      Sinar Harapan, Jakarta: 2012
  • Halaman       :      ix + 165 hlm

Dua tulisan saya di Kompasiana, salah satu blog populer yang dikelola Harian Kompas mendapat apresiasi luas. Meskipun populer, kedua tulisan tersebut tetap saja berkategori refleksi filosofis atas kesesatan berpikir yang “berkeliaran” di media massa, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan filsafat dasar. Salah satu tulisan berbicara mengenai kesalahan penalaran yang dilakukan Marzuki Ali tentang perilaku tidak sopan dan etis beberapa anggota DPR-RI (Marzuki Ali, Etika dan Moral Anggota Dewan, Kompasiana, 27 Februari 2011). Sementara itu, tulisan lainnya mengomentari MUI Jawa Barat yang melarang kunjungan Miss Universe 2011 ke bumi Parahayangan (Miss Universe 2011 Dilarang ke Jawa Barat?, Kompasiana, 7 Oktober 2011).

Kedua refleksi kritis dan filosofis tersebut dapat menjadi materi yang baik untuk mengantar dan memperkenalkan buku Critical Thinking: Membangun Pemikiran Logis (Sinar Harapan, Jakarta: 2012). Bagian pertama dari resensi ini akan merefleksikan kesesatan berpikir di ruang publik sebagaimana direpresentasikan secara terbatas oleh kedua tulisan tersebut. Bagian ini membantu saya mengantar sekaligus menunjukkan pentingnya mempelajari critical thinking sebagai disiplin dan keterampilan berpikir kritis.

Kesesatan Berpikir di Ranah Publik

Berangkat dari pendapat Marzuki Ali bahwa anggota dewan tertentu kadang-kadang tidak sopan dan etis karena kegagalan pendidikan formal di sekolah, saya menulis: “Terlalu naif mengatakan bahwa pendidikan moral yang komprehensif (dalam pemahaman seorang Marzuki Ali adalah pendidikan etika dan moral berkesinambungan di sekolah, di rumah, dan di masyarakat) adalah kondisi niscaya atau jaminan perilaku bermoral. Distingsi sederhana dalam dunia filsafat mengenai ‘kondisi yang perlu’ (necessary condition) dan ‘kondisi memadai’ (sufficient condition) mengatakan bahwa pendidikan yang integral adalah ‘kondisi niscaya’ bagi perilaku moral. Di sini kita terpaksa sepakat dengan tradisi etika Sokrates yang memegang teguh prinsip, bahwa mengetahui yang baik adalah jaminan seseorang bertindak baik secara moral. Etika abad pertengahan yang peduli pada peran kehendak (will) dalam perilaku akan mengatakan bahwa mengetahui apa yang baik (melalui pendidikan, misalnya) tidak menjadi jaminan bagi tindakan moral. Semuanya sangat tergantung pada kehendak (will) atau lebih tepatnya ‘keberanian moral’ untuk mengeksekusi pengetahuan menjadi tindakan nyata. Dari sini kita belajar (terima kasih kepada etika abad pertengahan), bahwa pendidikan atau memiliki pengetahuan akan yang baik dan buruk secara moral bukanlah kondisi memadai bagi tindakan bermoral.”

Harus diakui bahwa tulisan kedua yang mengomentari larangan kunjungan Miss Universe ke Jawa Barat lebih merupakan refleksi khas critical thinking. Menganalis pemberitaan di media massa tentang alasan pelarang itu, saya menyimpulkan bahwa MUI Jawa Barat mendasarkan pelarangan itu pada tiga argumen. Argumen pertama, kedatangan Miss Universe 2011 bertentangan dengan program Bandung sebagai kota agamis. Salah satu program itu menegaskan pentingnya mewujudkan Bandung bebas dari pornografi. Argumen kedua, kehadiran Leila Luliana Lopes selaku pemenang Miss Universe 2011 merupakan bentuk persetujuan pemerintah terhadap pornografi. MUI Jawa Barat berpendapat, “Proses pemilihan Miss Universe itu sendiri saja sudah menginjak martabat perempuan. Setiap bagian tubuh, termasuk alat vital juga diukur.” Argumen ketiga, kehadiran Miss Universe akan berdampak buruk pada remaja Bandung. Konon para remaja Bandung belum mampu memilah kelebihan ratu sejagat, yakni kecerdasan, perilaku, dan kecantikan. Remaja cenderung meniru kelebihan fisik saja, memamerkan bagian tubuh tertentu dengan berpakaian serba minim.

