Arsip Kategori: LOGIKA

LANGKAH-LANGKAH BERPIKIR KRITIS


Gunakan langkah-langkah berpikir kritis sebagaimana dibahas dalam buku Critical Thinking (Kasdin Sihotang, dkk, Sinar Harapan, Jakarta: 202, hlm. 7-8) untuk membedah artikel berjudul “Menyimak Gelagat Rudi Rubiandini” di bawah ini.

Menyimak Gelagat Rudi Rubiandini

             BANYAK orang mengaku terhenyak dengan ditangkapnya Rudi Rubiandini, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Tragis memang, mengingat posisinya juga sebagai mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Bahkan secara akademik, gelar guru besar juga disandang.

Lebih miris lagi, justru dia tertangkap tangan bersama dengan uang dalam valuta dolar AS senilai $400 ribu atau lebih dari Rp 4 miliar. Ada motor merek BMW pula yang ikut diangkut Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai barang bukti dugaan suap. Pupus sudah persepsi yang dibangun Rudi. Sejatinya, dari gelagat yang diperlihatkan ke publik melalui media, dia ingin tampil sebagai pejabat sederhana dengan cara menumpang kereta kelas ekonomi saat mudik. Foto keberadaannya di besi merayap itu pun disebarkan media – entah media ikut atau memang sengaja disebarkan. Selain itu, dosen teladan Institut Teknologi Bandung ini juga ingin mencitrakan diri sebagai pejabat yang peduli terhadap pemberantasan korupsi. Ketika menjadi Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, dia mendatangi KPK dengan sesumbar ingin mencegah terjadinya korupsi di sektor migas.

Usia pencitraan Rudi tak berlangsung lama. Hijab itu terbuka sudah. Bahkan selain dana $700 ribu dolar yang Rudi terima secara langsung, KPK menemukan miliaran dananya yang lain berceceran di banyak tempat. Dari kotak deposit pada Bank Mandiri hingga brankas ruang kerjanya.

Apa yang terjadi pada Rudi, sejatinya mengajarkan kita pada satu hal penting. Pencitraan yang dilakukan oleh pejabat publik, sangat mungkin sebagai pengelabuan atau deception dalam rangka membangun persepsi. Salurannya adalah media. Memang, secara jurnalistik, sudut pandang sisi kemanusiaan atau human interest seorang tokoh menarik diliput. Sayangnya, nalar kritis pun ikut larut. Hanyut bersama medianya yang mudah takjub. Gelagat pejabat mencitrakan dirinya dengan pendekatan human interest ini sebenarnya tak hanya dilakukan Rudi. Masih ada yang lain.

Sebagai contoh, beberapa menteri merasa perlu menginap di rumah petani miskin dana demi dicitrakan sebagai pejabat peduli rakyat. Foto pun disebar lewat media, yang kemudian menyajikannya kepada pembaca. Padahal tidak ada hubungan antara tidur di rumah petani dengan tugas sebagai pejabat publik yang diemban. Begitulah memang model pengelabuan alias deception. Seperti pemain sulap. Tugasnya adalah menjajah serta menguasai pemikiran dan persepsi publik agar mempercayai peran manipulatif yang dimainkan.Dalam kerangka berpikir pengelabuan itu, para pelaku menciptakan fiksi atau dunia mimpi semacam mitologi Cinderella. Kisah inilah yang disajikan.

Model lain dalam upaya pengelabuan, ada juga melalui penyembunyian fakta sesungguhnya. Contoh paling mudah bisa dilihat pada pejabat publik yang biasa mengumumkan sudah melepas semua bisnisnya saat pertama diangkat. Padahal tidak seperti itu kebenarannya. Hanya beralih nama, tapi tidak pindah kepemilikan.

Mengapa perlu menyembunyikan jika memang tidak memiliki niat jelek? Kembali soal Rudi. Dalam gelagatnya yang terakhir diketahui ini, dia sudah memperlihatkan bukan sebagai tokoh sederhana dan lugu seperti pengelabuannya. Selera terhadap motor klasik merek BMW serta uang miliaran yang tak masuk dalam sistem keuangan rumah tangganya bisa dijadikan bukti. Selain itu, gajinya yang sekitar Rp 200 juta – dari jabatan Kepala SKK Migas dan Komisaris Bank Mandiri – terasa tak cukup. Meski bukan profesional atau eksekutif di perusahaan mentereng berskala multinasional, pendapatan resminya itu sudah tergolong sangat besar. Untuk itu, kita memang perlu makin mawas diri oleh ulah para pejabat publik yang senang menebar kisah fiksi. Sesungguhnya mereka sedang mendesain pengelabuan dengan menjajah alam pikir audiensnya, yaitu masyarakat yang seharusnya dilayani. (Artikel diambil dari Herry Gunawan | Newsroom Blog – Jum, 16 Agu 2013).

Jawab:

Langkah pertama: mengenali masalah. Langkah ini sangat penting karena akan menentukan kemampuan seseorang dalam bersikap kritis terhadap suatu masalah. Setelah membaca artikel di atas, kita bisa mengajukan pertanyaan ini: “Apa masalah yang diangkat dalam artikel ini?”

Di kelas saya, para mahasiswa mengemukakan empat masalah berikut.

  • Korupsi
  • Penyalahgunaan kekuasaan.
  • Pembohongan publik melalui pencitraan.
  • Mengejar kepentingan diri.

Dapat ditanyakan lebih lanjut kepada setiap mahasiswa yang menjawab pertanyaan di atas, misalnya “mengapa dia menyimpulkan bahwa masalahnya adalah korupsi?” Demikian pula terhadap mahasiswa yang mengajukan jawaban “penyalahgunaan kekuasaan”, “pembohonan publik melalui pencitraan”, dan “mengejar kepentingan diri”. Pertanyaan lanjutan ini penting untuk mendalami pokok persoalan, apakah artikel di atas memang berbicara tentang hal-hal yang dikemukakan mahasiswa tersebut.

Kita juga bisa bertanya kepada mahasiswa yang lain, apakah artikel tersebut memang membicarakan hal-hal sebagaimana diangkat oleh teman mereka. Pasti kita akan menemukan beragam pendapat dan sudut pandang yang berbeda. Di kelas saya, akhirnya – dengan bantuan pertanyaan pendalaman – mahasiswa sepakat bahwa artikel tersebut sedang berbicara mengenai pembohonan publik melalui pencitraan. Kelas sepakat bahwa kasus korupsi dijadikan sebagai “cara bernarasi” untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan politik pencitraan untuk meyakinkan publik bahwa seseorang itu baik secara moral.

Sebagaimana sudah kita pelajari, suatu masalah sebaiknya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Karena itu, pertanyaan atas masalah tersebut dapat dirumuskan demikian: “Apakah dapat dibenarkan atau tidak jika seorang pejabat publik melakukan politik pencitraan dengan menampilkan diri sebagai sosok yang baik hanya demi menutupi kebobrokan dan sikap koruptifnya?”

Langkah kedua: menemukan cara-cara untuk menangani masalah tersebut. Di kelas saya ada banyak pendapat yang muncul. Ada mahasiswa yang berpendapat bahwa caranya adalah dengan menghentikan politik pencitraan. Ada juga yang mengatakan bahwa media massa tidak usah meliput dan menyiarkan sepak terjang pejabat publik yang hanya mau mencari popularitas demi kepentingan dirinya. Hal yang menarik adalah argumen yang dikemukakan oleh penulis artikel di atas. Bahwa masyarakat Indonesia menyukai hal atau pemberitaan yang berbau sensaional, yang mengangkat kehidupan orang dengan bumbu-bumbu yang cenderung dramatis. Jika potret ini benar, akan sulit menghilangkan politik pencitraan.

Menyadari hal ini, ada mahasiswa yang kemudian mengajukan jalan keluar yang menurut saya cukup tepat. Bahwa masyarakat harus dididik untuk bersikap kritis terhadap setiap pemberitaan. Ada yang dengan lugu menjawab, “Masyarakat harus belajar critical thinking”. Poin yang diangkat sebenarnya adalah pentingnya mengedukasi masyarakat untuk tidak mudah percaya pada berbagai upaya pembohongan publik, termasuk mencitrakan diri sebagai orang baik dan bermoral, padahal kenyataannya tidak demikian.

Langkah ketiga: mengumpulkan dan menyusun informasi untuk menyelesaikan masalah. Para mahasiswa diminta untuk menyebutkan berbagai fakta yang relevan yang dapat membantu kelas mencari jalan keluar pemecahan masalah. Informasi bisa saja berasal dari fakta yang ada dalam artikel tersebut, tetapi bisa juga dengan menambahkan informasi dari sumber lain, asal relevan dengan masalah yang dibicarakan.

Karena mahasiswa berpendapat bahwa jalan keluar untuk memecahkan masalah yang mereka kemukakan adalah dengan mengedukasi masyarakat (supaya memiliki sikap kritis), maka fakta-fakta yang dicari dapat juga diarahkan ke situ. Beberapa fakta dapat dikemukakan.

  1. Media massa Indonesia suka memanfaatkan kelemahan pembaca (sulit bersikap kritis) jika membaca atau menyimak pemberitaan yang menonjolkan sisi kemanusiaan atau sisi human interests.
  2. Pejabat publik memiliki agenda tersembunyi (“rencana” korupsi) tetapi supaya masyarakat tidak mencurigainya, dia terlebih dahulu menampilkan diri sebagai orang baik (secara moral: sopan, lugu, peduli pada kepentingan publik, dsb).
  3. Orang cerdas secara intelektual ternyata tidak menjadi jaminan bahwa dia akan bersikap baik secara moral.

Untuk kasus ini, mahasiswa memang tidak menyebutkan fakta-fakta lain di luar artikel tersebut. Meskipun demikian, kita bisa menarik atensi mahasiswa kepada berbagai upaya pejabat publik lainnya dalam mencitrakan diri sebagai orang baik, padahal perilakunya buruk secara moral. Fakta-fakta lain tersebut mendukung usaha menyelesaikan masalah yang diangkat di atas, yakni pentingnya mengedukasi masyarakat supaya bersikap kritis terhadap berbagai pemberitaan.

