LANGKAH-LANGKAH BERPIKIR KRITIS


Gunakan langkah-langkah berpikir kritis sebagaimana dibahas dalam buku Critical Thinking (Kasdin Sihotang, dkk, Sinar Harapan, Jakarta: 202, hlm. 7-8) untuk membedah artikel berjudul “Menyimak Gelagat Rudi Rubiandini” di bawah ini.

Menyimak Gelagat Rudi Rubiandini

             BANYAK orang mengaku terhenyak dengan ditangkapnya Rudi Rubiandini, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Tragis memang, mengingat posisinya juga sebagai mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Bahkan secara akademik, gelar guru besar juga disandang.

Lebih miris lagi, justru dia tertangkap tangan bersama dengan uang dalam valuta dolar AS senilai $400 ribu atau lebih dari Rp 4 miliar. Ada motor merek BMW pula yang ikut diangkut Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai barang bukti dugaan suap. Pupus sudah persepsi yang dibangun Rudi. Sejatinya, dari gelagat yang diperlihatkan ke publik melalui media, dia ingin tampil sebagai pejabat sederhana dengan cara menumpang kereta kelas ekonomi saat mudik. Foto keberadaannya di besi merayap itu pun disebarkan media – entah media ikut atau memang sengaja disebarkan. Selain itu, dosen teladan Institut Teknologi Bandung ini juga ingin mencitrakan diri sebagai pejabat yang peduli terhadap pemberantasan korupsi. Ketika menjadi Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, dia mendatangi KPK dengan sesumbar ingin mencegah terjadinya korupsi di sektor migas.

Usia pencitraan Rudi tak berlangsung lama. Hijab itu terbuka sudah. Bahkan selain dana $700 ribu dolar yang Rudi terima secara langsung, KPK menemukan miliaran dananya yang lain berceceran di banyak tempat. Dari kotak deposit pada Bank Mandiri hingga brankas ruang kerjanya.

Apa yang terjadi pada Rudi, sejatinya mengajarkan kita pada satu hal penting. Pencitraan yang dilakukan oleh pejabat publik, sangat mungkin sebagai pengelabuan atau deception dalam rangka membangun persepsi. Salurannya adalah media. Memang, secara jurnalistik, sudut pandang sisi kemanusiaan atau human interest seorang tokoh menarik diliput. Sayangnya, nalar kritis pun ikut larut. Hanyut bersama medianya yang mudah takjub. Gelagat pejabat mencitrakan dirinya dengan pendekatan human interest ini sebenarnya tak hanya dilakukan Rudi. Masih ada yang lain.

Sebagai contoh, beberapa menteri merasa perlu menginap di rumah petani miskin dana demi dicitrakan sebagai pejabat peduli rakyat. Foto pun disebar lewat media, yang kemudian menyajikannya kepada pembaca. Padahal tidak ada hubungan antara tidur di rumah petani dengan tugas sebagai pejabat publik yang diemban. Begitulah memang model pengelabuan alias deception. Seperti pemain sulap. Tugasnya adalah menjajah serta menguasai pemikiran dan persepsi publik agar mempercayai peran manipulatif yang dimainkan.Dalam kerangka berpikir pengelabuan itu, para pelaku menciptakan fiksi atau dunia mimpi semacam mitologi Cinderella. Kisah inilah yang disajikan.

Model lain dalam upaya pengelabuan, ada juga melalui penyembunyian fakta sesungguhnya. Contoh paling mudah bisa dilihat pada pejabat publik yang biasa mengumumkan sudah melepas semua bisnisnya saat pertama diangkat. Padahal tidak seperti itu kebenarannya. Hanya beralih nama, tapi tidak pindah kepemilikan.

Mengapa perlu menyembunyikan jika memang tidak memiliki niat jelek? Kembali soal Rudi. Dalam gelagatnya yang terakhir diketahui ini, dia sudah memperlihatkan bukan sebagai tokoh sederhana dan lugu seperti pengelabuannya. Selera terhadap motor klasik merek BMW serta uang miliaran yang tak masuk dalam sistem keuangan rumah tangganya bisa dijadikan bukti. Selain itu, gajinya yang sekitar Rp 200 juta – dari jabatan Kepala SKK Migas dan Komisaris Bank Mandiri – terasa tak cukup. Meski bukan profesional atau eksekutif di perusahaan mentereng berskala multinasional, pendapatan resminya itu sudah tergolong sangat besar. Untuk itu, kita memang perlu makin mawas diri oleh ulah para pejabat publik yang senang menebar kisah fiksi. Sesungguhnya mereka sedang mendesain pengelabuan dengan menjajah alam pikir audiensnya, yaitu masyarakat yang seharusnya dilayani. (Artikel diambil dari Herry Gunawan | Newsroom Blog – Jum, 16 Agu 2013).

Jawab:

Langkah pertama: mengenali masalah. Langkah ini sangat penting karena akan menentukan kemampuan seseorang dalam bersikap kritis terhadap suatu masalah. Setelah membaca artikel di atas, kita bisa mengajukan pertanyaan ini: “Apa masalah yang diangkat dalam artikel ini?”

Di kelas saya, para mahasiswa mengemukakan empat masalah berikut.

  • Korupsi
  • Penyalahgunaan kekuasaan.
  • Pembohongan publik melalui pencitraan.
  • Mengejar kepentingan diri.

Dapat ditanyakan lebih lanjut kepada setiap mahasiswa yang menjawab pertanyaan di atas, misalnya “mengapa dia menyimpulkan bahwa masalahnya adalah korupsi?” Demikian pula terhadap mahasiswa yang mengajukan jawaban “penyalahgunaan kekuasaan”, “pembohonan publik melalui pencitraan”, dan “mengejar kepentingan diri”. Pertanyaan lanjutan ini penting untuk mendalami pokok persoalan, apakah artikel di atas memang berbicara tentang hal-hal yang dikemukakan mahasiswa tersebut.

Kita juga bisa bertanya kepada mahasiswa yang lain, apakah artikel tersebut memang membicarakan hal-hal sebagaimana diangkat oleh teman mereka. Pasti kita akan menemukan beragam pendapat dan sudut pandang yang berbeda. Di kelas saya, akhirnya – dengan bantuan pertanyaan pendalaman – mahasiswa sepakat bahwa artikel tersebut sedang berbicara mengenai pembohonan publik melalui pencitraan. Kelas sepakat bahwa kasus korupsi dijadikan sebagai “cara bernarasi” untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan politik pencitraan untuk meyakinkan publik bahwa seseorang itu baik secara moral.

Sebagaimana sudah kita pelajari, suatu masalah sebaiknya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Karena itu, pertanyaan atas masalah tersebut dapat dirumuskan demikian: “Apakah dapat dibenarkan atau tidak jika seorang pejabat publik melakukan politik pencitraan dengan menampilkan diri sebagai sosok yang baik hanya demi menutupi kebobrokan dan sikap koruptifnya?”

Langkah kedua: menemukan cara-cara untuk menangani masalah tersebut. Di kelas saya ada banyak pendapat yang muncul. Ada mahasiswa yang berpendapat bahwa caranya adalah dengan menghentikan politik pencitraan. Ada juga yang mengatakan bahwa media massa tidak usah meliput dan menyiarkan sepak terjang pejabat publik yang hanya mau mencari popularitas demi kepentingan dirinya. Hal yang menarik adalah argumen yang dikemukakan oleh penulis artikel di atas. Bahwa masyarakat Indonesia menyukai hal atau pemberitaan yang berbau sensaional, yang mengangkat kehidupan orang dengan bumbu-bumbu yang cenderung dramatis. Jika potret ini benar, akan sulit menghilangkan politik pencitraan.

Menyadari hal ini, ada mahasiswa yang kemudian mengajukan jalan keluar yang menurut saya cukup tepat. Bahwa masyarakat harus dididik untuk bersikap kritis terhadap setiap pemberitaan. Ada yang dengan lugu menjawab, “Masyarakat harus belajar critical thinking”. Poin yang diangkat sebenarnya adalah pentingnya mengedukasi masyarakat untuk tidak mudah percaya pada berbagai upaya pembohongan publik, termasuk mencitrakan diri sebagai orang baik dan bermoral, padahal kenyataannya tidak demikian.

Langkah ketiga: mengumpulkan dan menyusun informasi untuk menyelesaikan masalah. Para mahasiswa diminta untuk menyebutkan berbagai fakta yang relevan yang dapat membantu kelas mencari jalan keluar pemecahan masalah. Informasi bisa saja berasal dari fakta yang ada dalam artikel tersebut, tetapi bisa juga dengan menambahkan informasi dari sumber lain, asal relevan dengan masalah yang dibicarakan.

Karena mahasiswa berpendapat bahwa jalan keluar untuk memecahkan masalah yang mereka kemukakan adalah dengan mengedukasi masyarakat (supaya memiliki sikap kritis), maka fakta-fakta yang dicari dapat juga diarahkan ke situ. Beberapa fakta dapat dikemukakan.

  1. Media massa Indonesia suka memanfaatkan kelemahan pembaca (sulit bersikap kritis) jika membaca atau menyimak pemberitaan yang menonjolkan sisi kemanusiaan atau sisi human interests.
  2. Pejabat publik memiliki agenda tersembunyi (“rencana” korupsi) tetapi supaya masyarakat tidak mencurigainya, dia terlebih dahulu menampilkan diri sebagai orang baik (secara moral: sopan, lugu, peduli pada kepentingan publik, dsb).
  3. Orang cerdas secara intelektual ternyata tidak menjadi jaminan bahwa dia akan bersikap baik secara moral.

Untuk kasus ini, mahasiswa memang tidak menyebutkan fakta-fakta lain di luar artikel tersebut. Meskipun demikian, kita bisa menarik atensi mahasiswa kepada berbagai upaya pejabat publik lainnya dalam mencitrakan diri sebagai orang baik, padahal perilakunya buruk secara moral. Fakta-fakta lain tersebut mendukung usaha menyelesaikan masalah yang diangkat di atas, yakni pentingnya mengedukasi masyarakat supaya bersikap kritis terhadap berbagai pemberitaan.

Langkah keempat: mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan. Langkah ini penting untuk mendeteksi maksud tersembunyi di balik suatu permasalahan, kasus, asumsi, klaim atau tulisan. Langkah keempat ini bisa dijawab, misalnya dengan mengajukan pertanyaan ini: “Apakah ada kepentingan tertentu yang ada di balik pemikiran penulis ketika mengangkat masalah ini?” “Apakah penulis memang berangkat dari motivasi murni untuk menyadarkan publik tentang bahaya pembohongan publik yang dilakukan oleh pejabat publik?” “Atau, jangan-jangan penulis memiliki bias tertentu terhadap tokoh yang dia kritik?”

Artikel ini menunjukkan bahwa kalaupun penulis memiliki kepentingan tertentu yang ingin dia capai, kepentingan tersebut semata-mata adalah keinginan untuk “membebaskan” masyarakat dari berbagai pembohongan publik.

Langkah kelima: Menggunakan Bahasa Indonesia yang tepat, jelas, dan khas dalam mendiskusikan persoalan yang diangkat oleh penulis artikel tersebut. Langkah ini tercapai ketika dosen (pengajar) memiliki kepekaan terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar supaya dia bisa langsung mengoreksi kesalahan mahasiswanya dalam mengemukakan pendapat.

Langkah keenam: Mengevaluasi data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan. Mahasiswa bisa diajak untuk menyusun pernyataan mereka; bisa berupa pernyataan sikap. Mahasiswa di kelas saya mengajukan pernyataan berikut: “Kami menolak berbagai upaya pembohongan publik melalui politik pencitraan dengan maksud untuk membohongi masyarakat.” Mahasiswa juga berpendapat, “Kami memboikot media massa yang pemberitaannya menonjolkan semata-mata aspek human interest dengan maksud untuk memanfaatkan kelemahan pembaca demi kepentingan tertentu.”

Mahasiswa dapat mengajukan pernyataan apa saja yang ingin mereka kemukakan, yang penting relevan dan sejalan dengan jalan keluar atas masalah yang diangkat di atas. Yang penting, terhadap setiap pernyataan yang dikemukakan itu, kita bisa mengajukan pertanyaan, “Apakah pernyataan tersebut didukung oleh fakta-fakta yang memang relevan dengan topik yang diberikan? Karena kasus yang diangkat dalam artikel itu adalah pembohongan publik melalui pencitraan diri, maka kedua pernyataan yang dikemukakan mahasiswa tersebut adalah relevan dan didukung oleh data dan fakta yang memadai.

Langkah ketujuh: mencermati adanya hubungan logis antara masalah-masalah dengan jawaban-jawaban yang diberikan. Di sini kita bisa mengulang sekali lagi masalah yang sudah dirumuskan di atas, yakni “Apakah dapat dibenarkan atau tidak jika seorang pejabat publik mencitrakan dirinya sebagai orang baik, padahal motifnya adalah ingin menutupi keburukan perilakunya dalam melakukan korupsi?”

Mahasiswa menjawab bahwa sikap atau perilaku semacam itu sangat tidak dibenarkan. Dan jalan keluar yang mereka tawarkan bukan sekadar mengecam pejabat publik yang berperilaku demikian, tetapi lebih pada bagaimana mengedukasi masyarakat supaya memiliki sikap kritis. Tentu ada hubungan logis antara masalah yang dikemukakan (dalam bentuk pertanyaan) dengan jawaban yang diberikan. Hubungan logisnya dapat diuraikan demikian:

  • Bersikap kritis dapat membantu manusia untuk tidak mudah percaya pada suatu hal, termasuk berbagai politik pencitraan melalui media massa.
  • Masyarakat Indonesia (pembaca) masih mudah percaya pada politik pencitraan melalui media massa.
  • Karena itu, sikap kritis dapat membantu masyarakat Indonesia agar tidak mudah percaya pada politik pemberitaan melalui media massa.
  • Hal ini dapat dicapai melalui edukasi atau pendidikan sikap kritis.

Langkah kedelapan: Menarik kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan yang sedang dibicarakan. Sebagai langkah terakhir dari langkah-langkah berpikir kritis, kita bisa mengulang kesimpulan (jalan keluar) yang sudah disepakati kelompok (kelas). Sejauh kelompok/kelas tidak berkeberatan lagi terhadap kesimpulan yang kita kemukakan, kita menganggap langkah-langkah berpikir kritis ini sudah tercapai.[]

APA ITU BERPIKIR KRITIS?


Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar kata “kritis”? Apa maksudnya ketika seseorang mengatakan kepadamu, “Kamu harus kritis menjawab setiap pertanyaan dosen.” Kata kritis kadang-kadang bernada peyoratif bahkan negatif. Bahkan dalam rezim pemerintahan orotiter, kata kritis “diharamkan”. Orang yang kritis akan dimusuhi penguasa. Dalam konteks ini kata kritis mengindikasikan sikap tertentu dalam berpikir atau bertindak yang mengambil jarak, tidak mau terima begitu saja pendapat, keadaan, cara berpikir tertentu, dan sebagainya. Di sinilah berpikir kritis bisa kita pahami sebagai berpikir dalam cara tertentu yang melibatkan observasi atau keterampilan dalam mengambil putusan tertentu. Berpikir dalam cara demikian memampukan seseorang untuk mengambil jarak, mempertanyakan, tidak menerima segala sesuatu secara dogmatis, menunda terlebih dahulu putusan-putusannya untuk melihat dan memahami suatu objek secara lebih mendalam. Berpikir kritis mendeskripsikan “cognitive skills and intelectual dispositions needed to effectively identify, analyze, and evaluate arguments and truth claims; to discover and overcome prejudices and biases; to formulate and present convincing reasons in support of conclusions; and to make reasonable, intelligent decissions about what to believe and what to do.”

Coba bandingkan dua kalimat berikut dan berikan komentar berdasarkan apa yang Anda pahami.

1.      Harga mobil bekas yang kamu tawarkan itu terlalu mahal. Harga di dealer resmi bahkan tidak sampai setengahnya.

2.      Keadaanku ini menandakan Tuhan sedang menguji imanku.

Dengan kata lain, berpikir kritis adalah sebuah disiplin dalam berpikir yang ditandai oleh adanya standar-standar intelektual yang jelas. Standar-standar intelektual itu antara lain: clarity, precision, accuracy, relevance, consistency, logical correctness, completeness, dan fairness. Standar-standar inilah yang menunjukkan apakah pemikiran seseorang bersifat kritis atau tidak.

STANDAR-STANDAR BERPIKIR KRITIS


Standar 1: Kejelasan (clarity)

Supaya bisa bersikap kritis terhadap pandangan atau pendapat orang lain, kita harus mendengar atau membaca pendapat orang itu. Ini yang seringkali bermasalah. Tidak jarang kita menemukan betapa pendapat orang tersebut sulit dimengerti. Sebabnya bisa macam-macam. Ada orang yang sulit mengemukakan pendapatnya karena tidak terampil dalam berkomunikasi. Ada orang yang memang bodoh, tetapi yang lainnya lebih karena kemalasan atau ketidakpeduliaan. Dengan kata lain, kejelasan (clarity) dalam mengemukakan gagasan atau pendapat menjadi salah satu standar berpikir kritis.

Coba simak contoh berikut dan kemudian beri komentar atau diskusikan dengan teman-temanmu. Apakah penulis sudah cukup jelas mengemukakan pendapatnya?

