Tag Archives: kesesatan diksi

KESESATAN DIKSI


1.     Penempatan preposisi (kata depan yang keliru)

  • Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan (sesat).  Proposisi ini seharusnya dipecah menjadi (1) Antara hewan dan manusia ada perbedaan.; atau (2) Manusia dan hewan memiliki perbedaan.
  • Bagi mereka yang lulus tes harus mendaftar ulang (sesat). Proposisi ini seharusnya dipecah menjadi (1) Mereka yang lulus tes harus mendaftar ulang; atau (2) Bagi mereka yang lulus tes ada keharusan untuk mendaftar ulang.

2.     Mengacaukan posisi subjek dan predikat

  • Sering terjadi dalam kalimat yang memiliki frase partisipal. Contoh: Karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, guru menghukum anak itu.
  • Siapa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah? Dalam kalimat ini terkesan yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah adalah guru. Karena itu, sebaliknya kalimat itu menjadi: (1) Guru menghukum siswa yang tidak mengerjakan PR; atau (2) Karena tidak mengerjakan PR, anak itu dihukum guru.

3.     Kesesatan karena ungkapan yang keliru

  • Penjahat kawakan itu berhasil ditangkap polisi di kawasan Tanah Abang, hari Rabu lalu. Masalahnya: Siapa yang berhasil? Penjahat atau polisi? Kalimat ini mengesankan bahwa ada seorang penjahat kawakan yang terus berusaha untuk ditangkap polisi, tetapi selalu gagal. Usaha penjahat kawakan untuk ditangkap polisi baru berhasil hari Rabu lalu.
  • Nah, untuk menghindari kekeliruan semacam ini, sebaiknya kalimat diubah menjadi: (1) Polisi berhasil menangkap penjahat kawakan itu, hari Rabu lalu; atau (2) Penjahat kawakan itu akhirnya berhasil ditangkap polisi hari Rabu lalu.

4.     Kesesatan amfiboli (arti bercabang)

  • Kesesatan jenis ini terjadi karena struktur kalimat bercabang. Contoh: Mina, anak Pak Broto, yang sakit ingatan, hilang dari rumah. Dalam proposisi ini siapa yang sakit ingatan? Mina atau Pak Broto? Supaya kesesatan semacam ini bisa dihindari, sebaiknya kalimat itu diubah menjadi: Putri Pak Broto bernama Mina yang sedang sakit ingatan itu menghilang dari rumah.
  • Tentu kalimat bertingkat semacam ini bisa dipecah menjadi sekurang-kurangnya dua kalimat sederhana.

5.     Kesesatan aksen atau tekanan (prosodi)

  • Kesesatan jenis ini terjadi karena pemberian tekanan yang salah dalam pembicaraan. Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Ada peraturan, “Seseorang tidak boleh mengganggu istri tetangga Anda.” Nah, Pak Budi bukan tetangga saya, karena dia tinggal di Bogor sementara saya di Jakarta. Kalau begitu saya boleh mengganggu istrinya. Nah, kesalahan atau kesesatan terjadi karena istri tetangga diberi penekanan secara berlebihan, karena peraturan semacam itu berlaku tidak hanya untuk istri tetangga. (2) Pertimbangkan contoh lain berikut: (a) Rinso membersihkan segalanya. (b) Kita tidak boleh berkata-kata yang bernada melecehkan teman sendiri.

6.     Kesesatan bentuk pembicaraan: Kesesatan jenis ini terjadi karena seseorang menyimpulkan bahwa kesamaan konstruksi dari satu istilah berlaku juga untuk istilah lainnya. Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Berpakaian artinya memakai pakaian; (2) Bersepatu artinya memakai sepatu; (3) Beristri artinya memakai istri

7.     Kesesatan aksiden: Kesesatan ini terjadi karena orang mengacaukan apa yang aksiden dengan apa yang esensial (hakiki) atau sebaliknya. Perhatikan contoh-contoh berikut. (1) Sawo matang adalah warna; (2) Orang Indonesia itu sawo matang; (3) Jadi, orang Indonesia itu adalah warna.

8.     Kesesatan karena alasan yang salah atau hanya diandaikan. Kesesatan ini terjadi ketika sebuah konklusi ditarik dari premis yang tidak relevan dengannya. Premis dimaksud untuk meyakinkan orang lain supaya menerima konklusi. Perhatikan contoh-contoh berikut.(1) Bambang harus dipromosikan menjadi manajer. (2) Dia adalah anggota tim yang baik; (3) Ayahnya seorang eksekutif bisnis; (4) Ibunya seorang yang sangat saleh; (5) Dia termasuk dalam asosiasi profesional yang sama dengan bos. Kesimpulannya: Oleh karena itu Bambang harus dipromosikan menjadi manajer

Latihan

Telitilah soal-soal di bawah ini. Tunjukkan jenis kesesatan diksi dan perbaiki kalimat-kalimat tersebut supaya tidak menyesatkan lagi!

  1. Untuk mencapai kawasan Puncak di akhir pekan dibutuhkan waktu lebih dari tiga jam.
  2. Aurel, teman Benny yang malang itu, tutup usia seminggu yang lalu.
  3. (a)    Marta selalu ke gereja setiap minggu; (b) Di rumah pun Marta rajin berdoa; (c) Dia selalu berusaha untuk hidup baik; (d) Mengapa Marta sering sakit-sakitan?
  4. Mahasiswa yang duduk di atas meja yang paling depan diminta menghadap rektor.
  5. Merokok membahayakan kesehatan ibu hamil dan janinnya. Kamu kan bukan ibu hamil. Jadi, kamu boleh merokok.
  6. (a) Akhir sebuah benda adalah kesempurnaannya; (b) Maut adalah akhir dari kehidupan; (c) Jadi, maut adalah kesempurnaan kehidupan.