Langkah keempat: mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan. Langkah ini penting untuk mendeteksi maksud tersembunyi di balik suatu permasalahan, kasus, asumsi, klaim atau tulisan. Langkah keempat ini bisa dijawab, misalnya dengan mengajukan pertanyaan ini: “Apakah ada kepentingan tertentu yang ada di balik pemikiran penulis ketika mengangkat masalah ini?” “Apakah penulis memang berangkat dari motivasi murni untuk menyadarkan publik tentang bahaya pembohongan publik yang dilakukan oleh pejabat publik?” “Atau, jangan-jangan penulis memiliki bias tertentu terhadap tokoh yang dia kritik?”

Artikel ini menunjukkan bahwa kalaupun penulis memiliki kepentingan tertentu yang ingin dia capai, kepentingan tersebut semata-mata adalah keinginan untuk “membebaskan” masyarakat dari berbagai pembohongan publik.

Langkah kelima: Menggunakan Bahasa Indonesia yang tepat, jelas, dan khas dalam mendiskusikan persoalan yang diangkat oleh penulis artikel tersebut. Langkah ini tercapai ketika dosen (pengajar) memiliki kepekaan terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar supaya dia bisa langsung mengoreksi kesalahan mahasiswanya dalam mengemukakan pendapat.

Langkah keenam: Mengevaluasi data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan. Mahasiswa bisa diajak untuk menyusun pernyataan mereka; bisa berupa pernyataan sikap. Mahasiswa di kelas saya mengajukan pernyataan berikut: “Kami menolak berbagai upaya pembohongan publik melalui politik pencitraan dengan maksud untuk membohongi masyarakat.” Mahasiswa juga berpendapat, “Kami memboikot media massa yang pemberitaannya menonjolkan semata-mata aspek human interest dengan maksud untuk memanfaatkan kelemahan pembaca demi kepentingan tertentu.”

Mahasiswa dapat mengajukan pernyataan apa saja yang ingin mereka kemukakan, yang penting relevan dan sejalan dengan jalan keluar atas masalah yang diangkat di atas. Yang penting, terhadap setiap pernyataan yang dikemukakan itu, kita bisa mengajukan pertanyaan, “Apakah pernyataan tersebut didukung oleh fakta-fakta yang memang relevan dengan topik yang diberikan? Karena kasus yang diangkat dalam artikel itu adalah pembohongan publik melalui pencitraan diri, maka kedua pernyataan yang dikemukakan mahasiswa tersebut adalah relevan dan didukung oleh data dan fakta yang memadai.

Langkah ketujuh: mencermati adanya hubungan logis antara masalah-masalah dengan jawaban-jawaban yang diberikan. Di sini kita bisa mengulang sekali lagi masalah yang sudah dirumuskan di atas, yakni “Apakah dapat dibenarkan atau tidak jika seorang pejabat publik mencitrakan dirinya sebagai orang baik, padahal motifnya adalah ingin menutupi keburukan perilakunya dalam melakukan korupsi?”

Mahasiswa menjawab bahwa sikap atau perilaku semacam itu sangat tidak dibenarkan. Dan jalan keluar yang mereka tawarkan bukan sekadar mengecam pejabat publik yang berperilaku demikian, tetapi lebih pada bagaimana mengedukasi masyarakat supaya memiliki sikap kritis. Tentu ada hubungan logis antara masalah yang dikemukakan (dalam bentuk pertanyaan) dengan jawaban yang diberikan. Hubungan logisnya dapat diuraikan demikian:

  • Bersikap kritis dapat membantu manusia untuk tidak mudah percaya pada suatu hal, termasuk berbagai politik pencitraan melalui media massa.
  • Masyarakat Indonesia (pembaca) masih mudah percaya pada politik pencitraan melalui media massa.
  • Karena itu, sikap kritis dapat membantu masyarakat Indonesia agar tidak mudah percaya pada politik pemberitaan melalui media massa.
  • Hal ini dapat dicapai melalui edukasi atau pendidikan sikap kritis.

Langkah kedelapan: Menarik kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan yang sedang dibicarakan. Sebagai langkah terakhir dari langkah-langkah berpikir kritis, kita bisa mengulang kesimpulan (jalan keluar) yang sudah disepakati kelompok (kelas). Sejauh kelompok/kelas tidak berkeberatan lagi terhadap kesimpulan yang kita kemukakan, kita menganggap langkah-langkah berpikir kritis ini sudah tercapai.[]

Critical Thinking dan Keterampilan Berpikir Kritis


 

  • Judul             :      Critical Thinking. Membangun Pemikiran Logis
  • Penulis          :      Kasdin Sihotang, Febiana Rima K., Benyamin Molan, Andre Ata Ujan, Rodemeus Ristyantoro
  • Editor           :      Yeremias Jena
  • Penerbit        :      Sinar Harapan, Jakarta: 2012
  • Halaman       :      ix + 165 hlm

Dua tulisan saya di Kompasiana, salah satu blog populer yang dikelola Harian Kompas mendapat apresiasi luas. Meskipun populer, kedua tulisan tersebut tetap saja berkategori refleksi filosofis atas kesesatan berpikir yang “berkeliaran” di media massa, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan filsafat dasar. Salah satu tulisan berbicara mengenai kesalahan penalaran yang dilakukan Marzuki Ali tentang perilaku tidak sopan dan etis beberapa anggota DPR-RI (Marzuki Ali, Etika dan Moral Anggota Dewan, Kompasiana, 27 Februari 2011). Sementara itu, tulisan lainnya mengomentari MUI Jawa Barat yang melarang kunjungan Miss Universe 2011 ke bumi Parahayangan (Miss Universe 2011 Dilarang ke Jawa Barat?, Kompasiana, 7 Oktober 2011).

Kedua refleksi kritis dan filosofis tersebut dapat menjadi materi yang baik untuk mengantar dan memperkenalkan buku Critical Thinking: Membangun Pemikiran Logis (Sinar Harapan, Jakarta: 2012). Bagian pertama dari resensi ini akan merefleksikan kesesatan berpikir di ruang publik sebagaimana direpresentasikan secara terbatas oleh kedua tulisan tersebut. Bagian ini membantu saya mengantar sekaligus menunjukkan pentingnya mempelajari critical thinking sebagai disiplin dan keterampilan berpikir kritis.

Kesesatan Berpikir di Ranah Publik

Berangkat dari pendapat Marzuki Ali bahwa anggota dewan tertentu kadang-kadang tidak sopan dan etis karena kegagalan pendidikan formal di sekolah, saya menulis: “Terlalu naif mengatakan bahwa pendidikan moral yang komprehensif (dalam pemahaman seorang Marzuki Ali adalah pendidikan etika dan moral berkesinambungan di sekolah, di rumah, dan di masyarakat) adalah kondisi niscaya atau jaminan perilaku bermoral. Distingsi sederhana dalam dunia filsafat mengenai ‘kondisi yang perlu’ (necessary condition) dan ‘kondisi memadai’ (sufficient condition) mengatakan bahwa pendidikan yang integral adalah ‘kondisi niscaya’ bagi perilaku moral. Di sini kita terpaksa sepakat dengan tradisi etika Sokrates yang memegang teguh prinsip, bahwa mengetahui yang baik adalah jaminan seseorang bertindak baik secara moral. Etika abad pertengahan yang peduli pada peran kehendak (will) dalam perilaku akan mengatakan bahwa mengetahui apa yang baik (melalui pendidikan, misalnya) tidak menjadi jaminan bagi tindakan moral. Semuanya sangat tergantung pada kehendak (will) atau lebih tepatnya ‘keberanian moral’ untuk mengeksekusi pengetahuan menjadi tindakan nyata. Dari sini kita belajar (terima kasih kepada etika abad pertengahan), bahwa pendidikan atau memiliki pengetahuan akan yang baik dan buruk secara moral bukanlah kondisi memadai bagi tindakan bermoral.”

Harus diakui bahwa tulisan kedua yang mengomentari larangan kunjungan Miss Universe ke Jawa Barat lebih merupakan refleksi khas critical thinking. Menganalis pemberitaan di media massa tentang alasan pelarang itu, saya menyimpulkan bahwa MUI Jawa Barat mendasarkan pelarangan itu pada tiga argumen. Argumen pertama, kedatangan Miss Universe 2011 bertentangan dengan program Bandung sebagai kota agamis. Salah satu program itu menegaskan pentingnya mewujudkan Bandung bebas dari pornografi. Argumen kedua, kehadiran Leila Luliana Lopes selaku pemenang Miss Universe 2011 merupakan bentuk persetujuan pemerintah terhadap pornografi. MUI Jawa Barat berpendapat, “Proses pemilihan Miss Universe itu sendiri saja sudah menginjak martabat perempuan. Setiap bagian tubuh, termasuk alat vital juga diukur.” Argumen ketiga, kehadiran Miss Universe akan berdampak buruk pada remaja Bandung. Konon para remaja Bandung belum mampu memilah kelebihan ratu sejagat, yakni kecerdasan, perilaku, dan kecantikan. Remaja cenderung meniru kelebihan fisik saja, memamerkan bagian tubuh tertentu dengan berpakaian serba minim.

Bertolak dari pentingnya memiliki critical thinking dalam memproses setiap pengetahuan, saya mengajukan tiga argumen kontra terhadap argumen-argumen di atas. Argumen kontra pertama, MUI Jawa Barat mendasarkan diri pada premis bahwa “segala hal yang bermuatan pornografi tidak diizinkan masuk kota Bandung.” Miss Universe 2011 (Leila Luliana Lopes) dilarang masuk Kota Bandung. Jadi, Miss Universe mengandung atau setidak-tidaknya dikategorikan pornografi.