“Penyebab gizi buruk pada balita sangat kompleks. Penyebab langsung, anak tidak mendapat gizi seimbang, yaitu Air Susu Ibu (ASI) saat umur 0-6 bulan, dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang memenuhi syarat saat umur 6-24 bulan. Penyebab langsung lain adalah infeksi, terutama diare, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan campak. Kedua sebab langsung ini saling memperkuat, didorong oleh faktor kemiskinan, kurangnya pendidikan, lingkungan tidak bersih, dan banyaknya anak dengan jarak kelahiran terlalu dekat. Faktor ini dapat menyebabkan anak tidak diasuh dengan semestinya, seperti tidak diberi ASI, tidak dapat menyediakan MP-ASI yang baik, dan tidak dibawa ke posyandu atau pelayanan kesehatan. Keadaan ini akan makin buruk apabila pelayanan kesehatan ibu dan anak di puskesmas dan posyandu tidak baik, sehingga tidak semua anak diimunisasi, pencegahan dan penanggulangan penyakit diare lambat dilakukan, tidak ada penyuluhan kebersihan, kesehatan umum, dan penyuluhan gizi” (Sihadi, Strategi Penanggulangan Gizi Buruk. Dalam Majalah CDK, 173 / vol. 36 no. 7, November–Desember 2009, hlm. 526).

Apakah menurut kamu Sihadi mengemukakan gagasan atau pendapatnya secara jelas (clear)? Jika kamu berpendapat bahwa beberapa pemikiran Sihadi masih sulit dimengerti, coba tunjukkan bagian-bagian tersebut. Jika kamu diberi kebebasan untuk memformulasikan ulang pemikiran Sihadi tersebut, coba tunjukkan rumusan Anda yang jelas dan mudah dimengerti.

Untuk mencapai kejelasan berpikir dalam berpikir kritis, seseorang dituntut untuk tidak hanya memperhatikan kejelasan bahasa, tetapi juga kejelasan pemikiran itu sendiri. Kejelasan bahasa berhubungan dengan bagaimana kita memakai bahasa sesuai kaidah kebahasaan dalam mengemukakan pemikiran kita. Bahasa adalah alat untuk mengekspresikan pemikiran. Jika kaidah-kaidah kebahasaan tidak diperhatikan atau tidak ditaati, kita akan gagal memanfaatkan bahasa sebagai alat menyampaikan gagasan. Selain itu, kejelasan juga termasuk kejelasan isi pikiran. Isi pikiran seseorang akan sulit ditangkap dan dimengerti jika seseorang menyimpulkan bahwa gizi buruk disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak tersedianya ASI dan Makanan Pendamping ASI tetapi mencampuradukannya dengan buruknya pelayanan kesehatan.

Standar 2: Presisi (precision)

Ketepatan (presisi) dalam mengemukakan pikiran atau gagasan sangat ditentukan oleh bagaimana seseorang membiasakan dan melatih dirinya dalam mengobservasi sesuatu dan menarik kesimpulan-kesimpulan logis atas apa yang diamatinya tersebut. Kemampuan presisi juga berhubungan dengan apa yang diistilah dengan close attention. “Really valuable ideas can only be had at the price of close attention,” demikian Charles S. Pierce.

Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak bidang yang membutuhkan presisi. Misalnya dalam bidang kedokteran, teknik, arsitektur, dan sebagainya. Dalam pemikiran kritis pun dibutuhkan ketepatan. Kemampuan mengamati dan menentukan apa yang sebenarnya sedang terjadi atau sedang dihadapi membutuhkan kemampuan presisi ini. Misalnya, Anda seorang dokter menghadapi pasien dengan gejala-gejala tertentu. Anda harus dengan tepat mengatakan jenis penyakit apa yang diderita pasien tersebut plus alasan-alasannya.

Standar 3: Akurasi (Accuracy)

Keakuratan putusan kita sangat ditentukan oleh informasi yang masuk ke dalam pikiran kita. Jika kita menginput informasi yang salah atau menyesatkan, maka jangan heran kita menghasilkan suatu putusan atau kesimpulan yang salah pula. Misalnya, seorang pemimpin perusahaan memutuskan memecat karyawannya karena mendengar informasi yang salah dari karyawan lain bahwa karyawan yang dipecat itu melanggar kode etik perusahaan. Seharusnya sang pimpinan memanggil dan menggali sendiri informasi dari karyawan tersebut dan informasi-informasi lainnya yang terkait. Meskipun Anda seorang yang sangat pintar, Anda tetap bisa mengambil putusan yang keliru jika informasi yang Anda dapatkan keliru.

Orang yang selalu berpikir kritis tidak akan gegabah dalam mengambil putusan jika informasi-informasi yang dibutuhkan belum mencukupi. Mereka yang terbiasa berpikir kritis tidak hanya menjunjung tinggi dan memberikan penilaian pada suatu kebenaran. Mereka juga memiliki passion yang mendalam tentang keakuratan dan informasi-informasi yang tepat. Socrates mengatakan bahwa hidup yang tidak direfleksikan tidak pantas untuk dihidupi tampaknya tepat untuk menggambarkan kemampuan berpikir kritis yang satu ini.

Standar 4: Relevansi (Relevance)

Yang dimaksud di sini adalah bagaimana kita memusatkan perhatian pada informasi-informasi yang dibutuhkan bagi kesimpulan berpikir kita, dan tidak membiarkan pikiran dikuasai, dikendalikan, atau dialihkan oleh informasi-informasi lain yang tidak relevan. Misalnya, dalam sebuah debat politik mengenai boleh tidaknya menggusur sebuah gedung bersejarah untuk membangun supermarket. Seorang politisi, misalnya, mengalihkan pembicaraan dari substansi permasalahan dengan mengatakan bahwa gedung tua itu temboknya sudah lapuk, catnya sudah mengelupas, dan tidak enak dipandang mata. Gedung tua itu merusak pemandangan kota. Cara berargumentasi seperti ini, jika diikuti hanya akan mengalihkan perhatian dari hal-hal yang substansial ke hal-hal yang sifatnya sekunder dan periferal.

Bukankah debat-debat politik yang kita saksikan di televisi seringkali tidak mengandung relevansi logis? Coba selidiki dan temukan satu contoh diskusi atau perdebatan publik yang mengandung kesesatan relevansi! Kemukakan dan diskusikan temuan Anda itu dengan dosen dan temanmu!

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Standar 5: Konsistensi (Consistency)

Apa yang kamu ketahui tentang konsistensi? Mengapa konsistensi penting dalam berpikir kritis? Mencari dan mempertahankan kebenaran menuntut adanya konsistensi sikap, baik dalam upaya terus menerus mencari kebenaran maupun membangun argument-argumen mengenai pengetahuan. Kebenaran tidak pernah dicapai sekali untuk selamanya, dia harus terus dikejar dan diusahakan. Tanpa sikap konsisten dalam mencari kebenaran mustahil memperoleh kebenaran. Demikian pula sikap konsisten dalam membangun argumentasi yang adalah ekspresi pengetahuan subjek mengenai sesuatu. Argumen yang jelas dan terpilah-pilah harus tetap dipertahankan, dan ini langsung memperlihatkan konsistensi dari si subjek yang berpikir kritis.

Ada dua ketidakkonsistenan yang harus dihindari. Pertama, inkonsistensi logis, dalam arti percaya atau menerima sebagai benar suatu materi tertentu yang tidak benar sebagian atau seluruhnya. Kedua, inkonsistensi praktis, yakni diskrepansi antara perkataan dan perbuatan. Orang yang konsisten harus memiliki sikap yang mencerminkan apa yang dikatakannya. Hal ini akan nyata benar dalam pemikiran dan sikap moral.

Seorang politikus yang gagal melaksanakan apa yang sudah dijanjikannya atau membual di televisi, seorang penceramah agama terkenal yang ketahuan memiliki istri simpanan, seorang artis yang mengkampanyekan penolakan terhadap narkotika tetapi terlibat sebagai pengguna, semuanya adalah kaum farisi dan munafik, Mereka gagal menjadi orang-orang kritis bagi dirinya sendiri, tetapi juga memiliki karakter yang buruk secara moral.

Standar 6: Kebenaran Logis (Logical Correctness)

Coba pelajari kutipan berikut:

“Kadang-kadang saya terkejut mendengar hujatan dari mereka yang mengira bahwa diri mereka adalah orang-orang kudus—misalnya para biarawati yang tidak pernah telanjang ketika mandi. Ketika ditanya mengapa mereka melakukan hal demikian, padahal tidak seorang pun mengintip ketika mereka mandi, mereka menjawab, “O, Anda lupa akan Tuhan yang Maha Baik.” Jelas mereka memahami Tuhan sebagai orang yang suka mengintip (Peeping Tom), di mana kemahakuasaan-Nya memampukan Dia untuk mengetahui segala sesuatu, termasuk mengintip melalui dinding kamar mandi. Cara pandang seperti ini sangat menggangu saya.” (Bertrand Russell, Unpopular Essay (New York: Simon & Schuster, 1950), hlm. 75-76.

Apakah Anda bisa menemukan ketidakbenaran logis dalam kutipan ini? Dari kutipan ini kita bisa merumuskan beberapa premis, antara lain:

1.      Allah mampu melihat segala sesuatu

Dari sini para suster menarik kesimpulan secara benar, bahwa:

2.      Allah melihat melalui tembok kamar mandi

Meskipun demikian, para suster gagal menarik kesimpulan bahwa:

3.      Allah juga melihat apa yang tersembunyi dalam pakaian para suster.

Standar 7: Keutuhan (Completeness)

Ini lebih berhubungan dengan rasa tidak puas pikiran kita ketika mencerna atau memahami suatu pemikiran. Misalnya, kita membaca laporan investigasi koran atau majalah tertentu mengenai kejahatan kra putih (white Collar Crime). Mungkin karena keterbatasan ruang atau data-data, kita sebagai pembaca merasa tidak puas dengan apa yang disajikan. Reaksi pikirn kita ini wajar adanya, karena kita sadar betul, bahwa sesuatu akan menjadi lebih baik jika mendalam dan sebaliknya. Pikiran kita akan mengapresiasi pemikiran-pemikiran yang mendalam lebih dari sekadar basa-basi atau dibuat-buat.

Standar 8: Fairness

Berpikir kritis menuntut kita agar memiliki pemikiran yang fair, dalam arti open minded, impartial, serta bebas distorsi dan praduga. Memang agak sulit menghindari hal-hal demikian dalam pemikiran kita, tetapi kita harus menghindarinya kalau mau bersikap kritis. Kita memang hidup dalam kebudayaan masyarakat yang menyenangi hal-hal bersifat gossip, dugaan, prasangka, stereotype, dan sebagainya yang ternyata sangat menyenangkan dan menghibur. Tetapi kalau kita mau berpikir dan bersikap kritis, maka hal-hal seperti ini harus dihindari. Jika tidak, pemikiran atau argumentasi yang kita bangun tidak akan objektif dan fair.

LATIHAN

1.      Dalam kelompok, pilihlah satu teman sebagai reporter. Mintalah teman yang memerankan reporter itu untuk melaporkan keadaan lalulintas dari salah satu jalan di Jakarta. Kalian yang lain coba mengingat materi kuliah yang sudah kamu pelajari sejauh ini (8 standar berpikir kritis). Berikan penilaian Anda terhadap hasil reportase teman kalian, apakah dia sudah menyampaikan pemikirannya secara kritis atau belum? Apa saja yang masih menjadi kekurangannya? Apa usul kalian terhadap temanmu itu supaya dia bisa memperbaiki diri?

2.      Apakah kamu pernah merasa bersalah karena memiliki sikap inkonsisten dalam arti apa yang kamu katakana berbeda dengan perbuatan-perbuatanmu? Jika kamu masih ingat, dalam konteks apakah itu? Apa yang menyebabkan kamu bersikap demikian? Apakah menurutmu sulit bersikap konsisten? Coba kamu bagikan pengalamanmu ini kepada teman-temanmu!

MANFAAT BERPIKIR KRITIS


Setelah mempelajari standar-standar berpikir kritis, coba pikirkan sejenak, apa manfaat berpikir kritis? Apakah dalam hidupnya manusia membutuhkan pemikiran kritis? Untuk menjawab pertayaan ini, beberapa area bisa dieksplorasi lebih mendalam.

Berpikir Kritis di Kelas

Kamu sebenarnya sudah mulai berpikir kritis di kelas ketika kamu berdiskusi kelompok dan mengkritik reportase temanmu. Tentu sebagai mahasiswa kamu seharusnya selalu bersikap kritis di kelas.  Dunia perguruan tinggi tentu berbeda dengan keadaan ketika kamu masih di SLTA. Berpikir kritis telah menjadi bagian yang mengkonstitusikan jati diri mahasiswa.

Sebenarnya kuliah pemikiran kritis ini bisa membantu meningkatkan keterampilan berpikir kamu. Diharapkan keterampilan dan kemampuan berpikir kritis dan logis bisa meningkatkan performa kamu di kelas. Kalau sebelumnya kamu adalah mahasiswa yang mendengar dan menerima begitu saja apa yang dikatakan dosen atau teman-temanmu, maka sekaranglah saatnya kamu berani berpikir dan mempertanyakan argumentasi dosen atau teman. Dengan kemampuan berpikir kritis, kamu seharusnya bisa:

1.      Memahami argumentasi-argumentasi dan keyakinan-keyakinan dosen dan teman-temanmu.

2.      Mengevaluasi dan menilai argumentasi dan keyakinan tersebut secara kritis.

3.      Membangun dan mempertahankan argument-argumen Anda yang sudah Anda bangun secara meyakinkan.

Tentu sebagai mahasiswa kamu harus mempelajari dan menguasai bidang ilmu tertentu. Apakah kuliah berpikir kritis bisa membantu kamu menguasai bidang keilmuan tersebut? Tentu saja bisa. Memang kuliah logika atau berpikir kritis tidak akan membuat mata kuliah lain menjadi lebih mudah dipahami. Meskipun demikian, kamu akan menyadari betapa pemikiran kritis membantu kamu mempelajari mata kuliah lain dengan perspektif yang lebih terfokus. Berpikir kritis akan memudahkan kamu memahami mata kuliah lain secara lebih mendalam persis ketika kamu memiliki sikap untuk tidak percaya begitu saja pada apa yang dipaparkan, kamu berusaha mencari informasi secara lebih mendalam dan lengkap, kamu mengevaluasi konsistensi logis dari pemikiran-pemikiran yang disajikan, dan sebagainya.

Selain itu, keterampilan berpikir kritis yang kamu miliki akan membantu kamu mengevaluasi secara kritis apa yang sudah kamu pelajari di kelas. Sekali lagi berpikir kritis akan mendorong kamu untuk selalu melihat segala sesuatu dari banyak perspektif dan dari perspektif yang jauh lebih luas. Pemikiran kritis juga memampukan kamu membangun argumentasi atau penikiran sendiri mengenai suatu topik, pemikiran atau pendapat. Misalnya, setelah mempelajari sikap paternalistik dokter dalam menangani pasien atau sikap represif polisi menghalau para demonstran di istana negara, kamu bisa menulis atau mengajukan argumentasi-argumentasimu mengenai peristiwa tersebut.

Berpikir Kritis di Tempat Kerja

Apakah berpikir kritis juga bermanfaat di tempat kerja? Di mana pun juga kamu bekerja dan apa saja profesi atau keahlianmu, berpikir kritis tetap diperlukan. Jika kamu sebagai seorang pimpinan, kamu dituntut untuk memberi instruksi yang jelas, tidak ambigu, dan tidak membingungkan. Dalam berbagai rapat, kamu diharapkan mampu memformulasikan persoalan secara jelas dan runtut. Kamu menilai kinerja karyawan bukan berdasarkan kriteria senang atau tidak senang atau prasangka-prasangka etnis, jender, agama, dan sebagainya, tetapi semata-mata berdasarkan keahlian. Kamu juga memiliki sikap terbuka terhadap kritik dan mau memperbaiki diri.

Demikian pula karyawan biasa. Supaya bisa dimengerti teman atau atasan, kamu harus memiliki sikap kritis. Indikator-indikator berpikir kritis di atas dapat menjadi check list sejauh mana kamu sudah bisa disebut orang yang kritis. Di tempat kerja, kamu akan sulit dipahami jika cara berkomunikasimu mengandung bias, prasangka, sterotip, dan sebagainya. Seluruh laporan kerja kamu juga akan mudah dimengerti jika dikerjakan secara jelas, logis, mengandung alur berpikir tertentu, dan sebagainya.

Berpikir Kritis dalam Kehidupan Sehari-hari

Berpikir kritis juga sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, berpikir kritis memampukan kita menghindari pengambilan keputusan yang terburu atau gegabah yang akan merugikan diri sendiri. Misalnya, ketika kita memutuskan untuk membeli sesuatu, membangun hubungan perkawinan dengan seseorang, pindah kerja, membangun bisnis, dan sebagainya.

Kedua, berpikir kritis tentu meminkan peran penting dalam kehidupan bernegara yang demokratis. Sistem politik yang demokratis menjamin kebebasan konstitusional kepada warga negara untuk menyatakan pikiran dan pendapatnya, baik secara lisan maupun tulisan. Bentuknya bisa berupa aksi protes dan demonstrasi, jajak pendapat, tulisan di Koran, pamflet, spanduk, dan sebagainya. Semuanya ini mengandaikan keterampilan berpikir kritis.

Ketiga, kuliah pemikiran kritis atau logika juga memiliki tujuan pada dirinya sendiri, yakni membuat seseorang menjadi matang secara intelektual. Jika manusia pada umumnya bersikap dogmatis, menerima dan percaya begitu saja pada apa yang dibicarakan atau dikatakan orang, kamu yang mempelajari pemikiran kritis akan memiliki sikap yang berbeda dengan kebanyakan orang tersebut. Kamu akan mempertanyakan segala sesuatu dan berusaha menemukan jawaban yang paling memuaskan keinginan tahu Anda.

BEBERAPA RINTANGAN BERPIKIR KRITIS


Meskipun sangat meyakinkan dikatakan bahwa berpikir kritis sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia, berpikir kritis sendiri tidak akan pernah menghapus atau meniadakan kecenderungan manusia untuk tidak berpikir dan bersikap kritis. Kita mengalami sendiri dalam hidup betapa godaan untuk menjadi tidak kritis selalu ada dan membayangi hidup kita.

Mengapa kecendrungan dan sikap tidak kritis selalu ada dalam hidup manusia? Ada banyak kendala yang menyebabkan mengapa kita tidak bersikap kritis. Kendala-kendala itu adalah sebagai berikut.