Bertolak dari pentingnya memiliki critical thinking dalam memproses setiap pengetahuan, saya mengajukan tiga argumen kontra terhadap argumen-argumen di atas. Argumen kontra pertama, MUI Jawa Barat mendasarkan diri pada premis bahwa “segala hal yang bermuatan pornografi tidak diizinkan masuk kota Bandung.” Miss Universe 2011 (Leila Luliana Lopes) dilarang masuk Kota Bandung. Jadi, Miss Universe mengandung atau setidak-tidaknya dikategorikan pornografi.

Cara berpikir demikian dapat menyesatkan. Apa yang MUI Jawa Barat maksudkan sebagai ”mengandung pornografi”, dan jika itu dikenakan pada diri Miss Universe 2011, apa alasannya? Jika itu dikaitkan dengan proses pemilihan Ratu Sejagat yang katanya ”Setiap bagian tubuh, termasuk alat vital juga diukur”, harus dikatakan bahwa kejadian itu adalah post factum di belahan dunia lain. Bagaimana sesuatu yang telah terjadi, apalagi di negara lain, masih diingat sebagai pornografi (tepatnya pornoaksi), padahal pornoaksi per definisi – ”tindakan vulgar yang membangkitkan birahi” – seharusnya merupakan tindakan aktual (actus), saat ini, di sini, di hadapan kita? Dengan kata lain, ketika Miss Universe 2011 (Leila Luliana Lopes) tampil di hadapan kita sekarang dan tidak beraksi dengan tujuan membangkitkan birahi, dia tidak bisa dikategorikan sebagai mengandung atau menyebabkan pornografi. Tampaknya orang yang mengatakan ini telah menyaksikan dan menonton proses pemilihan Ratu Sejagat sehingga dia berani menyimpulkan, ”Setiap bagian tubuh, termasuk alat vital juga diukur”. Itu artinya, ketika ada kesempatan bertemu Miss Universe 2011 (Leila Luliana Lopes) saat ini, dia membangkitkan kembali ingatannya tentang proses pemilihan Ratu Sejagat beberapa waktu lalu di mana dia melihat bagaimana setiap bagian tubuh perempuan diukur, termasuk bagian tubuh Leila Luliana Lopes. Saya khawatir, yang membangkitkan birahi dan dikategorikan porno saat ini bukanlah Leila Luliana Lopes (asal dia memang tidak berbikini di muka umum), tetapi justru orang itu sendiri yang membiarkan dirinya ”dibirahikan” (to be seduced) oleh penampilan Leila Luliana beberapa waktu lalu di negeri orang (post factum).

Argumen kontra kedua, posisi argumen kedua di atas juga tidak luput dari kesesatan berpikir. Mengatakan bahwa kehadiran Miss Universe 2011 adalah bentuk persetujuan pemerintah terhadap pornografi mengandung loncatan berpikir. Cara berpikir seperti itu dapat dikembalikan ke pernyataan-pernyataan berikut. (1) pemerintah (Jawa Barat) punya program mewujudkan Jawa Barat sebagai kota agamis. (2) Salah satu indikator kota agamis adalah bebas dari pornografi. (3) Sekarang pemerintah mengizinkan Miss Universe mengunjungi Jawa Barat demi mempromosikan pariwisata Bumi Priangan. (4) Padahal Leila Luliana Lopes ”mengandung” atau ”menyebabkan” pornografi (atau tepatnya pornoaksi). (5) Kesimpulannya, “Pemerintah menyetujui pornografi.”