Cara berpikir demikian dapat menyesatkan. Apa yang MUI Jawa Barat maksudkan sebagai ”mengandung pornografi”, dan jika itu dikenakan pada diri Miss Universe 2011, apa alasannya? Jika itu dikaitkan dengan proses pemilihan Ratu Sejagat yang katanya ”Setiap bagian tubuh, termasuk alat vital juga diukur”, harus dikatakan bahwa kejadian itu adalah post factum di belahan dunia lain. Bagaimana sesuatu yang telah terjadi, apalagi di negara lain, masih diingat sebagai pornografi (tepatnya pornoaksi), padahal pornoaksi per definisi – ”tindakan vulgar yang membangkitkan birahi” – seharusnya merupakan tindakan aktual (actus), saat ini, di sini, di hadapan kita? Dengan kata lain, ketika Miss Universe 2011 (Leila Luliana Lopes) tampil di hadapan kita sekarang dan tidak beraksi dengan tujuan membangkitkan birahi, dia tidak bisa dikategorikan sebagai mengandung atau menyebabkan pornografi. Tampaknya orang yang mengatakan ini telah menyaksikan dan menonton proses pemilihan Ratu Sejagat sehingga dia berani menyimpulkan, ”Setiap bagian tubuh, termasuk alat vital juga diukur”. Itu artinya, ketika ada kesempatan bertemu Miss Universe 2011 (Leila Luliana Lopes) saat ini, dia membangkitkan kembali ingatannya tentang proses pemilihan Ratu Sejagat beberapa waktu lalu di mana dia melihat bagaimana setiap bagian tubuh perempuan diukur, termasuk bagian tubuh Leila Luliana Lopes. Saya khawatir, yang membangkitkan birahi dan dikategorikan porno saat ini bukanlah Leila Luliana Lopes (asal dia memang tidak berbikini di muka umum), tetapi justru orang itu sendiri yang membiarkan dirinya ”dibirahikan” (to be seduced) oleh penampilan Leila Luliana beberapa waktu lalu di negeri orang (post factum).

Argumen kontra kedua, posisi argumen kedua di atas juga tidak luput dari kesesatan berpikir. Mengatakan bahwa kehadiran Miss Universe 2011 adalah bentuk persetujuan pemerintah terhadap pornografi mengandung loncatan berpikir. Cara berpikir seperti itu dapat dikembalikan ke pernyataan-pernyataan berikut. (1) pemerintah (Jawa Barat) punya program mewujudkan Jawa Barat sebagai kota agamis. (2) Salah satu indikator kota agamis adalah bebas dari pornografi. (3) Sekarang pemerintah mengizinkan Miss Universe mengunjungi Jawa Barat demi mempromosikan pariwisata Bumi Priangan. (4) Padahal Leila Luliana Lopes ”mengandung” atau ”menyebabkan” pornografi (atau tepatnya pornoaksi). (5) Kesimpulannya, “Pemerintah menyetujui pornografi.”

Dihubungkan dengan kritik terhadap argumen pertama di atas, poin nomor 4 masuk dalam kategori epistemologi yang disebut ”keyakinan yang tak-terbuktikan” (ujustified belief), karena unsur ”mengandung” atau ”menyebabkan” pornoaksi adalah post factum, bukan aktus (bukan tindakan saat ini). Ada dua kesalahan dalam menalar dan menarik kesimpulan semacam ini. Pertama, menyimpulkan sesuatu berdasarkan ”keyakinan yang tak terbuktikan” tidak pernah bisa benar. Kita belajar dari epistemologi bahwa keyakinan yang tak-terbuktikan dan keyakinan yang terbuktikan (justified true belief) sama-sama dapat salah sebagai dasar dalam menarik kesimpulan karena tidak menyertakan verifikator (pembukti). Kedua, memaksakan unsur ke-4 – ”Padahal Leila Luliana Lopes ’mengandung’ atau ’menyebabkan’ pornografi (atau tepatnya pornoaksi)” – sama saja dengan menarik kesimpulan berdasarkan kesesatan argumentum ad hominem (argumen yang menyerang pribadi atau orang), dan itu, jika tidak hati-hati, dapat mengarah ke fitnah.

Argumen kontra ketiga, menurut saya, argumen ketiga di atas pun mengandung kelemahan dan kesesatan berpikir. Kekhawatiran MUI Jawa Barat itu berlebihan, lagi-lagi karena pornoaksi yang dikhawatirkan itu bersifat post factum. Kalau pun remaja putri Jawa Barat tidak berhasil meniru unsur kecerdasan dan perilaku, argumen bahwa ”meniru kelebihan fisik saja” sebagai akibat dari kedatangan atau ketokohan Leila Luliana Lopes tampak berlebihan (hyperbolic). Lagi-lagi ini mengandaikan semua pihak setuju bahwa Leila Luliana Lopes ”mengandung” atau ”menyebabkan” pornoaksi – hal yang sudah ditolak di atas. Kalau pun ini benar, prasyarat yang dirujuk untuk membangun argumentasi ini memang memenuhi unsur necessary dalam hukum berpikir, tetapi gagal memenuhi unsur ”memadai” (sufficient). Supaya memadai, kondisi bahwa Leila Luliana Lopes melakukan pornoaksi haruslah merupakan justified true belief yang telah terverifikasi sebagai benar, jadi tanpa kehadiran ”penakluk” (no-defeater condition) dalam arti tanpa ada argumentasi sebaliknya yang membuktikan argumen kita sebagai salah.

Critical Thinking Sebagai Keterampilan

Kedua contoh tulisan yang saya sebutkan di atas secara tidak langsung menekankan pentingnya mempelajari critical thinking. Bagi saya, critical thinking sebagai keterampilan berpikir kritis, memampukan seseorang mengambil jarak terhadap realitas, mempertanyakannya, dan mengajukan alternatif pemahaman yang lebih rasional dan universal, tentu berdasarkan kaidah-kaidah berpikir kritis, logis, dan filosofis. Pertanyaan klasik dapat diajukan di sini, “Mengapa mempelajari critical thinking?” Definisi critical thinking dapat membantu menjawab pertanyaan ini, dan itu juga yang dilakukan Kasdin Sihotang dan kawan-kawan dalam buku mereka (lihat 2–8). Poin paling penting dalam definisi tersebut adalah penekanan critical thinking sebagai keterampilan. Itu artinya kuliah atau pembelajaran critical thinking harus sanggup membentuk kemampuan berpikir kritis, dan bukan sekadar menghafal definisi logika, menyebutkan kesesatan berpikir, atau menjelaskan proses berpikir induktif dan deduktif. Critical thinking harus sanggup menjadi seni berpikir, membantu seseorang memahami hubungan logis antarberbagai gagasan, mengidentifikasi, menyusun, dan menilai argumentasi, mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan-kesalahan yang biasanya dilakukan dalam penalaran, memecahkan problem berpikir secara sistematis, mengidentifikasi gagasan-gagasan yang relevan dan penting, dan merefleksikan nilai serta keyakinan diri yang menjadi dasar atau penjustifikasi penarikan kesimpulan.

Asosiasi Filsafat Amerika (American Philosophical Association), misalnya, menaruh harapan besar pada pembelajaran Critical Thinking sebagai medium mencapai pribadi dan masyarakat yang kritis. Sebagaimana dikutip dari buku karangan Dr. Peter A. Facione (Critical Thinking: A Statement of Expert Concensus for Purpose of Educational Assessment and Instruction, 1990), Asosiasi Filsafat Amerika mengambil posisi ini: “Kami memahami pemikiran kritis sebagai yang memiliki tujuan mulia, yakni menilai putusan, menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi kesimpulan, serta menjelaskan bukti-bukti yang mendukungnya, mengurai konsep, membongkar metodologi berpikir, dan mempertimbangkan konteks atas mana penilaian atau penyimpulan mendasarkan dirinya. Critical Thinking (CT) sangat penting sebagai alat penyelidikan ketepatan berpikir. Demikianlah, CT adalah kekuatan pembebas bagi pendidikan dan sumber daya yang kuat dalam kehidupan seseorang sebagai pribadi maupun kemasyarakatan. CT adalah fenomena khas manusia yang sanggup merefleksikan diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahan berpikirnya. Para pemikir kritis adalah mereka yang memiliki kebiasaan (habit) ingin tahu, mencari informasi yang andal, berpikiran terbuka, fleksibel, jujur dalam menilai, jujur dalam menghadapi bias pribadi, bijaksana dalam membuat penilaian, bersedia mempertimbangkan kembali pikiran-pikirannya, memiliki posisi yang jelas dalam membincangkan suatu isu, tertib dan teratur dalam membangun gagasan yang kompleks, rajin mencari informasi yang relevan, wajar dalam pemilihan kriteria, fokus dalam penyelidikan, dan gigih dalam mencari hasil yang tepat, dan sebagainya. Demikianlah, mendidik orang untuk berpikir kritis berarti berusaha mewujudkan cita-cita luhur ini.”

Tampak jelas bahwa beban yang dipikul pendidikan critical thinking cukuplah berat. Menilik struktur buku yang ditulis Kasdin Sihotang, dkk, setelah membahas definisi dan manfaat mempelajari critical thinking (bab 1, hlm. 1–29 ), para penulis langsung masuk dan membahas kesesatan berpikir (bab 2, hlm. 31–55). Mengidentifikasi argumen dan kesalahan-kesalahan yang lazim terdapat dalam argumen adalah inti pembahasan bab 3 buku ini (hlm. 57–72). Materi bab 5-8 (hlm. 93–161) lebih merupakan inti atau perangkat keras dari pendidikan berpikir kritis. Di situlah orang belajar penalaran, penyimpulan dan kesalahan-kesalahan yang lazim dalam penalaran (bab 5, hlm. 93–108), deduksi (bab 6, hlm. 109–14) dan induksi (bab 7, hlm. 125–146). Bab terakhir buku ini (hlm. 147-161) merupakan upaya mengaplikasikan pemikiran kritis dalam menulis karangan. Secara teori, materi-materi ini cukup lengkap mewujudkan apa yang dicita-citakan pembelajaran critical thinking itu sendiri.