1.      Kurangnya informasi yang memadai;

2.      kemampuan membaca yang buruk;

3.      bias;

4.      prasangka;

5.      tahayul;

6.      egosentrisme (pemikiran yang memusat ke diri sendiri);

7.      sosiosentrisme (pemikiran yang memusat ke kelompok);

8.      tekanan kelompok;

9.      konformisme;

10.    provinsialisme;

11.    pikiran sempit;

12.    pikiran tertutup;

13.    tidak percaya pada nalar;

14.    berpikiran relativistic;

15.    sterotip;

16.    asumsi-asumsi yang tak terbukti;

17.    pengkambinghitaman (scapegoating);

18.    rasionalisasi;

19.    penyangkalan;

20.   wishful thinking;

21.    berpikir jangka pendek;

22.    persepsi selektif;

23.    daya ingat selektif;

24.    emosi yang menggebu-gebu;

25.    penipuan-diri (self-deception);

26.    menyelamatkan muka (face-saving);

27.    takut akan perubahan.

Mari kita mengevaluasi beberapa di antaranya (terutama egosentrisme, sosiosentrisme, unwarranted assumption and stereotypes, berpikir relativistik, dan wishful thinking) untuk mendalami dan memahami hambatan-hambatan berpikir kritis.

Egosentrisme

Egosentrisme adalah kecenderungan melihat dan memahami realitas sebagai yang berpusat pada diri sendiri. Mereka yang memiliki kecenderungan ini adalah orang-orang yang menempatkan pandangan-pandangan dan nilai-nilai mereka sendiri sebagai yang lebih unggul dibandingkan dengan orang lain.

Egosentrisme dapat menampakkan diri dalam dua cara, yakni self-interest thinking dan self-serving bias. Keduanya dapat diuraikan lebih lanjut.

Self-interest thinking adalah kecenderungan untuk menerima dan mempertahankan keyakinan yang cocok atau harmonis dengan kepentingan-diri sendiri. Dapat dikatakan bahwa setiap kita memiliki kecenderungan ini. Misalnya, para mahasiswa akan menerima kebijakan kampus yang menguntungkan mereka. Dokter akan mendukung kebijakan pemerintah atau undang-undang yang tidak membahayakan profesi mereka. Para karyawan akan langsung menerima kebijakan pimpinan yang menaikkan uang makan harian mereka, dan sebagainya.

Apa yang salah dengan kecenderungan pikiran manusia yang satu ini? Jelas self-interest thinking menghambat kita mencapai pemikiran yang rasional, kritis, dan objektif. Jika kita berkutat dengan kecenderungan ini, maka setiap kali berhadapan dengan realitas kita akan berusaha mencari hal-hal yang menguntungkan diri sendiri terlebih dahulu, dan bukan kebenaran itu sendiri. Sulit sekali mengurai, mengkritisi, atau mengungkapkan kebenaran suatu argumen atau masalah kalau kita belum membebaskan diri dari self-interest thinking. Anda tentu memiliki pengalaman sendiri menganai hal ini. Apa yang biasanya Anda lakukan untuk melepaskan diri dari kecenderungan self-interest thinking?

Self-serving bias adalah tendensi menakar diri sendiri secara berlebihan—menilai diri sendiri sebagai yang lebih baik. Dalam hidup sehari-hari kita sering berhadapan dengan para pembual yang merasa diri lebih hebat dibandingkan dengan orang lain. Atau bahkan mereka menganggap kita sebagai orang yang tidak ada apa-apanya, tidak berpendidikan, kurang terpelajar, dan sebagainya. Sama seperti self-interest thinking, self-serving bias juga termasuk tendensi alamiah manusia. Yang penting bagaimana menyikapinya dan tetap bersikap kritis terhadap berbagai persoalan yang dihadapi.

LATIHAN

Apa komentar Anda terhadap pernyataan Thomas Jefferson yang mengatakan, “He who knows most, knows best how little he knows?” Mengapa Anda berpendapat demikian?

Sosiosentrisme

Orang yang seluruh pemikirannya berpusat atau terarah hanya kepada kelompoknya (kelompok social) disebut sosiosentrisme. Itu artinya bukan hanya egosentrisme yang bisa menghalangi seseorang untuk berpikir kritis. Sosiosentrisme pun dapat menjadi penghalang seseorang berpikir kritis. Misalnya, Anda mengatakan bahwa agama yang Anda anut adalah agama yang paling benar. Atau, kelompok sosial atau etnis Anda yang paling unggul dibandingkan dengan kelompok social atau etnis lain. Menurut Anda, mengapa mengapa tendensi berpikir yang mementingkan hanya kelompok sosial dianggap sebagai penghalang dalam berpikir kritis?

Perhatikan bahwa cara berpikir seperti ini mengandung bias tertentu, namanya bias kelompok. Cara kita berpikir dikatakan mengandung bias kelompok jika kita menganggap kelompok kita yang paling benar, paling unggul, paling baik, dan sebagainya. Sejarah menunjukkan bahwa justru cara berpikir demikian sangat membahayakan kehidupan sosial. Apakah Anda tahu mengapa Adolf Hitler memerintahkan tentara Nazi membunuh jutaan orang Yahudi di Eropa? Apakah Anda tahu mengapa terjadi konflik berdarah di Ambon dan Poso beberapa tahun lalu? Cara berpikir yang mengunggulkan kelompok sendiri, agama sendiri, atau etnis sendiri menghalangi nalar kita untuk berpikir kritis, menalar dengan objektif, dan berargumentasi secara logis-rasional.

Coba Anda baca percakapan Jean Piaget (psikolog) dengan seorang bocah bernama Maurice D. (8 tahun 3 bulan) berikut. Setelah itu berilah komentar Anda berdasarkan pemahaman Anda mengenai sosiosentrisme sebagai penghalang berpikir kritis.

Seandainya kamu belum punya kebangsaan (nasionalitas), dan kamu disodorkan kesempatan untuk memilih kebangsaan tertentu, kamu akan memilih bangsa apa? Swiss, demikian Maurice D. Mengapa? Karena saya lahir di Swiss. Sekarang coba perhatikan, apakah menurut kamu Prancis dan Swiss itu sama-sama menyenangkan, atau bangsa mana yang lebih menyenangkan dan mana yang kurang menyenangkan? Tentu bangsa Swiss lebih menyenangkan, jawab Maurice. Mengapa? Orang Prancis selalu kasar dan menjengkelkan. Bangsa mana yang paling pintar, Swiss atau Prancis? Atau, jangan-jangan keduanya sama saja? Bangsa dan orang Swiss jauh lebih pintar dari orang Prancis, Mengapa? Karena orang Prancis begitu lahir langsung mempelajari Bahasa Prancis. Setelah mendengar jawaban-jawaban Maurice ini, Jean Peaget mengatakan kepada dia bahwa ketika dia bertanya kepada seorang anak laki-laki Prancis mengeni bangsa apa yang akan dia pilih, Prancis atau Swiss, anak itu memilih Prancis. Alasannya karena dia lahir di Prancis. Dan menurut dia, bangsa mana yang lebih menyenangkan, anak itu menjawab bahwa Prancislah yang lebih menyenangkan daripada Swiss. Anak laki-laki itu juga berpendapat bahwa orang Prancislah yang paling pintar karena mereka lebih cepat belajar dan memahami ilmu daripada orang Swiss. Jean Peaget lalu melanjutkan pertanyaannya kepada Maurice, mengapa kamu dan anak laki-laki Prancis itu memberikan jawaban yang berbeda? Jawaban siapa yang paling tepat? Saya dong, jawab Maurice. Mengapa? Karena Swiss tetap yang terbaik!”

Barangkali salah satu tendensi alamiah yang begitu kuat dalam diri setiap manusia adalah sikap konformisme dengan kelompok sosial. Memang secara psikologis setiap orang memiliki kebutuhan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok sosial, sama seperti kebutuhan dasar kita menjadi bagian dari sebuah keluarga inti. Dalam kasus sosiosentrisme sebagai penghalang berpikir kritis, konformisme dengan kelompok sosial terjadi secara sangat intens sebegitu rupa sehingga orang dari kelompok sosial lain tidak sekadar dieksklusikan, tetapi disubordinasikan. Celaka jika cara pandang seperti ini masuk dan menjadi bagian dari sebuah kebijakan publik, karena yang akan terjadi adalah kekacauan dan konflik antarwarga masyarakat.

Asumsi-asumsi yang Tak-Teruji (Unwarranted Assumptions) dan Sterotip

Kamu mungkin pernah mendengar orang mengatakan atau kamu pernah mengatakan hal ini, “Jangan berasumsi, tunjukkan buktinya!” Apa maksud pernyataan ini? Apa yang dimaksud dengan asumsi? Segala sesuatu yang kita terima begitu saja (taken for granted) atau yang kita yakini tanpa ada bukti tertentu atau tanpa berupaya membuktikannya disebut asumsi. Misalnya, pagi-pagi kamu mendengar ramalan cuaca di televisi yang mengatakan bahwa hari ini akan turun hujan, kamu menerima begitu saja ramalan ini tanpa perlu membuktikannya. Kamu berpegang pada asumsi bahwa hari ini akan turun hujan.

Hampir sebagian besar hidup manusia berdasarkan asumsi. Jika tidak demikian, kita akan capeh sendiri karena harus membuktikan segala sesuatu sebagai benar terlebih dahulu sebelum menerima atau melaksanakannya. Ada hal-hal tertentu yang diasumsikan sebagai benar sehingga tidak perlu diuji lagi. Misalnya, jadwal kuliah Anda mengatakan bahwa kamu harus kuliah Logika jam 07:00 – 08:50. Kamu akan berangkat pagi-pagi ke kampus tanpa harus menelpon dosen apakah hari ini dia memberi kuliah logika atau tidak. Ada asumsi-asumsi yang meskipun tidak dibuktikan kebenarannya terlebih dahulu, kita menerimanya dan mengasumsikannya sebagai benar. Asumsi-asumsi semacam ini bersifat warranted, artinya ada alasan yang cukup meyakinkan untuk menerimanya. Ketika ada mobil yang bergerak menuju Anda tetapi menyalakan lampu sein kiri, kamu mengasumsikan bahwa mobil itu akan berbelok ke kiri.

Jika ada asumsi yang sifatnya warranted, tentu ada asumsi yang unwarranted. Asumsi jenis ini pasti tidak rasional, karena diterima begitu saja tanpa didukung oleh suatu alasan yang baik. Asumsi semacam ini sering menjadi penghalang untuk berpikir objektif dan melihat segala sesuatu secara jernih. Seorang pembela perkara di pengadilan mati-matian membela kliennya sebagai tidak bersalah hanya karena kliennya adalah seorang ulama, di mana diasumsikan bahwa ulama pasti orang baik. Asumsi semacam ini bersifat unwarranted.

Contoh paling gamblang dari asumsi yang unwarranted adalah sterotip. Perhatikan bahwa kata stereotype sendiri berasal dari dunia percetakan ketika plat (stereotype) digunakan untuk menghasilkan salinan yang identik dalam sebuah halaman. Demikianlah, ketika kita mensterotip orang, kita berasumsi bahwa orang dihasilkan dari satu plat yang sama. Misalnya, ketika kita mengatakan bahwa para pedagang suka berbohong, kita mengasumsikan bahwa semua pedagang memang suka berbohong. Padahal ada pedagang yang jujur.

Rupanya kita tidak bisa sepenuhnya membebaskan diri dari asumsi dan sterotip. Umumnya sterotip terjadi karena kita melakukan generalisasi yang konyol, kasar, tidak berdasar. Mungkin kita melihat satu atau beberapa fakta saja, misalnya ada pedagang yang suka menipu pembelinya. Kenyataan ini membuat kita menyimpulkan bahwa pasti semua pedagang berkelakuan begitu. Coba kamu sebut contoh-contoh lain yang menunjukkan generalisasi yang konyol atau berlebihan!

Berpikir kritis menuntut atau mendesak kita untuk selalu sadar akan setiap pemikiran kita, termasuk asumsi. Kita tidak bisa menghapus asumsi. Asumsi sendiri menjadi salah satu tahap penting dalam penyelidikan ilmu pengetahuan. Tantangan yang kita hadapi bukanlah meniadakan atau menghilangkan asumsi, tetapi mengubah unwarranted assumption menjadi bukan sekadar warranted assumption, tetapi asumsi yang selalu disadari (conscious assumption). Hanya dengan demikian, kita dapat membebaskan diri dari penjara sterotip dan melatih diri untuk selalu bersikap kritis, termasuk mengkritisi pikiran-pikiran kita sendiri.

Latihan

Simaklah bagaimana orang menggambarkan karakter laki-laki dan perempuan berdasarkan asumsi atau sterotip tertentu. Berilah komentar atau kritik Anda terhadap asumsi atau sterotip tersebut!

Ketika meja kerja laki-laki berantakan, orang mengatakan, “Dia memang pekerja keras.” Ketika yang berantakan adalah meja kerja perempuan, orang mengatakan, “Perempuan seperti apa itu? Merapikan meja saja tidak becus. Apa yang bisa dilakukannya?”

Kepada laki-laki pekerja yang menika orang mengatakan, “Dia pasti akan bekerja lebih baik dan lebih keras. Hidupnya akan menjadi lebih teratur.” Tetapi ketika seorang perempuan karier memutuskan untuk menikah, orang akan mengatakan, “Perempuan itu akan berhenti bekerja kalau hamil.”

Kepada laki-laki yang mengobrol di jam kerja orang mengatakan, Wah, kalau sudah membicarakan masalah bisnis pasti lupa makan siang! Tetapi ketika perempuan yang mengobrol di jam kerja orang akan berkata, “Dasar tukang gosip!”

Ketika seorang pekerja laki-laki tidak ada di meja kerjanya, orang cendrung mengatakan, “Dia sedang tugas luar.” Tetapi ketika perempuan pekerja tidak berada di meja kerjanya, orang mengatakan, “Jangan-jangan orang ini sedang jalan-jalan ke mal.”

Jika ada laki-laki pekerja yang meninggalkan pekerjaannya karena mendapat pekerjaan baru di tempat lain, orang mengatakan, “Orang itu memang pintar mencari prospek. Dia akan semakin berhasil di sana.” Tetapi ketika perempuan pekerja keluar dan mendapat pekerjaanbaru, orang akan mengatakan, “Memang perempuan tidak bisa dipercaya.”

“Hem, Bapak memang teladan dan penyayang keluarga,” demikian kata orang ketika melihat seorang laki-laki memasang foto keluarga di meja kerjanya. Tetapi ketika seorang perempuan memasang foto keluarga di tempat kerjanya, orang akan berkomentar, “Memang perempuan lebih mementingkan keluarga daripada pekerjaan.”

Ketika seorang laki-laki berselingkuh, orang cenderung berpendapat, “Memang sudah kodratnya begitu.” Tetapi ketika seorang perempuan berselingkuh, orang berpendapat, “Waduh, amit-amit. Perempuan memang susah menjaga diri.”

Ketika seorang laki-laki bujangan berusia tiga puluh tahun atau lebih, orang akan mengatakan, “Matang!” Tetapi jika perempuan berusia tiga puluh tahun atau lebih dan belum menikah, orang akan berkata, “Perawan tua.”

Kepada laki-laki yang memiliki banyak teman perempuan orang akan mengatakan, “Dia pasti humoris, enak diajak bicara, dan pantas diajak berteman.” Tetapi jika itu adalah perempuan, orang akan berkata, “Piala bergilir.”

Ketika seorang laki-laki mendapat promosi jabatan, orang akan mengatakan, “Dia pantas mendapatkannya. Jika seseorang rajin bekerja dan berprestasi, rezeki tidak akan lari ke orang lain.” Tetapi jika promosi jabatan terjadi pada seorang karyawati, orang akan mengatakan, “Sssttt… Boss ada maunya.” … dan seterusnya

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/12/19/stereotipe-laki-laki/

Pemikiran yang Relativistik

Coba simak dialog antara seorang mahasiswa dengan profesornya berikut.

Fox            :     Profesor Ivan, saya tidak mengerti mengapa Anda memberi nilai D pada paper saya ini?

Prof. Ivan   :     Seperti yang kamu baca sendiri di komentar-komentar saya pada papermu, pendapat-pendapat yang kamu kemukakan tidak didukung oleh alasan-alasan yang cukup kuat.

Fox            :     Maksudnya saya mendapat nilai rendah karena Profesor tidak setuju dengan pendapat saya?

Prof Ivan    :     Bukan begitu. Sama sekali bukan begitu, Ivan. Kamu mendapat nilai rendah karena kamu tidak mengemukakan alasan-alasan tertentu yang mendukung pendapat-pendapatmu itu.

Fox            :     Tetapi bukankah setiap orang harus mempertahankan pendapat atau opininya? Dapatkah seseorang sungguh-sungguh bisa mempertahankan pendapatnya sebagai benar dan menyatakan bahwa pendapat orang lain salah? Mengapa kemudian saya harus memberikan penjelasan tertentu kepada pendapat saya sendiri jika saya harus mempertahankannya dan tak seorang pun bisa membuktikan mereka sebagai salah?

Dalam logika dikatakan bahwa Fox telah jatuh ke dalam apa yang disebut pemikiran relativistik. Apa yang dimaksud dengan pemikiran relativistik? Relativisme adalah pemikiran yang mengatakan bahwa kebenaran adalah masalah atau persoalan pendapat. Ada dua bentuk populer dari relativisne, yakni subjektivisme dan relativisme kultural. Subjektivisme adalah pandangan yang mengatakan bahwa kebenaran adalah persoalan pendapat individu. Inilah posisi yang dipertahankan oleh Fox. Menurut pandangan ini, apapun juga yang dipercaya individu sebagai benar, adalah benar hanya bagi individu yang bersangkutan. Tidak ada kebenaran objektif atau absolut, yakni kebenaran yang bereksistensi secara independen dari apa yang setiap orang percaya. Jadi, misalnya Anda adalah orang yang menolak aborsi, sementara rekan sejawat Anda menerima, kedua pendapat ini tidak bisa dievaluasi manakah yang benar dan manakah yang salah, karena kebenaran yang satu hanya berlaku untuk individu.