Dihubungkan dengan kritik terhadap argumen pertama di atas, poin nomor 4 masuk dalam kategori epistemologi yang disebut ”keyakinan yang tak-terbuktikan” (ujustified belief), karena unsur ”mengandung” atau ”menyebabkan” pornoaksi adalah post factum, bukan aktus (bukan tindakan saat ini). Ada dua kesalahan dalam menalar dan menarik kesimpulan semacam ini. Pertama, menyimpulkan sesuatu berdasarkan ”keyakinan yang tak terbuktikan” tidak pernah bisa benar. Kita belajar dari epistemologi bahwa keyakinan yang tak-terbuktikan dan keyakinan yang terbuktikan (justified true belief) sama-sama dapat salah sebagai dasar dalam menarik kesimpulan karena tidak menyertakan verifikator (pembukti). Kedua, memaksakan unsur ke-4 – ”Padahal Leila Luliana Lopes ’mengandung’ atau ’menyebabkan’ pornografi (atau tepatnya pornoaksi)” – sama saja dengan menarik kesimpulan berdasarkan kesesatan argumentum ad hominem (argumen yang menyerang pribadi atau orang), dan itu, jika tidak hati-hati, dapat mengarah ke fitnah.

Argumen kontra ketiga, menurut saya, argumen ketiga di atas pun mengandung kelemahan dan kesesatan berpikir. Kekhawatiran MUI Jawa Barat itu berlebihan, lagi-lagi karena pornoaksi yang dikhawatirkan itu bersifat post factum. Kalau pun remaja putri Jawa Barat tidak berhasil meniru unsur kecerdasan dan perilaku, argumen bahwa ”meniru kelebihan fisik saja” sebagai akibat dari kedatangan atau ketokohan Leila Luliana Lopes tampak berlebihan (hyperbolic). Lagi-lagi ini mengandaikan semua pihak setuju bahwa Leila Luliana Lopes ”mengandung” atau ”menyebabkan” pornoaksi – hal yang sudah ditolak di atas. Kalau pun ini benar, prasyarat yang dirujuk untuk membangun argumentasi ini memang memenuhi unsur necessary dalam hukum berpikir, tetapi gagal memenuhi unsur ”memadai” (sufficient). Supaya memadai, kondisi bahwa Leila Luliana Lopes melakukan pornoaksi haruslah merupakan justified true belief yang telah terverifikasi sebagai benar, jadi tanpa kehadiran ”penakluk” (no-defeater condition) dalam arti tanpa ada argumentasi sebaliknya yang membuktikan argumen kita sebagai salah.

Critical Thinking Sebagai Keterampilan

Kedua contoh tulisan yang saya sebutkan di atas secara tidak langsung menekankan pentingnya mempelajari critical thinking. Bagi saya, critical thinking sebagai keterampilan berpikir kritis, memampukan seseorang mengambil jarak terhadap realitas, mempertanyakannya, dan mengajukan alternatif pemahaman yang lebih rasional dan universal, tentu berdasarkan kaidah-kaidah berpikir kritis, logis, dan filosofis. Pertanyaan klasik dapat diajukan di sini, “Mengapa mempelajari critical thinking?” Definisi critical thinking dapat membantu menjawab pertanyaan ini, dan itu juga yang dilakukan Kasdin Sihotang dan kawan-kawan dalam buku mereka (lihat 2–8). Poin paling penting dalam definisi tersebut adalah penekanan critical thinking sebagai keterampilan. Itu artinya kuliah atau pembelajaran critical thinking harus sanggup membentuk kemampuan berpikir kritis, dan bukan sekadar menghafal definisi logika, menyebutkan kesesatan berpikir, atau menjelaskan proses berpikir induktif dan deduktif. Critical thinking harus sanggup menjadi seni berpikir, membantu seseorang memahami hubungan logis antarberbagai gagasan, mengidentifikasi, menyusun, dan menilai argumentasi, mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan-kesalahan yang biasanya dilakukan dalam penalaran, memecahkan problem berpikir secara sistematis, mengidentifikasi gagasan-gagasan yang relevan dan penting, dan merefleksikan nilai serta keyakinan diri yang menjadi dasar atau penjustifikasi penarikan kesimpulan.