Tiga Catatan

Sejauh kita terima posisi bahwa pembelajaran critical thinking adalah sebuah keterampilan, tiga catatan berikut dapat diberikan demi penyempurnaan buku ini. Pertama, tidak ada jaminan bahwa setelah mempelajari buku ini seseorang langsung menjadi pemikir yang rasonal dan kritis. Menghindari kebiasaan mahasiswa yang hanya menghafal kesalahan definisi dan pengertian tanpa mengaplikasikannya, perlu dipikirkan latihan atau kegiatan yang “memaksa” mahasiswa mengaplikasikan pengetahuan critical thinking yang telah mereka pelajari. Untuk itu dibutuhkan metodologi atau cara berpikir logis sebagai semacam alat yang mengoperasikan teori atau pengetahuan critical thinking tersebut. Alat atau metodologi itu sudah ada dalam buku ini, hanya saja kurang dimaksimalkan (lihat halaman tentang langkah-langkah berpikir kritis, hlm. 7–8).

Kedua, jika kemampuan menulis karangan dijadikan sebagai salah satu Learning Objectives, sebaiknya itu sudah diintroduksi dari awal, misalnya memasukannya sebagai pengganti “permainan logika” di bab 1 yang sebenarnya tidak memiliki relevansi langsung dengan pembelajaran critical thinking. Bagi saya, mahasiswa dapat dilatih menulis karangan pendek (opini) setelah bab 5, karena pengetahuan mereka mengenai argumen, penalaran, dan kesesatan berpikir cukup memadai. Jika menulis opini masih menjadi hal yang sulit, beberapa terobosan dapat dilakukan dosen, misalnya menulis karangan sebagai tanggapan terhadap karangan orang lain, membandingkan beberapa karangan opini, dan sebagainya. Mahasiswa umumnya terjebak dalam hal-hal teknis seperti langkah-langkah berargumentasi yang baik atau logika pemecahan masalah (isu, kontra isu atau kontra argumen, dan pemecahan masalah). Dan ini akan nampak dalam karangan mereka lebih sebagai upaya mendeskripsikan langkah-langkah berargumentasi, dan bukan menulis karangan dalam artinya yang sebenarnya. Tentu ini merupakan langkah awal yang tidak bisa diabaikan. Tujuan akhir yang harus dicapai adalah kemampuan bernalar atau menulis karangan di mana teknik dan langkah-langkah argumentasi dioperasikan hanya sebagai panduan yang selain tak kelihatan, juga tidak kaku langkah demi langkah.

Ketiga, metode deduksi dan induksi (bab 6 dan 7) seharusnya mempersiapkan mahasiswa untuk menulis paper atau skripsi. Karena itu, akan menjadi menarik jika materi deduksi dan induksi dilengkapi juga dengan metodologi kajian teori yang de facto menjadi salah satu unsur penting dalam penelitian, penuisan paper, atau skripsi. Itu artinya mahasiswa bisa diajarkan untuk melokalisir masalah yang ingin mereka pecahkan dalam paper dengan rujukan atau referensinya yang tepat pada penilitian dan/atau pendapat orang lain di jurnal maupun buku. Konsekuensinya, pengetahuan tentang googe scholar, pubmed, atau fasilitas pencari data di AtmaLib seperti SpiringerLink, J-Store, ProQuest, Aptik Digital Library, dan semacamnya seharusnya ikut diperkenalkan.

Semua ini menuntut kreativitas dosen dalam mengajar yang tentu tidak bisa dipisahkan dari ketersediaan waktu dan kesejahteraan. Sulit mengharapkan dosen yang kreatif dan berdedikasi tinggi ketika nyaris seluruh waktunya digunakan untuk mengajar supaya bisa memperoleh penghasilan yang memadai. Tampaknya ini juga sebuah masalah yang harus dipecahkan, tidak hanya dalam rangka pembelajaran critical thinking, tetapi juga mata kuliah-mata kuliah lainnya yang dikelola MPK di lingkungan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.[]

KESESATAN MELALUI RETORIKA


  • Terpukau dengan kemasan sehingga tidak melihat isi. Bahasa retorika biasanya untuk membujuk, meyakinkan, menarik minat. Bahasa retorika memanfaatkan kelemahan psikologis manusia.
  • Kesesatan karena bahasa retorika meliputi: (1) Eufemisme dan disfemisme; (2) Perbandingan, definisi, dan penjelasan retorik; (3) Stereotipe; (4) Innuendo; (5) Pertanyaan bermuatan; (6) Weaseler; (7) Meremehkan (downplay); (8) Lelucon (sindiran); (9) Hiperbola; (10) Pengandaian bukti; dan (11) Kesesatan karena dilema semu.
  1. Eufemisme dan disfemisme: (1) Pembangkang vs reformator; (2) Bertobat vs murtad
  2. Perbandingan, definisi, dan penjelasan retorik: Perbandingan: (1) Tubuhmu seindah gitar spanyol. (2) Aku tak menyangka kamu secerdas Habibie. Definisi (retorik): (1) Aborsi tidak bisa dibenarkan karena merupakan tindakan pembunuhan yang keji. Bandingkan: Aborsi itu tindakan medis biasa yang dilakukan para dokter untuk menyelamatkan seorang ibu dari kematian. Penjelasan (retorik): (1) Dia kalah dalam pertandingan karena bermain terlalu hati-hati. (2) Indonesia tidak mau meladeni provokasi Malaysia di Ambalat karena tidak ingin merusak keharmonisan sesama bangsa Melayu.
  3. Stereotipe: Mencirikan seseorang dengan sedikit bukti atau tidak ada bukti sama sekali. (1) Orang Jawa memang halus perangainya. (2) Orang keturunan Tionghoa pandai berbisnis. (3) Perempuan genit itu pasti seorang janda.
  4. Innuendo: Sindiran tidak langsung, bisa menyesatkan sekali kalau tidak ditafsirkan secara benar. Umumnya digunakan untuk mengungkapkan ketidaksetujuan. Sering bersifat sindiran halus (insinuation). Misalnya: (1) Kamu kelihatan semakin makmur ya (menyindir teman yang semakin gemuk badannya). (2) Belakangan ini kamu kelihatannya sibuk sekali. (menyindir teman yang kurang meluangkan waktu untuk hang out)
  5. Pertanyaan bermuatan (loading question): Pertanyaan yang diajukan tersirat muatan jawabannya. (1) Apakah Anda masih senang berjudi? (2) Bukankah kamu pernah melakukan kesalahan yang sama?
  6. Weaseler: Metode linguistik untuk keluar dari kesulitan. Membantu melindungi klaim dari kritik. Misalnya: (1) Satu dari 7 wanita Indonesia menggunakan Softex; (2) Rejoice, pilihan wanita Indonesia.
  7. Meremehkan (downplay). Stereotipe, innuendo, perbandingan dan penjelasan retorik sebenarnya bisa digunakan untuk meremehkan seseuatu atau seseorang. (1) Jangan berobat ke dokter Hendra. Dia hanya seorang dokter umum; (2) Mengapa kamu bisa gagal ujian? Katanya kamu pintar! (3) Para dokter itu memang kaum “profesional” di bidang kesehatan.
  8. Lelucon/Sindiran: Menyindir seseorang yang berjenggot seperti “jenggot kambing” sebagai hal yang lucu.
  9. Hiperbola: Pernyataan yang berlebihan. (1) Papi dan mamiku fasis banget. Lagian, jam 18:00 saya harus sudah berada di rumah! (2) Kamu sungguh sahabatku terbaik yang pernah hidup.
  10. Pengandaian bukti: Dalam pembicaraan seseorang mengemukakan gagasannya sedemikian rupa sehingga pendengar yakin bahwa dia memiliki bukti-bukti tertentu yang mendukung pernyataan2nya. Padahal, bukti tersebut diandaikan begitu saja (tidak bisa ditunjukkan). Misalnya: (1) Studi menunjukkan bahwa …. (2) Hasil poolong terakhir sebuah lembaga survei membuktikan bahwa …. dst
  11. Kesesatan karena dilema semu: Sebenarnya tersedia pilihan dalam menjelaskan sebuah persoalan, tetapi orang mereduksi persoalan ke sebuah dilema. (1) Nilaimu buruk, kecuali pendidikan Bahasa Indonesia. Kamu harus memilih melanjutkan studi di fakultas kedokteran atau pindah ke fakultas sastra. (2) Berhenti mengirim aku bunga atau kulapor kamu ke polisi.

KESESATAN PRESUMSI


1.     Kesesatan karena pernyataan yang mengundang pertanyaan (petitio principii)

  • Kesesatan ini terjadi karena kita menggunakan konklusi (apa yang hendak dibuktikan) sebagai premis.
  • Perhatikan contoh berikut. (1) Orang harus berlaku adil, karena itu adalah perintah Tuhan yang tertulis dalam kitab suci. (2) Andre Sitohang pandai menyanyi karena dia berasal dari suku Batak. Kesimpulan: Semua orang religius itu jujur.

2.     Kesesatan karena menghindari persoalan. Kesesatan jenis ini sengaja dibuat untuk menghindari persoalan. Modus-modusnya antara lain: (1) Membuktikan apa yang seharusnya tidak dibuktikan; (2) Tidak membuktikan apa yang seharusnya dibuktikan; (3) Menyanggah apa yang sebenarnya tidak dinilai; (4) Membuktikan sesuatu yang tidak termasuk dalam persoalan.