Relativisme kulturan berpendapat bahwa kebenaran adalah masalah atau persoalan sosial atau pendapat kebudayaan tertentu. Dengan kata lain, apa yang benar bagi Fox adalah benar karena kebudayaan atau komunitas di mana Fox hidup menyatakan itu sebagai benar. Jadi, jika Anda adalah orang Indonesia, dan masyarakat Indonesia mempertahankan pendapat bahwa poligami itu sah-sah saja, maka Anda juga setuju dengan pendapat itu. Jika ditanya mengapa Anda setuju dengan pendapat itu, Anda mengatakan bahwa karena masyarakat Anda mengatakan demikian. Perhatikan bahwa baik subjektivis maupun relativisme kultural tidak mengenal dan mengakui adanya kebenaran objektif dan absolut.

Apakah jenis kebenaran ini bisa diandalkan? Apakah dalam kehidupan sehari-hari seseorang bisa mempertahankan pendapatnya sebagai benar hanya karena sesuatu itu benar menurut dirinya atau masyarakatnya? Apakah tidak ada satu kebenaran pun yang bisa diterima dan diandalakan sebagai kebenaran objektif? Dewasa ini semakin disadari bahwa subjektivisme atau relativisme budaya sulit dipertahankan. Yang cenderung dipertahankan dalam wujudnya yang tertentu adalah relativisme moral. Relativisme moral menyatakan diri dalam dua wujud, yakni (1) subjektivisme moral dan (2) relativisme moral kultural.

Subjektivisme moral adalah pandangan yang menyatakan bahwa apa yang benar dan baik bagi individu adalah apa yang diyakini oleh individu itu sebagai baik dan benar. Jadi, jika Anda menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi, lalu Anda yakin bahwa tindakan Anda itu benar, maka tindakan Anda itu tidak bisa dipersalahkan orang lain. Alasannya karena Anda percaya dan yakin akan tindakan Anda sebagai benar dan baik secara moral. Jadi, apa yang secara moral adalah baik dan benar bagi orang lain  belum tentu benar dan baik juga bagi Anda.

Bagaimana dengan relativisme moral kultural? Ini adalah pandangan yang menegaskan bahwa apa yang benar dan baik secara moral bagi individu (Fox, Jeniffer, Andi) adalah apa yang dinyatakan oleh kultur dan masyarakat katakan sebagai baik dan benar secara moral. Tampaknya pandangan relativisme moral kultural lebih populer dewasa ini karena dua alasan. Pertama, karena banyak ketidaksepakatan atau ketidaksetujuan mengenai masalah-masalah moral dibandingkan dengan kesepakatan atau kesetujuan. Ketika berhadapan dengan aneka macam pendapat dan pandangan dalam etika dalam memecahkan masalah, teori dan pendekatan etika yang berbeda-beda ini mengesankan ketidaksetujuan lebih dari kesetujuan. Ini mendorong orang kebanyakan menyimpulkan bahwa memang tidak ada kebenaran objektif dalam etika; bahwa moralitas hanya sekadar opini individu atau pendapat masyarakat.

Kedua, kebanyakan orang tampaknya menerima secara luas relativisme moral kultural karena pandangan ini lebih mengakomodasi nilai toleransi. Pandangan ini tampaknya mau mengatakan bahwa kita harus bersikap toleran terhadap pendapat individu, pandangan masyarakat, dan nilai-nilai kebudayaan tertentu. Demikianlah, jika poligami untuk kebudayaan A adalah benar sementara untuk kebudayaan B adalah salah, kebudayaan B harus bisa menerika bahwa polighami memang benar bagi kebudayaan A.

LATIHAN

Dalam kelompok, coba diskusikan masalah berikut dan presentasikan di hadapan teman-temanmu!

Kamu adalah anggota dari kebudayaan C yang sedang mempelajari kebudayaan A dan kebudayaan B. Ingat bahwa kamu adalah pengikut setia relativisme moral kultural, artinya bahwa kamu tidak mau berkompromi dengan pandangan moral lain selain pandangan moralmu sendiri.

Ketika mempelajari kebudayaan A, kamu menemukan bahwa kebudayaan A adalah kebudayaan penganut pasifisme yang selalu yakin dan mempertahankan pandangan mereka bahwa secara moral adalah salah jika seseorang atau suatu kelompok masyarakat menyerang atau membinasakan orang atau kelompok lain tanpa suatu alasan yang jelas.

Kamu juga menemukan bahwa kebudayaan B adalah kebudayaan yang sangat militeristik. Anggota kebudayaan ini yakin bahwa tidak salah secara moral jika mereka menyerang, menguasai, atau membinasakan orang atau kelompok lain. Ketika kamu sedang mempelajari dua kebudayaan ini, terjadi bahwa kebudayaan B menginvasi dan menguasai kebudayaan A.

Catatan: Seseorang disebut sebagai penganut setia relativisme moral kultural jika dia mempertahankan pandangan bahwa “apapun juga yang diterima dan diyakini sebuah kebudayaan sebagai baik dan benar secara moral, itu akan menjadi baik dan benar juga bagi dia.”

Pertanyaan diskusi

1.      Dari sudut pandangan moral yang kamu pertahankan, pa yang dapat kamu katakan mengenai kebudayaan A? Demikian juga mengenai kebudayaan B? Dapatkah kamu mengeritik atau mengutuk kebudayaan dan nilai-nilai kebudayaan A dan kebudayaan B?

2.      Apa yang dapat kamu katakan ketika menyaksikan bahwa kebudayaan B menginvasi dan menduduki kebudayaan A?

Dari diskusi di atas, hal-hal berikut bisa dikemukakan sebagai masalah serius yang dihadapi relativisme moral kultural.

  1. Relativisme menyulitkan kita untuk mengkritik kebiasaan-kebiasaan atau nilai-niali budaya lain, bahkan kebiasaan atau nilai yang menurut intuisi kita adalah salah secara moral.
  2. Relativisme juga menyulitkan kita untuk mengkritik kebiasaan-kebiasaan atau nilai-nilai budaya kita sendiri.
  3. Relativisme meniadakan gagasan mengenai kemajuan moral. Nilai-nilai moral sebenarnya mengalami kemajuan dan perkembangan, tetapi ketika kita teguh mempertahankan relativisme maka nilai-nilai moral itu tidak akan berkembang. Contoh nilai moral yang mengalami perkembangan adalah pandangan bahwa perbudakan itu salah.
  4. Relativisme justru dapat menimbulkan konflik tanggung jawab moral. Ketika Anda adalah seorang pendukung relativisme yang hidup dalam sebuah masyarakat di mana nilai-nilai yang Anda dukung bertentangan dengan nilai moral masyarakat pada umumnya, apakah Anda akan teguh mempertahankan nilai moral Anda? Apa yang akan terjadi jika orang ini tidak mau berkompromi atau memperbaiki pandangannya yang keliru?

Deskripsi ini menunjukkan dengan jelas betapa sulitnya menerima relativisme sebagai pegangan hidup. Alasan bahwa relativisme harus diterima karena fakta bahwa orang memiliki perbedaan pandangan moral dan bahwa orang tampak tidak setuju pada suatu pandangan moral tertentu yang berlaku universal tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk menerima dan mempertahankan relativisme. Ketidaksetujuan atas suatu masalah tertentu tidak harus dipahami sebagai bukti tidak adanya suatu kebenaran objektif.

Demikian juga alasan kedua, bahwa orang sebaiknya menerima dan mendukung relativisme demi toleransi. Alasan ini pun mustahil diterima. Bayangkan Anda seorang penganut setia telativisme moral kultural yang hidup dalam sebuah masyarakat. Pasti Anda tidak akan punya sikap toleran terhadap orang lain yang memiliki nilai atau pandangan moral yang berbeda, bukan? Lebih mengerikan lagi jika Anda hidup dalam masyarakat yang juga sangat tidak toleran. Maka yang terjadi adalah konflik nilai dan moral teru-menerus.

Wishful Thinking

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan wisihful thinking? Mengapa wishful thinking dapat menghalangi kita berpikir kritis?

Perhatikan kisah berikut dan coba pahami apa arti dari wishful thinking.

Suatu ketika saya mengikuti kebaktian ibadat sabda di gereja saya. Pembicara tamu meminta kami menulis nama kami masing-masing dan sebuah pertanyaan di sehelai kertas. Petugas kemudian mengumpulkan kertas yang sudah tertulis dengan nama dan satu pertanyaan, dalam keadaan dilipat. Kertas-kertas yang sudah terisi dalam sebuah keranjang itu kemudian di letakkan di samping mimbar pengkotbah. Dalam keadaan mata tertutup kain, pengkotbah mencoba mengambil sehelai kertas dari dalam keranjang, membukanya perlahan-lahan dan menempatkannya di hadapannya. Setelah jeda sejenak dia akan menyebut nama seseorang. Orang yang dipanggil namanya akan berdiri dan pengkotbah itu akan menjawab pertanyaan yang sudah ditulis orang itu. Karena pengkotbah itu menjawab dalam keadaan mata tertutup, orang-orang yang hadir di gereja itu menganggap jawaban yang keluar dari mulutnya sebagai inspirasi dari roh kudus.

Tetapi apa yang terjadi kemudian tampaknya di luar harapan. Saya melihat dengan jelas betapa sang pengkotbah itu tampak menghadapi kesulitan serius. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan matanya sehingga dia tampak kesulitan membaca pertanyaan dari balik kain yang menutupi matanya. Karena itu dia perlahan-lahan membuka kain penutup matanya dengan satu tangan dan tangan yang lainnya membuka kertas berisi pertanyaan. Setelah membaca pertanyaan dia cepat-cepat melipat kembali kertas itu dan bersiap-siap untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan tersebut.

Saya melihat ke arah umat yang ada dalam gereja itu untuk melihat apa reaksi mereka terhadap tindak kebohongan yang dilakukan pengkotbah itu. Betapa terkejutnya saya ketika menyaksikan bahwa tak ada satu pun dari mereka yang sedang melihat ke arah pengkotbah. Ada yang menengadah ke langit-langit gereja, ada yang melihat ke bawah, dan ada pula yang menutup mata. Saya menyentuh seorang ibu yang duduk di sampingku dan meminta dia melihat ke arah pengkotbah yang sedang membohongi mereka. Dia tidak mengarahkan pandangannya ke arah pengkotbah tetapi terus melihat ke arahku. Ketika saya mendesak ibu itu untuk melihat ke arah pengkotbah, dia justru berbalik dan mengarahkan pandangannya ke belakang dan kemudian kembali melihat ke arah saya. Bahkan ketika saya mendesak dia sekali lagi, ibu itu mengarahkan pandangannya ke plafon gereja.

Perilaku menjijikkan dari orang-orang yang ada di gereja itu mengherankan saya. Mengapa orang-orang ini tidak mau melihat penipuan yang sedang dilakukan pengkotbah? Mereka ingin meyakini bahwa sang pengkotbah itu akan menjadi perantara komunikasi mereka dengan sanak-saudara mereka yang telah meninggal dunia. Orang-orang yang dalam gereja itu menjadi contoh yang baik bagaimana mereka menerima tindakan penipuan yang sangat jelas dengan tidak melihat pada tindakan itu sendiri” (Sumber: dikutip dari: http://www.fallacyfiles.org/wishthnk.html. Last accesed: February 16, 2010)

Kisah ini sedikit banyak menggambarkan pengertian wishful thinking. Secara psikologis, wishful thinking adalah keyakinan akan sesuatu sebagai benar karena hasrat atau keinginan (wish) bahwa sesuatu itu benar. Mengacu ke kisah di atas, umat yang ada dalam gereja itu tidak ingin melihat kebohongan yang dilakukan sang pengkotbah, karena mereka berada dalam keadaan wishful thinking, yakni mereka ingin (wish) menerima apa yang dikatakan sang pengkotbah sebagai benar. Apa yang sebetulnya menjadi keinginan justru diposisikan secara sadar sebagai kesimpulan.

Wishful thinking dapat dirumsukan secara sederhana demikian:

Saya ingin P adalah benar.

Jadi, P adalah benar

Cara berpikir seperti ini tidak hanya menumpulkan pikiran kritis kita, tetapi juga menyesatkan. Menerima wisful thinking berarti menghalangi kita untuk membuktikan secara kritis dan rasional apakah suatu kesimpulan, gagasan, atau ide mengandung kebenaran objektif atau tidak. Bahkan wishful thinking mengarahkan kita untuk mencari hanya kesimpulan, gagasan, atau ide yang mendukung kebenaran sejauh sesuai dengan keinginan kita semata.

LATIHAN

Apakah dalam hidupmu kamu pernah mengalami atau mempraktikkan wishful thinking? Apakah wishful thinking itu sangat mengganggu pikiran kritis Anda? Kapan Anda menyadari bahwa itu mengganggu pikiran kritismu? Bagaimana kamu keluar atau membebaskan diri dari wishful thinking?

KARAKTERISTIK SEORANG PEMIKIR KRITIS


Seluruh materi yang telah dibahas di atas diharapkan menjadi input bagi evaluasi diri: sejauh mana kita adalah orang-orang yang kritis? Apakah kita sudah pantas disebut orang-orang yang kritis atau belum? Jika belum, apa usaha konkret kita untuk menjadi orang yang kritis?

Tentu disadari bahwa tidak mudah menjadi orang yang kritis setiap saat. Ada beberapa karakteristik unggulan yang dapat kita gunakan untuk menilai diri kita, apakah kita sudah bisa disebut sebagai orang-orang yang kritis atau belum. Karakteristik atau indikator tersebut adalah sebagai berikut.

Orang yang Kritis Orang yang Tidak Kritis
Memiliki dorongan yang kuat untuk menemukan kejelasan, ketepatan (presisi), keakuratan, dst Sering berpikir dalam cara yang kabur, tidak tepat, dan tidak akurat.
Sangat peka  terhadap ide, gagasan, kesimpulan yang mengandung egosentrisme, sosiosentrisme, wishful thinking, dst Sering jatuh ke dalam dan menjadi pendukung setia egosentrisme, sosiosentrisme, pemikiran relativistik, asumsi-asumsi yang tak-teruji, dan wishful thinking
Sangat menyadari nilai dan manfaat dari berpikir kritis, baik secara individu maupun secara komunitas Tidak menyadari nilai dan manfaat dari berpikir kritis
Jujur secara intelektual dengan dirinya, menyadari hal-hal yang tidak dimengerti dan menerima kelemahan-kelemahan diri Mengira bahwa dirinya mengetahui lebih dari yang sebenarnya dan menyangkal keterbatasan mereka.
Mendengar dengan pikiran-terbuka pada pandangan atau pendapat yang berlawanan dan menerima kritik terhadap keyakinan dan asumsi-asumsi mereka Pikirannya bersifat tertutup dan menolak setiap kritik
Mendasarkan keyakinan-keyakinannya pada fakta lebih dari kepentingan-diri atau preferensi pribadi Sering mendasarkan keyakinan-keyakinannya pada preferensi diri atau kepentingan-diri
Sadar akan kemungkinan adanya bias dan praduga yang ikut memengaruhi cara mereka memahami dunia Tidak atau kurang menyadari bias-bias atau praduga-praduga mereka sendiri
Berpikir independen dan tidak takut berbeda pendapat dengan pendapat kelompok atau masyarakat Cenderung mengikuti saja apa yang dikatakan kelompok atau masyarakat, mengikuti pendapat atau gagasan orang lain atau kelompok tanpa sikap kritis.
Mampu menangkap inti dari suatu isu atau masalah tanpa terperangkap atau dikacaukan oleh detail-detail yang disajikan Mudah sekali terperangkap dalam detail-detail dan sulit menangkap esensi dari sesuatu gagasan atau pendapat.
Memiliki keberanian intelektual untuk menghadapi dan mengakses gagasan-gagasan yang benar yang bahkan bertentangan dengan gagasan atau pendapat mereka sendiri. Takut dan menolak gagasan atau pendapat yang berbeda dengan gagasan, pendapat, atau keyakinannya.
Mengejar kebenaran dan memiliki keinginan tahu yang tinggi terhadap isu atau masalah Cenderung “cuek” atau acuh tak acuh terhadap kebenaran, tidak punya cukup cukup rasa ingin tahu.
Memiliki daya tahan intelektual dalam mengejar insight atau kebenaran di tengah-tengah kesulitan atau hambatan Dalam mengejar kebenaran cenderung tidak tahan atau cepat menyerah terhadap berbagai kesulitan dan hambatan yang muncul.

LATIHAN

1.      Setelah menyimak karakter atau indikator yang mendeskripsikan orang-orang dengan sikap kritis dan orang-orang yang tidak memiliki sikap kritis, coba kamu menulis sebuah artikel yang menggambarkan diri kamu! Sejauh mana kamu bersikap kritis dan sejauh mana kamu termasuk orang yang tidak kritis?

2.      Jelaskan dan berikan contoh sifat-sifat berpikir kritis berikut:

a.      kejujuran intelektual (intellectual honesty);

b.      pikiran yang terbuka (open-mindedness);

c.      pikiran-yang-jujur (fair-mindedness);

d.      keberanian intelektual (intellectual courage);

e.      daya tahan intelektual (intellectual perseverance).

3.      Menurut pendapatmu, apakah karakter berpikir kritis seperti “kejujuran intelektual”, ”pikiran yang terbuka”, “pikiran-yang-jujur”, “keberanian intelektual”, dan “daya tahan intelektual” sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari? Mengapa kamu berpendapat demikian?