Asosiasi Filsafat Amerika (American Philosophical Association), misalnya, menaruh harapan besar pada pembelajaran Critical Thinking sebagai medium mencapai pribadi dan masyarakat yang kritis. Sebagaimana dikutip dari buku karangan Dr. Peter A. Facione (Critical Thinking: A Statement of Expert Concensus for Purpose of Educational Assessment and Instruction, 1990), Asosiasi Filsafat Amerika mengambil posisi ini: “Kami memahami pemikiran kritis sebagai yang memiliki tujuan mulia, yakni menilai putusan, menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi kesimpulan, serta menjelaskan bukti-bukti yang mendukungnya, mengurai konsep, membongkar metodologi berpikir, dan mempertimbangkan konteks atas mana penilaian atau penyimpulan mendasarkan dirinya. Critical Thinking (CT) sangat penting sebagai alat penyelidikan ketepatan berpikir. Demikianlah, CT adalah kekuatan pembebas bagi pendidikan dan sumber daya yang kuat dalam kehidupan seseorang sebagai pribadi maupun kemasyarakatan. CT adalah fenomena khas manusia yang sanggup merefleksikan diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahan berpikirnya. Para pemikir kritis adalah mereka yang memiliki kebiasaan (habit) ingin tahu, mencari informasi yang andal, berpikiran terbuka, fleksibel, jujur dalam menilai, jujur dalam menghadapi bias pribadi, bijaksana dalam membuat penilaian, bersedia mempertimbangkan kembali pikiran-pikirannya, memiliki posisi yang jelas dalam membincangkan suatu isu, tertib dan teratur dalam membangun gagasan yang kompleks, rajin mencari informasi yang relevan, wajar dalam pemilihan kriteria, fokus dalam penyelidikan, dan gigih dalam mencari hasil yang tepat, dan sebagainya. Demikianlah, mendidik orang untuk berpikir kritis berarti berusaha mewujudkan cita-cita luhur ini.”

Tampak jelas bahwa beban yang dipikul pendidikan critical thinking cukuplah berat. Menilik struktur buku yang ditulis Kasdin Sihotang, dkk, setelah membahas definisi dan manfaat mempelajari critical thinking (bab 1, hlm. 1–29 ), para penulis langsung masuk dan membahas kesesatan berpikir (bab 2, hlm. 31–55). Mengidentifikasi argumen dan kesalahan-kesalahan yang lazim terdapat dalam argumen adalah inti pembahasan bab 3 buku ini (hlm. 57–72). Materi bab 5-8 (hlm. 93–161) lebih merupakan inti atau perangkat keras dari pendidikan berpikir kritis. Di situlah orang belajar penalaran, penyimpulan dan kesalahan-kesalahan yang lazim dalam penalaran (bab 5, hlm. 93–108), deduksi (bab 6, hlm. 109–14) dan induksi (bab 7, hlm. 125–146). Bab terakhir buku ini (hlm. 147-161) merupakan upaya mengaplikasikan pemikiran kritis dalam menulis karangan. Secara teori, materi-materi ini cukup lengkap mewujudkan apa yang dicita-citakan pembelajaran critical thinking itu sendiri.

Tiga Catatan

Sejauh kita terima posisi bahwa pembelajaran critical thinking adalah sebuah keterampilan, tiga catatan berikut dapat diberikan demi penyempurnaan buku ini. Pertama, tidak ada jaminan bahwa setelah mempelajari buku ini seseorang langsung menjadi pemikir yang rasonal dan kritis. Menghindari kebiasaan mahasiswa yang hanya menghafal kesalahan definisi dan pengertian tanpa mengaplikasikannya, perlu dipikirkan latihan atau kegiatan yang “memaksa” mahasiswa mengaplikasikan pengetahuan critical thinking yang telah mereka pelajari. Untuk itu dibutuhkan metodologi atau cara berpikir logis sebagai semacam alat yang mengoperasikan teori atau pengetahuan critical thinking tersebut. Alat atau metodologi itu sudah ada dalam buku ini, hanya saja kurang dimaksimalkan (lihat halaman tentang langkah-langkah berpikir kritis, hlm. 7–8).