Jenis kesesatan ini terdiri dari: (a) Argumentum ad hominem; (b) Argumentum ad populum; (c) Argumentum ad misericordiam; (d) Argumentum ad crumemam; (e) Argumentum ad verecundiam; (f) Argumentum ad ignorantiam; (g) Argumentum ad auctoritatem; (h) Argumentum ad baculum; (i) Argumentum demi keuntungan seseorang; dan (j) Argumentum non causa pro causa.

a.     Argumentum ad hominem

  • Kesesatan yang timbul karena argumentasinya dialihkan ke orang.
  • Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Hati-hati bergaul dengan Anton. Ayahnya seorang mantan tapol. (2) Prof. Bertens seorang pastor, jadi wajar jika dia mendukung peraturan yang melarang poligami. (3) Jangan banyak bertanya, kamu masih anak ingusan.

b.     Argumentum ad populum

  • Kesesatan jenis ini terjadi karena sebuah argumen ditujukan kepada massa (orang banyak) dengan maksud menggugah perasaan.
  • Argumentasi dibangun hanya untuk mendapat dukungan, dan tidak memperhatikan masalah benar – salah.
  • Perhatikan contoh berikut. (1) Nelayan susah melaut karena harga BBM mahal; (2) Anak-anak terlantar pendidikannya karena harga buku mahal; (3) Para petani gagal panen karena harga pupuk mahal; (4) Puluhan ribu buruh di-PHK karena krisis keuangan nasional; (5) Partai Kurcaci telah terbukti dan teruji. Kesimpulan: Pilihlah Partai Kurcaci

c.     Argumentum ad misericordiam

  • Kesesatan ini timbul karena argumentasinya diarahkan ke persoalan rasa belas kasihan (misericordia)
  • Perhatikan contoh berikut. (1) Kamu sebaiknya terus bekerja di kantor ini mengingat kondisi kesehatan istrimu yang terus memburuk (2) Tolong bantu saya dalam ujian, ya pak! Nilai-nilai mata kuliah lainnya sudah anjlok.

d.     Argumentum ad verucundiam

  • Kesesatan ini terjadi karena argumentasi dialihkan ke persoalan tradisi.
  • Perhatikan contoh berikut (1) Ibu saya rajin ke Wihara karena orang tuanya pun demikian. (2) Dari dulu orang-orang di kampung kami tidak berani keluar rumah di malam Jumat

e.     Argumentum ad ignorantiam

  • Kesesatan ini timbul karena argumentasi didasarkan pada ketidaktahuan (ignorantia).
  • Proposisi diandaikan benar karena orang tidak dapat membuktikan kesalahannya.
  • Proposisi diandaikan salah karena orang tidak dapat membuktikan kebenarannya.
  • Misalnya: Tuhan tidak ada, karena Anda tidak mampu membuktikannya.

f.      Argumentum ad auctoritatem

  • Kesesatan ini terjadi karena dukungan argumentasinya didapatkan dari otoritas tertentu.
  • Pelajari contoh berikut. (1) “Jangan berpacaran lagi dengan pemuda itu,” tegas Pak Agus kepada putrinya. (2) “Mengapa pak? Alice mencintai dia, pak!” (3) “Sekali ayah mengatakan tidak, ya tidak. Kamu harus taat.”

g.     Argumentum ad baculum

  • Kesesatan terjadi karena argumentasi yang dipakai untuk mendukung kebenaran adalah ancaman (baculum = tongkat untuk memukul).
  • Perhatikan contoh berikut. (1) Kamu akan saya pecat jika terus membantah. (2) Ambil tasmu dan keluar dari ruangan ini atau kupanggilkan satpam.

h.     Argumentasi demi keuntungan seseorang

  • Kesesatan terjadi jika kita mengabaikan masalah pokok dan lebih tertarik pada pendapatan atau keuntungan pribadi.
  • Perhatikan contoh berikut: Saya akan menyumbang lima juta untuk pembangunan musolah jika kamu memilih saya sebagai anggota DPR.

i.      Kesesatan non causa pro causa

  • Kesesatan ini terjadi karena orang salah menentukan penyebabnya. Misalnya, peristiwa B terjadi sesudah peristiwa A. Karena itu, orang menyimpulkan bahwa peristiwa A telah menyebabkan terjadinya peristiwa B, padahal belum tentu begitu.
  • Misalnya: Susi biasanya rajin berdoa menjelang UAS. Suatu saat Susi tidak berdoa dan hasil ujiannya jelek. Susi lalu berkata, “Coba kalau aku rajin berdoa, nilai ujianku pasti baik.”

Latihan kesesatan karena menghindari persoalan

Pilihlah 3 dari 10 kesesatan karena menghindari persoalan dan buatlah masing-masing satu contoh kesesatan.

KESESATAN DIKSI


1.     Penempatan preposisi (kata depan yang keliru)

  • Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan (sesat).  Proposisi ini seharusnya dipecah menjadi (1) Antara hewan dan manusia ada perbedaan.; atau (2) Manusia dan hewan memiliki perbedaan.
  • Bagi mereka yang lulus tes harus mendaftar ulang (sesat). Proposisi ini seharusnya dipecah menjadi (1) Mereka yang lulus tes harus mendaftar ulang; atau (2) Bagi mereka yang lulus tes ada keharusan untuk mendaftar ulang.

2.     Mengacaukan posisi subjek dan predikat

  • Sering terjadi dalam kalimat yang memiliki frase partisipal. Contoh: Karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, guru menghukum anak itu.
  • Siapa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah? Dalam kalimat ini terkesan yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah adalah guru. Karena itu, sebaliknya kalimat itu menjadi: (1) Guru menghukum siswa yang tidak mengerjakan PR; atau (2) Karena tidak mengerjakan PR, anak itu dihukum guru.

3.     Kesesatan karena ungkapan yang keliru

  • Penjahat kawakan itu berhasil ditangkap polisi di kawasan Tanah Abang, hari Rabu lalu. Masalahnya: Siapa yang berhasil? Penjahat atau polisi? Kalimat ini mengesankan bahwa ada seorang penjahat kawakan yang terus berusaha untuk ditangkap polisi, tetapi selalu gagal. Usaha penjahat kawakan untuk ditangkap polisi baru berhasil hari Rabu lalu.
  • Nah, untuk menghindari kekeliruan semacam ini, sebaiknya kalimat diubah menjadi: (1) Polisi berhasil menangkap penjahat kawakan itu, hari Rabu lalu; atau (2) Penjahat kawakan itu akhirnya berhasil ditangkap polisi hari Rabu lalu.

4.     Kesesatan amfiboli (arti bercabang)

  • Kesesatan jenis ini terjadi karena struktur kalimat bercabang. Contoh: Mina, anak Pak Broto, yang sakit ingatan, hilang dari rumah. Dalam proposisi ini siapa yang sakit ingatan? Mina atau Pak Broto? Supaya kesesatan semacam ini bisa dihindari, sebaiknya kalimat itu diubah menjadi: Putri Pak Broto bernama Mina yang sedang sakit ingatan itu menghilang dari rumah.
  • Tentu kalimat bertingkat semacam ini bisa dipecah menjadi sekurang-kurangnya dua kalimat sederhana.

5.     Kesesatan aksen atau tekanan (prosodi)

  • Kesesatan jenis ini terjadi karena pemberian tekanan yang salah dalam pembicaraan. Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Ada peraturan, “Seseorang tidak boleh mengganggu istri tetangga Anda.” Nah, Pak Budi bukan tetangga saya, karena dia tinggal di Bogor sementara saya di Jakarta. Kalau begitu saya boleh mengganggu istrinya. Nah, kesalahan atau kesesatan terjadi karena istri tetangga diberi penekanan secara berlebihan, karena peraturan semacam itu berlaku tidak hanya untuk istri tetangga. (2) Pertimbangkan contoh lain berikut: (a) Rinso membersihkan segalanya. (b) Kita tidak boleh berkata-kata yang bernada melecehkan teman sendiri.

6.     Kesesatan bentuk pembicaraan: Kesesatan jenis ini terjadi karena seseorang menyimpulkan bahwa kesamaan konstruksi dari satu istilah berlaku juga untuk istilah lainnya. Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Berpakaian artinya memakai pakaian; (2) Bersepatu artinya memakai sepatu; (3) Beristri artinya memakai istri

7.     Kesesatan aksiden: Kesesatan ini terjadi karena orang mengacaukan apa yang aksiden dengan apa yang esensial (hakiki) atau sebaliknya. Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Sawo matang adalah warna; (2) Orang Indonesia itu sawo matang; (3) Jadi, orang Indonesia itu adalah warna.

8.     Kesesatan karena alasan yang salah atau hanya diandaikan. Kesesatan ini terjadi ketika sebuah konklusi ditarik dari premis yang tidak relevan dengannya. Premis dimaksud untuk meyakinkan orang lain supaya menerima konklusi. Perhatikan contoh-contoh berikut.(1) Bambang harus dipromosikan menjadi manajer. (2) Dia adalah anggota tim yang baik; (3) Ayahnya seorang eksekutif bisnis; (4) Ibunya seorang yang sangat saleh; (5) Dia termasuk dalam asosiasi profesional yang sama dengan bos. Kesimpulannya: Oleh karena itu Bambang harus dipromosikan menjadi manajer

Latihan

Telitilah soal-soal di bawah ini. Tunjukkan jenis kesesatan diksi dan perbaiki kalimat-kalimat tersebut supaya tidak menyesatkan lagi!

  1. Untuk mencapai kawasan Puncak di akhir pekan dibutuhkan waktu lebih dari tiga jam.
  2. Aurel, teman Benny yang malang itu, tutup usia seminggu yang lalu.
  3. (a)    Marta selalu ke gereja setiap minggu; (b) Di rumah pun Marta rajin berdoa; (c) Dia selalu berusaha untuk hidup baik; (d) Mengapa Marta sering sakit-sakitan?
  4. Mahasiswa yang duduk di atas meja yang paling depan diminta menghadap rektor.
  5. Merokok membahayakan kesehatan ibu hamil dan janinnya. Kamu kan bukan ibu hamil. Jadi, kamu boleh merokok.
  6. (a) Akhir sebuah benda adalah kesempurnaannya; (b) Maut adalah akhir dari kehidupan; (c) Jadi, maut adalah kesempurnaan kehidupan.