“To learn is to face transformation” – Parker J. Palmer

PENYIMPULAN DEDUKTIF DAN SILOGISME


1. Apa itu penyampaian Deduktif dan Silogisme

Sebagaimana telah kita ketahui dari Bab I, deduksi ialah proses pemikiran yang berpijak pada pengetahuan yang lebih “umum” untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih “khusus”. Dalam penyimpulan deduktif itu, meskipun kesimpulan tersebut merupakan suatu pengetahuan yang baru, pada hakekatnya kesimpulan tersebut sudah cukup di dalam premis-premisnya.

Manakala penyimpulan deduktif itu diambil struktur intinya dan diekspreskan dalam rumusan yang singkat, maka dijumpailah bentuk logis pikiran yang disebut silogisme. Unsur-unsur pembentuk silogisme, yaitu term dan proposisi, telah kita bahas dalam bab-bab sebelumnya. Sekarang tibalah saatnya kita membahas silogisme itu sendiri.

Silogisme adalah proses logis yang terdiri dari tiga proposisi. Dua proposisi pertama merupakan premis-premis atau titik tolak penyimpulan silogistis. Sedangkan proposisi ketiga merupakan kesimpulan yang ditarik dari kedua proposisi pertama.

Karena kita mengenal dua macam proposisi menurut sifat pengakuan dan pengingkaran predikat tentang subyeknya, yaitu proposisi kategoris dan proposisi hipotesis, maka dalam pembicaraan tentang silogisme kata juga mengenal silogisme kategoris dan silogisme hipotesis. Silogisme kategoris adalah silogisme yang terdiri dari proposisi-proposisi kategoris; sedangkan silogisme hipotesis adalah silogisme yang salah satu proposisinya berupa proposisi hipotesis. Berikut ini kedua macam silogisme itu kita bahas satu per satu.

  1. 2. Silogisme Kategoris

  1. a. Silogisme kategoris standar

Silogisme kategoris adalah proses logis yang terdiri dari tiga proposisi kategoris. Bila rangkaian tiga proposisi yang membentuk silogisme itu berupa proposisi kategoris standar maka silogisme yang demikian adalah silogisme kategoris standar.

Secara khusus silogisme kategoris standar dapat dirumuskan sebagai suatu penalaran deduktif yang mengandung suatu rangkaian proposisi yang terdiri dari tiga (dan hanya tiga) proposisi kategoris, dan disusun sedemikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dalam rangkaian proposisi itu. Tiap-tiap term hanya boleh muncul dalam dua proposisi. Berikut ini adalah contoh penalaran deduktif yang merupakan silogisme kategoris:

Setiap buruh adalah manusia pekerja.

Setiap kali bangunan adalah buruh.

Jadi, setiap kali bangunan adalah manusia pekerja.

Contoh di atas sekaligus merupakan silogisme kategoris standar karena rangkaian tiga proposisi yang membentuk silogisme tersebut adalah proposisi kategoris standar. Dua proposisi kategoris standar yang pertama berfungsi sebagai premis, sedang proposisi kategoris standar yang ketiga berfungsi sebagai kesimpulan. Jumlah termnya ada tiga: “buruh”, “manusia pekerja”, dan “kuli bangunan”, masing-masing digunakan dua kali. Term yang tidak muncul dalam kesimpulan (dalam contoh di atas adalah “buruh”) disebut term menengah (M, singkatan dari terminus medius), karena berkat perantaraan term inilah kedua premis dapat dihubungkan sehingga menghasilkan kesimpulan. Karena M adalah P, sedangkan S adalah M, maka S adalah P:

M – P

S – M

S – P

Term predikat dalam kesimpulan disebut term mayor; biasanya disingkat dengan “P/T”. Karena itu premis yang mengandung term mayor tersebut disebut premis mayor, yang diletakkan sebagai premis yang pertama. Sedangkan term subyek dalam kesimpulan disebut term minor; biasanya disingkat dengan “S/t”. Karena premis yang mengandung term minor disebut premis minor, yang diletakkan sebagai premis yang kedua. Term mayor (P) akan menjadi term predikat dalam kesimpulan. Sedangkan term minor (S) akan menjadi term subyek dalam kesimpulan. Dengan demikian kesimpulan dalam sebuah silogisme adalah atau “S = P” atau “S # P”. kesimpulan itu merupakan hasil perbandingan premis mayor (yang mengandung “P”) dengan premis minor (yang mengandung “S”) dengan perantaraan term Menengah (“M).

  1. b. Silogisme kategoris yang menyimpang

Dalam praktek sehari-hari tidak semua silogisme kategoris diungkapkan dalam bentuk yang standar; terlihat bahwa bentuk silogisme kategoris ini lebih banyak yang menyimpang. Dalam logika, bentuk-bentuk silogisme yang menyimpang itu – demi memudahkan pengujian sahih atau tidak sahihnya – perlu dikembalikan kepada bentuk yang standar, sekurang-kurangnya apabila penalaran menjadi tidak jelas. Pada kenyataannya penyimpangan itu tidak terbatas caranya, karena memang tidak ada sesuatu yang dapat memaksa orang untuk bernalar dalam bentuk silogisme kategoris standar. Di bawah ini diperlihatkan beberapa sebab yang memungkinkan terjadinya penyimpangan itu.

(a)   proposisi yang digunakan dalam mengungkapkan suatu penalaran silogistis bukanlah proposisi kategoris standar. Misalnya proposisi yang tidak mengikuti pola susunan S = P / S # P, atau term predikat dari salah satu atau lebih proposisi dalam silogisme itu adalah kata sifat atau kata kerja. Dengan demikian untuk memudahkan kita menguji sahih atau tidak sahihnya penalaran tersebut, berguna sekali apabila kita kembalikan silogisme-silogisme  menyimpang itu kepada silogisme kategoris standar. Perhatikanlah contoh berikut ini:

Mereka yang akan dipecat semuanya adalah orang uang bekerja tidak disiplin. Kamu ‘kan bekerja penuh disiplin. Tak usah takut akan dipecat.

Penalaran tersebut dapat kita kembalikan menjadi silogisme kategoris standar sebagai berikut:

Semua orang yang bekerja disiplin bukanlah orang yang akan dipecat.

Kamu adalah orang yang bekerja disiplin.

Kamu adalah orang yang akan dipecat.

(b)   term yang sama dilambangkan dengan kata-kata yang berbeda (kerap disertai pula dengan penggunaan proposisi kategoris yang bukan standar), sehingga penalarannya kelihatan memiliki lebih dari tiga term. Contoh berikut ini menunjukkan penyimpangan  berikut:

Setiap prajurit selalu bertugas berpindah-pindah.

Suroto itu anggota Angkatan Bersenjata.

Maka ia tidak bertugas di satu tempat saja.

Kiranya jelas bahwa Suroto dalam premis minor di atas identik dengan ia dalam kesimpulan. Tetapi, selain itu, sesungguhnya prajurit pun identik dengan angota Angkatan Bersenjata, serta selalu bertugas berpindah-pindah identik dengan tidak bertugas di satu tempat saja. Dengan demikian apabila dalam silogisme kategoris di atas hanya digunakan salah satu ungkapan saja diantara yang identik dan kemudian proposisi-proposisi yang ada dikembalikan menjadi proposisi kategoris standar, maka kita akan menemukan silogisme kategoris standar sebagai berikut;

Setiap parajurit adalah orang yang selalu bertugas berpindah-pindah.

Suroto adalah prajurit.

Jadi, Suroto adalah orang yang selalu bertugas berpindah-pindah.

(c) Salah satu atau lebih proposisi dalam silogisme kategoris itu tidak dinyatakan secara ekspisit. Bentuk silogisme kategoris seperti ini biasa disebut dengan entimena.

Untuk melengkapi entimena  sehingga menjadi silogisme kategoris standar, haruslah diingat bahwa:

(1)     premis di dalam penalaran adalah alasan atau sebab dari kesimpulan (umumnya menggunakan kata-kata seperti : karena, sebab, dengan alasan, berdasarkan dan sebagainya).

(2)     Kesimpulan adalah akibat atau berpijak pada manusia pada premis (umumnya menggunakan kata-kata seperti: jadi, oleh karena itu, maka, maka dari itu, dengan alasan itu,  berdasarkan itu, dan sebagainya);

(3)     Term subyek dalam kesimpulan adalah term minor (premis yang mengandung term minor adalah premis minor), sedangkan term predikat dalam kesimpulan adalah term minor (premis yang mengandung term mayor adalah premis mayor);

(4)     Term yang bukan term mayor dan bukan term minor adalah term tengah, yang hanya terdapat dalam premis dan tidak muncul dalam kesimpulan.

Karena silogisme itu terdiri dari tiga proposisi premis mayor, premis minor, dan kesimpulan), maka bentuk-bentuk entimena itu ialah :

(a)   Entimena tanpa premis mayor.

(b)   Entimena tanpa premis minor

(c)   Entimena tanpa kesimpulan

(d)   Entimena dengan hanya kesimpulan atau hanya premis mayor atau hanya premis minor.

Contoh entimena tanpa premis mayor adalah : “Jelas saja dia pandai. Di kan anaka dokter terkenal!” Kesimpulan penalaran di atas apabila dirumuskan dengan proposisi kategoris standar ialah “Dia adalah orang pandai”. Adapun alasannya ialah “Dia adalah anak dokter terkenal” (lihat kata “kan” yang menunjuk pada alasan). Karena term subyek dalam kesimpulan adalah “dia” dan term predikat dalam kesimpulan adalah “orang pandai”, maka term tengahnya (term yang tidak muncul dalam kesimpulan) adalah “anak dokter terkenal”. Dengan demikian apabila kita melengkapi penalaran di atas dengan premis mayornya dan kemudian distandarisasikan, silogisme kategorisnya menjadi:

Anak dokter terkenal adalah orang pandai.

Dia adalah anak dokter terkenal.

Jadi, dia adalah orang pandai.

Silogisme kategoris di atas dapat juga dinyatakan sebagai entimena tanpa premis minor. Kalau begitu penalarannya adalah: “Jelas saja dia pandai. Anak dokter terkenal kan pandai!” Demikian pula, silogisme kategoris yang sama dapat juga dinyatakan sebagai entimena tanpa kesimpulan. Kalau begitu penalarannya adalah :”Dia kan anak dokter terkenal dan anak dokter terkenal itu pandai!” Dalam penalaran ini, orang yang saling berkomunikasi sudah sama-sama tahu kesimpulannya. Bahkan dengan mengingat pada konteks pembicaraan, biasanya sudah cukup apabila hanya dinyatakan kesimpulan atau premis mayor atau premis minornya saja secara eksplisit; misalnya : “Jelas saja dia pandai” atau “Anak dokter terkenal kan pandai!” atau “Dia kan anak dokter terkenal!”

  1. c. Hukum-hukum silogisme kategoris

Sehubungan dengan silogisme kategoris, para ahli logika telah merumuskan delapan hukum yang terbagi dalam dua kelompok: hukum-hukum mengenai term dan hukum-hukum mengenai proposisi. Dengan menggunakan hukum-hukum tersebut kita dapat menguji apakah suatu silogisme kategoris itu sahih atau tidak sahih.

(1) Hukum-hukum silogisme kategoris mengenai term

Hukum Pertama: Jumlah term dalam silogisme kategoris tidak boleh kurang atau lebih dari tiga. Kalaupun hanya tiga, ketiga term harus digunakan dalam arti yang persis sama (univokal). Sebagaimana telah kita lihat, dalam silogisme kategisme, term subyek dan term predikat dalam kesimpulan masing-masing diturunkan dari term-term yang terkandung dalam premis minor dan premis mayor dengan bantuan term ketiga yang disebut term menengah. Dengan term menengah ini kedua premis dapat dihubungkan sehingga menghasilkan kesimpulan. Suatu silogisme yang memiliki kurang dari tiga term berarti tidak ada term Menengah dan karena itu tidak dapat ditarik kesimpulan. Perhatikan proposisi-proposisi berikut ini:

Kucing adalah binatang

Beberapa binatang adalah kucing.

Jadi, …(?)

Dari kedua proposisi (Kucing adalah binatang” dan “Beberapa binatang adalah kucing” sama sekali tak dapat ditarik suatu proposisi yang mengungkapkan suatu pengetahuan yang baru (kesimpulan) selain daripada yang telah disebutkan dalam kedua proposisi itu. Dengan kata lain, kita tak dapat membuat suatu silogisme kategoris dengan menggunakan dua term saja. Begitu pula kita tak dapat membuat suatu silogisme kategoris apabila term yang digunakan lebih dari tiga. Perhatikan proposisi-proposisi berikut ini:

Batu adalah benda yang dalam air.

Udara adalah sesuatu yang tak kelihatan.

Jadi, …(?)

Dari kedua proposisi di atas, kita sama sekali tak dapat menarik kesimpulan, justru karena tak adanya term Menengah yang dapat menghubungkan kedua proposisi itu.

Selain itu, perlu pula dicatat bahwa ketiga term yang digunakan dalam silogisme kategoris haruslah dalam arti yang sama atau univokal. Kalau tidak, hal itu sama saja dengan menggunakan lebih dari tiga term, sebagaimana diperlihatkan dalam contoh berikut ini:

Binatang itu adalah beruang.

Beruang adalah keadaan yang menyenangkan.

Jadi, binatang itu adalah keadaan yang menyenangkan.

Term “beruang” dalam premis mayor dan premis minor di atas digunakan dalam arti ekuivokal. Yang pertama (dalam premis mayor) berarti nama binatang, sedangkan yang kedua (dalam premis minor) berarti mempunyai uang. Dengan demikian, tidak ada term menengah yang memungkinkan premir mayor dan premis minor.

HUKUM KEDUA:Term Menengah tidak boleh terdapat dalam kesimpulan. Karena term Menengah adalah perantara yang menghubungkan term minor dan term mayor (term subyek dan term predikat dalam kesimpulan), maka term Menengah tersebut tidak boleh terdapat dalam kesimpulan. Jika saya menyatakan:

Semua binatang mamalia berkembang biak dengan beranak.

Semua binatang adalah binatang mamalia.

Saya tidak dapat menyimpulkan “binatang mamalia”, kecuali tentang “kambing” atau “berkembang biak dengan beranak”: “Semua kambing berkembang biak dengan beranak”.

Penalaran berikut ini:

“Semua manusia adalah makhluk hidup.

Semua manusia mempunyai wujud.

Jadi, semua manusia adalah makhluk hidup yang mempunyai wujud”

Bukanlah silogisme kategoris dalam arti yang sesungguhnya, karena tidak ada suatu pengetahuan baru yang diungkapkan dalam kesimpulan selain dari sudah disebutkan dalam premis-premis. Dengan kata lain, kesimpulan tersebut hanyalah merupakan penyatuan atau penjumlahan hal-hal yang sudah dinyatakan dalam premis.

HUKUM KETIGA: Term subyek dan term predikat dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas daripada term-term bersangkutan yang terdapat dalam premis-premis. Jelasnya, apabila suatu term dalam premis tidak dimaksudkan sebagai universal, kita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menurunkannya dalam kesimpulan sebagai universal. Jadi, jika luas suatu term tertentu dalam premis adalah partikular, kita tidak boleh menurunkannya dalam kesimpulan sebagai universal. Begitu juga, jika luas suatu term tertentu dalam premis adalah singular, kita tidak boleh menurunkannya dalam kesimpulan sebagai partikular atau universal. Contoh berikut ini menunjukkan kesalahan tersebut (huruf “P” atau “u” di atas setiap term menunjuk pada luas term bersangkutan: partikular atau universal).

(u)                                                   (p)

Semua burung mempunyai sayap

(p)                                                                        (p)

Beberapa binatang adalah burung

(u)                                                                        (p)

Jadi, semua binatang mempunyai sayap.

Kita lihat bahwa luas term minor (“binatang”) dalam kesimpulan lebih besar (universal) daripada luas term tersebut (partikular) dalam premis minor. Seharusnya kesimpulannya berbunyi: “Beberapa binatang mempunyai sayap. Juga, contoh berikut ini memperlihatkan kesalahan tersebut, karena luas term “substansi” dalam kesimpulan lebih besar (universal) daripada luas term tersebut (partikular) dalam premis minor:

(u)                                                                        (p)

Setiap manusia adalah makhluk hidup.

(u)                                                                        (p)

Setiap manusia adalah substansi.

(u)                                                                                                               (p)

Jadi, setiap substansi adalah makhluk hidup.

Kesalahan seperti di atas bukan saja dapat terjadi karena luas term subyek dalam kesimpulan lebih besar daripada luas term tersebut dalam premis minor, tetapi dapat juga terjadi karena luas term predikat dalam kesimpulan lebih besar daripada luas term tersebut dalam premis mayor, sebagaimana ditunjukkan dalam contoh berikut ini (huruf “s” di atas term menunjuk pada luas term tersebut adalah singular):

(u)                                                                     (p)

Setiap manusia adalah orang yang harus belajar.

(s)                                                (u)

Sayuti bukan mahasiswa

(s)                                                               (p)

Jadi, Sayuti bukan orang yang harus belajar.

Kita lihat bahwa luas term “orang yang harus belajar” dalam kesimpulan lebih daripada luas term tersebut (pertikular) dalam premis mayor.

HUKUM KEEMPAT: Luas term Menengah sekurang-kurangnya satu kali universal. Kita perhatikan contoh berikut ini:

(u)                                    (p)

Setiap mawar adalah bunga.

(u)                                    (p)

Setiap anggrek adalah bunga.

(u)                                                (p)

Jadi, setiap anggrek adalah mawar.

Pada contoh di atas, tidak ada term dalam kesimpulan yang luasnya lebih besar daripada term-term bersangkutan yang terdapat dalam premis-premis. Juga, contoh tersebut mengandung tiga term, tidak kurang, tidak lebih; dan term Menengah sama sekali tidak muncul dalam kesimpulan. Lantas, apa yang menjadi biang kesesatan silogisme kategoris di atas?