Kedua, jika kemampuan menulis karangan dijadikan sebagai salah satu Learning Objectives, sebaiknya itu sudah diintroduksi dari awal, misalnya memasukannya sebagai pengganti “permainan logika” di bab 1 yang sebenarnya tidak memiliki relevansi langsung dengan pembelajaran critical thinking. Bagi saya, mahasiswa dapat dilatih menulis karangan pendek (opini) setelah bab 5, karena pengetahuan mereka mengenai argumen, penalaran, dan kesesatan berpikir cukup memadai. Jika menulis opini masih menjadi hal yang sulit, beberapa terobosan dapat dilakukan dosen, misalnya menulis karangan sebagai tanggapan terhadap karangan orang lain, membandingkan beberapa karangan opini, dan sebagainya. Mahasiswa umumnya terjebak dalam hal-hal teknis seperti langkah-langkah berargumentasi yang baik atau logika pemecahan masalah (isu, kontra isu atau kontra argumen, dan pemecahan masalah). Dan ini akan nampak dalam karangan mereka lebih sebagai upaya mendeskripsikan langkah-langkah berargumentasi, dan bukan menulis karangan dalam artinya yang sebenarnya. Tentu ini merupakan langkah awal yang tidak bisa diabaikan. Tujuan akhir yang harus dicapai adalah kemampuan bernalar atau menulis karangan di mana teknik dan langkah-langkah argumentasi dioperasikan hanya sebagai panduan yang selain tak kelihatan, juga tidak kaku langkah demi langkah.

Ketiga, metode deduksi dan induksi (bab 6 dan 7) seharusnya mempersiapkan mahasiswa untuk menulis paper atau skripsi. Karena itu, akan menjadi menarik jika materi deduksi dan induksi dilengkapi juga dengan metodologi kajian teori yang de facto menjadi salah satu unsur penting dalam penelitian, penuisan paper, atau skripsi. Itu artinya mahasiswa bisa diajarkan untuk melokalisir masalah yang ingin mereka pecahkan dalam paper dengan rujukan atau referensinya yang tepat pada penilitian dan/atau pendapat orang lain di jurnal maupun buku. Konsekuensinya, pengetahuan tentang googe scholar, pubmed, atau fasilitas pencari data di AtmaLib seperti SpiringerLink, J-Store, ProQuest, Aptik Digital Library, dan semacamnya seharusnya ikut diperkenalkan.

Semua ini menuntut kreativitas dosen dalam mengajar yang tentu tidak bisa dipisahkan dari ketersediaan waktu dan kesejahteraan. Sulit mengharapkan dosen yang kreatif dan berdedikasi tinggi ketika nyaris seluruh waktunya digunakan untuk mengajar supaya bisa memperoleh penghasilan yang memadai. Tampaknya ini juga sebuah masalah yang harus dipecahkan, tidak hanya dalam rangka pembelajaran critical thinking, tetapi juga mata kuliah-mata kuliah lainnya yang dikelola MPK di lingkungan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.[]