LATIHAN PROPOSISI


  1. Dari butir-butir soal di bawah ini, manakah yang termasuk proposisi
    1. Dia anak manis.
    2. Silahkan duduk!
    3. Apakah kamu suka minum teh?
    4. Secara operasional, logika menganalisa bahasa.
    5. Anak yang kemarin siang datang ke rumah saya dengan membawa sekaleng biskuit untuk kakak saya yang sedang sakit.
    6. Tujuan logika ialah untuk meningkatkan kemampuan berpikir tepat.
    7. Dirgahayu Republik Indonesia!
    8. Buku tebal itu.
    9. Sakitnya hati saya.
    10. Awas, jangan nakal lagi, ya!
    11. Menurut sifat pengakuan dan pengingkarannya, proposisi-proposisi di bawah ini termasuk proposisi jenis apa? (tidak cukup kalau hanya menyebutkan proposisi kategoris atau hipotesis!)
      1. Saya tidak suka pergi ke disko.
      2. Jika kamu ikut, aku tak takut.
      3. Pasti ia tak menepati janjinya.
      4. Kamu tidak dapat sekaligus menjadi mahasiswa dan pelaut.
      5. Kalau saja hari tak hujan, saya sudah pergi ke kampus.
      6. Penjahat yang tertangkap akan menjalani hukuman yang berat.
      7. Aku yang berhenti atau dia yang berhenti.
      8. Ia sangat nakal.
      9. Saya tidak dapat sekaligus menjadi mahasiswa dan karyawan.
      10. Atau saya tidur atau kita teruskan pembicaraan kita.
      11. Kembalikan proposisi-proposisi di bawah ini ke dalam bentuk yang standar!
        1. Empat sepeda motor tersebut disita dari seorang penadah di daerah Pecenongan.
        2. Polisi setempat sudah lama mencurigai pengusaha sepatu di desa Ciamis itu.
        3. Nomor polisi itu ternyata dihidupkan kembali untuk mobil baru itu.
        4. Hasilnya, golok itu diduga keras sebagai barang bukti kejahatan.
        5. Berdasarkan alasan-alasan itu polisi mengambil tindakan.
        6. Anjing itu sangat pintar.
        7. Kasihan adalah perasaan yang selalu muncul dalam dirinya.
        8. Masih ada perampok berpistol.
        9. Yang datang ke tempat itu semuanya berasal dari satu fakultas.
        10. Kata orang ibunya sudah menikah tiga kali.
        11. Proposisi-proposisi di bawah ini menurut kuantitas dan kualitasnya termasuk proposisi apa?
          1. Tidak semua peserta menyetujui usul itu.
          2. Yang tidak mau bekerja tidak mendapat upah.
          3. Tidak semua yang berkilap-kilap itu emas.
          4. Orang Bali pandai menari.
          5. Tak ada manusia yang tidak mati.
          6. Kebanyakan karyawan di perusahaan melakukan korupsi.
          7. Beberapa penyakit dapat disembuhkan.
          8. Ada anjing menyalak.
          9. Orang itu sakit kakinya.
          10. Jakarta adalah kota terbesar di Indonesia.
          11. Mereka yang tidak mendukung ketua senat itu melakukan unjuk rasa.
          12. Orang kaya masih kurang sadar akan tanggung jawab sosialnya.
          13. Ada keraguan membawa hasil.
          14. Semua harapan pada dirinya tak juga disampaikan.
          15. Orang yang tidak punya rasa malu itu dengan lahapnya menghabisi semua hidangan yang tersedia.
          16. Seorang kuli bangunan jatuh dari tingkat delapan gedung itu.
          17. Mahasiswa kedokteran tidak diperkenankan mengikuti kegiatan itu.
          18. Kolam itu bukanlah kolam yang paling dirawat di desa itu.
          19. Anggrek itu bunga yang indah.
          20. Team “Arjuna” mengalahkan semua team yang mengikuti turnamen olahraga basket itu.
          21. Tulislah proposisi-proposisi di bawah ini dengan lambang Boole dan kemudian buatlah Diagram Venn!
            1. Beberapa jenis anjing itu sangat ganas.
            2. Tidak ada binatang yang tidak takut pada manusia.
            3. Tidak semua orang pandai menyanyi.
            4. Semua binatang hanya dapat hidup di lingkungan tertentu.
            5. Tidak ada gadis yang punya suami.
            6. Banyak pemuda suka merokok.
            7. Tidak semua penjahat dapat dibekuk batang lehernya.
            8. Dia bukanlah pembunuh yang dicari polisi.
            9. Tidak ada logika tradisional yang bukan sistem ciptaan Aristoteles.
            10. Pikiran manusia tidak diciptakan untuk berpikir tidak tepat.
            11. Apabila proposisi-proposisi (1) pada masing-masing butir di bawah ini adalah benar, apakah proposisi-proposisi (2), (3), dan (4) adalah benar atau salah atau tidak pasti? Sebaliknya, apabila proposisi-proposisi (1) itu adalah salah, apakah proposisi-proposisi (2), (3), dan (4) itu benar atau salah atau tidak pasti?
            12. 1.      Biduan bukan orang yang pandai bergaya.

2.      Ada biduan yang tidak pandai bergaya.

3.      Tidak semua biduan tidak pandai bergaya.

4.      Tidak ada biduan tidak pandai bergaya.

  1. 1.      Tidak ada gading yang tak retak.

2.      Tidak semua gading retak.

3.      Beberapa gading retak.

4.      Semua gading tidak retak.

  1. 1.      Kebanyakan anjing setia pada tuannya.

2.      Setidak-tidaknya seekor anjing tidak setia pada tuannya.

3.      Binatang yang disebut anjing semuanya setia pada tuannya.

4.      Semua anjing tidak setia pada tuannya.

  1. 1.      Tidak semua mahasiswa suka menyontek.

2.      Ada mahasiswa yang suka menyontek.

3.      Tidak ada mahasiswa suka menyontek.

4.      Semua mahasiswa suka menyontek.

  1. Tentukanlah luas term predikat dari proposisi-proposisi yang terdapat pada nomor empat di atas!
  2. Buatlah pembalikan dari proposisi-proposisi di bawah ini apabila memang bisa dibalik!
    1. Semua barang luar negeri mahal harganya.
    2. Tidak ada batu yang terapung di air.
    3. Beberapa tanaman bukanlah yang termasuk tumbuh-tumbuhan berakar serabut.
    4. Semua ikan tidak hidup di darat.
    5. Masih ada manusia yang makan sagu.
    6. Tidak semua manusia itu bisa membaca.
    7. Anak itu pandai sekali di kelasnya.
    8. Seorang pencuri kemarin ditangkap polisi.
    9. Beberapa barang impor dianggap menaikkan gengsi.
    10. Tak ada orang yang tak suka makan.

Pembalikan atau Konversi


Pembalikan adalah pengungkapan kembali kebenaran yang terkandung dalam suatu proposisi dengan cara menukar tempatkan term subyek dengan term predikatnya, tanpa mengubah kualitas (bentuk) proposisi itu.

Karena dalam suatu proposisi terjadi suatu hubuangan antar term-subyek dan term predikatnya, maka berdasarkan itu dapat pula disimpulkan mengenai hubungan antara term predikat dan term subyeknya.

Agar kesimpulan dari pembalikan itu benar, luas term subyek dalam kesimpulan harus tetap sama dengan luas term predikat dalam proposisi asal (premis). Hal ini tidak begitu sulit apabila dalam proposisi premisnya luas term subyek dan luas term predikatnya sama: kedua-keduanya universal atau kedua-duanya partikular.

Ada dua macam pembalikan, yaitu:

(1) Pembalikan sederhana yang meliputi pembalikan terhadap proposisi E dan I

-               Proposisi E dibalik menjadi proposisi E karena luas term subyek dan term predikat sama-sama universal. Artinya proposisi E kalau dibalik tetap menjadi proposisi E.

Contoh:

Premis: Semua mahasiswa bukan anak kecil (proposisi E)

Kesimpulan: Semua anak kecil bukan mahasiswa (proposisi E)

-           Pembalikan proposisi I pada proposisii I luas term subyek dan term predikat partikular. Dengan demikian proposisi I kalau dibalik tetap menjadi proposisi I.

Misalnya:

Premis: Beberapa mahasiswa berlatih karate (proposisi I)

Kesimpulan: Beberapa yang berlatih karate adalah mahasiswa (proposisi I).

(2) Pembalikan dengan pembatasan yang berlaku pada proposisi A. Luas term predikat proposisi A adalah partikular. Kalau dibalik secara sederhana begitu saja, maka term predikat yang semula partikular akan menjadi universal.

Contoh:

Premesi: Semua buku logika adalah buku penting” (proposisi A: luas term “buku penting” adalah partikular).

Kesimpulan: “Semua buku penting adalah buku “logika” (proposisi A : luas term “buku penting” menjadi universal).

Jelaslah bahwa kesimpulan di atas salah. Untuk mendapatkan pembalikan yang tepat terhadap proposisi A, haruslah dilakukan dengan membatasi luas term subyek dalam proposisi kesimpulan menjadi partikular. Itu berarti pembalikan terhadap contoh di atas seharusnya adalah:

Kesimpulan: “Sebagian buku penting adalah buku logika” (proposisi I: luas term “buku penting” adlaah partikular).

Jadi, proposisi A hanya bisa dibalik menjadi proposisi I. itulah sebabnya mengapa pembalikan terhadap proposisi A ini bisa disebut juga pembalikan terbatas.

Mengenai proposisi O, secara umum harus dikatakan bahwa proposisi O tidak dapat dibalik. Kalau dibalik, kita akan mendapatkan kesimpulan yang salah sebagaimana terlihat pada contoh berikut ini:

Premis: Sebagian manusia bukan dokter (proposisi O).

Kesimpulan: Sebagian dokter bukan manusia (proposisi O).