Biang kesesatannya tak lain ialah bahwa luas masing-masing term yang berfungsi sebagai term menengah yang keduanya digunakan sebagai predikat pada proposisi afirmatif, adalah partikular; karena itu term tersebut tidak tepat untuk dijadikan sebagai term penghubung antara term mayor dan term minor, sebab masing-masing term menengah itu dapat menunjuk pada kenyataan yang berbeda dari kelas yang sama. “Setiap mawar” identik dengan sebagian dari luas “bunga”, dan “Setiap anggrek” identik dengan sebagian dari luas “bunga”, tetapi tidak ada jaminan bahwa “mawar” dan “anggrek” itu menunjuk pada bagian yang sama dari kelas “bunga” itu. Kalau kita andaikan bahwa secara material “mawar” dan anggrek” itu adalah indentik dan karena itu menunjuk pada bagian yang sama dari kelas “bunga”, kesimpulan “setiap anggrek adalah mawar” memang benar secara material, tetapi itu hanyalah kebetulan saja dan bukanlah karena diturunkan dari premis-premisnya. Dengan demikian, secara formal kesimpulan seperti itu tetaplah tidak sahih.

Dari uraian di atas, kiranya kita mengerti mengapa luas term Menengah itu sekurang-kurangnya satu kali universal. Dengan sekurang-kurangnya satu kali universal, term menengah itu tidak mempunyai kemungkinan untuk menunjuk pada kenyataan atau bagian yang berbeda dari kelas yang diwakili oleh term tersebut.

(2)   Hukum-hukum silogisme kategorisme mengenai proposisi

HUKUM PERTAMA : Jika kedua premis afirmatif, maka kesimpulan harus afirmatif juga. Hukum ini agaknya tidak sulit untuk dimengerti. Dalam proposisi afirmatif dinyatakan bahwa term yang satu identik dengan term yang lain. Karena itu apabila kedua premis adalah afirmatif, itu berarti bahwa term minor identik dengan term tengah, dan term tengah itu sendiri identik dengan term mayor. Berdasarkan prinsip persamaan, yang menyatakan bahwa dua hal adalah identik ketiga, maka term minor tentu identik pula dengan term mayor (S = M = P;      jadi : S = P).

HUKUM KEDUA: Kedua premis tidak boleh sama-sama negatif. Hukum ini pun kiranya dapat dengan mudah kita pahami. Jika term minor dan term mayor tidak identik dengan term tengah, maka kita tidak bisa menyimpulkan bahwa term minor identik atau tidak identik dengan term mayor. Dua term yang masing-masing tidak identik dengan term ketiga, satu sama lain dari kedua term itu bisa juga tidak. Karena itu tidak ada kesimpulan yang bisa ditarik dengan pasti dari dua proposisi negatif.

HUKUM KETIGA : Jika salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga. Hukum ini kiranya juga tak sulit untuk dimengerti. Apabila term yang satu (katakanlah term minor) identik dengan term ketiga (term tengah), dan term yang lain  (term mayor) tidak identik dengan term ketiga itu, maka kedua term (minor dan mayor) tidaklah identik satu sama lain. Hal ini sesuai dengan prinsip perbedaan: dua hal itu tidak identik satu sama lain kalau yang satu identik dengan hal yang ketiga, sedang yang lain tidak identik dengan hal yang ketiga tersebut.

HUKUM KEEMPAT: Jika salah satu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga; jika kedua premis partikular, tidak ada kesimpulan yang bisa ditarik. Hukum ini bukanlah merupakan hukum yang berdiri sendiri, melainkan merupakan konsekuensi dari hukum ketiga dan keempat mengenai term yang sudah disebutkan di atas.

Marilah kita perhatikan terlebih dahulu bagian pertama dari hukum ini: jika salah satu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga. Untuk membuktikan kebenaran hukum ini, kita akan mencoba melihat satu per satu dari semua kombinasi kedua premis yang mungkin. Apabila salah satu premis adalah partikular, maka kedua premis itu tentu merupakan salah satu dari kombinasi proposisi berikut ini:

(a)   A dan I                 (b)       E dan I                        (c) A dan O

(Kombinasi E dan O tidak mungkin, karena sesuai dengan hukum kedua mengenai proposisi, kedua premis tidak boleh sama-sama negatif).

Mari kita lihat kombinasi yang pertama, yaitu silogisme kategoris dengan premis berupa proposisi A dan I. Pertanyaan yang kita ajukan: Dapatkah kombinasi tersebut menghasilkan kesimpulan proposisi universal? Jawabannya: tidak ! alasannya ialah karena dengan premis berupa proposisi A dan I, term yang universal hanya satu, yaitu term subyek dari proposisi A; dan jika term universal satu-satunya ini menjadi term minor dalam premis, term tengah kedua-duanya partikular, yang akibatnya ialah silogisme tersebut menjadi tidak sahih (melanggar hukum yang keempat mengenai term). Silogisme kategoris dengan premis berupa proposisi A dan I hanya dapat menjadi sahih apabila satu-satunya term universal itu berfungsi sebagai term tengah; itu berarti term minor dalam premis harus partikular. Karena term minor dalam premis harus partikular. Karena term minor dalam premis harus partikular sebab kalau term minor dalam kesimpulan pun harus partikuar, sebab kalau term minor dalam kesimpulan universal, silogisme kategoris tersebut akan melanggar hukum ketiga mengenai term yang sudah disebutkan di atas. Jika term minor dalam kesimpulan harus partikular, hal itu semakna dengan term subyek dalam kesimpulan harus partikular, karena term subyek dalam kesimpulan tak lain adalah term minor itu sendiri. Karena kuantitas suatu proposisi ditentukan oleh luas term subyeknya, jelaslah bahwa proposisi kesimpulan itu pun harus partikular.

Dalam kombinasi kedua, yaitu silogisme kategoris dengan premis berupa proposisi E dan I, terkandung dua term yang universal, yaitu term subyek dan term predikat dari proposisi E. Kita tahu bahwa salah satu dari term yang universal ini harus merupakan term tengah. Lantas, dapatkah satu term universal lainnya menjadi term minor? Tidak, karena apabila salah satu dari premis adalah negatif, kesimpulan harus negatif; dan apabila kesimpulan adalah negatif, term mayor (term predikat dari kesimpulan) adalah universal. Karena itu, kedua term universal dalam kombinasi premis yang berupa proposisi E dan I, yang satu harus menjadi term menengah, satunga lagi harus menjadi term mayor. Term minor tidak boleh universal, dan karenanya juga harus partikular.

Begitu juga halnya dengan kombinasi yang ketiga, yaitu silogisme kategoris dengan premis berupa proposisi A dan O. kedua term universal dari kombinasi ini, yang satu harus menjadi term menengah dan yang satu lagi (karena salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif) harus menjadi term mayor. term minor, dan tentunya juga kesimpulan, harus partikular.

Dengan demikian kita telah melihat bahwa setiap silogisme kategoris yang salah satu proposisinya partikular, kesimpulan harus juga partikular. Apabila kesimpulannya universal, yakinlah bahwa term subyek atau term predikat lebih luas dari term-term bersangkutan yang terdapat dalam premis atau juga term tengah tidak sekurang-kurangnya satu kali universal.

Sekarang kita beranjak ke bagian kedua dari hukum keempat mengenai proposisi tersebut; jika kedua premis partikular, tidak ada kesimpulan yang bisa ditarik. Kombinasi kedua premis yang mungkin ialah:

(a) I dan I                                (b) I dan O

Kombinasi O dan O tidak mungkin, karena sesuai dengan hukum kedua mengenai proposisi, premis tidak boleh kedua-duanya negatif).

Dalam proposisi I dan I, tidak ada satu pun term subyek yang universal. Akibatnya adalah term menengah sudah pasti tidak sekurang-kurangnya satu kali universal; itu berarti silogisme kategoris dengan premis berupa proposisi I dan I sudah pasti tidak sahih.

Dalam kombinasi I dan O, ada satu term yang universal, yaitu term predikat dari proposisi O. namun suatu silogisme kategoris dengan kombinasi premis seperti itu, kesimpulannya harus negatif; dan kalau kesimpulan harus negatif, silogisme kategoris tersebut harus sekurang-kurangnya memiliki dua term yang universal; yang satu berfungsi sebagai term menengah, yang satu lagi berfungsi sebagai term mayor (term predikat dalam kesimpulan). Berdasarkan uraian tersebut, jelaslah bahwa dalam kobinasi premis I dan O kalau tidak term predikat dalam kesimpulan lebih luas dari term tersebut yang terdapat dalam premis, pasti term tengah tidak sekurang-kurangnya satu kali universal.

  1. d. Modus dan figur silogisme kategoris

(1) Modus

Yang dimaksud dengan modus suatu silogisme kategoris adalah susunan proposisi-proposisi dalam suatu silogisme kategoris ditinjau dari segi kuantitas dan kualitasnya (A, E, I dan O).

Karena premis mayor dan premis minor suatu silogisme kategoris ditinjau dari segi kuantitas dan kualitasnya dapat berupa proposisi A, E, I, atau O, maka secara apirori kita dapat mengatakan bahwa kombinasi-kombinasi premis yang “mungkin” ada 16 buah, yaitu (baca secara vertikal):

– premis mayor : A A A A         E E E E       I I I I       O O O O

– premis minor : A E I O       A E I O      A E I O A E I O

A

Apabila tertulis     atau AE, artinya ialah premis mayor berupa proposisi A

dan premis mayor  berupa proposisi A dan premis minor berupa proposisi E.

Kalau kita tinjau ke-16 kombinasi premis-premis yang “mungkin” tersebut jika dilengkapi dengan kesimpulan yang mungkin ditarik berdasarkan kombinasi-kombinasi itu maka beberapa diantaranya melanggar hukum-hukum silogisme kategoris. Dengan demikian kombinasi premis-premis berikut ini adalah tidak sahih karena merupakan premis yang negatif atau dua premis yang partikular.

–         premis mayor : I I E E O O O

–         premis minor : 1 O E O E I O

Kombinasi IE juga tidak sahih, karena dengan premis mayor berupa proposisi I, term mayor dalam premis adalah partikular; dan karena kesimpulan dari kombinasi IE harus negatif, term mayor dalam kesimpulan adalah universal. Karena itu, kombinasi IE akan menghasilkan kesimpulan yang term mayornya lebih luas daripada term mayor dalam premis. Dengan demikian dari ke-16 kombinasi antar premis yang “mungkin” itu, kombinasi yang menghasilkan kesimpulan yang sahih hanya delapan saja.

–         premis mayor :A A A A I E O E

–         premis minor :  A E I O A A A I

Empat dari kombinasi yang sahih ini memuat premis mayor berupa proposisi A, tiga lainnya memuat premis minor berupa proposisi A, dan satu kombinasi berupa rangkaian EI.

Jadi secara real ada delapan modus yang sahih dan dapat muncul dalam bentuk (Figur) tertentu. Kedelapan modus yang sahih itu adalah:

–         premis mayor : A    A        A  A   I      E     O  E

–         premis minor : A    E         I   O  A      A     A   I

–         kesimpulan :   A/I  E/O I   O   I      E/O O  O

(2) Figur

Yang dimaksud dengan figur suatu silogisme kategoris adalah susunan term tengah dalam premis-premis suatu silogisme kategoris. Dengan kata lain figur suatu silogisme ditentukan oleh letak term menengah dalam premis mayor dan premis minornya. Berpijak pada pengertian itu, kita mengenal empat macam figur yang mungkin:

(a)   M adalah subyek dari premis mayor dan predikat dari premis minor (sub-pra);

(b)   M adalah predikat dari baik premis mayor maupun premis minor (pra-pre);

(c)   M adalah subyek dari baik premis mayor maupun premis minor (sub-sub);

(d)   M adalah predikat dari premis mayor dan subyek dari premis minor (pre-sun).

Bila disusun dengan skema, keempat figur tersebut adalah:

Gambar

(3) Modus yang sahih dalam masing-masing figur

Dengan mempertimbangkan figur dan modus sekaligus, nyatalah bahwa tidak semua dari delapan modus yang sahih berdasarkan kombinasi premis mayor dan premis minor yang sudah disebutkan di atas adalah sahih juga dalam setiap figur. Masing-masing figur, sebagaimana masih akan kita lihat, mempunyai ketentuan-ketentuannya sendiri yang membawa akibat pada tidak sahihnya beberapa modus itu.

(a)   Modus-modus yang sahih dalam figur pertama

Dalam figur pertama:

Sub – pra

M         P

S         M

S         P

Ada dua ketentuan:

–         premis minor harus afirmatif;

–         premis mayor harus universal.

Premis minor harus afirmatif. Karena, jika premis minor negatif, premis mayor harus afirmatif dan kesimpulan harus negatif. Akibatnya, dalam premis mayor, term mayor merupakan predikat dari proposisi afirmatif dan luasnya adalah partikular sedangkan dalam kesimpulan term mayor tersebut merupakan predikat dari proposisi negatif dan luasnya adalah universal. Dengan demikian kalau premis minor negatif, term mayor dalam kesimpulan akan lebih luas dari term mayor dalam premis. Itulah sebabnya premis minor harus afirmatif.

Premis mayor harus universal. Karena premis minor afirmatif, term menengah dalam premis minor adalah partikular. Karena itu, term menengah yang menjadi subyek dalam premis mayor harus universal. Itu berarti premis mayor harus universal.

Dengan demikian dari delapan modus yang sahih di atas, hanya empat yang tidak melanggar ketentuan dalam figur pertama, yaitu AAA, EAE, AII dan EIO. Dalam logika, modus-modus yang sahih dalam figur pertama ini biasa dilambangkan dengan nama-nama sebagai berikut (huruf vokal pada masing-masing nama menunjukkan modus yang sahih tersebut).

BARBARA, CELARENT, DARII, FERIO.

(b)   Modus-modus yang sahih adalah figur kedua

Dalam figur kedua:

Pre – pre

P         M

S         M

S         P

Ada dua ketentuan:

–         salah satu premis

–         premis mayor harus universal

(kesimpulan — negatif)

Salah satu premis harus negatif. Karena term Menengah letaknya dua kali pada term predikat dari masing-masing premis, maka supaya term menengah itu sekurang-kurangnya satu kali universal, salah satu premis harus negatif.

Premis mayor harus universal. Karena salah satu premis negatif, kesimpulan adalah universal. Itu berarti term mayor dalam premis harus juga universal, supaya term mayor dalam kesimpulan itu tidak lebih luas dari term mayor dalam premis. Term mayor dalam premis harus universal semakna dengan premis mayor harus universal, karena term mayor dalam premis berfungsi sebagai subyek dari premis mayor.

Dengan demikian dari delapan modus yang sahih di atas, dalam figur kedua hanya empat saja yang sahih, yaitu : EAE, AEE, EIO, dan AOO. Dengan demikian modus-modus yang sahih dalam figur kedua ini biasanya dilambangkan dengan nama-nama berikut ini:

CESARE, CAMESTER, PERTINDO, BAROCO

(c)   Modus-modus yang sahih dalam figur ketiga

Figur ketiga:

Sub-sub

M         P

M         S

S         P

Juga mengandung dua ketentuan:

–         premis minor harus afirmatif;

–         premis harus partikular

Premis minor harus afirmatif. Sebagaimana dalam figur pertama, jika premis minor negatif, premis mayor harus afirmatif dan term mayornya yang berfungsi sebagai predikat adalah partikular. Selanjutnya jika premis minor negatif, kesimpulan juga negatif dan term mayornya yang berfungsi sebagai predikat adalah universal. Karena itu supaya term mayor dalam kesimpulan tidak lebih luas dari term mayor dalam premis, premis minor tidak boleh negatif melainkan harus afirmatif.

Kesimpulan harus partikular. Karena premis minor afirmatif, term minor yang berfungsi sebagai predikat adalah partikular. Konsekuensinya, kesimpulan harus partikular supaya term minor dalam kesimpulan yang berfungsi sebagai subyek tidak lebih luas dari term minor dalam premis.

Berdasarkan ketentuan figur ketiga tersebut, maka figur ini memiliki enam modus yang sahih,  yaitu: AAI, IAI, AII, OIO, EAO, dan IIO. Keenam modus  yang sahih ini biasanya dilambangkan dengan nama-nama berikut ini:

DARAPTI, DISAMIS, DATISI, FELAPTON, BOCARDO, FERISON.

(d)   Modus-modus yang sahih dalam figur keempat

Figur keempat:

Pre-sub

P         M

M         S

S         P

Memiliki tiga ketentuan khusus, yang dirumuskan dalam bentuk bersyarat:

–         jika premis mayor afirmatif, premis minor harus universal;

–         jika premis minor afirmatif, kesimpulan harus partikular;

–         jika salah satu premis negatfi, premis mayor harus universal.

Jika premis mayor afirmatif, premis minor harus universal. Jika premis mayor afirmatif, predikatnya yang berupa term menengah adalah partikular. Jika kemudian premis minor partikular, subyeknya yang berupa term menengah akan kembali partikular.

Jika premis minor afirmatif, kesimpulan harus partikular. Jika premis minor afirmatif, predikatnya yang berupa term minor adalah partikular. Karena itu suatu kesimpulan yang universal akan menyebabkan term minor dalam kemampuan lebih luas dari term minor dalam premis.

Jika salah satu premis negatif, premis minor harus universal. Jika salah satu premis negatif, kesimpulan adalah negatif dan term mayor dalam kesimpulan adalah universal. Jika term mayor dalam premis mayor tidak universal juga, kita akan menemukan bahwa term mayor dalam kesimpulan lebih luas daripada term mayor dalam premis. Jadi jelaslah bahwa term mayor dalam premis mayor harus universal juga; dan itu berarti bahwa premis mayor harus universal.

Sesuai dengan ketentuan-ketentuan tersebut, hanya lima modus yang sahih dalam figur yang keempat, yaitu : AAI, AEE, IAI, EAO, dan EIO. Modus-modus yang sahih dalam figur dalam figur keempat ini biasanya dilambangkan dengan nama-nama berikut ini:

BRAMANTIP, CAMENES, DIMARIS, FESAPO, FRESISON.