KESESATAN MELALUI RETORIKA


  • Terpukau dengan kemasan sehingga tidak melihat isi. Bahasa retorika biasanya untuk membujuk, meyakinkan, menarik minat. Bahasa retorika memanfaatkan kelemahan psikologis manusia.
  • Kesesatan karena bahasa retorika meliputi: (1) Eufemisme dan disfemisme; (2) Perbandingan, definisi, dan penjelasan retorik; (3) Stereotipe; (4) Innuendo; (5) Pertanyaan bermuatan; (6) Weaseler; (7) Meremehkan (downplay); (8) Lelucon (sindiran); (9) Hiperbola; (10) Pengandaian bukti; dan (11) Kesesatan karena dilema semu.
  1. Eufemisme dan disfemisme: (1) Pembangkang vs reformator; (2) Bertobat vs murtad
  2. Perbandingan, definisi, dan penjelasan retorik: Perbandingan: (1) Tubuhmu seindah gitar spanyol. (2) Aku tak menyangka kamu secerdas Habibie. Definisi (retorik): (1) Aborsi tidak bisa dibenarkan karena merupakan tindakan pembunuhan yang keji. Bandingkan: Aborsi itu tindakan medis biasa yang dilakukan para dokter untuk menyelamatkan seorang ibu dari kematian. Penjelasan (retorik): (1) Dia kalah dalam pertandingan karena bermain terlalu hati-hati. (2) Indonesia tidak mau meladeni provokasi Malaysia di Ambalat karena tidak ingin merusak keharmonisan sesama bangsa Melayu.
  3. Stereotipe: Mencirikan seseorang dengan sedikit bukti atau tidak ada bukti sama sekali. (1) Orang Jawa memang halus perangainya. (2) Orang keturunan Tionghoa pandai berbisnis. (3) Perempuan genit itu pasti seorang janda.
  4. Innuendo: Sindiran tidak langsung, bisa menyesatkan sekali kalau tidak ditafsirkan secara benar. Umumnya digunakan untuk mengungkapkan ketidaksetujuan. Sering bersifat sindiran halus (insinuation). Misalnya: (1) Kamu kelihatan semakin makmur ya (menyindir teman yang semakin gemuk badannya). (2) Belakangan ini kamu kelihatannya sibuk sekali. (menyindir teman yang kurang meluangkan waktu untuk hang out)
  5. Pertanyaan bermuatan (loading question): Pertanyaan yang diajukan tersirat muatan jawabannya. (1) Apakah Anda masih senang berjudi? (2) Bukankah kamu pernah melakukan kesalahan yang sama?
  6. Weaseler: Metode linguistik untuk keluar dari kesulitan. Membantu melindungi klaim dari kritik. Misalnya: (1) Satu dari 7 wanita Indonesia menggunakan Softex; (2) Rejoice, pilihan wanita Indonesia.
  7. Meremehkan (downplay). Stereotipe, innuendo, perbandingan dan penjelasan retorik sebenarnya bisa digunakan untuk meremehkan seseuatu atau seseorang. (1) Jangan berobat ke dokter Hendra. Dia hanya seorang dokter umum; (2) Mengapa kamu bisa gagal ujian? Katanya kamu pintar! (3) Para dokter itu memang kaum “profesional” di bidang kesehatan.
  8. Lelucon/Sindiran: Menyindir seseorang yang berjenggot seperti “jenggot kambing” sebagai hal yang lucu.
  9. Hiperbola: Pernyataan yang berlebihan. (1) Papi dan mamiku fasis banget. Lagian, jam 18:00 saya harus sudah berada di rumah! (2) Kamu sungguh sahabatku terbaik yang pernah hidup.
  10. Pengandaian bukti: Dalam pembicaraan seseorang mengemukakan gagasannya sedemikian rupa sehingga pendengar yakin bahwa dia memiliki bukti-bukti tertentu yang mendukung pernyataan2nya. Padahal, bukti tersebut diandaikan begitu saja (tidak bisa ditunjukkan). Misalnya: (1) Studi menunjukkan bahwa …. (2) Hasil poolong terakhir sebuah lembaga survei membuktikan bahwa …. dst
  11. Kesesatan karena dilema semu: Sebenarnya tersedia pilihan dalam menjelaskan sebuah persoalan, tetapi orang mereduksi persoalan ke sebuah dilema. (1) Nilaimu buruk, kecuali pendidikan Bahasa Indonesia. Kamu harus memilih melanjutkan studi di fakultas kedokteran atau pindah ke fakultas sastra. (2) Berhenti mengirim aku bunga atau kulapor kamu ke polisi.