Luas Term Predikat


Kuantitas suatu proposisi tergantung pada luas term subyeknya. Namun, selain dari luas term subyek, perlu pula kita perhatikan luas term predikat, khususnya dalam hubungan dengan “pembalikan” dan “silogisme kategorisme”.

Masalah pokok luas term predikat, dalam hubungan dengan proposisi afirmatif dan proposisi negatif, dapat dirumuskan dalam pertanyaan berikut ini: Apakah term predikat suatu proposisi dimaksudkan mencakup seluruh anggotanya (universal/berdistribusi) atau sebagaian anggotanya saja (partikular/tidak berdistribusi)? Berdasarkan pertanyaan tersebut, hukum pokok mengenai luas term predikat adalah sebagai berikut:

DALAM PROPOSISI AFIRMATIF, LUAS TERM PREDIKAT SELALU PARTIKULAR,  DAN DALAM PROPOSISI NEGATIF, LUAS TERM PREDIKAT SELALU UNIVERSAL.

Satu-satunya pengecualian terhadap hukum tersebut ialah apabila term predikat jelas-jelas menunjukkan satu hal tertentu; dan kalau begitu luas term predikat adalah singular dan tidak bisa disebut berdistribusi atau tidak berdistribusi.

Misalnya:

(a)         Lindberg adalah orang yang pertama-tama melintasi lautan Atlantik dengan kapal terbang.

(b)         Slamet bukanlah yang terkecil dari anak-anak Angkatan 2009.

A.     Luas term predikat pada proposisi afirmatif

Apabila kita perhatikan suatu proposisi A seperti “Semua manusia adalah makhluk hidup”, luas term “makhluk hidup” bukanlah universal, melainkan partikular. Dalam proposisi itu tidak dikatakan bahwa “Semua manusia” adalah “Semua makhluk hidup”, melainkan dikatakan “semua manusia adalah “sebagian makhluk hidup”. Karena itu, luas term predikatnya adalah partikular karena hanya mewakili sebagian saja dari anggotanya (tidak berdistribusi).

Misalnya:

(1)

Anjing itu binatang

S        =      P

Manusia adalah makhluk hidup

S                =                 P

Kita lihat bahwa kelas “anjing” atau “manusia” yang tidak dinyatakan kosong berada di dalam kelas “binatang’” atau “makhluk hidup”; dan karena itu kelas “anjing” atau “manusia” tersebut merupakan sebagaian saja dari kelas “binatang” atau “makhluk hidup”. Dengan kata lain, dari diagram-diagram venn tersebut kita dapat melihat bahwa baik kelas “binatang” maupun “makhluk hidup” tidak berdistribusi dan luasnya adalah partikular. Hal ini berlaku juga apabila proposisi A itu adalah proposisi singular (kecuali term predikat itu jelas-jelas menunjukkan hal tertentu).

Selanjutnya apabila kita perhatikan suatu proposisi I seperti “Sebagian hewan suka makan daging”, luas term “suka makan daging” adalah juga partikular. Dalam proposisi itu tidak dikatakan bahwa “sebagian hewan’”adalah “Semua yang suka makan daging”, melainkan dikatakan bahwa “sebagian hewan” adalah “sebagian dari yang suka makan daging”. Jadi, term predikatnya hanya mewakili sebagain saja dari anggotanya (tidak berdistribusi).

Dalam diagram Venn di atas, “sebagian hewan” yang dimaksud dalam proposisi itu berada di dalam kelas “yang suka makan daging” dan karena itu merupakan sebagian saja dari kelas “yang suka makan daging”.  Dengan kata lain, dari diagram Venn tersebut kita dapat melihat bahwa kelas “yang suka makan daging” tidak berdistribusi dan luasnya adalah partikular.

Bahkan kalau kita mendasarkan diri pada isi dari suatu proposisi yang term subyek dan term predikatnya memiliki keluasan yang sama persis, yaitu dalam kasus term predikat merupakan definisi dari term subyek, luas term predikat tetap partikular. Perhatikanlah proposisi “Manusia adalah makhluk berakal budi” merupakan definisi dari “manusia”, kedua term tersebut ditinjau dari sudut isinya mempunyai keluasan yang sama, yakni tidak ada “manusia” selain “makhluk berakal budi” dan tidak ada “makhluk berakal budi” selain “manusia”. Namun ditinjau dari bentuknya, makna proposisi tersebut bukanlah “semua manusia adalah makhluk berakal budi”, sebab saya tidak dapat mengatakan bahwa karena “Ahmad adalah manusia”, maka “Ahmad adalah semua makhluk berakal budi”.

Dari uraian  ini jelaslah bahwa dalam semua proposisi afirmatif, luas term predikatnya adalah partikular kecuali kalau term predikatnya jelas-jelas menunjukkan satu hal tertentu.

B.     Luas term predikat pada proposisi negatif

Dalam proposisi E seperti “Harimau bukanlah kambing”, term subyek yang menunjuk kelas “kambing” sama sekali tidak ada hubungan dengan term predikat yang menunjuk pada kelas “harimau”; begitu juga sebaliknya. Itu berarti “kambing” yang dimaksud dalam proposisi itu bukan hanya “sebagian kambing”, melainkan “Semua yang disebut kambing”; dan karena itu, term “kambing” pada proposisi itu berlaku untuk semua anggotanya (berdistribusi).

Dalam Diagram Venn tersebut, kelas “harimau” yang tidak dinyatakan kosong sama sekali tidak berada di dalam kelas “kambing”; dan dengan demikian dalam proposisi itu terjadi pengingkaran “semua kambing” tentang “semu harimau”. Dengan kata lain, dari Diagram Venn tersebut, dapat kita lihat bahwa kelas “kambing” berdistribusi dan luasnya adalah universal.

Begitu juga halnya dengan proposisi O seperti “Sebagian manusia tidak dapat berdansa”. Dalam proposisi tersebut term subyek “manusia” yang dimaksud (sebagian saja) sama sekali lepas dari term predikat “yang dapat berdansa”; begitu juga sebaliknya. Itu berarti “yang dapat berdansa” yang dimaksud dalam proposisi itu bukan hanya “Sebagian yang dapat berdansa”; dan karena itu term “yang dapat berdansa” pada proposisi itu berlaku untuk semua anggotanya (berdiskusi).

Dalam diagram Venn tersebut, kelas “manusia” yang dimaksud (perhatikan tanda silang) sama sekali tidak berada di dalam kelas “yang dapat berdansa”; dan dengan demikian dalam proposisi itu terjadi pengingkaran “semua yang dapat berdansa” tentang “sebagian manusia”. Dengan kata lain, dari diagram Venn tersebut, tampak bahwa kelas “yang dapat berdansa” berdistribusi dan luasnya adalah universal.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa dalam semua proposisi negatif, luas term predikatnya adalah universal, kecuali jika term predikatnya jelas-jelas menunjukkan satu hal tertentu.

TABEL

Jenis Proposisi Luas Term Predikat
A : Universal-afirmatif

I : Partikular-afirmatif

A : Singular-afirmatif

Pasti particular

Pasti partikular

Partikular, kecuali ternyata singular

E : Universal-negatif

O : Partikular-negatif

E : Singular-negatif

Pasti universal

Pasti universal

Universal, kecuali ternyata singular

Perlawanan atau Oposisi


A.     Apa itu perlawanan

Di antara keempat macam proposisi kategoris, yaitu A, E, I, dan O, yang mempunyai kelas subyek dan predikat yang sama, terdapat suatu relasi di antara mereka yang cukup mendapat perhatian para ahli logika. Relasi yang dimaksud ialah relasi antara dua proposisi yang mempunyai kelas subyek dan predikat yang sama, tetapi berbeda dalam kuantitas dan/atas kualitasnya. Relasi demikian disebut relasi perlawanan (oposisi). Berpijak pada rumusan tersebut, kita mengenal macam-macam perlawanan sebagai berikut:

  • perlawanan dalam hal kuantitas dan kualitas. Biasa disebut perlawanan kontradiktoris, yaitu perlawanan yang terjadi antara proposisi A-O dan antara proposisi E-I:
  • perlawanan dalam hal kualitas. Biasa disebut perlawanan kontraris (kebalikan) untuk perlawanan antara proposisi A-E dan sub-kontraris (kebalikan-bawahan) untuk perlawanan antara proposisi I-O.
  • perlawanan dalam hal kuantitas. Biasa disebut perlawanan subaltern (ketercakupan), yaitu perlawanan yang terjadi antara proposisi A-I dan antara proposisi E-O.



B.     Hukum-hukum perlawanan

HUKUM PERTAMA: Dalam perlawanan kontradiktoris, kedua proposisi yang berlawanan tidak dapat sekaligus benar dan juga tidak dapat sekaligus salah. Jadi, jika proposisi yang satu diketahui benar, proposisi yang lain pasti salah; dan sebaliknya, jika proposisi yang satu diketahui salah, proposisi yang lain pasti benar.

Misalnya: kalau “Semua mahasiswa Atma Jaya pandai” diketahui benar maka lawan kontradiktorisnya “Beberapa mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” pasti salah. Sebaliknya kalau “Beberapa mahasiswa Atma Jaya pandai” diketahui salah, maka “Semua mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” adalah benar.

HUKUM KEDUA: Dalam perlawanan kontraris, kedua proposisi yang berlawanan tidak dapat sekaligus benar, tetapi dapat sekaligus salah. Jadi, jika proposisi yang satu diketahui benar, proposisi yang lain pasti salah, proposisi yang lain bisa benar bisa salah (tidak pasti). Misalnya: kalau “Semua mahasiswa Atma Jaya pandai”, diketahui benar, maka lawan kontrarisnya “Semua mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” adalah salah. Sebaliknya kalau “Semua mahasiswa Atma Jaya pandai” diketahui salah, maka lawan kontrarisnya “Semua mahasiswa Atma Jaya tidak pandai dapat benar, tetapi juga dapat salah. Jadi ada kemungkinan bahwa kedua proposisi yang berelasi secara kontraris dapat sama-sama salah.