TABEL

  1. Pengujian silogisme kategoris dengan menggunakan Diagram Venn

Ada 3 macam untuk mengetahui sahih atau tidak sahihnya suatu silogisme kategoris: (1) menguji silogisme kategoris tersebut dengan menggunakan hukum-hukum silogisme kategoris, baik mengenai term maupun mengenai proposisi. Apabila satu saja dari hukum tersebut dilanggar, sudah dapat dipastikan bahwa silogisme kategoris tersebut tidak sahih. (2) menguji silogisme kategoris tersebut dengan melihat figur dan modusnya, dengan catatan terlebih dahulu kita harus memastikan bahwa silogisme kategoris yang akan kita uji itu tidak melanggar hukum pertama dan kedua mengenai term. Sebab, bisa saja terjadi suatu silogisme kategoris dengan figur pertama, misalnya mempunyai modus AAA (kalau kita hanya melihat figur dan modusnya saja, kita dapat jatuh ke dalam anggapan bahwa silogisme kategoris tersebut sahih karena modus AAA adalah modus yang sahih dalam figur pertama), ternyata mengandung kurang atau lebih dari tiga term atau ternyata term tengahnya muncul dalam kesimpulan, yang berarti silogisme kategoris tersebut dengan menggunakan Diagram Venn, asalkan tetap diingat bahwa pengujian dengan cara ini mengandaikan juga kepastian bahwa hukum pertama dan kedua mengenai term tidak dilanggar.

Sudah kita ketahui bahwa dalam Diagram Venn, suatu term diwujudkan dalam sebuah lingkaran. Hubungan antara dua term dalam sebuah proposisi diwujudkan dalam dua lingkaran yang saling beriringan. Dalam silogisme kategoris ada tiga term dengan begitu ada tiga lingkaran yang saling berhubungan, yaitu : S – M – P. hubungan yang saling berpotongan itu sedemikian rupa sehingga menghasilkan delapan bagian. Bentuk tiga lingkaran yang saling berpotongan, yang melambangkan silogisme kategoris itu adalah demikian:

Gambar

Cara meneliti apakah suatu silogisme kategoris sahih atau tidak adalah sebagai berikut. Mula-mula hubungan kedua term dari premis yang universal diwujudkan dalam bentuk diagram tiga lingkaran yang saling berpotongan itu dengan memberi tanda arsiran atau tanda silang pada bagian-bagian yang bersangkutan. Hal yang sama dikerjakan juga untuk mewujudkan premis yang selanjutnya. Kalau dengan demikian tanpa tambahan atau perubahan lain proposisi kesimpulannya juga sudah ikut terwujudkan, maka silogisme kategoris itu adalah sahih. Kalau untuk mewujudkan proposisi kesimpulannya masih diperlukan tambahan atau perubahan lain, maka silogisme kategoris itu tidak sahih. Hal ini diharapkan akan menjadi lebih jelas dengan contoh-contoh yang akan dipaparkan di bawah ini.

Contoh (1) :

Semua binatang yang dapat terbang mempunyai sayap.

Tak ada kambing yang mempunyai sayap.

Jadi, tak ada kambing yang dapat terbang.

Premis mayor “Semua binatang yang dapat terbang mempunyai sayap” sama artinya dengan “Binatang yang dapat terbang yang tidak mempunyai sayap tidak beranggota”. Kalau diwujudkan dalam diagram tiga lingkaran, hasilnya terlihat pada gambar I di bawah. Premis minor “Tidak ada kambing yang mempunyai sayap” sama artinya dengan “Kambing yang mempunyai sayap tidak mempunyai anggota”. Dalam diagram tiga lingkaran, wujudnya seperti pada gambar II di bawah.

Kedua premis itu kalau bersama-sama diwujudkan dalam diagram tiga lingkaran, hasilnya seperti pada gambar III.

Gambar

Keterangan:

T = binatang yang dapat terbang

S = binatang yang mempunyai sayap

K = kambing

Karena gambar III di atas sudah sekaligus mewujudkan proposisi kesimpulan, yaitu “Tak ada kambing  yang dapat terbang”. Ini membuktikan bahwa silogisme kategoris di atas adalah sahih.

Contoh (2):

Semua buruh mendapat upah.

Ada buruh yang malas.

Jadi, ada orang malas mendapat upah.

Kalau premis mayor dari silogisme kategoris ini diwujudkan dalam diagram tiga lingkaran, gambarnya adalah seperti pada gambar 1. Akan tetapi bagaimana halnya dengan premis minor dari silogisme kategoris tersebut di atas? Untuk mewujudkan premis minor tersebut, pada prinsipnya adalah bagian lingkaran “buruh” yang termasuk pada lingkaran “orang malas” diberi tanda silang. Namun, pada kenyataannya kelas tersebut terbagi dua bagian. Bagian manakah yang diberi tanda silang? Kalau kita memilih salah satu dari kedua bagian itu yang diberi tanda silang, itu berarti kita telah memberi makna terhadap premis minor itu dengan makna yang tidak terkandung di dalamnya. Premis minor itu sama sekali tidak mengatakan bahwa yang beranggota itu adalah bagian BMU (ingat lambang Boole) atau bagian BMU. Tanda silang itu juga tidak dapat ditempatkan kedua bagian itu, karena juga premis minor tidak mengatakan bahwa kedua bagian itu beranggota. Yang dikatakan hanyalah bahwa kelas “buruh yang malas” (BM) beranggota. Karena itu premis minor tersebut kalau diwujudkan dengan tepat adalah seperti terlihat pada gambar II. Akan tetapi karena menurut gambar I dan bagian BMU = 0, maka pada bagian BMU itu tidak dapat diberi tanda silang. Karena itu kalau BM # 0, sudah pasti yang beranggota itu adalah bagian BMU. Dengan demikian diagram silogisme kategoris di atas selengkapnya menjadi seperti gambar III. Diagram tersebut sekaligus sudah mewujudkan proposisi kesimpulannya. Jadi berdasarkan diagram ini, silogisme kategoris di atas adalah sahih.

Gambar

Keterangan:

B = buruh

U = orang yang mendapat upah

M = orang malas

Contoh (3)

Semua rumah tinggal mempunyai pintu.

Gedung kantor bukanlah rumah tinggal.

Jadi, gedung kantor tidak mempunyai pintu.

Apabila premis mayor dan premis minornya kita diagramkan, maka gambarnya adalah sebagai berikut:

Gambar

Keterangan:

R = rumah tinggal

P = yang mempunyai pintu

G = gedung kantor

Diagram tersebut tidak mewujudkan proposisi kesimpulan di atas; jadi, silogisme kategoris tersebut tidak sahih.

Contoh (4)

Semua dosen bergelar sarjana.

Beberapa pegawai perusahaan kami bergelar sarjana.

Jadi, beberapa pegawai perusahaan kami adalah dosen.

Silogisme kategoris di atas apabila didiagramkan, maka gambarnya menjadi sebagai berikut:

Gambar :

Keterangan:

D = dosen

S = orang uang bergelar sarjana

P = pegawai perusahaan kami

Dengan diagram yang demikian itu proposisi kesimpulan belum ikut terwujudkan. Kesimpulan akan ikut terwujudkan apabila tanda silang terdapat pada bagian DSP. Dengan demikian silogisme kategoris tersebut tidak sahih.

Catatan:

Sejauh ini sudah kita lihat cara untuk menguji sahih atau tidak sahihnya suatu silogisme kategoris (jadi, hanya terbatas pada bentuk atau formalnya saja), karena memang itulah yang menjadi maksud diktat ini. namun demikian, patut untuk diketahui bahwa silogisme kategoris dapat juga kita uji menurut isinya (secara material). Karena diktat ini memusatkan perhatian pembahasan secara material bukanlah tugas yang emban oleh diktat ini. kiranya cukup apabila kami sekedar mengingatkan bahwa untuk menguji benar (sesuai dengan kenyataan) atau tidak benarnya (tidak sesuai dengan kenyataan) isi kesimpulan suatu silogisme kategoris tergantung pada apakah kesimpulan itu ditarik secara tepat (jadi, perlu secara formal silogisme kategoris itu memang sahih) dan apakah isi yang terkandung dalam premis-premis yang menjadi dasar kesimpulan itu memang benar. Dengan kata lain, kalau kesimpulannya ditarik secara tepat dari premis-premisnya dan isi premis-premis tersebut memang benar, maka isi kesimpulan tersebut pasti benar pula.

  1. f. Silogisme kategoris berantai

Sekali diketahui bahwa prinsip silogisme kategori adalah pemersatu term yang satu dengan term yang lainnya dengan perantaraan term menengah, maka silogisme kategoris dapat diperluas menjadi suatu rangkaian dengan menggunakan lebih dari satu term menengah, yang biasa dikenal dengan nama silogisme kategoris berantai atau bersusun atau majemuk. Berikut ini kita akan melihat satu per satu dari silogisme kategoris berantai tersebut.

(1) Polisilogisme

Bentuk silogisme kategoris berantai yang boleh dibilang standar ialah polisilogisme. Dalam polisigisme, silogisme kategoris yang pertama lengkap. Kesimpulan dari silogisme kategoris yang pertama ini kemudian langsung digunakan sebagai premis silogisme kategoris berikutnya. Kesimpulan silogisme kategoris yang kedua ini langsung digunakan juga sebagai premis silogisme berikutnya, dan seterusnya. Jadi skema umum polisilogisme adalah demikian:

M         P

S         M

S         P

Q         S

Q         P

R         Q

R         P

Kami katakan skema di atas adalah skema umum polisilogisme, karena pada prinsipnya setiap silogisme kategoris yang terkandung dalam polisilogisme dapat berbentuk salah satu dari keempat figur yang telah kita bahas. Jadi, letak term menengah untuk masing-masing silogisme kategoris itu tidak selalu seperti yang tertera pada skema di atas. Di bawah ini adalah contoh polisilogisme:

Orang yang mementingkan diri sendiri itu egois.

Orang yang serakah itu mementingkan diri sendiri.

Jadi, orang yang serakah itu egois.

Orang yang menginginkan milik orang lain itu orang yang serakah.

Jadi, orang yang menginginkan milik orang lain itu egois.

Harun bukanlah orang yang menginginkan milik orang lain.

Jadi, Harun bukanlah orang yang egois.

Cara untuk menguji sahih atau tidak sahihnya. Suatu polisilogisme ialah dengan memeriksa masing-masing silogisme kategoris yang terkandung dalam polisigisme itu: sesuai atau tidak dengan hukum-hukum silogisme kategoris. Satu bagian saja yang melanggar hukum-hukum tersebut menjadikan polisilogisme tersebut sebagai kesatuan tidaklah sahih.

(2) Sorites

Bentuk lain silogisme kategoris berantai adalah sorites. Dalam sorites, semua kesimpulan dalam masing-masing silogisme kategoris dihilangkan, kecuali kesimpulan terakhir. Dalam bentuk sorites, polisilogisme di atas menjadi sebagai berikut.

Orang yang mementingkan diri sendiri itu egois.

Orang yang serakah itu mementingkan diri sendiri.

Orang yang menginginkan milik orang lain itu orang yang serakah.

Harun bukanlah orang yang menginginkan milik orang lain.

Jadi, Harun bukanlah orang yang egois.

Dengan demikian skema umum sorites adalah (ingat : skema ini adalah skema umum karena, sebagaimana halnya dengan skema umum poligisme di atas, letak term menengah dalam sorites juga tidak selalu seperti pada skema ini, tetapi dapat bervariasi sesuai dengan empat figur silogisme kategoris):

M         P

S         M

Q         S

R         Q

R         P

Cara yang paling murah untuk menguji sahih atau tidak sahihnya suatu sorites adalah dengan melengkapi sorites sehingga menjadi polisilogisme dan kemudian meneliti apakah masing-masing silogisme kategoris yang terkandung di dalamnya sesuai dengan hukum-hukum silogisme kategoris.

(3) Epakirema

Silogisme kategoris berantai yang disebut epikirema adalah silogisme kategoris yang salah satu atau kedua premisnya disertai dengan sebab-sebab, keterangan, atau alasan. Dalam epikirema di bawah ini – sebagai contoh – kedua premisnya disertai dengan alasan:

Semua baju yang dibutik adalah baju mahal, karena dirancang secara khusus.

Setiap baju yang dipakainya adalah baju yang dijual di butik, karena enak dipandang mata.

Jadi, setiap baju yang dipakainya adalah baju mahal.

Masing-masing premis dalam contoh di atas sesungguhnya adalah sebuah silogisme kategoris (masing-masing dalam bentuk entimena, karena pemisnya tidak dinyatakan secara lengkap. Epikirema di atas dapat dijabarkan menjadi tiga silogisme kategoris seperti terlihat di bawah ini:

Premis mayornya menjadi:

Semua baju yang dirancang secara khusus adalah baju mahal.

Semua baju yang dijual di butik adalah baju yang dirancang secara khusus.

Jadi, semua baju yang dijual di butik adalah baju mahal.

Premis minornya menjadi:

Semua baju yang enak dipandang adalah baju yang dijual di butik.

Setiap baju yang dipakainya adalah baju yang enak dipandang mata.

Jadi, setiap baju yang dipakainya adalah baju yang dijual di butik.

Masing-masing kesimpulan dari dua silogisme kategoris di atas dijadikan sebagai premis untuk kesimpulan epikirema itu.

Semua baju yang dijual di butik adalah baju mahal.

Setiap baju yang dipakainya adalah baju yang dijual di butik. Setiap baju yang dipakainya adalah maju mahal.

Cara menguji sahih atau tidak sahihnya suatu epikirema adalah dengan mengocokkan masing-masing dari ketiga silogisme kategoris yang terkandung dalam epikirema itu dengan hukum-hukum silogisme kategoris.

  1. 3. Silogisme Hipotesis

  1. a. Silogisme kondisional

Silogisme yang premis mayornya berupa proposisi kondisional disebut silogisme kondisional. Sebagaimana telah kita lihat, proposisi kondisional adalah proposisi yang terdiri dari dua bagian: bagian yang mengandung hal yang dikondisikan apabila syarat itu dipenuhi disebut konsekuens. (Proposisi kondisional itu secara material adalah benar apabila hubungan bersyarat yang dinyatakan di dalamnya adalah benar; sebaliknya, proposisi kondisional itu secara material adalah salah apabila hubungan bersyarat yang dinyatakan di dalamnya adalah tidak benar).

Contoh proposisi kondisional ialah:

Jika hari ini hujan, maka jalanan basah.

(antesedens)                         (konsekuens)

Karena proposisi kondisional, yang menjadi dasar silogisme kondisional, menyatakan bahwa suatu kondisi akan terjadi apabila suatu syarat dipenuhi, maka bentuk silogisme kondisional yang sahih pasti merupakan salah satu dari kedua bentuk berikut ini:

Jika a adalah b, maka c adalah d.

Nah, a adalah b.

Jadi, c adalah d.

Atau

Jika a adalah b, maka c adalah d.

Nah, c bukanlah d.

Jadi, a adalah b.

Karena antesedens merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk terjadinya konsekuens, maka jelaslah apabila antedens benar konsekuens pasti benar pula. Dengan kata lain, benarnya antesedens mengakibatkan benarnya konsekuens. Sebaliknya jika konsekuens tidak benar, antesedens pasti tidak benar juga.

Karena itu, silogisme kondisional berikut ini tentu saja sahih:

Jika Luki adalah manusia, maka Luki bersifat material.

Nah, Luki adalah manusia.

Jadi, Luki bersifat material.

Begitu juga halnya dengan silogisme kondisional di bawah ini:

Jika Gabriel adalah manusia, maka Gabriel bersifat material.

Nah, Gabriel tidak bersifat manusia.

Jadi, Gabriel tidaklah manusia.

Sedangkan silogisme kondisional berikut ini jelas tidak sahih.

Jika Luki adalah manusia, maka Luki bersifat material.

Nah, Luki bukanlah manusia.

Jadi, Luki tidak bersifat material.

Dengan demikian meskipun antesedens merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk terjadinya konsekuens, hal itu berarti bahwa pengingkaran terhadap antesedens sudah pasti mengakibatkan pengingkaran terhadap konsekuens. Dengan kata lain, meskipun antesedens salah, konsekuens tetap berkemungkinan untuk benar. Dalam contoh yang telah disebut di atas, andaikan saja Luki adalah anjing. Meskipun “Luki bukan manusia”, jelas keliru kalau kita menyimpulkan “Luki bersifat material”.

Kekeliruan lain yang biasa terjadi ialah apabila dalam premis minor terjadi pengakuan terhadap konsekuens.

Contoh:

Jika Luki adalah manusia, maka Luki bersifat material.

Nah, Luki bersifat material.

Jadi, Luki adalah manusia.

Kekeliruan yang terjadi di sini ialah bahwa pengakuan terhadap konsekuens sama sekali tidak berarti antesedens pun diakui.

Dari uraian di atas, kita dapat meringkaskan HUKUM SILOGISME KONDISIONAL sebagai berikut: Pengakuan terhadap antesedens membuahkan kesimpulan berupa pengakuan terhadap konsekuens; pengingkaran terhadap konsekuens membuahkan kesimpulan berupa pengingkaran terhadap antesedens; tetapi pengingkaran terhadap antesedens tidak berarti harus diikuti dengan pengingkaran terhadap konsekuens; dan pengakuan terhadap konsekuens tidak harus diikuti dengan pengakuan terhadap antesedens.

Namun, apabila silogisme konsidional bersifat eksklusif, hukum di atas tindaklah berlaku. Yang dimaksud dengan silogisme kondisional eksklusif ialah silogisme kondisional yang premis mayornya berupa proposisi kondisional eksklusif, yaitu proposisi yang hanya dan hanya jika syarat yang tertuang dalam andesekuens akan terjadi. Dengan kata lain antesedens merupakan satu-satunya syarat untuk terjadinya konsekuens tersebut.  Contoh proposisi kondisional eksklusif adalah:

Jika dan hanya jika X wanita, maka X dapat menjadi ibu.