HUKUM KETIGA: Dalam perlawanan subkontraris, kedua proposisi yang berlawanan tidak dapat sekaligus salah, tetapi dapat sekaligus benar. Jadi, jika proposisi yang satu diketahui salah proposisi yang lain pasti benar; tetapi jika proposisi yang satu diketahui benar, proposisi yang  lain bisa benar bisa salah (tidak pasti). Misalnya: kalau “Beberapa mahasiswa Atma Jaya pandai diketahui salah maka lawan sub-kontrarisnya “Beberapa mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” adalah benar. Tetapi apabila “Beberapa mahasiswa Atma Jaya pandai” adalah benar, maka lawan sub-kontrarisnya “Beberapa mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” dapat benar tetapi dapat juga salah. Jadi ada kemungkinan keduanya dapat sama-sama benar.

HUKUM KEEMPAT: Dalam perlawanan subaltern, jika universal diketahui benar, proposisi partikular pasti benar; jika proposisi partikular diketahui salah, proposisi universal pasti salah; sebaliknya jika proposisi universal diketahui salah, proposisi partikular bisa benar bisa salah, jika proposisi partikular benar, proposisi universal bisa benar bisa salah.

Misalnya: Kalau “Semua mahasiswa Atma Jaya pandai” diketahui benar, maka “Beberapa mahasiswa Atma Jaya pandai” pasti benar. Atau kalau “Semua mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” benar, maka “Beberapa mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” pasti benar. Tetapi kalau proposisi “Semua mahasiswa Atma Jaya pandai” diketahui salah, maka beberapa mahasiswa Atma Jaya pandai” dapat benar atau salah. Begitu juga “Semua mahasiswa Atma Jaya tidak pandai “diketahui salah, maka “Beberapa mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” bisa benar, bisa juga salah. Tetapi kalau “Beberapa mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” diketahui salah maka “Semua mahasiswa Atma Jaya pandai” diketahui salah maka “Semua mahasiswa Atma Jaya pandai” atau “Semua mahasiswa Atma Jaya tidak pandai” pasti salah.

Perlu dicatat, dalam logika formal, “beberapa” tidak berarti “hanya beberapa” (kecuali memang dengan tegas dimaksudkan demikian, dan kalau begitu hukum-hukum perlawanan ini tidak berlaku), tetapi berarti sekurang-kurangnya beberapa.” Begitu juga dengan kata-kata sinkategorismatis lainnya yang menunjuk pada kuantitas partikular.

Berdasarkan hukum-hukum tersebut, kita dapat menyimpulkan seperti tabel berikut ini:

Premis         kesimpulan

(1)                        (2)                               (3)

A benar             E salah                I benar                        O salah

E benar             A salah                I salah                         O benar

I  benar              E salah                A benar/salah            O benar/salah

O benar             A salah                I  benar /salah            O benar/salah

A salah              O benar               I salah/benar              E benar/salah

E salah              I benar                 A benar/salah            O benar/salah

I salah                A salah                E benar                      O benar

O salah              A benar               I benar                        E salah

Catatan

Sehubungan dengan bujur sangkar perlawanan dan tabel di atas perlu, diperhatikan bahwa proposisi Adan E yang dimaksud adalah proposisi-proposisi (As, s) singular. Alasannya ialah proposisi singular hanya mempunyai perlawanan kontradiktoris. Hal ini terlihat jelas dalam contoh berikut ini: jika proposisi “Willy adalah anak sulung’ diketahui benar, maka proposisi “Willy bukan sulung” pasti salah; jika proposisi “Willy adalah anak sulung” adalah salah, maka proposisi “Willy bukan anak sulung” adalah benar; demikian juga sebaliknya. Dengan begitu terlihat jelas bahwa dalam konteks perlawanan, proposisi singular berbeda benar dengan proposisi universal. Kalau dalam Bab IV, butir 5. c, kami telah menyinggung bahwa sifat proposisi singular lebih mempunyai kesamaan dengan sifat proposisi universal, dan karena itu para ahli logika menggunakan lambang yang sama untuk proposisi singular dan universal (A dan E), hal itu haruslah diingat bahwa kesamaan lambang itu tidak dapat dipertahankan dalam konteks perlawanan. Itulah sebabnya mengapa dalam Bab IV, butir 5. c. itu kami menulis “… kecuali dalam hubungan dengan ‘perlawanan’ yang masih akan kita bicarakan lagi …”. Karena alasan tersebut, untuk mencegah kesalahan ada baiknya kalau dalam konteks perlawanan, proposisi singular tidak kita lambangkan dengan A atau E, melainkan dengan As dan Es.

Kuantitas dan Kualitas proposisi


A.     Kuantitas proposisi

Setiap term di dalam proposisi menunjuk kepada seluruh pengertian. Term “manusia”, misalnya, mewakili pengertian “manusia” yang dikenakan pada setiap individu: si Joni, si Barto, si Dina, si Yanti, dan seterusnya. “Manusia” itu bukan hanya si Gudel atau si Iyem, tetapi “setiap individu” yang memiliki ciri-ciri yang termuat dalam pengertian manusia. Jadi, pengertian “manusia” itu luasnya adalah universal.

Dari pembahasan kita mengenai “luas pengertian”, telah kita ketahui bahwa tidak semua pengertian itu luasnya adalah universal. Kita mengenal juga pengertian yang luasnya singular dan partikular. Dalam hubungan itu, kuantitas sebuah proposisi ditentukan oleh luas term subyeknya. Karena itu, menurut kuantitasnya, proposisi dapat kita bedakan atas:

(a)    Proposisi singular: proposisi yang subyeknya singular; jadi predikat mengakui atau mengingkari hanya tentang satu hal yang tertentu;

(b)    Proposisi partikular: proposisi yang subyeknya partikular; jadi predikat mengakui atau mengingkari hanya sebagian dari luas subyeknya (paling sedikit satu tetapi tidak seluruhnya dan tak tentu); dan

(c)     Proposisi universal: proposisi yang subyeknya universal; jadi predikatnya mengakui atau mengingkari seluruh luas subyeknya.

B.     Kualitas proposisi

Setiap proposisi mengandung pengakuan atau pengingkaran sesuatu (term predikat) tentang sesuatu yang lain (term subyek). Dengan demikian menurut kualitasnya, kita dapat membedakan proposisi atas proposisi afirmatif dan proposisi negatif. Proposisi yang berkualitas afirmatif adalah proposisi yang mengandung pengakuan apa yang menjadi term predikatnya tentang apa yang menjadi term subyeknya. Dalam proposisi “Anton adalah mahasiswa angkatan ‘09” merupakan proposisi afirmatif karena proposisi tersebut mengandung pengakuan atau afirmasi predikat (“mahasiswa angkatan ’09) tentang tentang “Anton”. Sebaliknya, proposisi yang berkualitas negatif adalah proposisi yang mengandung pengingkaran apa yang menjadi term predikatnya tentang apa yang menjadi term subyeknya. Proposisi “Kucing adalah bukan binatang yang bertelur” termasuk proposisi negatif, karena proposisi tersebut mengandung pengingkaran “binatang yang bertelur” tentang “kucing”.

Catatan

Sehubungan dengan penentuan kuantitas dan kualitas proposisi ini, untuk mencegah kesalahan, patutlah kita brhati-hati apabila kita menemukan kata “tidak” atau “bukan” di awal suatu proposisi. Jika kita belum terbiasa, ada baiknya kalau terlebih dahulu kita tanyakan apakah proposisi yang dihadapi itu adalah proposisi kategoris standar? Jika tidak ada baiknya kita kembalikan menjadi proposisi kategoris standar. Proposisi “tidak” ada tumbuh-tumbuhan yang biasa berjalan “adalah proposisi berkualitas negatif dan luasnya universal; tetapi proposisi “tidak ada manusia yang tidak mati” adalah proposisi yang berkualitas afirmatif dan luasnya universal. Sedangkan proposisi “tidak semua anjing setia pada tuannya” adalah proposisi yang berkualitas negatif dan luasnya partikular, tetapi proposisi “Tidak semua pencuri tidak mau bertobat” adalah proposisi yang berkualitas afirmatif dan luasnya partikular.

C.   Klasifikasi proposisi menurut kuantitas dan kualitasnya

Apabila kita klasifikasikan proposisi sekaligus menurut kuantitas dan kualitasnya, kita akan mendapatkan enam macam proposisi:

(1)         proposisi universal afirmatif,

(2)         proposisi partikular afirmatif,

(3)         proposisi singular afirmatif,

(4)         proposisi universal negatif,

(5)         proposisi partikular negatif,

(6)         proposisi singular negatif.

Para ahli logika melambangkan enam macam proposisi di atas dengan empat huruf, yakni A, E, I, dan O sebagaimana tampak dalam tabel di bawah ini!

Afirmatif Negatif
Universal dan Singular A E
Partikular I O

Proposisi A:

  • Proposisi universal afirmatif. Contoh:

- Setiap orang mengalami kesulitan hidup

- Emas adalah logam mulia

- Semua mahasiswa lulus ujian

  • proposisi singular afirmatif. Contoh:

- Jakarta adalah ibukota negara Republik Indonesia

- Edward Ali adalah dokter pertama lulusan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta.

Proposisi E:

  • Proposisi universal negatif. Contoh:

- Tak seorangpun bebas dari kesalahan

- Tidak ada sapi yang buas

-  Semua orang Flores tidak pandai berdagang

  • proposisi singular negatif. Contoh:

-  Amir bukanlah anak nakal

-  Indonesia bukan negara agama

Proposisi I:

  • proposisi partikular afirmatif. Contoh:

-   Sebagai mahasiswa mengikuti latihan karate

-   Ada serangga yang berbahaya

-   Tidak semua orang tidak dapat berdansa

Proposisi O:

  • proposisi partikular negatif. Contoh:

-   Sebagian orang suka lagu cengeng

-   Tidak semua anjing setia pada tuannya

-   Ada mahasiswa tidak membuat tugas logika