Dalam contoh diatas agar X dapat menjadi ibu tentu saja tidak bisa X harus wanita.

HUKUM SILOGISME KONDISIONAL EKSKLUSIF adalah: Pengakuan terhadap antesedens membuahkan kesimpulan berupa pengakuan  terhadap konsekuens; pengingkaran terhadap konsekuens membuahkan kesimpulan berupa pengingkaran terhadap astesedens; pengingkaran terhadap antesedens membuahkan kesimpulan berupa pengingkaran terhadap konsekuens; dan pengakuan terhadap konsekuens membuahkan kesimpulan berupa pengakuan terhadap antesedens.

  1. b. Silogisme disyungtif

Silogisme disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya berupa proposisi disyungtif. Sebagaimana telah kita lihat, dalam proposisi disyungtif terkandung suatu pilihan antara dua kemungkinan : “A adalah B atau C”. sehubungan dengan proposisi disyungtif ini kita membedakan antara proposisi disyungtif dalam arti sempit dan disyungtif dalam arti luas.

(1) Disyungtif dalam arti sempit

Dua kemungkinan yang terkandung dalam proposisi disyungtif dalam arti sempit tidak dapat bersama-sama benar dan tidak dapat bersama-sama salah. Jadi, dari dua kemungkinan yang ada, pasti ada satu dan hanya satu yang benar. Selain itu, proposisi disyungtif dalam arti sempit tidak mengandung kemungkinan ketia.

Contoh proposisi disyungtif dalam arti sempit.

Anjing yang terkapar itu atau masih hidup atau sudah mati.

Berdasarkan itu, HUKUM SILOGISME DISYUNGTIF YANG PREMIS MAYORNYA BERUPA PROPOSISI DISYUNGTIF DALAM ARTI SEMPIT sederhana saja, yaitu: Dengan diakuinya kemungkinan yang satu dalam premis minor, maka dalam kesimpulan kemungkinan yang lain diingkari sebaliknya dengan diingkarinya kemungkinan yang satu dalam premis minor, maka dalam kesimpulan kemungkinan yang lain diakui.

(2) Disyungtif dalam arti luas

Dua kemungkinan yang terkandung dalam proposisi disyungtif dalam arti luas dapat bersama-sama benar. Selain itu, proposisi disyungtif dalam arti luas ini masih mengandung kemungkinan ketiga.

Contoh proposisi disyungtif dalam arti luas.

–         Indonesia termasuk blok Barat atau blok Timur.

Setelah kita melihat sifat-sifat proposisi disyungtif dalam arti luas tersebut, kiranya jelas bahwa silogisme disyungtif yang premis mayornya berupa proposisi disyungtif dalam arti luas tidak akan membuahkan kesimpulan yang pasti.

  1. c. Soligisme konyungtif

Silogisme konyungtif adalah silogisme yang premis mayornya berupa proposisi konyungtif. Karena proposisi konyungtif menyatakan bahwa dua hal yang terkandung di dalamnya tidak dapat bersama-sama benar, maka silogisme konyungtif hanya sahih apabila premis minornya berupa pengakuan terhadap salah satu dari kedua hal yang terkandung dalam premis mayor konyungtif tersebut. Proposisi konyungtif seperti “Kamu tidak dapat sekaligus tidur dan bernyanyai” menyatakan bahwa kamu tidak dapat melakukan kedua-duanya sekaligus, tetapi tidak berarti bahwa kamu melakukan salah satunya. Karena itulah bentuk dasar silogisme konyungtif haruslah memuat premis minor yang berisikan pengakuan salah satu dari kedua hal yang terkandung dalam premis mayor konyungtifnya berikut ini adalah sahih:

–         Kamu tidak dapat sekaligus tidur dan bernyanyi.

Nah, kamu tidur.

Jadi, kamu tidaklah bernyanyi.

–         Kamu tidak dapat sekaligus tidur dan bernyanyi.

Nah, kamu bernyanyi.

Jadi, kamu tidaklah tidur.

Apabila premis minor suatu silogisme konyungtif berupa pengingkaran terhadap salah satu dari kedua hal yang terkandung dalam premis mayor konyungtifnya, maka silogisme konyungtif tersebut tidak sahih, sebagaimana ditunjukkan dalam kedua silogisme konyungtif berikut ini:

–         Kamu tidak dapat sekaligus menjadi mahasiswa dan pelaut.

Nah, kamu bukanlah mahasiswa.

Jadi, kamu adalah pelaut.

–         Kamu tidak dapat sekaligus tidur dan bernyanyi.

Nah, kamu tidak bernyanyi.

Jadi, kamu tidur.

Perlu pula dicatat, apabila premis mayor konyungtif dari silogisme konyungtif berupa proposisi partikular, sedangkan premis minornya berupa proposisi universal/singular, maka silogisme konyungtif tersebut sudah pasti tidak sahih, sebagaimana dapat kita lihat dalam contoh berikut ini:

Tidak semua orang dapat sekaligus menjadi atlet renang nasional dan atlet balap sepeda nasional.

Amir adalah atlet renang nasional.

Jadi, Amir bukanlah atlet balap sepeda nasional.

  1. 4. Dillema

Dilema adalah semacam pembuktian, di mana dari dua atau lebih proposisi disyungtif ditarik kesimpulannya yang sama, atau dibuktikan bahwa dari masing-masing kemungkinan harus ditarik kesimpulan yang tidak dikehendaki.

Dilema merupakan suatu kombinasi dari berbagai bentuk silogisme. Premis mayor terdiri dari sebuah proposisi disyungtif. Dalam premis minor diambil kesimpulan yang sama dari kedua alternatif.

Karena kerap sukar  untuk untuk mengemukakan proposisi disyungtif yang tajam (disyungtif dalam arti sempit), maka arti “dilema” dalam percakapan sehari-hari harus diperluas menjadi setiap situasi di mana kita harus memilih antara dua kemungkinan yang kedua-duanya mempunyai konsekuensi yang tidak enak, hingga pilihan menjadi sukar.

Bagan dilema: Bentuknya dapat bermacam-macam

Bentuk pokoknya sebagai berikut:

A, atau tidak A

Nah, kalau A, maka B

Kalau tidak A, toh B

Jadi B

Bentuk-bentuk lain misalnya:

A dan B                                  A atau B

Kalau A, maka X                   nah, kalau A, maka X

Kalau B, juga X                             kalau B, maka Y

Jadi X                                     jadi X atau Y.

Kalau A, maka B dan C       kalau A, maka X; dan

Nah, ataukah tidak B            Kalau B, maka Y

Ataukah tidak C           Nah, tidak A atau tidak Y

Jadi tidak A.              jadi tidak A atau tidak B

Bentuk yang penting: dari konsekuensi yang tidak dikehendaki ditarik kesimpulan yang memungkiri mayor.

Misalnya demikian:

A atau tidak A

Nah, kalau A, maka B

Tetapi tidak B, karena ….

Jadi tidak A.

Hukum-hukum dilema:

  1. Proposisi disyungtif harus lengkap, menyebut semua kemungkinan.
  2. Konsekuensinya harus sah.
  3. Kesimpulan lain tidak mungkin (tak boleh dapat di-retorsi atau dibalik).

Kalau dilema memang disusun menurut hukum-hukumnya, maka merupakan cara pembuktian yang sangat tajam. Untuk menjawab sebuah dilema, selidikilah apakah hukum-hukum itu sungguh-sungguh ditaati, terutama carilah apakah ada kemungkinan lain atau ketiga.

Jika ada putusan disyungtif yang sama dapat ditarik kesimpulan yang kebalikan, maka ini disebut “retorsi” (Ingg. Retortion).

Contoh retorsi yang terkenal:

Protagoras menjadi guru Eulathes, dengan perjanjian Eualtnes baru wajib membayar uang sekolahnya bila ia telah berhasil menang dalam prosesnya yang pertama. Tetapi Euslthes tidak bekerja (sebagai pengacara), jadi juga tidak menang, maka juga tidak membayar.

Akhirnya Protagoras hendak memakai Eualthes membayar hutangnya, yaitu dengan mengajukan perkara kepada hakim. Katanya “Saya menang, atau dialah yang menang. Kalau dia yang menang, maka ia harus membayar karena perjanjian. Jadi, bagaimanapun, saya mendapat uang saya”. Tetapi Eulathes menjawab, “Bapaklah yang menang, atau saya yang menang. Kalau Bapak yang menang, saya kalah; jadi tidak harus membayar karena perjanjian. Kalau saya menang, maka tidak perlu membayar karena putusan hakim. Jadi, bagaimana pun, saya tidak harus membayar.” (Menurut ceritanya hakim tidak mau memberikan keputusan).

Dilema dalam arti luas (yaitu dalam arti situasi di mana orang dihadapkan pada suatu pilihan yang sukar karena kedua alternatif mengandung konsekuensi yang tidak disukai) sering dipergunakan sebagai tema dalam kesusasteraan atau sandiwara.

Misalnya: Andromaque (Racine) harus memilih antara cinta kepada anaknya atau cinta kepada suaminya. Seorang kapten yang mengepalai sebuah benteng dihadapkan dengan dua pilihan: menyerahkan benteng (melawan kewajibannya sebagai tentara) atau anaknya akan dibunuh oleh musuh (melawan cintanya terhadap anaknya), dan sebagainya.

LATIHAN

  1. Kembalikanlah penalaran-penalaran di bawah ini menjadi bentuk standar!
    1. Kamu harus menghormati saya! Saya kan gurumu; dan gurumu itu harus kamu hormati!
    2. Siapapun yang mencuri harus dihukum. Darto itu mengambil milik orang lain tanpa sepengetahuan si pemiliknya. Tentu saja dia harus menjalani hukuman.
    3. Dalam ilmu pengetahuan, hal yang sesuai dengan pengalaman empiris adalah benar. Karena kesesuaian tersebut sering didapat tanpa sepengatahuan kebenaran itu adalah soal kebetulan.
    4. Kamu kelihatan begitu letih. Tentu kamu baru saja kerja keras.
    5. Mengapa saya harus diperintah untuk membuat tugas? Saya kan punya kebebasan.
    6. Pantas saja Bodol tidak lulus ujian. Sering sekali dia bolos kuliah.
    7. Jangan mau pacaran dengan si Buana. Dia cepat bosan.
    8. Karena segala sesuatu yang dapat dipikirkan bersifat terbatas, maka Tuhan tidak dapat dipikirkan.
    9. Ia tak pernah menolong saya, maka saya sama sekali tidak punya kewajiban untuk membantu dia.
    10. Sudah berkali-kali saya menelpon Iwan, tetapi saya selalu menerima jawaban bahwa dia tidak di rumah. Saya yakin dia tak mau bicara dengan saya.
  1. Tentukan sahih atau tidak sahih masing-masing silogisme kategoris di bawah ini dengan cara:

–         mengeceknya apakah ada hukum-hukum silogisme kategoris yang dilanggar; kalau ada, hukum yang manakah?

–         Melihat modus dan figurnya; dan

–         Menggunakan Diagram Venn.

  1. Tidak ada orang bijaksana yang berbuat skandal.

Beberapa politisi membuat skandal.

Jadi, beberapa politisi bukanlah orang bijaksana.

  1. Semua burung kenari pandai bersiul.

Semua burung kenari mempunyai naluri untuk berpindah tempat.

Jadi, semua yang mempunyai naluri untuk berpindah tempat pandai bersiul.

  1. Setiap diktator mengangkat dirinya sendiri untuk memegang tampuk pimpinan.

Presiden itu mengangkat dirinya sendiri untuk memegang tampuk pimpinan.

Presiden itu adalah seorang diktator.

  1. Mengekang kebebasan mereka berarti menginjak martabat mereka sebagai manusia.

Membungkam mulut mereka sama saja dengan mengekang kebebasan mereka.

Jadi, membungkam mulut mereka berarti menginjak martabat sebagai manusia.

  1. Tidak ada orang Indonesia yang menghendaki kebebasan.

Setiap budak menghendaki kebebasan.

Jadi, setiap budak bukan orang Indonesia.

  1. Setiap a adalah b.

Setiap b adalah c.

Jadi, setiap a adalah a.

  1. Tiada manusia yang sempurna.

Ia adalah manusia.

Jadi, ia tidak sempurna.

  1. Semua yang berkulit halus adalah orang yang merawat diri.

Dia adalah orang yang merawat diri.

Jadi, dia dia berkulit halus.

  1. Yang ada itu kelihatan.

Tuhan itu tak kelihatan.

Jadi, Tuhan itu tidak ada.

  1. Setiap kepercayaan agama mengandung misteri.

Hal-hal yang berhubungan dengan planet Mars mengandung misteri.

Jadi, hal-hal yang berhubungan dengan planer Mars merupakan kepercayaan agama.

k.  Setiap burung dapat terbang.

Beberapa binatang peliharaan saya dapat terbang.

Jadi, beberapa binatang peliharaan saya adalah burung.

l.    Semua emas adalah logam.

Beberapa yang mengkilap bukanlah emas.

Semua yang mengkilap bukanlah emas.

m. Makanan adalah sesuatu yang diperlukan untuk dapat hidup.

Roti adalah makanan.

Roti adalah sesuatu yang diperlukan untuk dapat hidup.

  1. Manusia merupakan obyek material psikologi.

Tikus putih bukanlah manusia.

Jadi, tikus putih bukanlah obyek material psikologi.

  1. Beberapa orang desa tidak bergelar.

Beberapa orang yang bergelar pernah belajar di Amerika.

Jadi, beberapa orang yang pernah belajar di Amerika bukanlah orang desa.

  1. Tentukanlah bentuk entimema-entimema premis minor negatif, jadikanlah silogisme kategoris standar; lantas; nyatakanlah apakah sahih atau tidak sahih!
    1. Karena silogisme tersebut memiliki premis minor negatif, maka tak mungkin silogisme  tersebut berbentuk figur pertama.
    2. Orang ini sangat pandai.  Pasti dia tidak suka membaca buku komik.
    3. Karena orang ini membenci temannya, tentulah ia tidak mencintai Allah.
    4. Anggota Senat itu sangat mendukung demokrasi, karena ia sangat menentang sosialisme.
    5. Karena burung beo dapat bersiul, tentulah burung itu adalah burung beo.
    6. Gado-gado pasti terkenal di Indonesia, karena Jakarta kan terkenal di Indonesia.
  1. Tentukan jenis silogisme berantai berikut ini dan tentukan juga sahih  atau tidak sahihnya. Kalau tidak sahih, sebutkan pula penyebabnya!
    1. Bangsa yang terpecah belah tidak akan kokoh.

Setiap oligarki merupakan bangsa yang terpecah belah.

Setiap pemerintahan diktator adalah suatu oligarki.

Jadi, setiap pemerintahan diktator tidak akan kokoh.

Tak ada demokrasi yang berbentuk diktator.

Jadi, tak ada demokrasi yang tidak akan kokoh.

  1. Tak ada sesuatu yang berubah yang tidak disebabkan.

Setiap benda material pasti berubah.

Jadi, tak ada benda material yang tidak disebabkan.

Setiap unsur kimia adalah benda material.

Jadi, tak ada unsur kimia yang tidak disebabkan.

  1. Tak ada seorang demokrat yang membenci suku bangsa lain.

Orang yang membenci suku bangsa lain adalah penabur kebencian.

Penabur kebencian merupakan ancaman bagi masyarakat.

Setiap ancaman bagi masyarakat harus dibasmi.

Jadi, tak ada seorang demokrat yang harus dibasmi.

  1. Partai yang fanatik yang mementingkan diri sendiri itu bukan partai yang mau mengalah.

Partai yang mau mengalah adalah partai yang mau bermusyawarah.

Partai yang mau bermusyawarah adalah partai seperti dituntut oleh Pancasila.

Partai seperti dituntut oleh Pancasila adalah partai yang sesuai dengan konsensus bangsa Indonesia.

Jadi, partai yang fanatik mementingkan golongan sendiri itu bukan partai yang sesuai dengan konsensus bangsa Indonesia.

  1. Semua pernyataan tentang apa yang seharusnya dilakukan adalah pernyataan-pernyataan yang tidak bersifat ilmiah karena pernyataan-pernyataan itu tidak dapat dibuktikan melalui metode penelitian.

Pendapat positivisme logis mengandung banyak pernyataan tentang apa yang seharusnya dilakukan.

Jadi, pendapat positivisme logis mengandung banyak pernyataan yang tidak bersifat ilmiah.

  1. Semua arloji baik adalah arloji mahal, karena sukar pembuatannya.

Arloji quartz itu arloji baik, karena selalu tepat dan awet.

Jadi, arloji quartz itu arloji mahal.

  1. Bagaimanakah kesimpulan dari masing-masing silogisme kondisional berikut ini:
    1. Jika A = B , maka C = D

Nah, A = B; jadi …………

C = D; jadi …………

A == B; jadi ……….

C == D; jadi ……….

  1. Jika A == B, maka C = D

Nah, A =   B; jadi ………..

A == B, jadi …………

C == D; jadi …………

  1. Kalau hari hujan, aku tidak jadi pergi:

Nah, aku tidak jadi pergi; jadi …………

hari hujan; jadi …………………….

hari tidak hujan; jadi ……………..

aku pergi; jadi ……………………….

  1. Jika pemerintah menyetujui usul ini, maka pajak akan naik.

Nah, pemerintah menyetujui usul ini; jadi …………………….

pajak telah naik; jadi …………………………………………

pajak tidak naik, jadi …………………………………………

pemerintah tidak menyetujui usul ini; jadi ……………..

  1. Hanya jika hari ini Rabu, maka besok hari Kamis.

Nah, hari ini hari Rabu; jadi ………………………….

besok hari Kamis; jadi …………………………..

hari ini bukan hari Rabu; jadi …………………

besok bukan hari Kamis; jadi ………………….